Advertise 728x90

Latest Post

GHIBAH MILLENIAL

Written By Unknown on Tuesday, March 19, 2019 | 7:48 AM

Imam An-Nawawi berkata dalam kitab Al-Adzkâr:

ومنها--أي من الستة التي يجوز فيها الغيبة بل قد تجب-- إذا رأى متفقها يتردد إلى مبتدع أو فاسق يأخذ عنه العلم وخاف أن يتضرر المتفقه بذلك فعليه نصيحته ببيان حاله بشرط أن يقصد النصيحة وهذا مما يغلط فيه وقد يحمل المتكلم بذلك الحسد ويلبس الشيطان عليه ذلك ويخيل إليه أنه نصيحة فليتفطن

"Di antara (6 hal yang di perbolehkan untuk berghibah dan bahkan terkadang wajib) adalah saat 
melihat orang yang akan belajar kepada Ahli Bid'ah atau orang Fasiq, ia ingin belajar ilmu dari mereka dan di khawatirkan seorang yang belajar itu bisa mendapatkan bahaya dari orang tersebut, maka wajib bagi orang yang tahu untuk menjelaskan kondisi gurunya. Tapi (penjelasan tersebut harus) dengan niat murni memberikan nasehat. Nah, di sinilah banyak terjadi kesalahan. Terkadang seseorang memberikan nasehat ini karena terdorong Hasud (dengki pada orang Alim tadi), ia di tipu oleh Syaithan, dan seolah-olah ditampilkan khayalan pada dirinya bahwa ia memberikan nasehat (padahal itu karena dengki) "

Syaikh Muhammad Said Babshil dalam kitab Is'âdur Rofîq menjelaskan:

قوله (يحل عرضه وعقوبته) أي يبيح أن يذكر بين الناس بالمطل وسوء المعاملة لا غيرهما إذ المظلوم لا يجوز أن يذكر ظالمه إلا بالنوع الذي ظلمه به دون غيره

"Dawuh Baginda Nabi (يحل عرضه وعقوبته) artinya adalah di perboleh untuk disebar-sebarkan kreteria orang yang tidak mau membayar hutang padahal dia punya, dengan di sebut sebagai orang yang tukang menunda-nunda bayar hutang dan jelek Muamalahnya. Tidak boleh menyebarkan sifat jelek lain selain keduanya. Karena seseorang yang di Dholimi pun tidak boleh menyebutkan kejelekan orang yang Mendholimi kecuali hanya macam kedzoliman yang dia terima, bukan yang lain"

Dalam kesempatan lain, Syaikh Muhammad Babshil juga menulis:

الخامس أن يتجاهر بفسقه أو بدعته كالمكاسين وشربة الخمر ظاهرا وذي الولايات الباطلة فيجوز ذكرهم به دون غيره فيحرم ذكرهم بعيب آخر إلا أن يكون له سبب آخر مما مر

"No 5 adalah saat seseorang menampakkan kefasikan dirinya/bid'ah seperti para penarik pajak gelap (Makkas) dan para peminum arak secara terang-terangan, juga para pemilik kekuasaan yang batil. Maka boleh menyebutkan mereka dengan kesalahan yang mereka lakukan saja, bukan dengan menyebutkan kesalahan/kejelekan lain (yang tidak ada kaitannya dengan masalahnya). Oleh karenanya, haram menyebarkan kejelekan mereka dengan cacat selain (yang berhubungan di atas) kecuali ada sebab lain sebagaimana telah disebut sebelumnya"

Dalam kesempatan sebelumnya, Syaikh Babshil juga berkata:

الرابع تحذير المسلمين من الشر ونصحهم كجرح الرواة والشهود والمصنفين والمتصدين لإفتاء أو علم أو قراءة مع عدم الأهلية أو مع نحو فسق أو بدعة وهم دعاة إليها ولو سرا فتجوز إجماع بل تجب

"No 4 adalah memperingatkan umat Islam dari kejelekan dan menasehati mereka, seperti halnya Jarh (menjelaskan kekurangan) para periwayat Hadis, para saksi, para penulis buku atau orang-orang yang menampilkan diri sebagai ahli Fatwa, Ahli Ilmu atau ahli membacakan kitab, sedangkan ia sendiri bukan Ahlinya. Atau Ahli tapi dia Fasiq, ahli Bidah yang mengajak pada Bid'ahnya walaupun diam-diam. Maka menyebutkan kekurangan mereka itu boleh, bahkan wajib"

Kesimpulan:

1. Ghibah itu dosa besar. Dan dalam era Teknologi ini, ada yang namanya Ghibah Millenial.

2. Karena hukum awal dan asli dari Ghibah itu Haram, maka Ghibah di perbolehkan hanya dalam beberapa kondisi tertentu saja.

3. Salah satu kondisi Ghibah yang boleh adalah saat kita melihat ada orang yang bukan ahli ilmu tapi dia tampil ke depan dan berfatwa, menyampaikan ilmu, padahal dia bukan Ahli.

Atau dia seorang pemimpin yang kurang adil, pelaku Muamalah (kerja) yang gak amanah, dan beberapa hal yang saya sebutkan di atas. Maka orang-orang model seperti di atas boleh untuk di Ghibah. Tapi dengan syarat:

a. Niat kita menuturkan kejelekannya adalah murni karena menasehati, bukan karena hasud (dengki), bukan karena beda pilihan politik, bukan hanya karena like dan dislike saja atau sebab-sebab lain yang bukan karena Allah swt.

b. Kejelekan yang boleh kita tuturkan hanyalah satu macam kejelekan yang menjadi alasan kita boleh meng-Ghibah. Jadi tidak boleh lantas karena dia salah dalam satu kejelekan, kita menuturkan, mengumbar dan membuka semua kejelekan serta aibnya. Haram hukumnya. Apalagi jikalau di cari-cari kejelekannya, di buat-buatkan, di Framing dan disebar luaskan, itu semua harom.

c. Dalam menuturkan kejelekan orang yang memang boleh di tuturkan kejelekannya itu, kita tidak boleh sampai merasakan kelezatan dan kenikmatan dalam hati (Tafakkuh) dengan menuturkan, membuka dan menyebar kejelekan-kejelekan tersebut.

Jikalau ada yang kurang, salah atau meleset, silahkan di tambahi, di koreksi dan di luruskan dengan niat nasihat.

Wallahu A'lam.



Maulid Nabi Dan Adab-Adab Pelaksanaannya.

