Advertise 728x90

Latest Post

JANGAN MUDAH MENYALAHKAN

Written By Unknown on Tuesday, March 19, 2019 | 7:35 AM





Oleh: Dhiya Muhammad

Salah satu adab pesantren yang diajarkan oleh para Kyai dan guru-guru saat ngaji dahulu adalah kita jangan terburu-buru menyalahkan sebuah tulisan dalam kitab, jikalau kita rasa tulisan atau susunan kata dalam kitab tersebut terasa menjanggalkan atau nampak tidak sesuai dengan pemahaman kita. Para Kyai dan guru kita mengajarkan untuk selalu Husnudzan (berbaik sangka) pada Muallif (penulis) kitab, dan mencurigai diri sendiri, jangan-jangan memang kitalah yang minim ilmu sehingga tidak faham. Oleh karenanya para Kyai dan guru kita selalu mengajarkan kita untuk mengatakan "La'alla Shawâb..." Yang artinya "mungkin saja Yang benar adalah demikian.... ".

Kehati-hatian, itulah kira-kira prinsip yang ingin di ajarkan oleh guru-guru kita dahulu saat di pondok. Terlebih lagi jikalau penilian kita tersebut berkenaan dengan orang lain. Karena jangan-jangan tuduhan kita yang sangat tajam itu, tak lain adalah karena kesalah pahaman kita sendiri. Bukan murni kesalahan sesuatu yang kita kritik. Ada sebuah Syair Arab yang dulu saya tulis dalam sampul kitab Al-Amrithi--saya lupa entah dari kitab apa saya ambil--yang mengajarkan kita untuk berhati-hati dalam menilai orang lain. Di sebutkan:

وكم من عائب قولا صحيحا # وآفته من الفهم السقيم

"Berapa banyak orang yang mencela pendapat yang benar, penyebabnya adalah dari pemahaman yang salah"

Untuk lebih mudahnya, kita ambilkan saja contoh dalam ilmu Bahasa Arab (Arabic Grammer). Bagaimana pendapat anda ketika melihat tarkib (susunan) seperti ini :

أَنَّ زَيْدٌ كَرِيْمٍ

Jika orang yang belum faham dengan susunan di atas atau bagi yang baru faham ilmu Nahwu sedikit saja, pasti akan langsung menyalahkan, karena seharusnya harf (أنّ) me-nashab-kan isim dan me-Rafa'-kan khabar-nya, loh tapi kenapa pada contoh di atas kok malah me-marfu'-kan dan khabar-nya malah majrur (di baca jar). Orang yang tidak open minded pasti akan langsung menyalahkan, tanpa mau mencari tahu kebenarannya. Padahal kalau mau dicari, pasti ketemu jawabannya. Kira-kira apa jawabannya?, begini penjelasannya.

Di sana (أنّ) bukan sebagai huruf taukîd yang berfungsi me-nashab-kan isim dan me-marfu-kan
khabar, melainkan dia adalah fi'il (kata kerja) dari :

أَنَّ - يَئِنُّ

Yang artinya merintih. Sedangkan kata زَيْدٌ dia rafa' karena sebagai fa'il (subjek/pelaku pekerjaan), dan كريم kenapa majrur, karena susunan tersebut terdiri dari dua kata sebenarnya, yang pertama adalah huruf tasybîh ك dan kedua kata ريم yang artinya rusa. Sehingga arti susunan di atas adalah : "Zaid merintih kesakitan seperti rintihan rusa". Menarik bukan? 😅

Begitulah pentingnya kita untuk tidak cepat-cepat menyalahkan orang lain, apalagi dalam masalah agama yang masih bersifat dzan (dugaan) yang potensi Ijtihad dan berbeda pendapat terbuka lebar di sana. Apalagi kalau perbedaan itu masih dalam taraf aplikatif (Tahqîqu-l-Manâth) dari sebuah nilai yang disepakati bersama. Hal Itu adalah sebuah perbedaan ringan yang jangan sampai menjadikan hancurnya nilai yang kita sepakati. Perbedaan adalah sebuah keniscayaan yang tidak mungkin bisa dihindari. Hanya saja, kita dituntut untuk bisa mengaransemen perbedaan itu menjadi sebuah paduan musik kroncong atau Dangdut yang enak didengarkan, sambil ngopi dan menyantap pisang goreng hangat di pagi hari.

