Saturday, November 22, 2014

Musalsal Bil Mardho



Dalam ilmu hadis kita mengenal istilah hadis Musalsal, yakni hadis-hadis yang saat meriwayatkannya para rowi menampilkan sebuah tingkah tertentu—semisal dengan memegang jenggot—atau dengan redaksi tertentu—semisal aku mencintaimu, sebagaimana hadis riwayat Mu’adz—atau yang lain. Masing-masing dari setiap rowi akan menirukan tingkah laku, ucapan ataupun mungkin pakaian yang dipakai oleh para rowi sebelumnya, dan begitu seterusnya. Itulah kurang lebih dari definisi hadis Musalsal.
Ada banyak musalsal yang kita temukan dalam tradisi dan dunia ilmu hadis, ada Musalsal Bil Mahabbah, disebut dengan demikian karena sebelum meriwayatkan hadis, setiap rowi selalu mengatakan: “Ana Uhibbuka”, saya mencintaimu. Ada juga Musalsal Bi Qabdhi-L-Lihyah, disebut demikian karena setiap rowi saat meriwayatkan hadis selalu dengan memegang jenggotnya. Dan masih banyak lagi varian hadis Musalsal yang tentunya akan sangat panjang jika diriwayatkan disini.
Dalam satu kesempatan, gurunda Mbah Kiai Maemoen Zubair pernah dawuhan bahwa beliau pun mempunyai riwayat musalsal yang unik dan banyak. Di antaranya adalah Musalsal Bil Mu’ammarin, disebut dengan demikian karena setiap rowi dari hadis tersebut telah mencapai usia yang panjang dan melebihi umumnya usia umat Muhammad. Kalau usia umumnya umat Muhammad adalah 63 tahun—sebagaimana umur dari baginda nabi Muhammad sendiri—maka para perowi hadis tersebut sudah berumur 80-an lebih atau bahkan pada umumnya mereka sudah berumur 100 tahun lebih. Salah satu contohnya adalah Syaikh Umar Jam’an Tangerang yang mendapat predikat Al-Mu’ammar. Beliau meriwayatkan dari gurunya, Syaikh Nawawi Bin Umar Al-Bantani—bapak kitab kuning Nusantara—yang juga mendapatkan predikat Al-Mu’ammar. Nah, sekarang ini mbah maemoen yang sudah berusia lebih dari 80 tahun, kiranya juga sudah mendapatkan predikat Al-Mu’ammar. Begitu juga dahulu kakek beliau, Kiai Ahmad Bin Syu’aib—yang merupakan salah satu murid dari Kiai Hasyim Asy’ari—juga berumur panjang, tentunya beliau bisa juga mendapatkan predikat Al-Mu’ammar.
Ada sebuah kisah unik dan menarik berkenaan dengan hadis Musalsal ini. Seperti hari-hari biasanya, Al-Hafidz Sidi Ahmad Bin Shiddiq Al-Ghummary selalu melakukan ta’lim hadis di Zawiyah Ghummariyah. Biasanya beliau meng-Imla’-kan hadis sementara para santri mencatat apa saja yang keluar dari mulut beliau. begitulah tradisi ulama dulu dalam kegiatan belajar dan mengajar. Mereka tidak mengenal Iped, notebook dan yang lain, akan tetapi semangat mereka dalam meraih ilmu selalu berapi-api. Namun kali ada yang menarik dan aneh dari sanad hadis yang beliau riwayatkan. Beliau berkata:
حدثنا الأعمش عن الأعرج عن الأصم عن الزمن
Al-A’masy (orang yang sakit pandangan matanya) bercerita kepada kami dari Al-A’roj (orang yang pincang salah satu kakinya) dari Al-Ashom (orang yang tuli) dari Az-Zamin (orang yang lumpuh)”.
Saat mendengar sanad dan hadisnya selesai dibacakan sampai akhir, ada salah satu santri yang cerdik bertanya sambil mengacungkan jari telunjuk:
“Ya Sidi…di Rumah Sakit manakah anda meriwayatkan hadis ini?”
