Advertise 728x90

Latest Post

SEJENAK BERSAMA Al-QUR'AN

Written By Unknown on Saturday, November 11, 2017 | 3:29 PM



Seperti biasa, malam ini pun aku tidak bisa begitu saja langsung terbang bersama mimpi-mimpi indah dalam pelukan malam. Bingung mau apa lagi setelah kegiatan seharian, akhirnya lamunan menjadi teman yang asyik dikala sendirian. Lamunanku kali ini berkenaan dengan potongan kalimat dari ayat ke-2 surat al-Baqoroh. Tepatnya pada susunan:
لا ريب فيه
Yang secara sederhana kita artikan "tidak ada keraguan sama sekali dalam kebenaran al-Qur'an". Bagi saya pribadi, susunan kata ini indah sekali. Kok bisa? Iya, sebab melalui 3 susunan kata ini, Allah tidak hanya menunjukkan isi dan kandungan al-Qur'an saja, tapi juga memberikan isyarat bagaimana sebagian orang berinteraksi dengan al Qur'an.
Maksudnya? Coba saja perhatikan, redaksi yang ada (لا ريب فيه) "tidak ada keraguan dalam al Qur'an", bukan (لا ريب فيهم) yang artinya "tidak ada keraguan dalam diri mereka (terhadap al Qur'an)". Jadi, melalui potongan ayat tersebut, Allah memberikan informasi bahwasanya:
1.   al-Qur'an memang benar, tapi tidak serta merta al Qur'an bisa menghilangkan keraguan dalam diri para pembacanya akan kebenaran isi kandungannya.
2.   Al-Qur'an hanya menunjukkan jalan dan tatacara bagaimana seseorang bisa menghilangkan keraguan itu sendiri. Salah satu contoh cara tersebut adalah dengan al Qur'an menantang manusia untuk membuat tandingan al Qur'an kalau memang bisa.
وإن كنتم في ريب مما نزلنا على عبدنا فأتوا بسورة من مثله.
jikalau kalian semua masih dalam keraguan atas apa yang kami turunkan pada hamba kami, maka datangkanlah satu surat saja semisalnya
Menantang untuk berdebat dan adu argument (mujadalah) merupakan salah satu cara yang di ajarkan Islam saat seseorang sudah tidak mempan lagi dengan cara-cara lainnya. 