Dan yang paling penting lagi menurut saya adalah kita belajar Tawâdhu' dalam melihat atau menilai pendapat orang lain. Bagaimana caranya? Yakni dengan tidak tergesa-gesa menyalahkan orang lain, menuduh orang lain telah melenceng, dan berbagai macam tuduhan lainnya. Akan tetapi curigailah diri kita sendiri. Jangan-jangan memang kita yang minim informasi atau salah faham. Kalau kita mau bersikap demikian, insya Allah akan ada banyak ilmu yang bisa kita serap dan dapatkan dari orang lain, siapapun orangnya. Apa yang tidak kita ketahui, sejatinya lebih banyak dari apa yang telah kita ketahui.

Wallahu A'lam.


Semoga bermanfaat.

☺️








AKHLAK MUSLIM

Oleh: Dhiya Muhammad

Suatu hari, Jarir bin Abdullah RadhiyaLlahu 'Anhu, menyuruh pelayannya untuk membelikan kuda baru. Lalu, pergilah si pelayan menuju ke pasar untuk mencari penjual kuda. Akhirnya si pelayan memang menemukan seorang penjual kuda yang menawarkan barang dagangannya itu. Terjadilah saling tawar-menawar antara si penjual kuda dan pelayan itu, hingga akhirnya di sepakati harga 300 dirham. Tp, sebelum si pelayan menyerahkan uang tersebuy, ia mengajak si penjual kuda utk menemui majikannya, Jarir, barang kali sang majikan ingin menawar lagi.

Keduanya berjalan, dan tak beberapa lama, sampailah mereka berdua di kediaman Jarir. Melihat kedatangan pelayan dan penjual kuda, Jarir menyambut:

"Assalamualaikum. Ahlan wa Sahlan wa marhaban...bagaimana kabar anda kawan? Semoga kau baik-baik saja. Oh iya, berapakah anda menjual kuda ini?"

"Waalaikum salam..alhamdulillah, kondisiku baik-baik saja. Oh iya, tadi saya sudah tawar-menawar dengan pelayan anda, dan kami sepakat dengan harga 300 dirham", jawab si penjual kuda.

Jarir berjalan sambil melihat-lihat kuda tersebut, lalu berkomentar:

"Kudamu ini bagus, tidak layak kalau cuma sekedar bernilai 300 dirham. Bagaimana kalau aku beli dg 400 dirham?"

Dengan kebingungan dan rasa senang yang nampak, si penjual kuda berkata:

"Silahkan saja tuan".

Sambil berjalan-jalan dan melihat-lihat, Jarir kembali berkata:

"Ah, nampaknya harga 400 dirham masih terlalu rendah, bagaimana kalau 500 dirham?".

Ya, Jarir menambahi dan menambahi lagi, sampai akhirnya kuda tersebut beliau beli dg harga 900 dirham. Dengan penuh keheranan si penjual kuda bertanya; kenapa Jarir melakukan hal tersebut. Dan dengan mantap Jarir menjawab:

"Sebab aku berbaiat kepada RasuluLlah untuk selalu menginginkan kebaikan pada muslim yang lain (an-Nushu Li Kulli Muslim). Dan tentunya kebaikan paling anda sukai adalah lakunya dagangan anda dengan harga yang tinggi".

Inilah Akhlak seorang Muslim sejati, sudahkah kita demikian? Kalau belum, silahkan praktekkan saat anda membeli dagangan saya di bawah ini ya. 🤣😅😄



Semoga pagi njenengan semua penuh dengan berkah dan kebahagiaan. Jangan ribut Pilpres mulu ya, dan jangan lupa bahagia.

