Advertise 728x90

Latest Post

KECERDIKAN ABU HANIFAH

Written By Unknown on Saturday, February 14, 2015 | 1:23 AM


Seorang alim yang bernama Qotadah suatu hari memasuki kota Kufah. lalu dengan penuh ke-PD-an beliau berkata ditengah-tengah masyarakat: "Bertanyalah kalian kepadaku tentang apa saja..! akan aku jawab semua". Semua diam, karena memang semua mengakui kealiman beliau. Tetapi tiba-tiba ada seorang anak kecil yang turut hadir di situ mengacungkan jari telunjuknya, dengan polos seraya bertanya:

"Apakah jenis kelamin dari semut yang hampir saja terinjak oleh Raja Sulaiman? Apakah ia jantan atau betina?", Tanya si anak kecil.

Mendapat pertanyaan yang tak terduga-duga demikian, Qotadah hanya bisa diam dan membisu, karena memang sulit sekali jawabannya. Melihat Qotadah yang nampak kesulitan menjawab, anak tersebut segera pergi karena tidak enak. Tetapi beberapa orang mengejarnya dan saat bertemu mereka bertanya:

"Apa jenis kelamin semut tersebut wahai anak kecil?", tanya orang yang mengejarnya.
"Jenis kelaminnya betina pak", jawab si anak kecil.
"Kok kamu bisa tau dari mana", kejar si bapak.
"Dari al-Qur'an"
"Coba gimana ayatnya sebutkan"
"Allah berfirman:

قَالَتْ نَمْلَةٌ

Andaikan semut itu jantan, tentunya Allah akan berfirman: (
قَالَ) tanpa ada huruf Ta' Mabsuthoh", jawab anak tersebut.
Mendengar jawaban yang cerdas itu, orang tua tadi bertanya:
"Siapa namamu nak?"
"Nu'man Bin Tsabit".

Dalam kisah lain disebutkan bahwa Imam Abu Hanifah sedang berkumpul dengan santri-santrinya dalam satu majlis untuk melakukan kajian Fiqh. Saat sedang seru-serunya membahas, tiba-tiba ada seorang wanita dengan wajah yang andaikan bulan purnama tahu pun akan malu memperlihatkan cahayanya, karena saking cantiknya. Tiba-tiba wanita tadi meletakkan sebutir buah apel yang berwarna dua, setengah berwarna kuning dan separonya lagi berwarna merah. Semua murid sang imam bingung, lalu sang imam mengambil apel tadi dan membelahnya jadi dua, hingga tampak jelas bahwa isi apel tersebut berwarna putih bersih. Setelah melihat apa yang dilakukan sang imam, wanita tadi dengan tersipu malu, pergi tanpa mengucapkan kata apa-apa.

Nah, tambah bingung lagi para murid Imam Abu Hanifah dan mereka saling berpandangan satu sama lainnya. Melihat kebingungan diwajah murid-muridnya, sang imam pun berkata:

"Wanita tadi adalah seorang gadis yang masih perawan, dia malu untuk bertanya secara langsung tentang masalah Haidh. Makanya, dia melatakkan apel dengan dua warna tadi, yang artinya kalo darah yang keluar darinya sebagian masih merah dan sebagian lagi sudah kuning, apakah berarti sudah suci, tidak haidh lagi? Maka ketika aku belah apel tadi dan tampak jelas warna putih dalam apel, dia faham bahwa bisa dikatakan suci kalau yang keluar adalah cairan putih".

Ya beliau inilah yang kemudian hari di kenal dengan sebutan Imam Abu Hanifah, seorang pendiri salah satu madzhab Fiqh dalam lingkungan Sunni. Memang, rentetan panjang sejarang telah banyak melukiskan dan manggambarkan kecerdasan serta  kecerdikan beliau ini. Sehingga tidak heran jika kemudian madzhab Hanafi terkenal sebagai Ahlu-R-Ro’yi. Sementara ini, sebagian intelektual Islam memahami bahwa maksud dari Ahlu-R-Ro’yi adalah madzhab yang lebih mengedepankan rasionalitas dari pada tekstual, sebagaimana hal itu bisa kita lihat misalnya dari penjelasan Syaikh Khudhori Bek dalam bukunya, Tarikh Tasyri’. Sehingga yang muncul adalah kesan negativ yang menempel pada madzhab Hanafi, seolah-olah mereka lebih mengedepankan rasional (Aql) dari pada teks-teks agama (Naql). Namun yang perlu dicatat adalah apa yang ditulis oleh salah satu ulama Hanafiyah Muta’akhirin, yakni Syaikh Muhammad Zahid Al-Kautsari, yang memiliki pemaknaan lain atas istilah Ahlu-R-Ro’yi yang disematkan kepada Imam Abu Hanifah dan para pengikut madzhab Hanafi secara umum.

Menurut Syaikh Muhammad Zahid Al-Kautsari, maksud dari istilah Ahlu-R-Ro’yi adalah sebuah pernyataan yang mengukuhkan bahwa para Ulama Hanafiyah merupakan segolongan intelektual Islam yang paling mampu dan berkompeten dalam melakukan ijtihad sebagai media guna memahami ajaran Islam. Al-Kautsari mengatakan bahwa semua mujtahid memanfaatkan dan menggunakan akal serta nalar (Ro’yu) mereka untuk memahami Al-Qur’an maupun Al-Hadis. Yang membedakan antara satu dan yang lain adalah porsi yang mereka berikan pada nalar serta akal mereka dalam memahami kedua pusakan Islam tersebut, disamping tentunya adalah perbedaan kemampuan dan kecerdasan nalar masing-masing dari para mujtahid, sehingga akhirnya hal itu pula yang menyebabkan mereka berbeda-beda. Jadi semua menggunakan nalar dan akal (Ro’yu), hanya Ulama Hanafiyah-lah yang paling berkompeten dalam memahami teks-teks kedua pusaka islam tersebut di atas.

Tentunya, pemaknaan Al-Kautsari ini sangat jauh berbeda sekali dengan interpretasi yang telah diberikan oleh kebanyakan pakar Islam sementara ini. Dan memang, kesan fanatisme madzhab tercium sangat kental sekali dari apa yang disampaikan oleh Al-Kautsari—dan memang Al-Kautsari sendiri terkenal sangat fanatik terhadap Madzhab Hanafi dan tentunya Abu Hanifah. Tetapi bagi saya pribadi, pemaknaan yang diberikan oleh Al-Kautsari ini setidaknya bisa menjadi bantahan bagi sementara orang yang menganggap bahwa dari Madzhab Hanafi inilah benih-benih “Liberalisme Islam” muncul. Padahal kalau kita mengkaji kitab semisal Musykilu-L-Atsar karya At-Thohawi atau Fiqhu-L-Akbar, Fiqhu-L-Absath serta Al-Washiat yang ketiganya adalah karya Imam Abu Hanifah, niscaya kita akan menemukan kuatnya ulama Hanafiyah dalam berpegang pada teks agama. Hanya saja, cara yang mereka tempuh dalam mengimani dan berpegang pada teks agama tidaklah sama dengan cara yang ditempuh oleh selain mereka. Mestinya perbedaan ini tidaklah lantas menjadikan tuduhan yang macam-macam, atau bahkan sampai menghujat.