Written By Unknown on Friday, December 20, 2013 | 9:27 PM


·    
  Sekilas Tentang Maulid Nabi.

Sebentar lagi umat Islam akan memasuki bulan Rabiul Awal, bulan dimana cahaya sejuk keimanan membelai sendi-sendi kehidupan manusia. Bulan dimana mendung jahiliah tersingkap oleh hembusan iman. Bulan yang burung-burung pun berkicau dengan riang akan kedatangannya. Bulan yang hewan-hewan pun saling berlomba untuk menyambutnya. Bulan dimana para perindu menemukan cinta sejatinya. Yah, dialah bulan dimana baginda Nabi agung Muhammad SAW dilahirkan ke alam dunia ini.

            Pada bulan Rabiul Awal ini, mayoritas umat Islam—kecuali beberapa kelompok dalam tubuh umat Islam yang menganggap perbuatan ini sebagai bid’ah—banyak mengadakan perayaan-perayaan ataupun sekedar jamuan berupa makanan dan minuman. Banyak kita temukan masjid-masjib ataupun mushalla-mushalla yang riuh dan ramai dengan bacaan semisal Burdah dan Barzanji. Tidak jarang pula kita temukan acara-acara resmi yang diadakan oleh sebuah yayasan ataupun perorangan dengan tema perayaan maulid Nabi. Sebenarnya semua itu kalau diteliti dengan seksama, hanyalah merupakan bentuk manifestasi kecintaan seseorang terhadap baginda Nabi Muhammad SAW, disamping merupakan ungkapan syukur atas hadiah yang paling berharga bagi umat manusia dan kemanusiaan, yaitu baginda Nabi Muhammad saw. Hanya saja pengejawantahan rasa cinta dan syukur satu orang tentunya berbeda dengan yang lainnya. Ada yang dengan mengadakan acara-acara seperti tersebut di atas, ada pula yang dengan melakukan ritual tertentu, semisal puasa, membaca shalawat, bersedekah dan masih banyak yang lain.

Perayaan maulid Nabi merupakan budaya yang telah dilakukan oleh umat Islam semenjak berpuluh-puluh atau bahkan beratus-ratus tahun yang lalu. Orang pertama yang mengadakan perayaan maulid Nabi ini adalah raja dari Irbil—daerah yang masuk dalam bagian Republik Iran sekarang—yang bernama raja Mudzoffar Kukberi. Kemudian perayaan Maulid Nabi ini berjalan dan menyebar dihampir seluruh penjuru negeri dimana ada umat Islam disana, semuanya dengan tujuan untuk membangkitkan kembali semangat mencintai baginda Nabi dan mensyukuri kelahirannya, hingga akhirnya kita benar-benar bisa mengikuti ajaran dan syariat yang telah diturunkan kepada beliau.Hanya saja, akhir-akhir ini perayaan maulid Nabi hanya menjadi ajang ceremonial yang hambar. Kami katakan hambar, karena pada kenyataannya acara perayaan maulid Nabi—dengan ala ceremonial yang penuh gemerlapan dan tanpa nuansa keilmuan—nampaknya belum sesuai dengan tujuan diadakannya perayaan maulid Nabi itu sendiri. Memang banyak kita lihat para dai dan penceramah diundang guna memberikan Mauidzah dan wajangan pada acara tersebut. Akan tetapi, masyarakat yang menerima mauidzah itu pun nampaknya belum bergeser dari level mereka yang terdahulu. Yang asalnya tukang ngrumpi pun ya tetap jalan terus, yang tukang korupsi pun juga masih terus semangat, yang asalnya tidak pernah shalat ya tetap tidak mau shalat dan masih banyak yang lain. Lalu, dimanakah letak ketidak tepatan perayaan Maulid Nabi yang selama ini kita laksanakan? Apakah memang ada kesalahan dalam tata cara pelaksanaan maulid Nabi itu sendiri? Nah, dalam kesempatan singkat inilah kami tidak ingin membahas tentang bagaimana hukum pelaksanaan maulid Nabi, akan tetapi kami ingin mengetengahkan sedikit adab-adab dalam pelaksanaan maulid Nabi, agar adanya pelaksanaan acara ini benar-benar membawa manfaat kepada umat, sehingga benar-benar bisa mengubah pola pikir dan prilaku umat untuk dapat lebih meneladani baginda Nabi Muhammad SAW.

·      Adab-Adab Perayaan Maulid Nabi.

Sebagai sebuah kegiatan dan ceremonial yang telah menjadi bagian dari budaya dan tradisi mayoritas umat Islam, perayaan Maulid Nabi tentunya harus dilakukan sesuai dengan tuntunan serta ajaran dari Islam itu sendiri. Dibawah ini adalah tuntuan dan adab perayaan maulid Nabi yang telah dirangkum dengan ringkas oleh Hadhratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari—muassis Nahdhatul Ulama dan ponpes Jombang—dalam salah satu karya beliau yang berjudul “At-Tanbihatul Waajibat Liman Yashna’ul Maulid Bil Munkarat”. Di antara tuntunan itu adalah sebagai berikut:
  1. Tidak boleh melakukan perayaan maulid Nabi dengan menggunakan alat-alat musik yang diharamkan oleh ajaran Islam. Semisal gitar, biola dan lainnya.
  1. Tidak boleh mengiringi alat musik tersebut dengan bertepuk tangan dan gelak tawa yang semuanya merupakan kebiasaan dari orang-orang jelek dan fasiq.
  1. Tidak boleh adanya Ikhtilath (percampuran) yang diharamkan oleh ajaran Islam antara laki-laki dan perempuan. Percampuran atau Ikhtilath yang diharamkan dalam Islam adalah sekiranya bisa terjadi persentuhan antara kulit seorang lelaki dan perempuan. Hal itu bisa dilihat dalam buku.
  1. Tidak boleh adanya aurat yang terbuka, baik dari seorang laki-laki ataupun wanita. Aurat laki-laki adalah bagian tubuh antara pusar dan lutut, sementara aurat seorang wanita adalah semua bagian tubuhnya kecuali muka dan kedua telapak tangan.
  1. Tidak boleh ada joget-jogetan yang menampilkan gerak tubuh dan gaya seorang wanita, walaupun itu dilakukan oleh seorang lelaki, kecuali dengan zafin.
  1. Tidak boleh ada permainan-permainan yang didalamnya terdapat judi atau sesuatu yang menyerupainya. Hal ini disebutkan oleh Kiai Hasyim karena ternyata dalam pelaksanaan maulid di era beliau, sudah ada banyak kemungkaran yang terjadi, sehingga hal itu menuntut beliau untuk menulis sebuah buku dengan judul yang kami sebutkan di atas.
  1. Tidak boleh ada pemubadziran harta dalam rangka pelaksanaan Maulid Nabi dengan cara menggunakan harta-harta yang telah terkumpul dalam segala hal yang diharamkan atau yang dimakruhkan.
  1. Tidak boleh ada pembacaan ayat suci Al-Qur’an dengan irama dan lagu-lagu dengan melebihi kadar yang diperbolehkan oleh ajaran Islam dalam Ilmu Tajwid atau bahkan bisa menjatuhkan seseorang pada Lahn yang bisa merubah makna.
  1. Jangan sampai ketika ada orang baca al-Qur’an lalu si pendengar menyebut kata “khoir-khoir” [baik-baik] atau kata “Ahsanta” [kau telah berbuat kebaikan], bahkan jika si pembaca ayat al-Qur’an tadi salah dalam bacaan lalu ada orang mengatakan demikian, maka hukumnya bisa haram.
  1. Kesimpulan dari semua hal di atas adalah jangan sampai perayaan Maulid Nabi yang mulia ini dikotori dengan kemaksiatan-kemaksiatan yang dilarang oleh ajaran agama Islam.
·      Akibat dari kemungkaran dalam perayaan maulid.