SYAIKH IHSAN JAMPES dan DISTORSI SIROJUT THALIBIN

Written By Unknown on Wednesday, November 1, 2017 | 9:56 PM



Dulu, saat saya masih kluyuran di negeri antah berantah, saya melihat sebuah kitab dengan judul "Sirojut Thalibin fi Syarhi Minhaji-l-‘Abidin" duduk manis dan gagah di sebuah rak kitab kantor PCINU Lebanon. Kitab “Sirajut Thalibin” sudah tidak asing lagi di telinga kaum Muslim di Nusantara ini, sebab disamping kemasyhuran “matn” dari kitab tersebut, yang tak lain merupakan karya Hujjatu-l-Islam Abu Hamid al-Ghazali, tetapi juga karena penulis Syarah kitab tersebut adalah seorang Ulama kenamaan yang bernama Syaikh KH. Ihsan bin Muhammad Dahlan al-Jampesi al-Kadiri. Jawa Timur.
Namun, yang unik dari cetakan kitab dengan sampul Luks dan kertas putih mengkilat tersebut, saya menemukan satu bukti nyata bahwa tidak sedikit dari percetakan itu yang tujuan utama dari mereka mencetak kitab tak lain adalah bisnis, tanpa mempertimbangkan sama sekali amanah ilmiah yang sudah mengakar kuat dikalangan akademisi Islam. Yakni, adanya distorsi dalam kitab-kitab tersebut. Dan lebih irons lagi, distorsi terhadap kitab Syaikh Ihsan ini sudah amat sangat nampak di permulaan, yakni pada sampul depan kitab. Pada sampul kitab “Sirajut Thalibin” yang ada pada waktu itu, yang tertulis bukanlah nama Syaikh Ihsan, akan tetapi malah nama Sayyid Ahmad Zaini Dahlan. Seingat saya tertulis begini:
العلامة السيد أحمد زيني دحلان
Melihat kondisi yang sedemikian itu, saya tergerak untuk meneliti dan menelisik lebih dalam lagi. Saya ambil kitab tersebut, saya bolak balik dan akhirnya saya temukan bahwa memang benar itu karya Syaikh Ihsan Jampes. Saya sampaikan kepada ketua PCINU pada waktu itu, dan beliau juga kaget lalu berkata kepada saya:
"Mas, ada buktinya kalau ini karya Syaikh Ihsan?"
"Ada pak, coba kita lihat bagian akhir dari kitab “Sirajut Thalibin”, ini. Di sana tertulis:
وذلك في منزلي في محلة جمفس ببلد كديري من بلاد جاوة حرسها الله تعالى وسائر بلاد المسلمين
"Olehku selesai mengkaji dan menulis kitab ini saat aku di rumahku, di daerah Jampes, daerah Kediri, Jawa. Semoga Allah menjaganya dan negeri islam lainnya"
Nalarnya, kalau kitab yang ada dihadapan kita adalah ini karya Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, mestinya rumahnya bukan di Jampes, tapi di Makkah al-Mukarramah. Sebab Sayyid Ahmad Zaini Dahlan adalah seseorang Ulama yang menjadi Mufti Syafiiyah di tanah Suci dan mukim di Makkah. Akhirnya bapak ketua PCINU itu percaya dan mungkin sudah melaporkan dan meminta pertanggung jawaban dari pihak percetakan.
Nah berikut ini adalah karya Syaikh Ihsan yang lain, silahkan kalau ada yang minat silahkan hubungi no wa: 085-799-713-944