Walhasil, seorang Imam Abu Hanifah adalah salah satu icon kegemilangan dan kejeniusan para intelektual Islam masa lalu—bahkan beliau masih masuk dalam kurun Salaf, karena beliau wafat pada sekitar tahun 150 H, tahun dimana Imam Syafi’i lahir—yang rasa-rasanya sulit untuk kita temukan padanannya di era modern sekarang ini. Sangat layak sekali jika kemudian kita mengenang apa yang menjadi kelebihan dan kehebatan beliau dalam bidang ilmiah, walaupun tentunya kehebatan beliau dalam bidang yang lain pun juga tidak bisa dikesampingkan. Semuanya adalah dengan harapan kita bisa meneladani beliau, atau paling tidak bisa mengidolakan beliau. Terlebih lagi sekarang ini, zaman dimana kebanyakan orang Islam kehilangan idola yang sebenarnya. Bukankah menampilkan profil beliau ini merupakan satu jihad tersendiri?

Mbah Maemoen Dan Ahlul Bait

Written By Unknown on Thursday, January 22, 2015 | 10:16 PM


Ahlul Bait Rasulullah Shollallahu Alaihi Wa Sallam sejak dahulu hingga sekarang memang telah menempati ruang tersendiri dalam hati setiap orang Islam, tanpa terkecuali. Bukan hanya madzhab Syi’ah saja, akan tetapi sebenarnya madzhab Sunni juga sangat memuliakan dan mencintai Ahlul Bait. Terlebih lagi jikalau dalam diri Ahlul Bait tersebut tidak hanya terdapat kemuliaan darah suci Rasulullah yang mengalir dalam setiap nadinya, akan tetapi juga terdapat kemuliaan ilmu serta akhlak mulia Rasulullah, tentunya akan lebih luar biasa lagi dalam menarik simpati dan cinta umat Islam kepada mereka. Kecuali satu kelompok dalam Islam yang memang hatinya telah dipenuhi oleh kebencian dan permusuhan terhadap Ahlul Bait Rasulullah Shollallahu Alaihi Wa Sallam. Yang dalam sejarah disebut dengan kelompok Nashibin.

        Kalau kita merunut sejarah, maka kita akan menemukan banyak data yang menunjukkan betapa besar kecintaan kaum muslimin kepada Ahlul Bait. Bahkan para  penyair Arab yang notabenenya kehidupan mereka akrab dengan hura-hura, foya-foya, arak, wanita biduan dan berbagai macam kemewahan serta glamor dunia pun ternyata juga sangat mencintai Ahlul Bait Rasulullah ini. Walaupun tidak sedikit pula dari mereka yang malah menggunakan syair/puisi karya mereka sebagai alat untuk mencaci, menghujat dan kalau perlu mendzolimi ahlul bait.

        Bagi para pengkaji Sastra Arab, nama Farozdaq tentunya sudah tidak asing lagi bagi mereka. Penyair ini pernah dijebloskan ke dalam penjara yang terletak diantara Makkah-Madinah oleh putra mahkota dinasti Marwaniyah, Al-Walid Ibnu Abdil Malik, lantaran puisi gubahannya yang dianggap sebagai alat politik guna menguatkan propaganda yang mendukung ahlul bait atau paling tidak mendukung serta mencintai ahlul bait. Dan tentunya kita sudah mafhum, bahwa dinasti Marwaniyah sangatlah memusuhi dan berusaha untuk mengenyahkan Ahlul Bait Nabi, sebagaimana dinasti Umayyah sebelum mereka.

        Ya, Makkah saat itu sedang ramai oleh para peziarah dari berbagai penjuru dunia. Ka’bah pun tak pernah sepi dari para Thoifin (orang yang thowaf) mengelelilinginya, sehingga saking banyaknya, antara satu dan yang lain saling berdesakan, terlebih lagi jikalau sudah berdekatan dengan Hajar Aswad. Sebagai seorang putra mahkota, Al-Walid bin Abdul Malik Bin Marwan tentunya ingin mengitari Ka’bah dengan tanpa susah payah. Ia ingin dengan leluasa mengusap dan mencium Hajar Aswad sepuasnya tanpa diganggu oleh Thoifin yang lain. Namun apa daya, manusia-manusia yang thowaf disekitar ka’bah nampaknya sudah tidak memperdulikan lagi pada apa yang namanya strata sosial. Mereka tidak lagi membedakan apakah itu anak raja atau bukan, pertimbangan mereka hanyalah kemuliaan dalam ‘pandangan’ Allah saja. Alih-alih Al-Walid bisa leluasa mendekati Ka’bah, eh malah-malah ia tersingkirkan dan terdesak ke pinggir menjauhi Ka’bah. Akhirnya dengan rasa dongkol, ia dan para hulubalangnya hanya duduk-duduk saja dipinggiran Mathof sambil mengamati polah dan tingkah laku orang-orang yang sedang melakukan ibadah Thowaf.

        Tiba-tiba peristiwa aneh terjadi. Ada sesosok pemuda yang nampak dari kejauhan berjalan dan berusaha untuk mendekati Hajar Aswad. Langkahnya pelan tetapi penuh kepastian. Perlahan namun diiringi dengan kewibawaan. Dan yang lebih mencengangkan lagi adalah sikap aneh yang menghinggapi orang-orang yang sedang berputar mengitari Ka’bah. Tanpa dikomando, dengan serempak mereka membelah dan memberi jalan pada sosok pemuda asing tersebut, hingga dengan mudah serta tanpa susah payah sama sekali sang pemuda tadi bisa mendekati Rukun Yamani, dimana Hajar Aswad bersemayam di sana. Dengan santainya pemuda itu mengusap Hajar Aswad lalu menciumnya.

        Melihat pemandangan yang menakjubkan itu, semua mata terperanjat. Masing-masing dari mereka sibuk dengan pikirannya sendiri-sendiri, setelah melihat peristiwa yang unik nan aneh itu. Sambil berbisik-bisik mereka saling bertanya: “Siapakah dia?”. Mendengar keributan dan pertanyaan yang secara tidak langsung menusuk telinga dan mengusik ketenangan jiwanya, dengan ketus Al-Walid menjawab: “Ah, entahlah siapa dia, aku tidak tahu”. Jawaban Al-Walid ini tidak lain hanyalah untuk mengalihkan perhatian para hulubalang dari pemuda asing tadi. Sebab pada dasarnya ia sangat mengenal pemuda itu, yang tak lain dan tak bukan adalah Imam Ali Zainal Abidin As-Sajjad bin Imam Al-Husain bin Imam Ali Bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhum.