Sebagaimana telah kami jelaskan di atas tentang beberapa ajaran dan tuntunan Islam dalam perayaan Maulid Nabi, yang jika kesemuanya dilakukan maka Insya Allah acara Maulid Nabi tersebut benar-benar membawa berkah bagi semua umat Islam, dengan semakin meningkatnya kebaikan dan keimanan umat Islam itu sendiri. Semua itu karena tentunya mereka akan benar-benar merasakan bagaiamana indahnya cinta dan mengikuti prilaku baginda Nabi Muhammad SAW. Akan tetapi jika adab-adab perayaan Maulid, sebagaimana telah kami jelaskan di atas, tidak dilaksanakan, maka yang timbul adalah sebaliknya. Diantara kejelekan yang timbul jika perayaan Maulid Nabi tidak dilakukan dengan ajaran dan adab semestinya adalah sebagai berikut:
  1. Jika dalam pelaksanaan maulid terdapat hal-hal yang diharamkan oleh Allah, maka yang muncul adalah jiwa yang munafik, karena seseorang menampakkan diri seolah-olah sebagai pecinta baginda Nabi, akan tetapi pada dasarnya dia adalah orang yang ingin menghancurkan agama dan umat baginda Nabi.
  2. Jika ada sekelompok orang melaksanakan perayaan maulid Nabi, akan tetapi didalamnya terdapat kemungkaran dan hal itu hanya didiamkan saja oleh para ulama yang ada, maka itu akan menimbulkan kesan diperbolehkannya perayaan maulid dengan model yang demikian. Disinilah salah satu fungsi dari Amar Ma’ruf Nahi Munkar, tapi tentunya dengan kreteria-kreteria pelaksanaan Amar Ma’ruf Nahi Munkar yang telah di jelaskan oleh para ulama dalam kitab-kitab karya mereka.
  3. Perayaan maulid Nabi yang didalamnya terdapat kemungkaran adalah satu bentuk tidak menghormati baginda Nabi, atau dalam bahasa pesantren dianggap sebagai Su’ul Adab. Karena pada dasarnya perayaan Maulid Nabi adalah salah satu bentuk Ta’dzim atau penghormatan kepada baginda Nabi. Sedang tindakan ma’siat adalah satu perbuatan yang tidak dicintai oleh baginda Nabi, maka sama saja dengan menyakiti baginda Nabi jika kita melaksanakan perayaan Maulid Nabi dengan segala bentuk kema’siatan didalamnya.
  4. Adanya kema’siatan dalam acara Maulid Nabi akan dijadikan celah oleh orang-orang yang tidak senang dengan substansi perayaan maulid itu sendiri. Walaupun sebenarnya itu hanyalah oknum saja, akan tetapi kenyataan yang menampilkan adanya kema’siatan dalam perayaan maulid bisa dijadikan justifikasi oleh mereka dalam melancarkan kritikan dan serangan mereka.
  5. Dan masih banyak kemusykilan yang muncul jika kita tidak berpegang dan berjalan sesuai dengan ajaran dan tuntunan Islam dalam perayaan Maulid Nabi.
Walhasil, dalam setiap tindakan, ucapan dan tingkah laku hendaknya kita sebagai umat Islam selalu berusaha untuk menjadikan nilai-nilai ajaran Islam sebagai pedoman hidup. Sehingga kita tidak terjatuh dalam kerusakan dan kehancuran. Lebih-lebih jika amaliah yang kita lakukan adalah perayaan Maulid Nabi yang merupakan tindakan mulia menurut pandangan agama. Kita akan benar-benar merasakan manfaat, barokah serta kebaikan dari perayaan Maulid Nabi ini jika kita benar-benar melakukannya atas dasar cinta terhadap baginda Nabi, Ta’dzim kehadirat baginda Nabi dan syukur atas dilahirkannya baginda Nabi ke dunia ini sebagai rahmat bagi alam semesta. Dan tentunya semua itu bisa dicapai—diantaranya—dengan selalu berusaha untuk sesuai dengan tuntunan beliau dalam bermaulid. Wallahu A’lam Bis Showab.



Kalisari:
21-Desember-2013 M.