Madrasah Ramadhan

Written By Unknown on Tuesday, July 4, 2017 | 9:32 PM



Ramadhan tahun ini telah menyapa kita dengan belaian hari-harinya yang penuh dengan keindahan dan keberkahan. Dan tak terasa, ternyata sudah hampir setengah bulan lamanya kita berpuasa, menahan lapar dan dahaga di siang hari, dan tentunya melakukan aktifitas-aktifitas Ramadhan lainnya di malam Hari-nya, semisal Shalat Tarawih, Tadarus Al-Qur'an, Tahajjud, I'tikaf dan masih banyak praktek ibadah yang lain. Namun, yang masih menjadi pertanyaan dalam diri kita, apa sebenarnya "Puncak" dari amaliah Ramadhan yang ingin kita capai, sehingga setelah nanti Ramadhan beranjak berpisah, meninggalkan kita, kita masih merasakan sentuhan-sentuhan halus Ramadhan dalam relung-relung jiwa kita?
Memang benar, selama ini umumnya kita—walaupun tidak semua—memandang Bulan Suci Ramadhan hanya sebagai ajang untuk berlomba-lomba memasang topeng-topeng kesucian di depan manusia. Dan saat Ramadhan sudah usai, maka akan kelihatanlah betapa beringas dan menjijikkannya wajah-wajah asli yang bersembunyi di balik topeng-topeng suci itu. Kenapa semua itu terjadi? Menurut saya pribadi, semua itu terjadi tak lain karena kita tidak pernah memposisikan Ramadhan sebagai “Madrasah” guna mendidik Nafsu kita. Atau kalaupun ada yang menganggap Ramadhan sebagai “Madrasah”, itu pun hanya seperti sekolahan pada umumnya sekarang ini, yang hanya gila akan formalitas, tanpa mempertimbangkan esensi dari makna pendidikan itu sendiri. Sehingga yang ada hanya jasad tanpa nyawa, tubuh tanpa ruh dan jiwa.
Untuk mentahbiskan Ramadhan sebagai Madrasah yang sebenarnya, kita perlu mengetahui terlebih dahulu makna-makna yang tersembunyi di balik puasa di Bulan suci Romadhan ini. Dalam ayat Al-Qur'an Allah berfirman yang artinya:
"Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian semua untuk berpuasa, sebagaimana diwajibkan bagi orang-orang sebelum kalian. Supaya kalian bisa meraih ke-takwaan"
Dalam kesempatan singkat ini, saya ingin sedikit mengulas makna dari redaksi "Kama Kutiba 'Alalladzina Min Qoblikum. La'allakum Tattaquun". Dari teks ayat tersebut, bisa kita pahami bahwa puasa merupakan ibadah yang sebenarnya sudah pernah ada dan menjadi sebuah amaliah wajib bagi umat-umat terdahulu, sebelum umat Muhammad Saw. Ini menunjukkan antara lain, bahwa ajaran Islam itu mempunyai keterkaitan yang cukup erat, dengan ajaran-ajaran umat lainnya. Walaupun tentunya ada perbedaan-perbedaan krusial yang menjadi ciri khas masing-masing dari umat beragama dan Islam.
Syaikh Mutawalli Sya'rowi—seorang pakar Tafsir kontemporer dari Mesir—menjelaskan dalam Tafsir-nya bahwa Puasa merupakan sebuah metode pendidikan kemanusiaan yang ada dalam setiap agama, walaupun antara satu agama dan yang lain mempunyai perhitungan hari dan tatacara yang berbeda-beda. Almarhum Dr. Wahbah Zuhaili dalam tafsir Al-Munir menjelaskan bahwa puasa adalah ajaran yang disepakati oleh semua pemeluk agama. Bahkan agama pagan (penyembah berhala) pun sudah mengenal ajaran puasa ini.
Orang-orang—dari penuturan Syaikh Wahbah—Mesir kuno, Yunani, Ramawi dan India pada era dahulu pun sebenarnya sudah mengenal puasa. Dalam kitab perjanjian lama (Taurat) pun ditemukan pujian atas puasa dan orang-orang yang berpuasa, dan juga sudah bisa dipastikan bahwa Nabi Musa pun pernah berpuasa selama 40 hari lamanya. Sedangkan orang-orang Yahudi sekarang ini juga melakukan ritual puasa selama 1 minggu full, guna memperingati keruntuhan Yerussalem. Begitu juga dengan injil-injil modern sekarang ini yang memuji puasa dan menganggapnya sebagai sebuah ibadah terpuji. Dari sini bisa kita pahami, bahwa Ibadah puasa merupakan ajaran lintas generasi dan lintas agama yang kesemuanya mempunyai tujuan satu, yakni meraih ketakwaan.