Kontan saja seluruh yang hadir tersenyum dan tertawa mendengarkan pertanyaan yang sangat lucu dan unik ini. Entah karena si penanya yang memang kurang tau dengan istilah di atas atau memang sengaja ingin membuat suasan jadi ger-geran, tapi yang jelas hadis riwayat Al-Hafidz Ahmad Al-Ghummary di atas juga termasuk dalam hadis Musalsal Bil Mardho, yakni hadis yang kesemua rowinya adalah orang-orang yang sakit. Rasa-rasanya kangen dengan humor ilmiah yang demikian ini.

Saturday, November 15, 2014

Mbah Maemoen Dan Kitab Kuning



Istilah atau terma adalah sebuah kata yang disepakati oleh komunitas tertentu guna menunjukkan sebuah makna yang tertentu pula. Masing-masing komunitas memiliki istilahnya sendiri untuk menunjukkan segala sesuatu yang mereka kehendaki. Dan sangat sering sekali terjadi perseteruan atau bahkan bentrokan antara satu orang dan yang lain atau satu kelompok dan lainnya hanya gara-gara salah paham dalam memahami  makna dari istilah itu sendiri.
            Pesantren sebagai sebuah tempat berkumpulnya komunitas santri pun memiliki dan mengembangkan istilahnya sendiri, dan istilah-istilah pesantren sering kali disalah pahami oleh komunitas lain diluar bilik-bilik pesantren. Bahkan tak jarang pula munculnya bermacam-macam stigma miring tentang pesantren ini juga karena kegagalan masyarakat umum dalam memahami istilah-istilah yang berkembang dalam dunia pesantren.
            Salah satu istilah pesantren yang paling populer dan sampai sekarang masih sering saya dengar adalah istilah kitab kuning. Secara umum, kalangan pesantren memahami bahwa istilah kitab kuning digunakan karena memang kitab-kitab tersebut dicetak pada kertas yang berwarna kuning, walaupun sekarang ini tidak sedikit pula kitab-kitab yang sudah dicetak dengan menggunakan kertas berwarna putih. Namun, nampaknya Mbah Kiai Maemoen Zubair mempunyai pengertian dan pemahaman lain terhadap penyematan istilah kitab kuning tersebut.
            Setidaknya, selama saya masih di pesantren dulu, saya menemukan bahwa Mbah Moen—panggilan akrab Kiai Maemoen Zubair—dalam masalah ini mempunyai dua pendapat (Qoul), pendapat beliau yang dulu (Qodim) dan pendapat beliau yang terakhir (Jadid). Walaupun pada dasarnya kedua pendapat (Qaulani) beliau tersebut mempunyai satu muara saja, yakni jangan sampai ada penghinaan terhadap kitab-kitab yang merupakan buah karya para ulama-ulama terdahulu.
            Qaul Mbah Maemoen yang pertama adalah beliau melarang penggunaan istilah “Kitab Kuning” untuk menyebut kitab-kitab karya ulama klasik yang selama ini dijadikan rujukan dan mata pelajaran di pesantren tradisional. Kenapa demikian? Hal ini tidak lebih karena beliau mempunyai dugaan (Dzon)—dan memang dalam masalah ijtihad, dugaan (Dzon) saja sudah bisa dijadikan pertimbangan—bahwa penyebutan kitab kuning mempunyai tujuan untuk menghina karya-karya para ulama klasik, sekaligus juga penghinaan terhadap kaum santri sebagai penerus tradisi ke-Ulama-an di Indonesia.  Memang sampai sekarang ini saya sendiri masih menelusuri dan mencari siapa sebenarnya orang yang memunculkan istilah kitab kuning. Apakah memang benar ada sekelompok orientalis yang sengaja memunculkan istilah tersebut guna menghina pesantren dan ulama? Akan tetapi data sementara yang bisa saya temukan menyatakan bahwa orientalis seperti martin van bruinessen pun menyebut istilah kitab kuning karena kertasnya yang kuning, bukan karena menghina.