        Mendengar jawaban Al-Walid yang terkesan latah dan sinis itu, Farozdaq yang kebetulan melintasi rombongan putra mahkota itu merasa geram. Secara spontan (Irtijal) Farozdaq menyenandungkan untaian-untaian bait syair yang dikemudian hari sangatlah masyhur dengan sebutan Kasidah Mimiyyah. Disebut dengan kasidah Mimiyyah karena Qofiyah-nya berupa huruf “Mim”. Pembukaan kasidah tersebut adalah sebagai berikut:
هذا الذي تعرف البطحاء وطأته # والبيت يعرفه والحل والحرم
(Imam Ali Zainul Abidin) ini adalah orang yang tanah Bathkha’ (tanah makkah) selalu mengenal setiap langkahnya
Ka’bah pun mengenalnya, begitu pula tanah Halal dan tanah Haram
        Sama dengan Farozdaq adalah apa yang dilakukan oleh Imam Abu Hanifah (pendiri Madzhab Fiqh Hanafi). Tepatnya saat Kholifah Al-Mansur memanggil Imam Ja’far As-Shodiq untuk menghadap beliau guna uji coba kesetiaan. Saat itu, Al-Mansur menyuruh Imam Abu Hanifah untuk membuat 40 pertanyaan yang paling sulit dan rumit jawabannya, semua pertanyaan itu akan digunakan untuk menjatuhkan kewibawaan serta kemuliaan Imam Ja’far di depan mata para pendukungnya. Al-mansur berencana demikian, tetapi Allah punya rencana lain. Bukannya wibawa Imam Ja’far yang jatuh, malahan Imam Abu Hanifah yang jatuh hati pada sang imam. Ke-40 pertanyaan yang tadi sudah dipersiapkan oleh Imam Abu Hanifah, ternyata semua bisa dijawab oleh Imam Ja’far dengan benar beserta argumentasi yang gemilang pula. Sungguh luar bisa. Hingga akhirnya, mau tidak mau, Imam Abu Hanifah lalu berguru kepada Imam Ja’far selama kurang lebih 2 tahun lamanya. Sehingga dalam sejarah, kita sering mendengar ungkapan menakjubkan dari seorang Imam Abu Hanifah:
لولا السنتان لهلك النعمان
Andaikan bukan karena 2 tahun (berguru pada Imam Ja’far), niscaya Nu’man (Abu Hanifah) akan hancur
        Lalu bagaimana dengan guru-guru kita di Nusantara ini? Secara umum para ulama Nusantara sangat menghormati Ahlul Bait Rasulullah sebagaimana Farozdaq dan Imam Abu Hanifah di atas. Dalam satu kesempatan, saya pernah mendapatkan sebuah cerita dari Al-Marhum Kiai Makin Mudzakkir yang menggambarkan bagaimana bentuk pernghormatan dan kecintaan yang dilakukan oleh Kiai Maemoen Zubair terhadap salah satu Ahlul Bait dan cucu Rasulullah yang sangat ‘Alim nan mulia, yakni Al-Imam Sayyid Muhammad Bin Alawi Al-Maliki Al-Hasani.

        Saat Abuya—begitulah biasanya Sayyid Muhammad akrab dipanggil oleh santri-santri dan para pecintanya—berkunjung ke Sarang, Mbah Maemoen selaku tuan rumah langsung ikut turun tangan sendiri dalam rangka meladeni Abuya. Kiai Makin bercerita bahwa saat Abuya sedang menyambut banyaknya tamu yang berdatangan dari berbagai penjuru, dan masing-masing mengeluhkan segala permasalahannya untuk kemudian dijawab satu persatu oleh Abuya, Mbah Maemoen berada disamping beliau untuk menemani. Sambil mendengarkan Abuya yang memedar keilmuan tanpa kenal lelah, Mbah Maemoen malah sibuk mengupas kulit buah apel yang telah disuguhkan di atas meja. Dengan pelan-pelan dan penuh kesabaran, Mbah Maemoen mengupas kulit apel dengan sangat hati-hati. Baru setelah kulit apel benar-benar terkelupas semua, Mbah Maemoen kemudian menyuguhkan apel yang sudah bersih tadi kepada Abuya. Melihat Mbah Maemoen yang menawarkan sebuah apel yang sudah bersih, Abuya mengambil apel itu dengan tangan beliau yang mulia serta kemudian menggigit apel itu dengan satu gigitan kecil, lalu mengunyahnya.

Ya, hanya satu gigitan saja, lalu Abuya meletakkan apel itu di atas meja. Melihat apel yang telah digigit Abuya tergeletak di atas meja, Mbah Maemoen bergegas mengambil apel itu dan memasukkannnya ke dalam saku baju beliau. Kemudian beliau kembali mengupas apel baru untuk kemudian disuguhkan kepada Abuya lagi. Dan peristiwa pertama tadi terulang kembali, Abuya hanya menggigit apel itu dengan satu gigitan saja lalu meletakkan apel tersebut di atas meja. Dan lagi-lagi Mbah Maemoen bergegas mengambil apel ‘bekas’ gigitan abuya tersebut untuk kemudian dimasukkan kedalam kantong saku beliau. Hal seperti ini terulang sampai tiga kali. Setelah Abuya meninggalkan Sarang untuk melanjutkan kunjungan ilmiah beliau, Mbah Maemoen membagi-bagikan ketiga apel yang didalamnya terdapat ‘bekas’ gigitan Abuya tadi kepada tiga orang wanita, (seingat saya) Mbah Nun yang rumahnya dibeli Mbah Maemoen untuk kemudian dibangun pondok di atasnya, kalau tidak salah adalah bangunan khos NH. Lalu yang satu lagi diberikan kepada salah satu istri beliau, namun saya lupa, siapakah istri beliau yang mendapatkan hadiah apel berkah gigitan Abuya ini. Apakah Ibu Nyai Fahimah Maemoen atau Ibu Nyai Masthiah Maemoen. Dan yang terakhir pun saya lupa, diberikan kepada siapakah gerangan apel ketiga itu.