Lalu, apakah dari pemaparan di atas bisa kita pahami kalau Islam dalam ajaran puasa ini telah “menjiplak” ajaran umat-umat terdahulu? Sebagaimana hal itu dituduhkan oleh sebagian kaum orientalis. Oh, menurut saya pribadi tidak bisa kita katakan demikian. Sebab pada dasarnya agama-agama yang hidup pada rumpun semitik itu adalah agama Islam, hanya saja mempunyai Syariat (undang-undang) yang berbeda antara satu dan yang lain, yang mana undang-undang tersebut berbeda karena adanya konteks dan kondisi yang berbeda pula. Disamping juga adanya distorsi (Tahrif) dalam sebagian ajaran agama-agama tersebut. Sebenarnya adanya sedikit kesamaan ajaran masing-masing agama itu semakin menguatkan kita, bahwa ajaran Islam adalah ajaran yang mempunyai sanad turun temurun semenjak Nabi-Nabi terdahulu, sehingga akhirnya sampai pada Nabi penutup, yakni Baginda Rasul Muhammad Saw. Mestinya pemahaman itu yang kita kembangkan, bukan malah menganggap bahwa ajaran Islam adalah jiplakan ajaran agama sebelumnya, tapi lebih tepatnya adalah ajaran yang menyempurnakan ajaran-ajaran Nabi sebelumnya. Nah, dari pemaparan singkat di atas sudah bisa kita ketahui bahwa puasa adalah “Madrasah” sepanjang masa bagi Nafsu hewani kita. Lalu apakah tujuan dari pendidikan Madrasah Ramadhan ini?
Tujuan utama dari Puasa—sebagaimana kebanyakan Ibadah pada umumnya—adalah sebagaimana diceritakan sendiri oleh Allah, yaitu "La'allakum Tattaquun" yang bisa kita artikan dengan "membentuk pribadi yang bertakwa". Dari redaksi potongan ayat terakhir ini, yang menggunakan susunan Jumlah Ismiyah—bukan Jumlah Fi'liyyah—bisa kita pahami bahwa takwa yang dimaksud itu tidaklah bersifat temporer, tapi lebih bersifat kontinue. Takwa tidak hanya pada bulan Ramadhan saja, tapi setelah Ramadhan pun, ketakwaan seseorang harus selalu menghiasi pola pikir, prilaku, tindak tanduk dan tentunya pola interaksi terhadap sesama manusia.
Lalu, apa itu takwa? Selama ini, kita memahami takwa sebagai upaya untuk melakukan setiap perintah dan menjauhi larangan Allah swt. Namun, menurut saya pribadi, gambaran takwa paling menarik adalah apa yang pernah dipaparkan oleh Sayyidina Ali Karramallahu wajhah saat beliau mengatakan: "Takwa pada hari ini adalah penjaga dan tameng, sedang pada esok hari, (takwa) adalah jalan menuju surga". Kenapa saya anggap paling menarik? Sebab disitu Sayyidina Ali lebih menekankan Takwa pada sisi ruhiyah, bukan jasmaniyah. Dan penggambaran ini sangat cocok sekali dengan esensi dari Puasa Ramadhan yang sedang kita lakukan sekarang ini.
Oke, untuk lebih memudahkan memahami keterkaitan antara esensi puasa Ramadhan dan pemaparan Takwa dari Imam Ali, saya akan sedikit memberikan contoh yang lebih riil. Dalam kehidupan sehari-hari, tentunya kita akan banyak menemukan hal-hal yang bisa dikatakan bertentangan dengan Syariat. Banyak kita temukan di luar sana orang-orang yang dengan bangganya melakukan maksiat, bahkan tak segan-segan memamerkan prilaku maksiat-nya itu, semisal mengkosumsi minuman beralkohol, berjudi, mengkonsumsi narkoba, para wanita yang berjalan tanpa menutup aurat dan masih banyak yang lain. Nah, melihat realitas yang demikian ini, kalau kita memaknai takwa dengan berusaha mengerjakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, berarti kita harus menghindari dan menjauhi semua orang yang melakukan prilaku maksiat tersebut, dan itu merupakan hal yang sangat sulit sekali tentunya. Bahkan kalau kita lihat realitas kehidupan sekarang ini yang sudah semakin penuh dengan trik dan intrik penipuan, mulai dari instansi pemerintahan, sampai masyarakat kecil, tentunya sebagai insan yang sedang meniti jalan ketakwaan akan mengalami kesulitan dalam kehidupannya. Hal ini jika ketakwaan kita artikan sebagai menghindari larangan Allah. Dan mungkin, pada akhirnya orang hanya akan menemukan ketakwaannya, jika dia hidup di pegunungan sana atau ada juga yang pada akhirnya bersikap ekstrim guna mengenyahkan kemaksiatan yang ada dihadapannya. Berat bukan?