TADARUS AL-QUR’AN [5]; Adzab



Salah satu kata yang dipilih oleh al Qur'an untuk menunjukkan makna "siksa" adalah redaksi (عذاب). Namun, ada sedikit kebingungan yang merengsek direlung hati saya saat membaca kata "Adzab" dengan menggunakan arti "siksa". Kenapa? Mungkin bagi teman-teman secara umum tidak ada yang aneh, tapi bagi sebagian teman yang pernah sedikit berinteraksi dengan bahasa Arab, saya kira akan mengalami sedikit keanehan. Seperti halnya saya ini yang baru sedikit berinteraksi dengan Bahasa Arab. Hal ini berbeda dengan sebagian lain yang sudah banyak berinteraksi, mungkin malah tidak ada lagi yang aneh baginya.
Di mana letak keanehannya? Begini, setahu saya, kata "Adzab" di ambil dari kata "'Adzb" yang bermakna segar. Salah satu contohnya adalah adanya redaksi (الماء العذب) yang bermakna air segar, enak nan lezat. Nah, dari sinilah kebingungan bermula. Kalau siksa di sebut dengan "Adzab", sedang "Adzab" di ambil dari kata "’Adzb" yang bermakna segar, lalu masak siksaan itu menyegarkan? Mestinya kan malah menyakitkan tho? Lalu bagaimana ini solusinya, kok nggak ketemu nalar?
Banyak ulasan menarik yang dikemukakan oleh para Mufassir yang sekaligus pakar Bahasa dalam menjawab kegelisahan hati saya tadi, Alhamdulillah. Walaupun ada kesan seolah-olah othak-athik gathuk bahasa, tapi itu bagus.
Muhammad Thahir Ibnu Asyur, seorang pakar Maqhashid dan penulis Tafsir kenamaan menjelaskan dalam buku "Tahrir Wat Tanwir" sebagai berikut:
وقد قيل إن أصله الإعذاب مصدر أعذب إذا أزال العذوبة لأن العذاب يزيل حلاوة العيش
"Ada yang mengatakan bahwa asal muasal (kata "Adzab") dari kata "I'dzaab" yang artinya menghilangkan "adzb/kesegaran/kelezatan". (Kenapa siksa di sebut dengan "adzab"?) Sebab siksa itu bisa menghilangkan enaknya kehidupan"
Apa yang telah di lakukan oleh Ibnu Asyur tersebut tak lain adalah sebuah upaya untuk menemukan titik keserasian antara diksi yang dipakai oleh al-Qur'an dengan makna terjemahan dan realitas yang di inginkan.
Berbeda lagi adalah pemaparan Al-Baidhawi yang boleh dikatakan meng-copy paste keterangan yang disampaikan oleh Az-Zamakhsyari, seorang pakar bahasa penganut aliran teologi Mu'tazilah (kaum Rasionalis). Hal ini tidak mengherankan, sebab memang bisa dikatakan bahwa al-Baidhawi hanyalah meringkas Tafsir Al-Kassyaf dan membuang bagian I´tizal yang ada. Walaupun oleh teman saya yang Alim dan menjadi Imam Jomblo abad ini, Gus Zuhurul Fuqohak, kesan I'tizal dalam Tafsir Gubahan Al-Baidhawi pun masih ada.
Oke, saya tidak mau panjang-panjang membahas dan memaparkan sisi I'tizal tadi, sebab itu bukan tema pembicaraan kita sekarang. Bisa jenggoten nanti. Al-Baidhawi menyatakan:
العذاب كالنكال بناء ومعنى. تقول عذب عن الشيء ونكل عنه إذا أمسك ومنه الماء العذب لأنه يقمع العطش ويردعه
"Kata "al Adzab" seperti halnya kata "an-nakal" baik dari sisi bentuk kata maupun makna. Engkau katakan "Adzaba 'Anis Syai’ Wa Nakala 'anhu" dengan arti menahan sesuatu tersebut. Dari sini pula redaksi "al Maa' Al Adzbu" yang berarti air segar, sebab air segar bisa meleburkan kehausan dan menghilangkannya"
Saya memahami bahwa air segar yang bisa menghilangkan kehausan disebut dengan "’adzb" sebab dia bisa menahan seseorang untuk tidak jatuh dalam susahnya haus. Sebagaimana "’Adzab" yang seolah menjadi pengingat bagi kita, sehingga dengan ingat siksa itu kita bisa menahan diri untuk tidak terjatuh dalam susahnya siksaan di neraka. Titik temunya ada pada "menahan".
Trus maksudnya apa dengan tulisan ini? Ya, saya baru saja mendengar penjelasan salah seorang intelektual muslim dari kalangan tetangga yang mengatakan bahwa tafsir itu bukanlah menjelaskan al-Qur'an, sebab al-Qur'an sendiri sudah sangat jelas. Kalau di jelaskan lagi, maka sama saja dengan mengatakan al-Qur'an tidak jelas. Padahal sudah jelas dikatakan:
تبيانا لكل شيء...علمه البيان
Dan masih banyak ayat-ayat lain yang mengindikasikan bahwa al-Qur'an itu sudah jelas dan tidak perlu di Tafsiri lagi. Tapi menurut saya pribadi, al-Qur'an sangatlah perlu untuk di Tafsiri, terlebih lagi untuk orang sekarang ini. Tafsir dalam arti menguraikan makna al-Qur'an kepada orang-orang awam yang tentunya sangat sulit mencerna al-Qur'an yang di turunkan dengan bahasa super luar biasa. Seperti saya contohkan di atas. Itu baru satu kata, lalu bagaimana dengan ribuan kata lain dalam al-Qur’an?
Wallahu A'lam, monggo nge-Juz...
Ahmad Atho "Saya memahami bahwa air segar yang bisa MENGHILANGKAN kehausan di sebut dengan "adzb" sebab dia bisa MENAHAN seseorang untuk tidak jatuh dalam susahnya haus. Sebagaimana "Adzab" seolah menjadi PENGINGAT bagi kita sehingga DENGAN INGAT adzab itu kita bisa menahan diri untuk tidak terjatuh dalam susahnya siksaan di neraka. Titik temunya ada pada "menahan"."