Peristiwa ini, paling tidak memberikan gambaran kepada kita sejauh mana seorang ulama sekaliber KH. Maemoen Zubair pun sangat menaruh hormat kepada Ahlul Bait Rasulullah Shollallahu Alaihi Wa Sallam. Bahkan saya sendiri sering sekali mendengar dengan telinga saya sendiri bagaimana beliau sering menuturkan hadis Tsaqolain yang sangat masyhur itu:
المستدرك على الصحيحين للحاكم مع تعليقات الذهبي في التلخيص - (ج 4 / ص 250)
قال رسول الله صلى الله عليه و سلم إني تارك فيكم الثقلين كتاب الله و أهل بيتي و إنهما لن يتفرقا حتى يردا علي الحوض
Rasulullah Shollallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: Aku tinggalkan bagi kalian dua hal yang berat. Kitab Allah (Al-Qur’an) dan keluargaku. Keduanya tidak akan berpisah hingga mereka mendatangiku di samping telagaku nanti

        Disamping beliau juga sering mengingatkan bahwa ulama dari kalangan ahlul bait di akhir zaman ini bagaikan sampan Nabi Nuh, siapa saja yang mau menaikinya, maka dia akan selamat. Sedang siapa saja yang enggan naik atau malah berpaling, maka dia akan celaka, hancur dan binasa. Dalam satu kesempatan, Mbah Maemoen menyampaikan analisa sejarah yang sangat menarik dan luar biasa. Dalam dunia Islam, kita mengenal apa yang disebut dengan Tajdid dan Mujaddid. Dan bahkan ada beberapa kitab yang ditulis berkenaan dengan masalah ini, semisal kitab At-Tanbi’ah Bi Man Yab’atsuhu-Llah ‘Ala Ro’si Kulli Mi’ah buah karya Imam As-Suyuthi. Begitu juga Mbah Maemoen dengan karya beliau yang hampir serupa, berjudul Ulama’una Al-Mujaddidun.

Menurut Mbah Maemoen, setelah tahun ke-1000 hijriyah/abad ke-10, para Mujaddid yang diutus oleh Allah ke bumi ini harus dari kalangan Ahlul Bait Rasulullah. Sebut saja—lanjut beliau—pada abad ke-11 Mujaddid-nya adalah Al-Imam Abdullah Bin Alawi Al-Haddad. Seorang cucu baginda Rasul yang walaupun buta mata lahir, namun melek mata batin-nya. Sehingga jangan heran jikalau kemudian banyak bermunculan karya-karya ilmiah beliau yang indah nan mempesona. Tidak hanya Habib Abdullah Bin Alawi saja yang diutus, akan tetapi juga Al-Imam Sayyid Ja’far Al-Barzanji, penulis kitab sastra berkenaan dengan Maulid Nabi yang sangat terkenal. Disamping juga kitab Lujainu-D-Dani Fi Manaqis Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani.

Lalu pada abad ke-12 hijriyah, Mujaddid-nya adalah Al-Imam As-Sayyid Muhammad Al-Murtadho Az-Zabidi. Beliau adalah satu-satunya ulama yang mampu men-syarahi (memberikan komentar dan catatan) atas kitab Ihya’ Ulumiddin yang tak lain merupakan masterpiec-nya Imam Al-Ghozali. Nama syarah beliau ini adalah Ithafu-S-Sadah Al-Muttaqin (Hadiah untuk orang-orang mulia nan bertakwa). Tidak hanya berhenti pada syarah Ihya’ saja, bahkan beliau mampu menulis syarah atas kitab Mu’jam Arab yang sangat besar, yaitu Al-Qomus Al-Mukhit, buah karya dari seorang pakar Bahasa Arab (Al-Lughowi) Al-Imam Majduddin Ya’qud Al-Fairuzabadi. Syarah atas kitab al-qomus ini diberi nama dengan Taju-L-Arus Fi Syarhi-L-Qomus (Mahkota bagi pengantin, komentar atas Al-Qomus). Dan dalam abad ke-12 hijriyah ini pulalah, allah mengutus pula seorang mujtahid lagi yang mempunyai karya sederhana, ringan akan tetapi kemasyhuran serta kemanfaatannya membumbung tinggi ke seluruh penjuru dunia. Yaitu Al-Imam As-Sayyid Muhammad Al-Marzuqi yang menulis kitab nadzam Aqidatu-L-Awam.

Dan pada abad ke-13 hijriyah, Allah mengutus beberapa ulama dari kalangan Ahlul Bait. Diantaranya adalah Sayyid Ahmad Zaini Dahlan yang menulis buku Tarikh Asyraf Fi Makkah dan beberapa buku keagamaan lainnya. Ada juga Sayyid Bakri Syatho, penulis Hasyiah I’anatu-T-Tholibin ‘Ala Fathi-L-Mu’in. Kitab Fathu-L-Mu’in sendiri ditulis oleh seorang ulama kelahiran india, dan menurut saya pribadi, rasa-rasanya para pengkaji kitab tersebut akan kesulitan jikalau tidak menggunakan Hasyiah Sayyid Bakri ini sebagai pendampingnya.

Lalu siapakah Mujaddid pada abad ke-14 Hijriyah sekarang ini? Mbah Maemoen mengajukan beberapa nama ulama timur tengah dari kalangan Ahlul Bait. Sebagian dari mereka kini telah wafat dan sowan kepada Allah, semisal guru besar para ulama indonesia yaitu Musnidu-D-Dunya Abul Faidh Syaikh Yasin Bin Isa Al-Fadani. Beliau adalah salah satu Ulama Nusantara yang berhasil mengukir prestasi keilmiahan ditingkat internasional, karena beliau ini mengajar di Masjid Al-Haram. Banyak karya-karya ilmiah lahir dari tangan beliau, sebut saja kitab Al-Fawaid Al-Janiyah yang merupakan hasyiah atas kitab Al-Mawahib As-Saniyyah. Belum lagi kitab Nailul Ma’mul Syarah Ghoyatu-L-Wushul yang tak lain merupakan karya besar Syaikh Zakariya Al-Anshori. Memang luar biasa imam Al-Fadani ini.

Selain Syaikh Yasin, ada juga Sayyid Muhammad Bin Alawi Al-Maliki Al-Hasani, yang ceritanya telah saya tuturkan di atas. Memang bisa dikatakan bahwa cucu baginda Rasul yang satu ini merupakan satu-satunya benteng Sunni yang kokoh bertahan mempertahankan akidah Aswaja ditengah-tengah faham Wahhabi yang memang menjadi madzhab negara Saudi Arabia. Banyak karya-karya beliau yang sampai sekarang masih bisa kita nikmati dan kita kaji. Dan tentunya, kitab Mafahim Yajibu An Tushohhah sudah tidak asing lagi ditelinga kita. Yah, memang kitab monumental satu ini sangatlah luar biasa hebatnya, saking hebatnya sampai-sampai hampir seluruh ulama, para hakim dan para mufti diseluruh penjuru negara Islam memberikan sambutan dan pujian mereka terhadap Sayyid Muhammad selaku penulis kitab Mafahim.