Saya mendapatkan sebuah cerita yang diriwayatkan oleh teman saya, KH. Syarafuddin Ahmad, Lasem, bahwa Mbah Moen pernah dawuhan:
لأن أزني مرة واحدة أحب إلي من أن أقول كتاب كونيغ
Saya lebih suka melakukan zina sekali, dari pada harus mengatakan kitab kuning
Dawuh Mbah Moen tersebut, sepintas lalu memang terkesan ekstrim dan terlalu fanatik, akan tetapi bagi orang yang memahami kemana arah ungkapan Mbah Moen dank arena apa, pastinya akan sangat maklum atau bahkan bisa menerima. Zina memang dosa, dan bahkan termasuk salah satu dosa besar. Akan tetapi menyebut kitab kuning dengan tujuan menghina para ulama dan karya-karyanya pun adalah dosa besar, bahkan bisa menjadikan seseorang keluar dari Islam, karena menghina para ulama adalah penghinaan terhadap sesuatu yang merupakan syiar Islam. Sedang penghinaan terhadap syiar-syiar Islam bisa menyebabkan seseorang keluar dari Islam. Na’udzu billah. Jadi menurut pemahaman Mbah Moen—dan saya kira juga pemahaman kebanyakan ulama—dosa menyebut kitab kuning (karena tujuan menghina) itu lebih berat sanksi teologisnya dari pada berzina.
            Adapun pelarangan beliau terhadap penggunaan istilah “kitab kuning” adalah berdasar ayat Al-Qur’an yang berbunyi:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَقُولُوا رَاعِنَا وَقُولُوا انْظُرْنَا  [البقرة/104]
Hai orang-orang yang beriman, janganlah berkata (kepada Muhammad), "Râ`inâ", tetapi, katakanlah, "Unzhurnâ
Berkenaan dengan ayat di atas, Imam Al-Baidhowi menjelaskan dalam tafsirnya bahwa dulu para sahabat selalu mengatakan kepada baginda Nabi Muhammad: “Ro’ina” yang berarti perhatikan dan pelan-pelanlah dalam menyampaikan apa saja kepada kami. Akan tetapi kebiasaan para sahabat ini dimanfaatkan oleh orang-orang Yahudi untuk menghina dan mencela baginda Nabi Muhammad Shollallahu Alaihi Wa Sallam. Mereka pun memanggil baginda Nabi dengan kata-kata: “Ro’ina”, akan tetapi makna yang mereka kehendaki ini berbeda dengan apa yang dikehendaki oleh para sahabat. Kata “Ro’ina” menurut mereka di ambil dari kata “Ru’unah” yang berarti dungu. Atau menurut penjelasan imam al-baidhawi sendiri, kata “Ro’ina” yang diucapkan oleh orang-orang yahudi tersebut bisa saja berasal dari bahasa ibrani yang bermakna cacian dan celaan. Walhasil, intinya orang-orang yahudi mengucapkan kata-kata tersebut guna menghina dan mencela baginda Nabi Muhammad Shollallahu Alaihi Wa Sallam.
Oleh karena tingkah laku orang yahudi tersebut, turunlah ayat ke-104 dari surat Al-Baqoroh yang intinya melarang para sahabat untuk memanggil baginda nabi dengan kata “Ro’ina” dan menggantinya dengan kata “Undzurna” yang berarti pelan-pelanlah wahai baginda nabi dalam mengajari kami. Nah, berangkat dari ayat di atas, Mbah Moen melakukan analogi (Qiyas) antara kasus penyebutan “kitab kuning” dan penyebutan kata “Ro’ina”. Dengan melihat dan mempertimbangkan Asbab Nuzul ayat yang dituturkan oleh para sarjana tafsir—diantaranya adalah Al-Baidhawi sebagaimana tersebut di atas—Mbah Moen menyimpulkan bahwa Illat (alasan) dilarangnya para sahabat menyebut kata “Ro’ina” adalah karena adanya unsur penghinaan kepada baginda Nabi dalam kata tersebut. Begitu juga dengan kata “Kitab Kuning” yang menurut beliau juga mempunyai unsur penghinaan terhadap salah satu Syi’ar Islam, dalam hal ini adalah ulama dan karya-karyanya, karenanya beliau dengan tegas juga melarang penggunaan istilah kitab kuning. Disamping ini merupakan satu bentuk Saddu Dzari’ah, yakni menutup potensi munculnya penghinaan terhadap ulama dan karya mereka. Sebagai solusinya, beliau menawarkan istilah Kitab Salaf sebagai ganti.
