Salah satu kata yang dipilih
oleh al Qur'an untuk menunjukkan makna "siksa" adalah redaksi
(عذاب). Namun, ada sedikit kebingungan yang
merengsek direlung hati saya saat membaca kata "Adzab" dengan
menggunakan arti "siksa". Kenapa? Mungkin bagi teman-teman
secara umum tidak ada yang aneh, tapi bagi sebagian teman yang pernah sedikit
berinteraksi dengan bahasa Arab, saya kira akan mengalami sedikit keanehan.
Seperti halnya saya ini yang baru sedikit berinteraksi dengan Bahasa Arab. Hal
ini berbeda dengan sebagian lain yang sudah banyak berinteraksi, mungkin malah
tidak ada lagi yang aneh baginya.
Di mana letak keanehannya?
Begini, setahu saya, kata "Adzab" di ambil dari kata "'Adzb"
yang bermakna segar. Salah satu contohnya adalah adanya redaksi (الماء العذب) yang bermakna air segar, enak nan lezat. Nah, dari sinilah
kebingungan bermula. Kalau siksa di sebut dengan "Adzab",
sedang "Adzab" di ambil dari kata "’Adzb"
yang bermakna segar, lalu masak siksaan itu menyegarkan? Mestinya kan malah
menyakitkan tho? Lalu bagaimana ini solusinya, kok nggak ketemu nalar?
Banyak ulasan menarik yang dikemukakan
oleh para Mufassir yang sekaligus pakar Bahasa dalam menjawab kegelisahan hati
saya tadi, Alhamdulillah. Walaupun ada kesan seolah-olah othak-athik
gathuk bahasa, tapi itu bagus.
Muhammad Thahir Ibnu Asyur,
seorang pakar Maqhashid dan penulis Tafsir kenamaan menjelaskan dalam
buku "Tahrir Wat Tanwir" sebagai berikut:
وقد قيل إن أصله الإعذاب مصدر أعذب إذا أزال
العذوبة لأن العذاب يزيل حلاوة العيش
"Ada
yang mengatakan bahwa asal muasal (kata "Adzab") dari kata
"I'dzaab" yang artinya menghilangkan
"adzb/kesegaran/kelezatan". (Kenapa siksa di sebut dengan
"adzab"?) Sebab siksa itu bisa menghilangkan enaknya kehidupan"
Apa yang telah di lakukan oleh
Ibnu Asyur tersebut tak lain adalah sebuah upaya untuk menemukan titik
keserasian antara diksi yang dipakai oleh al-Qur'an dengan makna terjemahan dan
realitas yang di inginkan.
Berbeda lagi adalah pemaparan
Al-Baidhawi yang boleh dikatakan meng-copy paste keterangan yang disampaikan
oleh Az-Zamakhsyari, seorang pakar bahasa penganut aliran teologi Mu'tazilah
(kaum Rasionalis). Hal ini tidak mengherankan, sebab memang bisa dikatakan bahwa
al-Baidhawi hanyalah meringkas Tafsir Al-Kassyaf dan membuang bagian I´tizal
yang ada. Walaupun oleh teman saya yang Alim dan menjadi Imam Jomblo abad ini, Gus
Zuhurul Fuqohak, kesan I'tizal dalam
Tafsir Gubahan Al-Baidhawi pun masih ada.
Oke, saya tidak mau
panjang-panjang membahas dan memaparkan sisi I'tizal tadi, sebab itu
bukan tema pembicaraan kita sekarang. Bisa jenggoten nanti. Al-Baidhawi
menyatakan:
العذاب كالنكال بناء ومعنى. تقول عذب عن الشيء ونكل
عنه إذا أمسك ومنه الماء العذب لأنه يقمع العطش ويردعه
"Kata
"al Adzab" seperti halnya kata "an-nakal" baik dari sisi
bentuk kata maupun makna. Engkau katakan "Adzaba 'Anis Syai’ Wa Nakala
'anhu" dengan arti menahan sesuatu tersebut. Dari sini pula redaksi
"al Maa' Al Adzbu" yang berarti air segar, sebab air segar bisa
meleburkan kehausan dan menghilangkannya"
Saya memahami bahwa air segar
yang bisa menghilangkan kehausan disebut dengan "’adzb" sebab
dia bisa menahan seseorang untuk tidak jatuh dalam susahnya haus. Sebagaimana
"’Adzab" yang seolah menjadi pengingat bagi kita, sehingga
dengan ingat siksa itu kita bisa menahan diri untuk tidak terjatuh dalam
susahnya siksaan di neraka. Titik temunya ada pada "menahan".