============
Saya masih kurang paham dengan kata2 yg saya tulis besar diatas mas.
Fungsi air yg disifati Adzb antara MENGHILANGKAN dan MENAHAN, bukannya yg pertama itu rof'u dan yg kedua daf'u ya?.
Yg pertama sudah dirasakan dan yg kedua belum dan tidak dirasakan.
Karena yg saya pahami air itu bisa disifati Adzb hanya jika sudah diminum dan dirasakan sehingga bisa menghilangkan haus. Begitu juga adzab, suatu siksaan bisa dikatakan adzab jika dirasakan dan bisa menghilangkan kenikmatan.
Kalo hanya karena bisa MENAHAN, memberi kita pelajaran agar "menahan diri untuk tidak terjatuh dalam susahnya siksaan neraka" seperti penjelasan sampean, berarti semua yg sifatnya seperti ini bisa kita namakan ADZAB dong?
Mohon pencerahannya
Dhiya Muhammad Alhamdulillah mas Ahmad Atho mau komentar. Jadi semua ini bermula dari kata "Imsak" yang saya pahami dr penjelasan al-Baidhawi di atas.
1.    Air ‘Adzb=imsak. Cuma imsak dlm air di atas disebut dg Qom'u yg secara mudah bermkna menghilangkan.
2.    Siksa juga disebut dengan ‘adzab=imsak. Di mana sisi Imsak-nya klo sudah di rasakan? Nah, akhirnya saya pahami dengan demikian. Sebab klo sudah di siksa, maka pengambilan kata ‘Adzab dari Imsak tidak pas.
Itu yg saya pahami. Kalau salah, bisa koreksi
Moh Najib Buchori Bisa dianalisis menggunakan pendekatan tematik lafdzi atau mustolahi, bisa pula pakai semantik. Pertama-tama coba cari penggunaan kata adzab pada syiir jahili, apakah kata tersebut sudah digunakan untuk menunjuk makna siksa? Kalau sudah berarti nggak ada musykilah.
Dhiya Muhammad Memang problem yang timbul dari model analisa tafsir di atas kalau saya rasakan malah menimbulkan rasa othak athik mathuk atau kalau tidak begitu ya hanya pada Wadh'un Tsanin atau makna kedua. Seolah istilah siksa dengan bahasa ‘Adzab itu bermakna kemudian, bukan Ashl Wadh'ul Lughoh..

Nah mungkin nanti yang ditawarkan oleh Ustadzuna
Moh Najib Buchori insya Allah akan saya coba..https://static.xx.fbcdn.net/images/emoji.php/v9/f4c/1/16/1f642.png
Moh Najib Buchori Maksud saya, perlu dilacak apakah ‘adzab dalam pengertian siksa merupakan makna leksikal atau makna dasar yang berpolisemi? Kalau iya, kata yang berpolosemi tidak perlu dikembalikan kepada kata lain. Kalau tidak, perlu diteliti perkembangan pemakaian kata tersebut di dalam al-Qur'an hingga membentuk makna relasional yang kemudian memjadi istilah khas al-Quran, seperti kata iman dan taqwa.