Sedangkan Mujaddid yang masih hidup sampai sekarang, menurut Mbah Maemoen adalah semisal Sayyid Zain Bin Ibrahim Bin Smith yang sekarang ini mukim di Madinah. Habib kelahiran Bogor ini juga termasuk salah satu ulama Ahlul Bait yang gigih dalam mempertahankan keyakinan Ahlussunnah di tengah hiruk pikuk faham Wahhabi, yang bisa saya katakan hampir merebak dan menjangkiti setiap sendi-sendi kehidupan warga negara Saudi. Bahkan ada sebagian teman saya yang menjadi murid beliau bercerita, bahwa karena ketegasan dan sikap kritis Habib Zain terhadap idiologi negara ini, akhirnya beliau dilarang untuk memberikan Ta’lim (pengajian) dan dilarang pula untuk menerima santri-santri yang ingin berguru kepada beliau dikediamannya seperti biasa.

Mbah Maemoen menjatuhkan pilihan beliau tentang Mujaddid terhadap Habib Zain bukanlah semata-mata karena kegigihan beliau membela faham Ahlussunnah saja, akan tetapi juga karena keilmuan beliau yang sangat luar biasa. Banyak karya-karya ilmiah yang lahir dari sentuhan tangan dingin beliau, sebut saja kitab Al-Manhaj As-Sawi, belum lagi kitab Syarah Hadis Jibril. Dan masih banyak yang lain lagi. Ada juga Syaikh Sayyid Sholih Farfur Al-Mishri beserta kedua putranya, yaitu Syaikh Sayyid Husamuddin dan Syaikh Sayyid Abdullatif, yang keduanya berada di Damaskus.

Melihat pemaparan Mbah Maemoen yang sedemikian indah nan panjang, terbersit dalam angan-angan saya sebuah pertanyaan: “Apa gerangan maksud dan tujuan analisa Mbah Maemoen yang menarik Ahlul Bait ke dalam kancah Tajdid?”. Sebenarnya, dalam kecintaan pada Ahlul Bait, Mbah Maemoen dan para ulama lainnya sedang mengamalkan firman  Allah dalam Al-Qur’an:
قُلْ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِلَّا الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَى  [الشورى/23]
Katakanlah, "Aku tidak meminta kepadamu suatu upah pun atas seruanku ini kecuali kecintaan kepada keluargaku

Disamping memang Mbah Maemoen sendiri sangat sering sekali mengutip hadis Tsaqolain yang sangat masyhur itu dengan berbagai riwayatnya, sebagaimana telah saya sebutkan di atas tadi. Tetapi yang lebih menarik perhatian saya adalah pemaknaan dan interpretasi yang diberikan Mbah Maemoen terhadap ayat dan hadis tersebut di atas tadi. Sepanjang kajian yang saya lakukan, memang saya belum pernah menemukan bahwa Mbah Maemoen menafsirkan ayat maupun hadis di atas secara eksplisit. Namun dari beberapa mauidzoh maupun pengajian beliau, seakan saya menangkap sebuah isyarat tentang pemaknaan yang diberikan oleh beliau. Sebelum saya menuturkan lebih lanjut penafsiran Mbah Maemoen yang saya pahami, saya ingin menyebutkan terlebih dahulu beberapa penafsiran seputar ayat ataupun hadis di atas. selama kajian sederhana yang saya lakukan, paling tidak ada dua interpretasi ayat di atas, terlebih lagi dalam memahami hadis Tsaqolain di atas.

Pertama adalah pemahaman madzhab Syiah yang secara tegas menyatakan bahwa makna ayat dan hadis di atas tidak akan bisa terealisasi kecuali dengan madzhab Ahlul Bait, baik secara Akidah maupun Fiqhiyah. Dan dalam era kontemporer sekarang ini, madzhab Syiah yang paling nampak berkembang adalah Madzhab Ja’fariyah yang dinisbatkan kepada Imam Ja’far As-Shodiq. Juga Madzhab Zaidiyah yang dinisbatkan kepada Imam Zaid Bin Ali Zainul Abidin. Argumentasi (Hujjah) yang mereka jadikan pijakan dalam menetapkan hal ini adalah hadis Tsaqolain yang telah saya sebutkan di atas tadi. Menurut pemahaman mereka, kata [و أهل بيتي] dalam hadis yang dihubungkan dengan menggunakan huruf ‘Athof “Waw” menunjukkan makna bahwa posisi Ahlul Bait (‘Itroh) adalah sama dengan Kitabullah. Kalau Kitabullah bisa menjadi hujjah, maka Ahlul Bait pun bisa menjadi Hujjah. Atau bisa juga diartikan bahwa Ahlul Bait adalah yang telah diberi otoritas oleh baginda Nabi guna menafsirkan Al-Qur’an.

Kedua adalah pemahaman yang menyatakan bahwa ayat serta hadis di atas tidak lebih hanya menunjukkan kewajiban mencintai, menghormati dan tentunya bersimpati kepada Ahlul Bait. Walaupun andaikata Ahlul Bait Rasul terdzolimi, maka mereka pun mengatakan wajib untuk melakukan pembelaan. Hanya saja, kecintaan mereka terhadap ahlul bait tidak sampai derajat harus mengikuti/menjadikan mereka sebagai imam dan panutan dalam bermadzhab, baik dalam masalah Akidah maupun Fiqhiyyah. Dalam buku Al-Muroja’at yang merupakan buku terindah dan terbagus—paling tidak bagi saya—dalam mendeskripsikan dialog antara Sunni-Syiah, saya menemukan sebuah data bahwa makna kedua ini juga disampaikan oleh Grand Syaikh Universitas Al-Azhar, yakni Syaikh Salim Al-Bisyri.

Nah, lalu di manakah posisi Mbah Maemoen terhadap dua interpretasi yang telah saya sebutkan di atas? Saya melihat Mbah Maemoen berusaha untuk menarik makna ayat maupun hadis di atas tidak hanya pada kecintaan, penghormatan dan simpati kepada Ahlul Bait saja. Bahkan ada kesan beliau menarik ayat/hadis tersebut pada ranah ilmiah. Hal ini bisa kita lihat dari penjelasan beliau di atas yang menyatakan bahwa para Mujaddid setelah abad ke-10 hijriyah haruslah dari kalangan Ahlil Bait Rasul. Dan dalam diskursus Tajdid, tentunya ranah ilmiah lebih mendapatkan porsi dari yang lain, pergerakan atau pemerintahan misalnya. Karena memang ada sebagian ulama yang menyatakan bahwa Tajdid tidak hanya berkutat pada ranah ilmiah saja, terbukti seorang Umar Bin Abdul Aziz Radhiyallahu ‘Anhu pun bisa memperoleh predikat Mujaddid dalam ranah kepemimpinan.