Qaul kedua Mbah Maemoen adalah beliau memperbolehkan penyebutan istilah  kitab kuning, asalkan tidak ada maksud dan tujuan untuk menghina kitab-kitab karya para ulama klasik tersebut. Pendapat kedua Mbah Moen ini pertama kali saya dengar saat beliau menyampaikan Mauidzoh dalam acara perayaan 1000 hari dari umur beliau, sekitar tahun 1432 H yang lalu. Dan yang unik, dalam mauidzohnya tersebut, Mbah Moen memberikan sebuah pemaknaan yang menurut saya bisa dikatakan baru dalam memahami istilah “kitab kuning”. Entah bagaimana menurut yang lain, mungkin saja sudah mengetahui atau menemukannya terlebih dahulu.
Dalam mauidzohnya tersebut, Mbah Moen mengatakan bahwa kata “kuning” dalam bahasa arab sepadan dengan kata “Ashfar”. Kata “Ashfar” ini berakar dari kata “Shifr” yang berarti kosong. Lalu beliau melanjutkan bahwa kosong ini bisa bermakna memang “kitab kuning” kosong tanpa makna dan Syakl, sehingga yang mampu untuk membaca sekaligus memahaminya hanyalah orang-orang yang memiliki kemampuan yang baik dalam Grammer Arab. Karenanya ada istilah lain yang sesuai dengan pemaknaan yang pertama ini, yaitu istilah Kitab Gundul. Tetapi disamping pemaknaan yang demikian, beliau mempunyai tafsiran lain terhadap kata “Shifr” yang berarti kosong tersebut. Mbah Moen menyatakan bahwa makna dari kosong disini adalah bahwa setiap orang yang hendak mendalami “kitab kuning” dan mempunyai harapan untuk bisa mereguk kesejukan serta merasakan keindahannya, maka haruslah dia mengosongkan jiwanya dari segala macam kesenangan duniawi.
Sepanjang pemahaman saya, pemaknaan kata “kitab kuning” yang sedemikian rupa oleh Mbah Moen tersebut berdasarkan pada ayat suci Al-Qur’an yang berbunyi:
قَالَ إِنَّهُ يَقُولُ إِنَّهَا بَقَرَةٌ صَفْرَاءُ فَاقِعٌ لَوْنُهَا تَسُرُّ النَّاظِرِينَ  [البقرة/69]
Musa menjawab, "Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang berwarna kuning tua (merata) lagi menyenangkan orang-orang yang memandangnya”.
Menurut Mbah Moen—sebagaimana yang saya dengar dan saya pahami—kata “Baqoroh” pada ayat di atas adalah sebuah isyarat untuk dunia. Saya sendiri tidak tahu secara pasti, dari mana Mbah Moen bisa menafsirkan bahwa “Baqoroh” adalah isyarat dunia, akan tetapi saya pribadi mempunyai dugaan—hanya sebatas dugaan—bahwa Mbah Moen menafsirkan demikian berdasar tradisi orang arab yang mau tidak mau juga menjadi latar belakang teks-teks suci Al-Qur’an maupun hadis. Pandangan orang arab dahulu secara umum adalah bahwa seseorang dikatakan memiliki dunia, saat ia memiliki Al-An’am, yang berupa onta, sapi dan kambing. Berangkat dari sinilah akhirnya beliau menafsirkan kata “Baqoroh” dalam ayat tersebut dengan dunia. Sehingga kalau kata Baqoroh dihubungkan dengan kata “Shofro’” yang berarti kuning atau lebih tepatnya kosong, maka hal itu memunculkan kesimpulan bahwa inti dari pengorbanan Bani Israil adalah mengosongkan kesenangan dunia dari diri dan jiwa mereka. Saat nabi musa menyuruh mereka untuk menyembelih sapi dengan kreteria yang sedemikian rupa, maka sebenarnya mereka disuruh untuk menyembelih kesenangan dunia (Hubbud Dunya) yang bercokol kuat dalam diri mereka.
Mungkin ada yang menuduh bahwa yang Mbah Moen lakukan ini adalah tafsir Utak Atik Mathuk, ya silahkan saja dan tuduhan yang demikian itu sah-sah saja bagi saya. Karena bagaimanapun sebuah wacana dan kajian ilmiah itu adalah hal yang sah-sah saja untuk dibela dan dikritik, asal pembelaan dan kritik tersebut dilakukan secara ilmiah pula. Menurut pendapat saya pribadi, praktek interpretasi yang dilakukan oleh Mbah Moen masuk dalam kategori Tafsir Isyari yang banyak dilakukan oleh para kaum sufi, sebut saja Tafsir Lathoiful Isyarat-nya Al-Imam Al-Qusyairi sebagai contoh konkritnya. Memang Mbah Moen sendiri tidak pernah—atau setidaknya saya sendiri belum pernah mendengar—menyebutkan bahwa beliau menggunakan metode tafsir isyari atau beliau menganut teori tafsir tertentu. Tapi setidaknya sebagai santri yang memiliki guru seorang mufassir, hendaknya kita pun harus berusaha untuk meneliti serta mengkaji tafsir, metodologi yang dipakai dan tentunya mau dibawa kemana arah tafsiran tersebut.