Khutbah Tentang Persaudaraan Di Masjid Jami' Sayung

Written By Unknown on Thursday, November 28, 2013 | 5:48 AM

28 November 2013 pukul 20:05
إن الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِل لَهُ وَمَنْ يضْلِلْ فَلا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاإِلهَ إِلا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَن سَيِّدَنَا مُحَمدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لا نَبيّ بَعْدَهُ، اللهُم فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى هَذَا النبِيِّ الْكَرِيْمِ وَعلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ وَ مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ…
أَمّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَ نَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ مَن اتّقَى…
قَالَ اللهُ تَعَالَى :“يَآأَيّهَا الّذِيْنَ ءَامَنُوا اتّقُوا اللهَ حَق تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلا وَأَنْتُمْ مسْلِمُونَ”.
marilah kita bersama-sama senantiasa meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT. Taqwa dalam arti yang sebenarnya. Yaitu dengan menjalankan perintah-perintah Allah dan meninggalkan semua laranganNya. Bahwasannya tidak ada perbedaan antara seseorang dengan seorang yang lainnya kecuali taqwanya. Maka alangkah bahagia dan beruntungnya orang yang termasuk dalam golongan muttaqin. Karena kelak akan mendapat tempat dan maqam yang mulia di sisi Ilahi.
Baru saja kita memasuki tahun 1435 Hijriyah, sejarah tahun baru Islam ini memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan perintiwa hijrah nabi saw. yang sarat dengan makna dan pelajaran bagi umat Islam. Dan Sejarah telah mencatat bahwa Khalifah Umar bin Khattab adalah orang yang pertama kali menetapkan penanggalan hijriyah atas usul  imam ALI . mengapa penanggalan islam ini di mulai dari hijrahnya Nabi bukan dari kelahiran Nabi, atau dimulai dari pertama kali turunnya wahyu . karena peristiwa hijrah mengandung  banyak pelajaran dan hikmah yang besar sekali.
Secara bahasa hijrah artinya meninggalkan suatu tempat. Secara istilah , Menurut Ar Raghib al Ashfahany, hijrah berarti keluar dari darul kufur, yakni keluar daari wilayah yang tidak menerapkan hukum-hukum Islam, menuju darul iman (yakni wilayah yg menerapkan seluruh hukum Islam)
Hijrahnya Nabi dari Makkah ke Madinah merupakan peristiwa penting yang mengubah wajah umat Islam saat itu. Umat yang awalnya tertindas & teraniaya di Makkah selama 13 tahun, setelah hijrah ke Madinah dan berhasil menegakkan tatanan masyarakat yang islamy dalam sebuah negara, berubah menjadi umat yang mulia, kuat dan disegani. Oleh karena itu tatkala mendiskusikan tentang penanggalan Islam, Umar bin Khaththab ra. menyatakan:
بل نؤرخ لمهاجرة رسول الله، فإن مهاجرته فرق بين الحق والباطل
Bahkan kita akan menghitung penanggalan berdasarkan hijrahnya Rasulullah, sesungguhnya Hijrah itu memisahkan antara kebenaran dan kebatilan.
Dengan Dipakainya kalender hijriyah dimaksudkan agar umat islam senantiasa bisa mengambil ibroh atau pelajaran akan makna hijrah
Setelah menetap dimadinah Nabi Muhammad SAW mulai mengatur strategi untuk membentuk masyarakat Islam yang terbebas dari ancaman dan tekanan
Hal pertama yang dilakukan Rasulullah begitu beliau menginjakkan kaki di kota Madinah adalah mendirikan masjid. Masjid ini tidak saja berfungsi sebagai tempat ibadah ritual melainkan juga sebagai pusat pengkaderan pejuang-pejuang islam , sebagai pusat segala aktifitas masyarakat Islam, baik dalam bidang spiritual maupun keduniaan. Di dalam lingkungan masjid inilah masyarakat Madinah menimba berbagai ilmu pengetahuan. Mulai ilmu pengetahuan keagamaan hingga ilmu pengetahuan umum.
Hal Kedua yang dilakukan rosululloh ialah mempersaudarakan, mempertalikan hubungan kekeluargaan atara penduduk Madinah dengan orang-orang yang ikut hijrah dari Makah.
Hal Ketiga yang dilakukan Nabi Muhammad SAW ialah mengadakan perjanjian untuk saling membantu antara kaum muslim dengan orang-orang selain muslim.
Dalam kesempatan khutbah ini kami ingin menekankan betapa pentingnya persaudaraan antar umat islam. Bahwa Ajaran Islam mendorong persatuan dan solidaritas di antara kaum Muslimin tanpa memandang perbedaan ras, etnis, bahasa dan mazhab
untuk mengikat umat Islam yang terdiri dari berbagai macam suku dan kabilah ke dalam suatu ikatan masyarakat yang kuat, senasib, seperjuangan dengan semangat persaudaraan Islam Nabi mempersaudarakan orang-orang Muhajirin dan orang-orang Anshar.
 Ja’far bin abi tholib di persaudarakan dengan mu’ad bin jabal, hamzah bin abdul mutholib dengan zaid bin harisah, abu bakar dengan khorijah bin zuhair, umar bin khottob dengan utban bin malik, abdurrohman bin auf dengan saad ibnu robi’ dll
Sedang  Ali bin Abi Thalib dipilih untuk menjadi saudara Baginda Nabi sendiri. Selanjutnya setiap kaum Muhajirin dipersaudarakan dengan kaum Anshar dan persaudaraan itu seperti saudara kandung sendiri.bahkan Mereka lebih mementingkan saudaranya daripada dirinya sendiri
Karat-karat dendam dan noda-noda jahiliyah telah dibersihkan dari hati mereka. Rasulullah Saw adalah rahmat untuk menjaga dan mengokohkan persatuan. Mereka amalkan dan pegang teguh firman alloh
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. 
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu adalah bersaudara.”,