Sebenarnya apa yang beliau lakukan ini—menurut pemahaman dan kajian saya—hampir mirip dengan apa yang dilakukan oleh Madzhab Syiah yang juga menarik ayat/hadis di atas pada ranah illmiah, tidak hanya pada kecintaan dan penghormatan saja.  Hingga pada akhirnya mereka mencapai pada kesimpulan bahwa kecintaan terhadap Ahlul Bait tidak mungkin terealisasi kecuali dengan Taklid pada mereka dalam masalah Akidah ataupun Fiqh, sebagaimana telah saya paparkan di depan. Yang membedakan gagasan Mbah Maemoen dan Madzhab Syiah adalah Mbah Maemoen tidak menetapkan  bahwa Ahlul Bait bisa dijadikan hujjah/merupakan intrepretasi satu-satunya yang paling benar dalam memahami teks Al-Qur’an. Hal ini karena tidak bisa terlepas dari tuntunan akidah Sunni yang tidak memberikan predikat ‘Ishmah pada selain para Nabi. Karenanya siapa pun selain para Nabi dan Rasul sangat mungkin salah dalam pandangan Madzhab Sunni ini, entah itu Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad maupun selain mereka. Sehingga tidak boleh fanatik terhadap selain Kitabullah dan Sunnah baginda Nabi. Masih terngiang dengan jelas ditelinga kita ungkapan spektakuler Imam Malik Bin Anas yang sangat masyhur itu:
كل منا يترك ويرد عليه قوله إلا صاحب هذا القبر
Masing-masing dari kita boleh saja ditinggalkan dan dikritik pendapatnya, kecuali orang yang ada dalam kuburan ini (baginda Nabi Muhammad)


        Walhasil, bagi saya Mbah Maemoen telah menampilkan madzhab dan interpretasi baru dalam memahami teks ayat/hadis di atas yang sangat berbeda sama sekali dari dua interpretasi yang telah ada sebelumnya. Mbah Maemoen tidak hanya berhenti pada taraf kecintaan dan penghormatan saja, tetapi juga pada ranah ilmiah tanpa harus terjebak dalam pemahaman Madzhab Syiah. Beliau pun tidak hanya berhenti pada gagasan saja, tapi beliau juga mempraktekkan gagasan beliau ini dengan menyuruh putra-putra, cucu maupun sebagian santri-santrinya untuk melanjutkan belajar mereka kepada Sayyid Ahmad Bin Muhammad Al-Maliki Al-Hasani, Sayyid Abbas Bin Alawi Al-Maliki Al-Hasani (adik kandung Sayyid Muhammad), Sayyid Salim Bin Abdullah As-Syathiri (pengasuh Ribath Tarim Yaman). Disamping juga belajar kepada Syaikh Sholih Farfur di Mesir dan Syaikh Husamuddin maupun Syaikh Abdullatif di Syiria yang kesemuanya pun masih Ahlul Bait Rasulullah. Ya, merekalah sampan Nabi Nuh yang akan menyelamatkan siapa saja yang “menaikinya” dari terkaman ombak duniawi yang fana ini. Lalu, maukah kita menaikinya? Semoga. Wallahu A’lam Bis Showab.

Secercah Keteladanan Kiai Maftuhin Sholih An-Nadwi



Uswatun hasanah. Kira-kira itulah ungkapan yang tepat untuk menggambarkan sosok guruku yang satu ini. Dan memang benar, bagiku sendiri, beliau adalah sesosok guru yang tidak terlalu banyak memberikan petuah lewat kata-kata saja. Akan tetapi beliau lebih menekankan pada prilaku dan tingkah laku sebagai sebuah petuah. Jujur saja, aku menemukan kaidah “Lisanu-L-Haq Afshohu Min Lisani-L-Maqol” benar-benar teralikasikan dalam setiap tindakan guruku ini, yakni KH. Maftuhin Sholih An-Nadwi Allah Yarhamuh, Muassis Pondok Pesantren Ar-Raudhah Sukodadi, Lamongan.
        An-Nadwi merupakan gelar ilmiah yang beliau peroleh karena kepakaran dan keahlian beliau dalam bidang tata bahasa Arab telah diakui oleh universitas Nadwatul Ulama—bukan Nahdhatul Ulama lo—India. Selain penyematan gelar tadi, ada bukti lain yang menguatkan kepakaran beliau dalam Grammer Arabic ini. Yaitu sambutan dan Taqridz (semacam sanjungan) yang diberikan oleh Prof. Dr. Mahbuburrohman Al-Azhary atas buku Syarah Nadzam Al-Amrithy yang merupakan salah satu karya Kiai Maftuhin. Padahal Dr. Mahbuburrohman adalah salah satu dosen beliau saat di India sana. Belum lagi karya-karya lain yang lahir dari tangan dingin beliau, semisal syarah Alfiyah Ibnu Malik, Nadzom Maqshud dan bahkan beliau pernah menulis kamus saku kontemporer yang menurutku belum pernah ada sebelumnya. Belum lagi karya-karya beliau lainnya yang kesemuanya menjadi bukti nyata bahwa memang beliau layak mendapatkan gelar An-Nadwi dalam bidang ilmu nahwu. Banyaknya karya tulis yang lahir dari sentuhan tangan beliau ini tidak hanya menunjukkan kepakaran beliau, tapi juga memang karena kegemaran beliau menumpahkan segala isi hatinya lewat tulisan, ketimbang lewat sebuah ucapan.
        Walaupun hanya sebentar saja belajar kepada beliau di Pesantren Ar-Raudha—tidak sampai satu tahun—aku banyak mendapatkan pelajaran berharga. Yang sebentar itu ternyata membawa kesan yang begitu mendalam dan luar biasa dalam hati terhadap sosok Kiai Maftuhin ini. Terutama tentang ke-wara’-an, keteladanan, akhlak, kesabaran dan tentunya tentang kasih sayang seorang guru terhadap santri-santri. Semua itu sangat nampak nyata sekali dalam prilaku beliau, hingga akhirnya semua itu mengukir sebuah karakteristik indah dalam jiwa santri-santri beliau, termasuk diriku.