Setelah Mbah Moen menafsirkan ayat di atas tersebut, barulah beliau menghubungkan makna kuning yang berada pada kata “Baqoroh” dengan makna kuning yang menjadi istilah kitab kuning. Jadi yang dimaksud dengan kitab kuning versi Mbah Moen adalah kitab yang mengajak para pembacanya untuk mengosongkan jiwa dan hati mereka dari segala kesenangan dan nafsu duniawi. Atau bisa juga diartikan bahwa kitab kuning adalah kitab yang maknanya bisa dibaca, dipahami serta dirasakan secara mendalam hanya oleh orang-orang yang hatinya telah kosong dari segala bentuk kesenangan duniawi. Merekalah yang disebut dengan ulama.
Walhasil, dari pembacaan dan kajian panjang di atas, saya bisa menyimpulkan bahwa dalam menanggapi istilah “kitab kuning”, Mbah Maemoen memiliki dua pendapat (Qaulani), pendapat dulu (Qadim)  dan sekarang (Jaded). Pendapat Qadim beliau adalah melarang secara mutlak atas istilah kitab kuning. Sedang pendapat Jadid beliau adalah diperbolehkannya penggunaan istilah kitab kuning selama tidak ada niat dan unsur menghina para ulama dan karya-karya mereka. Jikalau hal ini saya analogikan dengan pendapat Imam As-Syafi’i yang terbagi menjadi dua pula, Qadim dan Jadid, maka saya bisa menyimpulkan bahwa pendapat Mbah Moen kedualah yang lebih tepat dan cocok untuk kita pakai sekarang. Wallahu A’lam Bis Showab.

Wednesday, November 12, 2014

Hikmah Di Utusnya Nabi Dan Rasul



Dalam semua ciptaan dan fi’lu Allah selalu terdapat hikmah-hikmah sang tidak semua makhluk mampu untuk mengungkapnya. Akan tetapi, semua itu pasti ada hikmahnya, karena Allah adalah dzat yang maha bijaksana (Al-Hakim) yang tentunya tidak melakukan sesuatu dengan sia-sia tanpa ada hikmah dan manfaat. Salah satu kehendak dan fi’lu Allah adalah mengutus para Nabi dan Rasul. Berikut ini adalah sebagian—hanya sebagian saja, tidak semua—hikmah diutusnya para Nabi dan Rasul.
1.    Dunia ini adalah ibarat sebuah jalan yang harus dilewati oleh setiap insan dalam rangka menuju ke tempat persemayaman dirinya yang sejati. Namun, jalan yang akan dilalui oleh manusia ini tidaklah semuanya mudah dan diterangi oleh pelita. Hanya ada satu jalan saja yang terang, dan sangat banyak sekali gang-gang maupun lorong-lorong dari jalan tersebut yang pelitanya redup, remang-remang atau bahkan gelap gulita, tidak ada pelita penerang sama sekali disana. Disamping jalan-jalan tersebut juga banyak yang terjal, berlubang dan terdapat banyak rintangan disetiap sisi-sisi jalan tersebut. Dalam kondisi yang demikian ini, Allah memberikan 2 bekal bagi setiap manusia yang hendak melewati jalan tersebut. Pertama adalah orang lain yang akan menuntunnya untuk melewati jalan tersebut. orang tersebut sudah sangat paham akan lika-liku jalan yang sangat terjal itu, karena memang ia benar-benar mengetahui seluk beluk jalan tersebut melalui kabar dari sang pencipta jalan itu. Kedua adalah sebuah perangkat lunak yang merupakan pelita yang sudah diciptakan oleh Allah dalam diri setiap manusia. Walaupun sebenarnya pelita ini pun belum cukup untuk bisa menyelamatkan dirinya dari terjal dan bahayanya jalan yang berliku-liku, karena memang  bagaimanapun pelita ini hanyalah sesuatu yang sangat terbatas sekali. Hal yang pertama adalah perumpamaan bagi para Nabi dan Rasul yang diutus oleh Allah sang pemilik dan pencipta alam semesta ini. Mereka benar-benar mengatahui hakekat dunia ini—yang