Hal ini tentunya akan berbeda, jikalau kita mengikuti dan mengembangkan konsep ketakwaan ala Imam Ali Radhiyallahu 'Anhu, yang menyatakan bahwa Takwa adalah kekuatan rohani yang menjadi tameng dan perisai dalam diri seseorang. Takwa ala Imam Ali ini akan menjadikan seseorang kebal dalam menghadapi maksiat, sehingga seseorang akan bisa hidup dalam kondisi apapun dan berinteraksi dengan siapa pun, entah itu orang baik atau pun orang yang jelek, tanpa seorang muslim harus merasa khawatir akan terkontaminasi oleh perbuatan maksiat yang ada.
Takwa ala Imam Ali ini akan menjadikan seorang Muslim memiliki sikap sebagaimana ikan yg hidup di lautan yang luas. Air lautnya asin, tetapi ikan yang di dalamnya—selama masih hidup—tidak akan ikut terkontaminasi asin pula. Ikan itu bisa berenang kemanapun ia suka, tanpa harus menghindari satu kawasan ataupun daerah tertentu, sebab asinnya air laut tidak akan mempengaruhi dirinya sama sekali. Begitu juga dengan seseorang yang sudah berhias dengan ke-takwa-an Ala Imam Ali ini. Seorang Muslim bisa bebas berkumpul dan berinteraksi dengan siapapun, tanpa ia harus khawatir akan terkontaminasi oleh perbuatan maksiat yang tersebar dengan begitu bebasnya di sekitar masyarakat yang ada.
Dan kalau kita mau jujur, ketakwaan ala Imam Ali—sebagaimana tersebut di atas—itu benar-benar akan bisa terealisasikan saat seseorang bisa sukses dan lulus dalam Madrasah Ramadhan. Iya, puasa Ramadhan tak ubahnya sebuah “Madrasah” kelas elit dengan standar kompetensi-nya adalah menggapai Derajat Takwa. Sedang siswa-siswa madrasah Ramadhan tersebut adalah Nafsu-nafsu kita. Madrasah Ramadhan ini adalah sekolahan yang tidak hanya taraf  Nasional ataupun internasional, tetapi lebih dari itu semua, ia adalah madrasah dengan taraf kelayakan di Akhirat nanti. Sehingga Tidaklah sembarang orang yang benar-benar siap untuk berkompetensi dan untuk selanjutnya sukses melewati Madrasah Romadhan ini, bahkan dalam Al-Qur'an pun yang di Khithobi oleh Allah hanyalah orang-orang yang beriman (dan tentunya sudah tidak asing lagi bagi kita, apa dan bagaimana perbedaan orang yang masih dalam taraf Islam saja, dengan orang yang sudah bertitle Iman).
Dalam Madrasah Ramadhan ini, seorang muslim benar-benar diajak oleh Allah swt guna meningkatkan kadar ketakwaannya. Yang selama ini takwa hanya sebatas menghindari hal-hal yang dilarang oleh Allah, sekarang ia harus beranjak membangun perisai dan benteng ruhaniyah dalam dirinya sendiri. Sehingga saat dia berpuasa, dia tidak mudah tergoda oleh berbagai macam larangan-larangan agama. Dia tidak akan mudah ngiler saat melihat temannya yang berlainan agama menyantap makanan dengan enaknya, sebagaimana ia tidak akan seperti anak kecil yang sedang latihan puasa, lalu merengek minta dibelikan es krim saat melihat adiknya menyantap es krim. Tidak sama sekali.
Puasa adalah sebuah ibadah yang betul-betul rahasia, sehingga yang tau hanyalah diri hamba itu sendiri dan Allah. Oleh karenanya, pembangunan perisai dan benteng takwa rohani pun sangatlah cocok dengan puasa ini. Karenanya, mari kita benar-benar manfaatkan puasa ini tidak hanya dengan sekedar menahan lapar dan haus, tapi lebih dari itu, adalah dengan terus menerus belajar mendalami ajaran Islam yang indah ini secara lebih lagi, kemudian mengamalkan semampunya sebagai ajang penyucian hati kita.
Dan pada akhirnya, saat nanti Idul Fitri datang, kita memang benar-benar layak untuk disebut sebagai wisudawan Ramadhan yang sukses dalam mendidik Nafsunya. Tidak hanya sekedar wisudawan abal-abal yang sekarang marak di dunia pendidikan kita, sudah memegang ijazah, tapi kualitasnya nol puthul. Dan tentunya kita sebagai siswa-siswa Madrasah Ramadhan tidak menginginkan hal yang demikian. Bukankah begitu kawan? Wallahu A'lam bis Showab.