        Tentang ke-wara’-an beliau, aku sudah membuktikannnya sendiri. Tepatnya saat dalam satu kesempatan beliau mengajakku dan satu teman lagi (aku lupa namanya) untuk ikut menyertai beliau pergi ke Langitan, Tuban guna mengajar disana. Dalam satu minggu, biasanya beliau mempunyai jadwal mengajar selama dua hari di ponpes Langitan yang merupakan almamater beliau dulu. Waktu itu, jarak tempuh Langitan-Lamongan yang tidaklah terlalu jauh biasa kami tempuh dengan menaiki sebuah bis engkel sedang. Dalam bis tersebut terdapat kursi yang berjajar dua-dua, samping kiri dua dan kanan dua juga. Aku dan temanku memilih duduk didua kursi bagian kiri bis, sementara beliau duduk sendirian disalah satu kursi bagian kanan. Seperti biasa, kondektur mulai berjalan perlahan sambil menarik ongkos dari masing-masing penumpang. Saat tiba pada giliranku, Kiai Maftuhin memanggil pak kondektur:
“Pak, sini...! Saya yang bayar. Ini duitnya, saya bayar untuk 4 kursi ya. Yang dua untuk 2 santri ini, sedang yang lain untukku”, begitulah kira-kira kata yang terucap dari mulut beliau yang mulia.
        “Loh...Njenengan sendirian gitu kok pak?”, tanya pak kondektur kebingungan.
“Iya, tapi tolong biar kursi dipinggir saya ini dikosongkan saja. Saya yang bayar. Nanti kalau ada penumpang wanita yang mau duduk, tolong disuruh ke depan saja atau mencari tempat lain. Tapi kalau yang datang seorang lelaki, ya tidak apa-apa kalau mau duduk disamping saya ini. Anggap saja saya bayar dua”, tukas beliau.

Aku pun terkaget-kaget mendengar alasan yang beliau paparkan tersebut. Memang rada-rada aneh bagiku, tapi sejatinya inilah pendidikan ke-wara’-an secara langsung untuk seorang santri sepertiku. Demi menjaga kesucian hati, beliau rela untuk mengeluarkan pembayaran ongkos bis dua kali lipat. Aku menangkap hal itu, maka dengan rasa berat hati aku beranjak mendekati kursi kosong yang berada tepat disamping beliau, lalu mendudukinya. Melihatku datang lalu duduk disampingnya, beliau hanya tersenyum simpul, seakan beliau pun paham maksud tindakan yang aku lakukan.

Ini baru ke-wara’-an beliau, belum lagi keteladanan beliau yang sangat terang benderang bak terangnya sinar matahari di siang bolong. Ya, tentang keteladanan beliau ini, aku mempunyai kejadian unik nan menarik yang lagi-lagi hal itu membuat mataku gerimis. Pernah dalam satu kesempatan beliau mengintruksikan kami para santri untuk ikut berpartisipasi dalam pembangunan pesantren yang sedang berlangsung, diantaranya adalah dengan ikut menyumbangkan sebagian uang sangu kami dari orang tua. Seberapa nominalnya adalah sesuai dengan kemampuan kami masing-masing yang tentunya sangat berbeda antara satu dan yang lain. Tetapi yang sangat mengagumkan adalah apa yang beliau lakukan di depan kami semua sebelum acara pemungutan sumbangan dilakukan. Beliau berdiri lalu berkata:

“Ini—sambil memegang uang dengan nominal Rp. 100.000,- —sumbangan  atas namaku pribadi. Ini—lagi-lagi beliau mengambil uang sebesar Rp. 95. 000,- —atas nama istriku. Ini—dengan memegang uang Rp. 90.000,- —untuk putraku Husain Muqoffi. Ini—dengan memegang uang sebesar Rp. 85.000,- —untuk putriku si Fulanah (aku lupa nama beliau). Ini—dengan memegang uang sebesar Rp. 80.000,- —untuk putraku si Hasan Al-Mahi. Ini—dengan memegang uang rp. 75. 000,- —untuk putraku si Ali Murtadho. Ini—sambil memegang uang rp. 70. 000,- —untuk putraku si Muhammad. Nah, aku sudah memulianya, sekarang giliran kalian”, kata beliau.

        Pemandangan yang indah nan elok ini benar-benar mengguncang kejiwaan seorang santri kecil Ndeso sepertiku. Uang senilai Rp. 50. 000 saja bagiku waktu itu—sekitar tahun 2002-2003—adalah nominal yang besar. Bagaimana tidak? Aku yang tak lain hanyalah anak seorang penjual es cendol dan tukang tambal ban setiap harinya, tentunya sangat terbatas sekali sangu yang aku dapatkan dari orang tuaku. Namun sikap dermawan yang baru saja beliau tampilkan itu benar-benar memukau jiwaku. Bayangkan, masing-masing putra-putrinya yang kurang lebih berjumlah 6 orang itu, beliau shodaqohi satu persatu. Dan adegan itu beliau tampilkan di depan kami semua para santri. Aku yakin tidak ada tujuan lain dari tindakan beliau kecuali mendidik kami untuk terbiasa dalam bersedekah semampunya. Karena dengan bersedekah, keterikatan hati seseorang terhadap dunia akan berkurang, atau bahkan mungkin bisa hilang sama sekali. Akhirnya kami para santri pun masing-masing mengeluarkan uangnya untuk ikut andil dalam pembangunan pondok, walaupun pada waktu itu sebagian besar dari kami sedang bokek karena sudah mendekati akhir tahun. Aku jadi teringat dengan sebuah puisi yang dulu sering sekali di dendangkan oleh Imam Ibnu ‘Aqil dalam Syarah Alfiyah Ibnu Malik:
ليس العطاء من الفضول سماحة
حتى تجود وما لديك قليل
Kedermawanan bukanlah kau memberikan sesuatu saat ada yang lebih
Hingga engaku berani memberikan sesuatu sedang milikmu sendiri hanyalah sedikit

        Kenanganku dengan beliau memang tidak terlalu banyak, tapi menurutku sangat berkesan sekali. Diantaranya adalah saat pertama kali aku datang ke pondok. Waktu itu aku bertempat di kamar Utsman, setelah sebelumnya dalam beberapa hari aku menempati kamar Ali (perlu diketahui bahwa kamar-kamar di pondok Ar-Raudhah dulu hanya ada 4 yang masing-masing sangat besar. Masing-masing dari kamar itu diberi nama Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali). Sebagai santri baru yang masih kecil, aku masih bingung dengan tatacara hidup dalam dunia pesantren, karena memang baru pertama kali itulah aku mondok. Pernah dalam satu malam, aku pengen ke kamar mandi, akan tetepi aku takut karena kamar mandi pondok Ar-Raudhah pada waktu itu berada di belakang musholla yang gelap. Perasaanku bercampur aduk, antara ingin segera buang air kecil dikamar mandi dan perasaan takut yang menghinggapi hati. Maju mundur langkahku, sesekali pintu kamar aku lewati, tapi saat perasaan takut dan merinding kembali menyeruak, aku mundur lagi.