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ أُولَٰئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
"Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma´ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana". 
وكونوا عباد الله إخوانا ، المسلم أخو المسلم ، لا يظلمه ولا يخذله ولا يحقره ،
“Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang saling bersaudara.”
Begitulah generasi Islam pertama -semoga keridhaan Allah atas mereka-  dalam memahami makna persaudaraan dan kekeluargaan dalam Islam yang agung ini. Iman dalam dada telah menumbuhkan rasa cinta, kedekatan, dan persaudaraan yang paling luhur dan abadi di antara mereka. Mereka ibarat satu tubuh, satu hati, dan satu tangan. Dan inilah karunia Allah yang selalu diingat-ingatkan Alloh kepada mereka pada surat Al-Anfal ayat 63
وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ ۚ لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ ۚ إِنَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
"dan dialah Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana".
Kaum Anshar begitu tulus dalam menjalin dan menolong kaum muhajirin . sehingga Allah berkenan mengabadikan keluhuran budi kaum Anshar itu dalam Al-Qur’an agar dikenang oleh manusia sepanjang zaman. Hingga kini keluhuran itu masih tampak bersinar terang di permukaan wajah zaman. Tentang kaum Anshar Allah berfirman,
وَ الَّذينَ تَبَوَّؤُا الدَّارَ وَ الْإيمانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هاجَرَ إِلَيْهِمْ وَ لا يَجِدُونَ في‏ صُدُورِهِمْ حاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَ يُؤْثِرُونَ عَلى‏ أَنْفُسِهِمْ وَ لَوْ كانَ بِهِمْ خَصاصَةٌ وَ مَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan mereka (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Al-Hasyr: 9)
وَ الَّذينَ جاؤُ مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنا وَ لِإِخْوانِنَا الَّذينَ سَبَقُونا بِالْإيمانِ وَ لا تَجْعَلْ في‏ قُلُوبِنا غِلاًّ لِلَّذينَ آمَنُوا رَبَّنا إِنَّكَ رَؤُفٌ رَحيمٌ
"Dan (pula) orang-orang yang datang sesudah mereka, mereka itu berkata; "Ya Tuhan kami! Ampunilah kami dan saudara¬saudara kami yang telah men¬dahului kami dengan iman dan janganlah Engkau jadikan di da¬lam hati kami rasa dengki kepada orang-orang yang beriman; Tuhan kami! Sesungguhnya Eng¬kau adalah Maha Penyantun, Maha Penyayang".
Begitulah putera-putera Islam selanjutnya menapaki tangga keluhuran khususnya generasi pertama yang jiwa-jiwa mereka dipenuhi oleh rasa persaudaraan imani. Pada mereka tak ada perbedaan antara Muhajir dan Anshar, tak ada jarak antara orang Mekkah dengan orang Yaman. Mereka lebur dalam ummatan wahidah, umat islam. Inilah rahasianya, mengapa dulu umat islam mampu membangun peraaban dunia. Tak lain karena persatuan ummat islam begitu kokoh. Tidak tersekat dalam kotak2 suku, kabilah dll.
Bila kita membaca Al-Qur’an,membaca Sunah Rasul yang agung, dan sejarah para leluhur dari putera-putera terbaik agama ini, niscaya akan kita temukan semua yang dapat menyejukkan mata dan menenteramkan hati kita. sungguh amat jauh dari keadaan umat islam saat ini
Sebagai akhir khutbah ini kami tekankankan Bahwa Ajaran Islam mendorong persatuan dan solidaritas di antara kaum Muslimin tanpa memandang perbedaan ras, etnis, bahasa dan mazhab. bukan malah sebaliknya ajaran yang suka mengkafirkaan, menuduh sesat yang diluar kelompoknya, membidahkan sesama muslim
Umat Islam yang menyembah Tuhan Yang Maha Esa secara bersamaan menyuarakan kalimat Tauhid "La Ilaha Illa Allah" dan mempercayai risalah Nabi Muhammad Saw serta meyakini bahwa Islam adalah agama penutup. Umat Islam meyakini al-Quran sebagai kitab suci langit yang menjadi pedoman bagi mereka dalam menjalani kehidupan. Mereka menunaikan salat ke arah kiblat yang sama dan melaksanakan ibadah haji di tanah suci Mekah serta menjadikan Idul Kurban sebagai hari raya umat Islam. Selain itu, umat Islam juga mencintai keluarga Rasulullah Saw dan menghormatinya.
Semua hal tersebut telah cukup untuk menyambungkan hati-hati umat Islam dan menggugah perasaan persaudaraan di antara mereka. Dengan tujuan dan perasaan yang sama itu, umat Islam dapat menciptakan persatuan dan solidaritas, dan menjamin kepentingan-kepentingan bersama.
وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ – إِنَّ الَّذِينَ تَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ ظَالِمِي أَنْفُسِهِمْ قَالُوا فِيمَ كُنْتُمْ قَالُوا كُنَّا مُسْتَضْعَفِينَ فِي الْأَرْضِ قَالُوا أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوا فِيهَا فَأُولَئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَسَاءَتْ مَصِيرًا- بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْاَنِ الْعَظِيم، وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الاَيَاتِ وَ الذِّكْرِ الحْكِيْم اَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَاَسْتَغْفِرُاللهَ الْعَظِيمَْ – لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ فَاسْتَغْفِرُوهُ اِنَّهُ هُوَالْغَفُوْرُ الرَّحِيمِ

Oleh: Ust. M. Ajib.

ANDAKAH PEMIMPIN MASA DEPAN KAMI?

Written By Unknown on Friday, November 15, 2013 | 5:02 AM


Menjadi pemimpin itu bukan soal kecerdasan, kharisma, komunikasi, tampilan, dan segala macam atribut yang biasa dilekatkan pada figur pemimpin. Disebut pemimpin atau tidak ini adalah soal ada atau tidaknya yang mengikuti. Hadirnya pengakuan dan kepengikutan itu yang mengubah seseorang jadi pemimpin. Menjadi pemimpin adalah soal pengakuan dari yang dipimpin, sebuah rumusan sederhana yang sering terlupakan.
1. Seseorang diakui sebagai pemimpin bila kepadanya diberikan kepercayaan. Pemimpin adalah orang yang diikuti kata-kata dan perbuatannya.
            Dia diikuti karena dipercaya. Kepercayaan adalah pilar utama pemimpin. Kepercayaan adalah kombinasi dari kompetensi, integritas, dan kedekatan. Ketiga faktor itu meningkatkan tingkat kepercayaan. Tapi ada sebuah faktor yang mampu memelorotkan kepercayaan memimpin yaitu self-interest dan dalam menyamakan self-interestnya-nya dengan kepentingan kolektif bisa membuat pemimpin mengalami erosi kepercayaan. Pemimpin terpercaya bisa selalu menomorsatukan kepentingan kolektifnya. Kecintaannya pada kepentingan kolektif itu memberikan efek yang besar. Kini dan kelak bangsa ini selalu membutuhkan pemimpin yang mencintai bangsanya melebihi cintanya pada dirinya. Kehadiran pemimpin seperti itu bisa luar biasa dahsyat dalam menggerakkan seluruh bangsa untuk meraih cita-cita kolektif.
2. Pemimpin dan pemimpi bedanya di huruf N. N-nya adalah Nyali.
Pemimpin pada dasarnya adalah pemimpi. Pemimpi yang mimpi-mimpinya dipercaya dan diikuti. Pemimpi yang mampu mengonversi mimpi jadi realita bisa disebut sebagai pemimpin. Wajar jika pemimpin menitipkan mimpinya pada imaginasi, dan membiarkan imaginasinya itu terbang amat tinggi lalu ia bekerja amat cerdas dan keras menggerakkan seluruh daya yang tersedia untuk meraih dan melampaui mimpinya. Disinilah sebuah huruf N sebenarnya itu mewakili komponen amat kompleks menyangkut kemampuan meraih mimpi dan melampaui mimpi.
 3. Pemimpin selalu disorot.
Pemimpin adalah manusia yang harus selalu menyadari kemanusiaannya dan sempurna bukanlah atribut yang manusiawi. Karena itu pemimpin harus selalu sadar bahwa ia berada dalam sorotan di saat ia jauh dari kesempurnaan. Efeknya simpel, pemimpin itu jadi kotak pos untuk pujian dan kritikan. Maka itu jika tidak ingin dikritik maka jangan sesekali mau jadi pemimpin. Pemimpin yang matang itu menjalani perannya dengan menempatkan cita-cita bersama sebagai rujukan. Karena itu ia matang dan mantap menjalaninya. Bisa dikatakan bahwa pemimpin yang tulus pada cita-cita kolektifnya itu takkan terbang bila dipuji dan takkan tumbang bila dicaci.
4. Pemimpin yang kita ingin lihat adalah yang tidak mengejar penghormatan, tapi ia menjaga kehormatan.
Penghormatan itu memang bisa dipanggungkan dan bisa dibeli karenanya mudah didapat. Sementara kehormatan itu tidak untuk diperjualbelikan. Pemimpin yang gagasan dan langkahnya terhormat, dengan sendirinya akan dapat kehormatan. Mencari rujukan tentang pemimpin itu sesungguhnya mudah. Ada terlalu banyak contoh pemimpin di sekitar kita. Di republik ini masih amat banyak pemimpin yang solid, yang keteladanannya jadi rujukan, yang gagasannya diikuti, yang langkahnya menginspirasi. Masalahnya adalah banyak dari mereka justru tidak berada di panggung penting republik ini. Di panggung-panggung penting justru sering ditemui orang-orang berkuasa tanpa kepemimpinan. Di sisi lain, banyak pemimpin yang kepemimpinannya solid tapi tanpa kuasa dan otoritas.