SEMENJAK AL-QORI, SAMPAI MBAH BISYRI

Written By Unknown on Thursday, April 21, 2016 | 11:43 PM



            Memang sangat sulit untuk membedakan antara saingan dan berlomba dalam kebaikan (Musabaqoh Fil Khoir). Apalagi jika yang melihat adalah orang yang masih mengenakan kacamata awam yang serba hitam-putih, pasti langsung burem matanya atau beleken, saat melihat beberapa tokoh-tokoh agama yang saling ‘berlomba’. Entah persaingan atau berlomba dalam kebaikan—menurut saya pribadi—jika yang melakukannya adalah orang-orang yang masih menjadikan ilmu sebagai pijakan utamanya, maka pasti akan membawa keberkahan dan rahmat bagi seluruh umat manusia. Hal ini sesuai dengan adagium “Ikhtilafu-L-Aimmah Rahmah”, berbeda jauh jikalau kemudian yang saling berbeda pendapat adalah orang-orang bodoh yang bersembunyi dibalik kebesaran jubah agama, pasti yang muncul hanyalah hujatan dan sumpah serapah belaka. Tak ada kesantunan ilmiah dan Adabu-L-Ikhtilaf di sana. Padahal, kalau toh kita melihat dengan jernih, ‘persaingan’ para Alim Ulama itu pasti akan membuahkan hikmah yang tidak bisa kita katakan kecil, sebab paling tidak, dari persaingan tersebut akan lahir karya-karya ilmiah yang akan bisa kita nikmati sepanjang masa.
            Anda nggak percaya? Okelah, mari kita tengok sejarah kehidupan para ulama kita yang sudah teruji keilmuan dan keikhlasannya. Sebut saja al-Imam Ibnu Hajar Al-Asqallani Rahimahu-Llah. Seorang alim besar yang tidak hanya sekedar mendapatkan julukan “Imam” saja, tetapi beliau adalah “Amiru-L-Mukminin Fil Hadis” yang kurang lebih bermakna pemimpin semua orang Islam dalam masalah ilmu hadis, hal ini karena kepiawaian beliau dalam meracik dan mengkaji ilmu hadis. Cukuplah sebagai bukti dari kealiman beliau adalah kitab Fathu-L-Bari yang tak lain adalah komentar (Syarah) atas kitab hadis terkenal, yakni shohih al-Bukhori. Lantas, apakah setelah beliau mendapatkan gelar yang wah luar biasa itu, tidak ada orang lain yang menyaingi beliau dalam keilmuan? Tidak kawan. Ibnu hajar menulis kitab Fathu-L-Bari itu selama kurang lebih 5 tahunan—bayangkan kitab segede itu di tulis hanya dalam waktu kurang lebih 5 tahun dan belum ada komputer untuk nge-save lo—dan setelah selasai, beliau mulai mengajarkannya kepada santri-santri halaqoh-nya. Nah, baru saja 3 tahun kitab itu beredar di masyarakat umum, sudah muncul karya baru  dengan genre yang sama pula, yakni sama-sama komentar atas kitab Bukhori. Dan yang lebih menarik lagi, dalam kitab yang baru tersebut, sang penulis pun juga menuliskan kritikan-kritikan atas kitab Fathu-L-Bari karya Ibnu Hajar.
            Siapakah penulis kitab baru tersebut? tak lain dan tak bukan adalah imam Mulla Ali Al-Qori al-Hanafi. Kalau Ibnu Hajar Al-Aqollani punya syarah Fathu-L-Bari, maka Mulla Ali Al-Qori punya syarah juga dengan judul Umdatu-l-Qori. Kalau Ibnu Hajar lebih banyak menekankan pola berfikir Madzhab Syafi’i dalam buku jumbonya tersebut, maka al-Qori pun tak mau kalah, beliau juga memberikan argumen-argumen Fiqh Hanafi dalam buku jumbonya. Syarah Fathu-L-Bari menimbulkan persepsi sementara bagi para pembaca, bahwa Imam al-Bukhori adalah seorang pengikut Madzhab Syafi’i. Namun setelah muncul syarah Umdatu-L-Qori, maka persepsi itu terbantahkan dengan sendirinya, dan ternyata al-Bukhori pun bisa di pahami dengan alur dan metodologi Hanafi. Jadi tidaklah bisa, jikalau lantas muncul klaim bahwa al-Bukhori bermadzhab Syafi’i atau pun madzhab-madzhab yang lain. Seolah al-Qori ingin menekankan, jangan kita mudah mengklaim sebuah kebenaran.