        Tiba-tiba ada telapak tangan yang memegang pundakku. Aku terkaget-kaget, dengan perasaan takut, ngeri dan merinding aku menoleh ke belakang dengan mata terpejam. Kepalaku sudah memutar, pipiku menyentuh pergelangan tangan misterius yang menyentuh pundakku. Perlahan aku buka kedua mata, dan alhamdulillah yang nampak di depanku bukanlah sesesosok jin ataupun syaitan, tetepi sebaliknya adalah sosok berkaos oblong putih bersih, jenggot putih-pirang sepanjang leher yang tertata begitu rapinya, sehingga menambah perasaan segan bagi siapa saja yang melihatnya. Ditambah lagi wajah bersih serta senyum ramah yang selalu mengembang diwajah itu, hingga siapapun orang yang memandangnya menjadi nyaman dan betah. Dan tentunya pada malam itu perasaan takutku berubah menjadi perasaan segan dan ewoh pekewoh. Dengan lembut beliau bertanya:

        “Pengen ke kamar mandi? Takut tah?”

Aku hanya diam termenung sejenak dan terheran-heran mendengarkan pertanyaan guruku tersebut. Dengan tersenyum pula beliau kembali berkata: “Mari aku antar”. Aku pun menurut saja saat tangan beliau menuntunku berjalan menuju ke kamar mandi yang kebetulan berada di belakang musholla. Dan memang kamar mandi itu sangat gelap sekali, kalaupun ada lampunya ya hanya satu lampu 5 wat yang memancarkan cahaya orenj kekuning-kuningan yang tidak jelas, sedang dibelakang dan kanan-kiri kamar mandi masih banyak aku temukan tanaman bambu yang kurang terurus dengan baik. Bukannya lantas kembali meninggalkanku, guruku ini malah menunggu hingga aku keluar dari kamar mandi, dan lagi-lagi beliau menunjukkan kasih sayangnya yang sangat mendalam kepadaku—dan aku yakin begitu pula sikap beliau kepada santri-santri yang lain—dengan mengantarkan aku kembali ke kamar Utsman. Sampai di depan pintu kamar beliau berpesan:

“Cepat tidur ya, nanti pukul setengah 04.00 harus sudah bangun, kita sholat bareng-bareng”.
“Iya guru”, jawabku dengan menunduk.
Bagi sebagian teman, mungkin peristiwa ini dianggap lumrah dan biasa-biasa saja. Namun bagiku yang waktu itu masih kecil, peristiwa ini sangat luar biasa membekas dalam jiwa, karena jarang-jarang sekali aku menemukan ada seorang Kiai yang ‘Alim, ‘Amil, pengasuh pesantren dan bahkan punya banyak karya, tetapi kasih sayangnya terhadap para santri nampak begitu besar sekali, hingga urusan mengantarkan ke kamar mandi pun beliau bersedia melakukannya. Karakter beliau yang demikian inilah yang kemudian sangat menginspirasiku untuk juga welas asih dan sayang terhadap teman-teman yang menganggapku sebagai guru mereka. Semoga anggapan mereka tidak salah.

Saat aku berpamitan hendak pindah pondok—ya akhirnya memang aku pindah ke pondok Sarang asuhan KH. Maemoen Zubair karena hal tertentu yang tidak bisa saya ceritakan—aku pun sowan kepada Kiai Maftuhin. Beliau menyambut dengan penuh kehangatan dan dengan penuh kelembutan beliau bertanya kepadaku:

“Fi Ayyi Ma’hadin Sa Tumdhi Dirosatak Ya Dhiya’?[1]”
“Insya Allah Fi Ma’had Sarang Ya Syaikh, Ma’hadi-S-Syaikh Mamoen Zubair[2]”, jawabku.
“Thoyyib. Ushika Bi Tsalasti Umurin Faqbalha Bi Qolbin Saliim[3]”
“Na’am Ya Syaikhi[4]”
عليك بملازمة التعليم والتعلم في أي مكان كان. وعليك بملازمة قيام الليل فإنه من دأب الصالحين. وأحرم عليك الدخان ولا تجادلني في حكمه.
Hendaknya engkau harus rajin belajar dan mengajar dimanapun kau berada. Hendaknya kau juga selalu melakukan Qiyamu-L-Lail (shalat malam), karena itu merupakan salah satu karakteristik orang-orang sholih. Dan aku haramkan rokok bagimu, dan janganlah kau membantahku tentang hukum rokok ini”.
        Aku pun hanya terdiam mendengar pesan beliau yang singkat tetapi mendalam ini. Aku tersadar dari kediamanku saat Muzayyin—teman yang mengantarku sowan ke Kiai Maftuhin—menyenggol siku-ku, tanda dia mengajakku segera kembali. Dan dengan tergagap aku pun berkata:
“Insya Allah pesan ini akan berusaha saya lakukan duhai guruku. Aku mohon anda me-Ridhai kepergianku dan selalu mendoakanku agar ilmu Allah yang dititipkan kepadaku nanti bisa bermanfaat”.
“Iya, Insya Allah”, jawab beliau dengan senyum mengembang.

Setelah satu tahun kepulanganku dari pondok Ar-Raudhah, Lamongan, aku mendengar kabar bahwa beliau sakit. Namun lagi-lagi, karena waktu di pondok yang terbatas dan tentunya uang yang pas-pasan, aku belum bisa menjenguk beliau di Lamongan. Baru setelah 2 tahun aku pulang, aku mendengar kabar tentang kewafatan beliau dari temanku yang juga pindah ke Sarang, yaitu Gus Thoifur Tuban. Gus Thoifur ini bercerita kepadaku bahwa saat dia menjenguk Kiai Maftuhin yang dirawat di Rumah Sakit, beliau sempat menanyakan kabar teman-teman kepada Gus Thoifur, termasuk diriku juga. Kata Gus Thoifur, Kiai Maftuhin kangen ingin berjumpa dengan kami semua, tapi apa daya, aku malah baru bisa berkunjung ke Lamongan justru untuk Ziarah ke makam beliau. Bibirku hanya mampu berucap:
“Allahummaghfir Lahu War Hamhu Wa ‘Afihi Wa’fu ‘Anhu. Wa Akrim Nuzulahu Wa Wassi’ Madkholahu Waj’alil Jannata Matswahu Bi Rohmatika Ya Arhamar Rohimin”



[1] “Di pondok manakah kau akan meneruskan belajarmu Dhiya’?”. Memang dalam pondok ar-raudhah dulu diterapkan sistem Ayyamu-L-Lughoh Al-Arobiyah (yakni hari-hari dimana semua santri wajib memakai bahasa arab dalam setiap dialog yang digunakan). Akhirnya kami terbiasa untuk berbicara kepada kiai Maftuhin dengan menggunakan bahasa Arab.
[2] “Insya Allah di pondok Sarang guru, di pondoknya Kiai Maemoen Zubair”.
[3] “Baiklah, aku ingin berpesan 3 hal kepadamu, terimalah pesanku ini dengan hati yang lapang”.
[4] “Iya guru”




Powered by Blogger.
Advertise 650 x 90
 
Copyright © 2014. Anjangsana Suci Santri - All Rights Reserved | Template - Maskolis | Modifikasi by - Leony Li
Proudly powered by Blogger