Jika kita menengok pada sejarah negeri besar ini maka kita temui catatan gemilang sebuah generasi. Republik ini didirikan oleh orang-orang yang berintegritas. Integritas itu membuat mereka jadi pemberani dan tak gentar hadapi apa pun. Integritas dan keseharian yang apa adanya membuat mereka memesona. Orang-orang yang sudah selesai dengan dirinya. Mereka jadi cerita teladan di seantero negeri.



5. Hari ini, republik membutuhkan pemimpin yang berani tegakkan integritas. 
Berani perangi “jual-beli” kebijakan dan jabatan, dan pemimpin yang mau bertindak tegas kepentingan rakyat “dijarah” oleh mereka yang punya akses. Republik ini butuh pemimpin yang bernyali dan menggerakkan dalam menebas penyeleweng tanpa pandang posisi atau partai. Bukan pemimpin yang serba mendiamkan seakan tidak pernah terjadi apa-apa. Pemimpin yang bisa jadi bersahabat tampilannya, sopan dan simpel tuturnya, tapi amat besar nyalinya, dan amat tegas sikapnya. Tidak selalu nyaring, tapi selalu bernyali karena nyali itu memang beda dengan nyaring.
Republik ini perlu pemimpin yang bisa mengajak semua untuk mendorong yang macet, membongkar yang buntu, dan memangkas berbenalu. Pemimpin yang tanggap memutuskan, cepat bertindak, dan tidak toleran pada keterlambatan. Pemimpin yang siap untuk “lecet-lecet” melawan status quo yang merugikan rakyat, berani bertarung untuk melunasi tiap janjinya. Republik ini perlu pemimpin yang memesona bukan saja saat dilihat dari jauh, tetapi pemimpin yang justru lebih memesona dari dekat dan saat kerja bersama.
Bukan pemimpin yang selalu enggan memutuskan dan suka melimpahkan kesalahan. Bukan pemimpin yang diam saat rakyat didera, lembek saat republik dihardik. Pemimpin yang tak gentar dikatakan mengintervensi karena mengintervensi adalah bagian dari tugas pemimpin dan pembiaran tidak boleh masuk dalam daftar tugas seorang pemimpin. Kelugasan, ketegasan, keberanian, kecepatan, keterbukaan, kewajaran, kemauan buat terobosan, dan perlindungan kepada anak buah bahkan kesederhanaan dalam keseharian itu semua bisa menular. Tapi kebimbangan, kehati-hatian berlebih, kelambatan, ketertutupan, formalitas, kekakuan, pembicaraan masalah, orientasi kepada citra dan ketaatan buta pada prosedur itu juga menular. Menular jauh lebih cepat dan sangat sistemik.
6. Pemimpin bisa menentukan suasana.
Pemimpin adalah dirigen yang menghadirkan energi, nuansa, dan aurora dalam sebuah orkestra. Setiap pemain memiliki peran, dan tanpa dirigen-pun instrument musik bisa dijalankan tapi orkestra itu tidak ada jiwa-nya. Pemimpin hadir membawa suasana. Memberikan arah dan greget. Pemimpin membawa misi dan menularkannya pada semua. Pemimpin meraup aspirasi dan energi dari semua yang dipimpinnya, lalu mengkonversinya menjadi cita-cita kolektif dan energi besar untuk semua bekerja bersama meraihnya. Memang pemimpin bukan dewa atau superman. Tidak pantas semua masalah dititipkan, ditumpahkan ke pundak pemimpin. 


7. Kita amat membutuhkan pemimpin yang berorientasi pada gerakan.
Pemimpin menjadikan semua merasa ikut memiliki tanggung jawab, merasa ikut memiliki masalah. Pendekatannya movement bukan programmatic sehingga semua merasa terpanggil untuk terlibat. Pemimpin yang bisa membuat semua merasa perlu berhenti lipat tangan, lalu terpanggil untuk gandeng tangan dan turun tangan. Pemimpin yang menggerakkan. Akhir-akhir ini kita sering menyaksikan pemimpin hadir untuk “menyelesaikan” tantangan dan masalah. Menyelesaikan tantangan dan masalah itu baik-baik saja. Tetapi sesungguhnya yang diperlukan justru bukan itu. Kita memerlukan pemimpin yang kehadirannya bukan sekadar hadir untuk “menyelesaikan” masalah dan tantangan tapi kehadirannya untuk “mengajak semua pihak turun-tangan” menyelesaikan masalah dan tantangan.