Trus maksudnya apa dengan
tulisan ini? Ya, saya baru saja mendengar penjelasan salah seorang intelektual
muslim dari kalangan tetangga yang mengatakan bahwa tafsir itu bukanlah
menjelaskan al-Qur'an, sebab al-Qur'an sendiri sudah sangat jelas. Kalau di
jelaskan lagi, maka sama saja dengan mengatakan al-Qur'an tidak jelas. Padahal
sudah jelas dikatakan:
تبيانا لكل شيء...علمه
البيان
Dan masih banyak ayat-ayat lain
yang mengindikasikan bahwa al-Qur'an itu sudah jelas dan tidak perlu di Tafsiri
lagi. Tapi menurut saya pribadi, al-Qur'an sangatlah perlu untuk di Tafsiri,
terlebih lagi untuk orang sekarang ini. Tafsir dalam arti menguraikan makna al-Qur'an
kepada orang-orang awam yang tentunya sangat sulit mencerna al-Qur'an yang di
turunkan dengan bahasa super luar biasa. Seperti saya contohkan di atas. Itu
baru satu kata, lalu bagaimana dengan ribuan kata lain dalam al-Qur’an?
Wallahu
A'lam, monggo nge-Juz...
Ahmad Atho "Saya
memahami bahwa air segar yang bisa MENGHILANGKAN kehausan di sebut dengan
"adzb" sebab dia bisa MENAHAN seseorang untuk tidak jatuh dalam
susahnya haus. Sebagaimana "Adzab" seolah menjadi PENGINGAT bagi kita
sehingga DENGAN INGAT adzab itu kita bisa menahan diri untuk tidak terjatuh
dalam susahnya siksaan di neraka. Titik temunya ada pada
"menahan"."
============
Saya masih kurang paham dengan kata2 yg saya tulis besar diatas mas.
Fungsi
air yg disifati Adzb antara MENGHILANGKAN dan MENAHAN, bukannya yg pertama itu
rof'u dan yg kedua daf'u ya?.
Yg pertama sudah dirasakan dan yg kedua belum dan tidak dirasakan.
Karena yg saya pahami air itu bisa disifati Adzb hanya jika sudah diminum dan dirasakan sehingga bisa menghilangkan haus. Begitu juga adzab, suatu siksaan bisa dikatakan adzab jika dirasakan dan bisa menghilangkan kenikmatan.
Kalo hanya karena bisa MENAHAN, memberi kita pelajaran agar "menahan diri untuk tidak terjatuh dalam susahnya siksaan neraka" seperti penjelasan sampean, berarti semua yg sifatnya seperti ini bisa kita namakan ADZAB dong?
Yg pertama sudah dirasakan dan yg kedua belum dan tidak dirasakan.
Karena yg saya pahami air itu bisa disifati Adzb hanya jika sudah diminum dan dirasakan sehingga bisa menghilangkan haus. Begitu juga adzab, suatu siksaan bisa dikatakan adzab jika dirasakan dan bisa menghilangkan kenikmatan.
Kalo hanya karena bisa MENAHAN, memberi kita pelajaran agar "menahan diri untuk tidak terjatuh dalam susahnya siksaan neraka" seperti penjelasan sampean, berarti semua yg sifatnya seperti ini bisa kita namakan ADZAB dong?
Mohon
pencerahannya
Dhiya
Muhammad Alhamdulillah mas Ahmad
Atho mau komentar. Jadi semua ini bermula dari kata "Imsak" yang
saya pahami dr penjelasan al-Baidhawi di atas.
1.
Air ‘Adzb=imsak.
Cuma imsak dlm air di atas disebut dg Qom'u yg secara mudah
bermkna menghilangkan.
2.
Siksa
juga disebut dengan ‘adzab=imsak. Di mana sisi Imsak-nya klo
sudah di rasakan? Nah, akhirnya saya pahami dengan demikian. Sebab klo sudah di
siksa, maka pengambilan kata ‘Adzab dari Imsak tidak pas.
Itu yg saya pahami. Kalau salah, bisa koreksi
Itu yg saya pahami. Kalau salah, bisa koreksi
Moh Najib Buchori Bisa
dianalisis menggunakan pendekatan tematik lafdzi atau mustolahi,
bisa pula pakai semantik. Pertama-tama coba cari penggunaan kata adzab
pada syiir jahili, apakah kata tersebut sudah digunakan untuk menunjuk
makna siksa? Kalau sudah berarti nggak ada musykilah.
Dhiya
Muhammad Memang problem yang timbul dari model analisa tafsir di
atas kalau saya rasakan malah menimbulkan rasa othak athik mathuk atau
kalau tidak begitu ya hanya pada Wadh'un Tsanin atau makna kedua. Seolah
istilah siksa dengan bahasa ‘Adzab itu bermakna kemudian, bukan Ashl
Wadh'ul Lughoh..
Nah mungkin nanti yang ditawarkan oleh Ustadzuna Moh Najib Buchori insya Allah akan saya coba..
Nah mungkin nanti yang ditawarkan oleh Ustadzuna Moh Najib Buchori insya Allah akan saya coba..

Moh Najib Buchori Maksud
saya, perlu dilacak apakah ‘adzab dalam pengertian siksa merupakan makna
leksikal atau makna dasar yang berpolisemi? Kalau iya, kata yang berpolosemi
tidak perlu dikembalikan kepada kata lain. Kalau tidak, perlu diteliti
perkembangan pemakaian kata tersebut di dalam al-Qur'an hingga membentuk makna
relasional yang kemudian memjadi istilah khas al-Quran, seperti kata iman dan
taqwa.
0 komentar