Tadarus al-Qur'an (4); Takwa; sebuah proses

Written By Unknown on Monday, November 6, 2017 | 6:50 AM



Alhamdulillah, pada siang hari tadi kita telah melewati hari ke-4 pada bulan puasa tahun ini, seolah-olah tanpa terasa sama sekali kalau kita sedang berpuasa. Entah kenapa saya merasakan waktu begitu cepat dan empat hari Ramadhan berlalu begitu saja tanpa di isi dengan amaliah yang menunjang peningkatan kadar ketakwaan kita. Tapi ya sudahlah, yang penting kita sudah berusaha.
Oh iya, membicarakan tentang takwa, ada sebagian orang—dan  mungkin saya termasuk dari ‘sebagian’ tersebut—yang menduga bahwa "takwa" itu merupakan hasil atau buah yang dihasilkan dari berbagai macam amaliah ibadah. Dan dalam membenarkan dugaan ini, mereka pun tak jarang menjadikan ayat-ayat suci al-Qur'an sebagai legitimasi pembenaran. Semisal kasus puasa yang sedang kita jalankan ini, maka mereka mengatakan bahwa tujuan berpuasa adalah untuk meraih ketakwaan, ini sesuai dengan firman Allah:
لعلكم تتقون
"Agar kalian bertakwa"
Jadi, seolah-olah takwa itu adalah hasil, menjadi orang bertakwa adalah tujuan. Kurang lebih begitulah pemahaman sebagian umat Islam, dan saya sendiri beberapa waktu yang lalu juga memiliki pemahaman yang demikian juga. Namun dalam satu kesempatan, saya menemukan bahwa takwa dan predikat "Muttaqin" itu bukanlah hasil, namun itu lebih pada proses. Pemahaman yang demikian ini saya dapatkan setelah membaca tafsir imam As-Suyuti atas surat al-Baqoroh ayat ke-2. Dalam tafsirnya as-Suyuti mengatakan:
(المتقين) الصائرين إلى التقوى بامتثال الأوامر واجتناب النواهي
"[Untuk orang-orang yang berpredikat Muttaqin] (yakni) orang-orang yang berubah menuju kepada ketakwaan dengan menuruti segala perintah dan menjauhi semua larangan"
Dari tafsiran as-Suyuti di atas, saya memahami bahwa sebenarnya Takwa adalah proses secara kontinue yang dilakukan seseorang guna menggapai ridha Allah. Sebab jikalau kata "Muttaqin" diartikan sebagai "orang yang sudah"—bukan sedang berproses—niscaya kata "Huda" yang bermakna petunjuk tidak akan memberikan makna apa-apa, sebab seorang dengan predikat sudah takwa, tidaklah lagi diberi petunjuk, karena hidupnya sudah dipenuhi dengan berbagai warna warni petunjuk.
Takwa dengan makna proses ini pun akan lebih memberikan harapan bagi orang-orang seperti saya, sebab secara otomatis pemaknaan tersebut akan memberikan sugesti ringan bagi siapa saja. Berbeda jikalau takwa di artikan sebagai sebuah kedudukan dan posisi spiritual tertentu yang hanya bisa di tempati oleh orang-orang yang tertentu pula, tentunya secara psikis pemahaman yang sedemikian ini akan menjadikan orang-orang yang masih hitam menjadi minder, bahkan untuk berkumpul dengan mereka yang sudah nampak putih pun minder pula. Berbeda dengan makna proses, karena kesan psikologis yang ditimbulkan adalah bahwa semua manusia pada hakekatnya sama, sedang berproses menjadi putih nan indah, yang membedakan adalah sebagian lebih dahulu, sedang yang lain belakangan.
Marilah kita berproses..




Powered by Blogger.
Advertise 650 x 90
 
Copyright © 2014. Anjangsana Suci Santri - All Rights Reserved | Template - Maskolis | Modifikasi by - Leony Li
Proudly powered by Blogger