8. Kita memerlukan pemimpin yang menginspirasi, membukakan perspektif baru, menyodorkan kesadaran baru dan menyalakan harapan jadi lebih terang.
Pemimpin yang membuat semua terpanggil untuk turun tangan, untuk bekerja bersama meraih cita-cita bersama. Pemimpin yang kata-kata dan perbuatannya menjadi pesan solid yang dijalankan secara kolosal. Kita memerlukan pemimpin yang menggerakkan! 


Bay: Anis Baswedan.

PR untuk An-Nidham

Written By Unknown on Tuesday, November 12, 2013 | 7:10 AM


A.  Pendahuluan.
An-Nidham adalah sebuah lembaga pendidikan yang bernaung di bawah payung LP. Ma’arif  NU yang berada di kelurahan Kalisari, kecamatan Sayung, kabupaten Demak. An-Nidham adalah pendidikan dengan berbagai macam jenjang, mulai dari RA atau Raudhatul Athfal, Mts atau Madrasah Tsanawiyah hingga MA atau Madrasah Aliyah. Lembaga pendidikan ini di dirikan oleh beberapa sesepuh desa Kalisari yang waktu itu merasakan perlunya di dirikan sebuah lembaga pendidikan ynag berbasis Islam ala Ahlussunnah Wal Jama’ah guna mendidik dan menjaga kemurnian akidah masyarakat pada era tantangan Globalisasi dan Modernisasi yang tidak bisa di bendung lagi ataupun di abaikan begitu saja, karena mau atau tidak mau, arus globalisasi dan modernisasi akan tetap berjalan.
Jadi, kalau kita flash back ke belakang tentang asal muasal, visi misi dan tujuan di dirikannya lembaga An-Nidham ini, maka akan kita temukan bahwa tujuan utama di dirikannya an-nidham adalah dalam rangka menjaga, mengembangkan dan melestarikan ajaran ASWAJA ala NU yang mencakup tiga kategori pokok, yaitu Aqidah, Fiqh dan Tasawwuf. Di antara trilogi keilmuan di atas, Aqidah mestinya mendapatkan tempat yang paling perlu untuk di perhatikan, di jaga, di ajarkan dan kemudian di jadikan pedoman sebagai pertimbangan utama dalam setiap gerak dan keputusan yang akan di ambil dan di lakukan oleh An-Nidham sendiri.
Hanya saja, pada tahun-tahun terakhir ini saya pribadi melihat—ini hanya penilaian subjektif dan saya tidak tahu menahu bagaimana tahun-tahun sebelumnya—perhatian An-Nidham dan semua komponen yang berkecimpung dalam lembaga ini, kurang atau saya katakan melemah terhadap pentingnya pengajaran tiga trilogi keilmuan Islam di atas. Mungkin ini memang gejala umum atau semacam virus yang sedang menjangkiti alam pemikiran kebanyakan umat Islam sendiri. Dan itu saya kira tidak hanya terjadi di An-Nidham saja, akan tetapi juga dalam lembaga-lembaga lain yang notabenenya merupakan lembaga pendidikan berbasis Nahdhatul Ulama, khususnya, dan di luar NU pada umumnya.
Pada hari-hari ini, saya banyak melihat sebuah fenomena unik yang terjadi dalam masyarakat kita. Fenomena inilah sebenarnya salah satu problematika yang menjadi kangker dalam tubuh umat dan menggerogotinya sendiri hingga akhirnya menjadi lumpuh dan tak berdaya. Penyakit dalam tubuh umat ini sangat perlu di benahi dan di obati terlebih dahulu, sebelum kita hendak mengobati penyakit yang dari luar tubuh tubuh kita sendiri. Fenomena ini saya sebut dengan “fenomena terbalik” . saya melihat bahwa fenomena ini pula yang terjadi di An-Nidham.
Fenomena terbalik adalah sebuah kenyataan hidup yang memberikan gambaran dan deskripsi kepada kita bahwa masyarakat kita sekarang ini memiliki kecenderungan dan paradigma berfikir yang terbalik, baik itu dalam urusan duniawi ataupun masalah agama. Dalam tulisan sederhana ini saya tidak akan membahas tentang urusan duniawi, karena tentunya akan menjadikan pembahasan kali ini menjadi semakin meluas dan panjang, akan tetapi saya akan lebih memfokuskan pada kajian agama yang memang saya lebih banyak bercengkrama bersamanya.
B.  Dahulukan Yang Wajib.
Agama kita, agama Islam, adalah agama yang teratur dalam semua ajarannya. Ajaran Islam akan mendahulukan hal yang lebih penting dari pada hal yang penting, mendahulukan hal yang penting dari pada hal yang setengah penting dan begitu seterusnya. Hanya saja, “fenomena terbalik” lagi-lagi menjadi paradigma berfikir mayoritas masyarakat kita.
Di sana banyak kita temukan praktek-praktek ritual kegamaan masyarakat kita yang terbalik. Mereka lebih mendahulukan hal-hal yang bersifat Sunnah atau bahkan tidak di anjurkan sama sekali oleh ajaran agama—akan tetapi sudah menjadi tradisi yang membudaya dalam masyarakat—dari pada kewajiban-kewajiban masyarakat itu sendiri, baik yang bersifat ‘Aini (individual) ataupun Kifa’i (kolektif).
Salah Kaprah yang sudah terjadi dalam masyarakat kita ini—menurut pengamatan saya pribadi yang tentunya cenderung subjektif—adalah salah satu sebab kemunduran umat Islam itu sendiri dalam berbagai macam percaturan dunia yang semakin kencang. Karena hal ini bertentangan dengan tuntunan Islam itu sendiri, sehingga dengan begitu, umat Islam akan kehilangan jati dirinya dan bahkan tidak akan pernah merasa bangga dengan keislaman dirinya sendiri. Inilah sumber dari segala kemunduran yang kita lihat dalam tubuh umat itu sendiri.
Mendahulukan hal-hal yang bersifat wajib atas yang lain adalah sebuah keharusan, akan tetapi apakah ada tuntunan dari agama Islam sendiri yang secara eksplisit menjelaskan hal di atas? Jawabannya adalah ada, yaitu hadis Nabi yang di riwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dalam Shohih Bukhari atau Al-Imam An-Nawawi dalam bukunya yang berjudul Al-Arba’in An-Nawawiyah, hadis tersebut berbunyi sebagai berikut:
وما تقرب إلي عبدي بشيء أحب إلي مما افترضت عليه