            Setelah mengetahui bahwa kitabnya dikritik oleh pesaingnya, Ibnu Hajar tidak tinggal diam, maka beliau pun menulis kritik balasan terhadap syarah al-Qori tersebut. Lahirlah kitab Al-Intiqodh Fi-L-I’tirodh yang kurang lebih berjumlah 4 jilid besar-besar. Dalam buku tersebut, Ibnu Hajar membantah sekaligus menjawab satu persatu kritikan-kritikan Al-Qori yang di tulis dalam syarahnya atas Al-Bukhori. oleh karenanya, bagi siapapun yang membaca kita Al-Intiqodh, pasti akan bingung dengan pola penyusunannya yang seringnya hanya menyebutkan “Qola al-Mu’taridh”, lalu setelah itu beliau menjawab hanya dengan “Qultu”. Seingat saya, setelah itu al-Qori pun kembali menjawab bantahan Ibnu Hajar tersebut dengan sebuah kitab yang berjudul “Al-I’tidhodh Fi-L-Intiqodh” yang besarnya kurang lebih juga sama. Dari semua itu, yang menarik adalah adab dan akhlak para ulama tersebut dalam berbeda pendapat. Walaupun karyanya dikritik dengan tajam oleh pesaingnya, Ibnu Hajar tidak lantas mengeluarkan cacian, hujatan maupun sumpah serapah. Bahkan nama sang pengkritik pun tidak beliau sebutkan secara eksplisit, beliau hanya menggunakan kata-kata sang pengkritik (al-Mu’taridh). Bukankah hal ini sangat indah sekali kawan? Memang, jikalau perkhilafan itu terjadi antara “A-immah” bukan orang-orang pinggiran yang bodoh “Al-Jahalah” yang nampak hanyalah keindahan di mata kita, para makmumin ini.
            Dalam kalangan NU, sebenarnya tradisi perbedaan sudahlah mengakar puluhan tahun yang lalu. Dan—menurut saya pribadi—contoh yang paling riil adalah persaingan kakak-beradik KH. Bisyri Musthofa dan KH. Misbah Musthofa Rahimahuma-Llah. Beliau berdua adalah tokoh ulama yang tidak hanya alim nan mumpuni dalam bidang keagamaan, namun juga kreatif menghasilkan karya-karya ilmiah yang sampai sekarang masih bisa dinikmati oleh semua masyarakat Nusantara secara umum. Saat Mbah Bisyri menulis masterpice-nya, yakni Al-Ibriz Fi Tafsiri-L-Qur’ani-L-Aziz yang sangat fenomenal itu, maka adik beliau, Kiai Misbah pun tak mau kalah dengan sang kakak. Beliau pun juga menulis Tafsir yang tak kalah hebatnya, yakni tafsir Al-Iklil Fi Ma’anit Tanziil. Namun sayangnya, ada kabar yang sampai kepada saya pribadi, bahwa ada beberapa pembahasan dalam tafsir Al-Iklil yang di kurangi atau di hilangkan oleh pihak penerbit. Entah penerbit siapa juga, saya kurang tahu. Akhirnya karena kekecewaan tersebut, Mbah Misbah menulis tafsir lagi dengan judul Taju-l-Muslimin, namun sayang, belum sampai selesai penulisannya, keburu Mbah Misbah di panggil oleh Sang Pencipta untuk sowan.
            Persaingan antara kedua kakak-beradik ini tidaklah hanya berhenti sampai di situ saja. Kalau Mbah Bisyri punya syarah Jurumiyyah dengan judul An-Nibrasiyyah, maka Mbah Misbah juga punya syarah atas kitab yang sama dengan judul At-Ta’liqot Al-Bangilaniyyah. Jika Mbah Bisyri menulis syarah atas nadzam ‘Amrithi dengan judul Al-Unsyuthi, maka Mbah Misbah juga tidak mau kalah, beliau menulis syarah atas nadzam yang sama dengan judul Minnatu-L-Mu’thi. Dalam bidang ilmu sejarah, Mbah Bisyri menulis kitab Tarikhu-L-Auliya’ yang bercerita tentang Walisongo di tanah Jawa, tak kalah cerdik, Mbah Misbah pun menulis kitab sejarah dengan genre yang sama, yakni tentang Walisongo, tapi cerdiknya, beliau menulis tentang Walisongo luar negeri. Kitab tersebut berjudul Tarikhu-L-Auliya’ Al-Abror (Walisongo luar negeri). Dan begitu seterusnya, masih banyak lagi karya-karya beliau berdua yang muncul karena persaingan. Tetapi sekali lagi saya tekankan, persaingan tersebut adalah dalam rangka berlomba dalam kebaikan, sehingga hasil dari persaingan tersebut adalah munculnya karya-karya ilmiah yang indah dan bisa kita nikmati sampai sekarang.
            Lalu bagaimana dengan kita sekarang ini kawan? Antara kita sendiri berbeda, itu pasti. Tapi apakah kita menjaga adab dan akhlak dalam berbeda itu?? Ah entahlah, semoga kita semua selamat. 



Powered by Blogger.
Advertise 650 x 90
 
Copyright © 2014. Anjangsana Suci Santri - All Rights Reserved | Template - Maskolis | Modifikasi by - Leony Li
Proudly powered by Blogger