“Tidaklah hambaku mendekat kepadaku dengan sesuatu amaliah yang paling aku (Allah) Ridhai semisal hal-hal yang aku wajibkan kepada mereka”.
Dari hadis di atas, kita bisa mengambil satu kesimpulan bahwa yang harus di dahulukan adalah hal-hal yang bersifat wajib. Jika ada seseorang yang melakukan perbuatan atau amaliah yang bersifat sunnah, akan tetapi dia meninggalkan hal-hal yang di wajibkan bagi dia, maka di sini dia telah terjebak oleh hawa nafsunya sendiri. Hal ini sebagaimana ungkapan dari orang bijak:
من شغله النفل عن الفرض فهو مغرور
“Siapa saja yang sibuk mengerjakan hal-hal yang bersifat sunnah hingga akhirnya meninggalkan sesuatu yang bersifat wajib, maka dia telah tertipu oleh nafsunya sendiri”
Adapun sebaliknya, jika seseorang sibuk melakukan hal-hal yang bersifat wajib, akan tetapi dia tidak mampu untuk melakukan hal-hal yang bersifat sunnah, maka Insya Allah ia akan di maafkan oleh Allah, karena ketidak mampuannya untuk melakukan amaliah sunnah adalah sebuah udzur tersendiri yang sangat layak untuk di maafkan, di samping juga tidak adanya tuntutan secara tegas dari Allah sendiri untuk melakukan amaliah-amaliah sunnah tersebut. Apa yang saya katakan tersebut senada dengan salah satu ungkapan orang bijak:
من شغله الفرض عن النفل فهو معذور
“Siapa saja yang sibuk melakukan hal-hal yang bersifat wajib, sedang dia meninggalkan hal-hal yang bersifat sunnah, maka tindakannya itu akan di maafkan oleh Allah”
C.  Hal Paling Wajib.
Setelah kita tahu dari penjelasan di atas, bahwa mendahulukan hal-hal yang bersifat wajib adalah sebuah keharusan, lalu kita di hadapkan pada pertanyaan-pertanyaan baru lagi; hal-hal yang wajib itu banyak, lalu kewajiban manakah yang harus kita di dahulukan di antara kewajiban-kewajiban yang ada? Pertanyaan singkat ini akan mudah di jawab dan dengan jawaban yang tepat bagi mereka-mereka yang mau belajar agama atau ngaji. Jawabannya adalah mengenal Allah atau dalam bahasa Arabnya di kenal dengan istilah Ma’rifatullah.
Kenapa saya katakana bahwa Ma’rifatullah adalah hal yang paling wajib? Tidak lain karena tentunya ketika seseorang hendak melakukan ibadah apapun yang kesemuanya bermuara pada penyembahan dan penghambaan terhadap Allah, maka mau tidak mau dia harus terlebih dahulu mengenal siapa yang dia sembah dan bagaimana sifat-sifatnya? Baru setelah itu dia bisa melakukan berbagai macam ritual peribatan dengan benar. Akan sangat aneh dan tidak masuk akal, jika seseorang hendak melakukan penyembahan terhadap Allah, akan tetapi dia malah salah menyembah selain Allah. Semua itu bisa terjadi karena kesalahan si hamba itu sendiri yang tidak mau mengenal Allah terlebih dahulu.
Lalu bagaimana cara seseorang bisa mengenal Allah, sementara ia sendiri tidak pernah bisa melihat Allah? Mengenal Allah bisa di tempuh dengan cara mengenal sifat-sifatnya yang seharunya kesemuanya menjadi pelajaran pokok dalam semua lembaga An-Nidham itu sendiri. Di situ seseorang harus tahu, apa-apa saja sifat-sifat yang layak di tetapkan bagi Allah dan apa saja sifat-sifat yang tidak layak di tetapkan bagi Allah. Dengan mengetahui semua hal di atas, baru seseorang layak dan pantas di sebut orang yang Ma’rifat.
Mengenal Allah atau Ma’rifatullah adalah salah satu hal yang harus di pelajari oleh setiap orang Islam. Karena ia termasuk dalam cakupan hadis baginda Nabi yang sangat masyhur sekali dan termasuk hadis yang berpredikat hasan, sebagaimana di kutip oleh Al-Hafidz As-Suyuthi dalam bukunya Tadribur Rawi dari Al-Hafidz Al-Mizzi. Hadis tersebut berbunyi:
طلب العلم فريضة على كل مسلم
“Menuntut ilmu adalah sebuah keharusan bagi setiap muslim”
Ilmu yang wajib di tuntut ini tentunya bukanlah semua ilmu, karena tentunya tidak semua orang mampu untuk mempelajari berbagai macam ilmu yang sangat beragam dan banyak sekali itu. Di samping itu, saat baginda Nabi menyampaikan hadis ini, belum pernah dalam sejarah saya temukan bahwa baginda Nabi menyuruh para sahabat untuk mempelajari berbagai macam ilmu yang berkembang saat ini. Dari sini kita bisa tahu bahwa ilmu yang di wajibkan mempelajarinya oleh baginda Nabi adalah pokok-pokok ilmu agama yang di antaranya adalah ilmu bagaimana mengenal Allah dengan benar.
D.  Kesimpulan Dan Penutup.
Saya kira penjelasan yang saya tulis di atas sudah cukup jelas dan tidak perlu susah payah untuk di pahami. Dari pemaparan singkat di atas, tentunya kita sangat menyadari akan pentingnya ilmu agama, betapa pentingnya ngaji ilmu agama dan betapa pentingnya keberadaan sebuah lembaga pendidikan yang di dalamnya benar-benar di ajarkan ilmu-ilmu yang membangun karakter Tauhid dalam jiwa anak didiknya. Lembaga pendidikan ini tidak hanya menjadi sebuah kendaraan untuk ngojek atau sebagai mesin pencetak uang, akan tetapi benar-benar lembaga pendidikan yang berusaha sekuat mungkin untuk membangun bangsa dan mentauhidkan alam semesta, dengan kuatnya karakter Tauhid dalam jiwa masyarakatnya. Lalu, mampukan An-Nidham mengemban amanat ini? Sekian. Wa Allahu A’lam Bis Shawab.




                                                                        Kalisari, 11-Nov-2013 M

                                                                                    Dhiyaul Haq
                                                            (Alumnus Mts. An-Nidham 2002-2003)





Powered by Blogger.
Advertise 650 x 90
 
Copyright © 2014. Anjangsana Suci Santri - All Rights Reserved | Template - Maskolis | Modifikasi by - Leony Li
Proudly powered by Blogger