merupakan jalan bagi manusia di dunia ini—dan tentunya sangat mengetahui bagaimana cara, trik dan intrik agar bisa melewati jalan dunia ini dengan selamat sampai tujuan. Sedang hal yang kedua adalah perumpamaan akal sehat manusia. Akal memang bisa menunjukkan kepada kita mana hal yang baik dan mana hal yang buruk, akan tetapi manusia tidaklah bisa bersandar total pada kemampuan akalnya. Karena akal kita sering terjerat serta tertipu oleh khayalan-khayalan Wahm (sak wasangka) yang tidak jelas asal muasalnya. Disamping pengetahuan akal adalah sesuatu yang sangat dibatasi sekali oleh lingkungan dan segala hal yang ada disekitarnya. Kita ambil saja contoh secara mudah adalah seorang pedagang yang sudah mengukur dan menimbang semua urusan perdagangannya dengan berbagai macam teori ekonomi. Namun dalam satu waktu, ternyata ia masih gagal dan rugi juga. Walaupun tidak jarang pula dia mendapatkan keuntungan. Kenapa ia masih rugi? Padahal ia telah mengukur semua dengan timbangan teori ekonomi. Nah, disinilah letak keterbatasan akal—disamping peran takdir Allah—karena teori dan ilmu ekonomi yang dia ketahui paling lama adalah teori yang dihasilkan selama 100/200 tahun yang lalu, sementara dunia ini selalu berubah secara dinamis. Dia tentunya tidak mengetahui teori-teori perdagangan yang telah dihasilkan 1000/ bahkan 2000 tahun lalu. Kalaupun mengetahuinya, itupun belum tentu mereka mengetahui dan memahaminya secara mendetil. Ini adalah keterbatasan manusia tentang hal-hal yang bersifat duniawi, lalu bagaimana ia bisa mengetahui hal-hal yang diluar batas kemampuannya, semisal masalah akherat. Nah, disinilah benar-benar penting di utusnya para Nabi dan Rasul.
2.    Akal manusia sering kalah oleh kesenangan (Syahwat) dan emosional (Ghodhobiyyah) dirinya sendiri. Jarang ada manusia yang bisa menjadikan akalnya alat untuk menundukkan kesenangan dan emosinya, sehingga ketiga perangkat lunak yang telah Allah ciptakan dalam diri manusia ini bisa bersinergi secara harmonis. Nah, karena akal telah tidak mampu untuk mengharmoniskan kedua unsur lainnya, bahkan ia sendiri cenderung kalah dan tunduk pada keduanya, maka sebagai penolong akal, Allah mengutus para Nabi dan Rasul. Para Nabi dan Rasul—melalui ajaran dan amiliah yang dibawanya—mengajari manusia dan akalnya bagaimana trik dan intrik untuk menundukkan kesenangan dan emosional dalam dirinya. Setelah akal berhasil menundukkan kedua unsur manusia tersebut, maka yang terjadi adalah keharmonisan ketiga unsur pokok ini dalam diri manusia. Dengan keharmonisan inilah, manusia bisa benar-benar menjalankan fungsinya sebagai seorang kholifah dan makhluk yang bertugas untuk membangun peradaban dimuka bumi ini. Jadi di utusnya para Nabi dan Rasul memang benar-benar hal yang sangat bermanfaat bagi kehidupan alam semesta.
3.    Semua manusia dengan kemampuan akal sehatnya telah mampu untuk menemukan bahwa alam semesta ini pasti ada yang menciptakan, tidak mungkin sebuah alam yang sangat teratur dengan begini indahnya dan sangat tertib ini tanpa ada yang menciptakan. Semua manusia meyakini hal itu, tanpa terkecuali. Hanya saja, kemampuan akal mereka tidak mampu untuk menemukan dan menyingkap siapakah pencipta alam semesta ini sebenarnya. Sebagian mereka ada yang terjebak dalam alam khayalan mereka, sehingga mereka menganggap bahwa api adalah tuhan mereka. Sebagian mereka ada yang termakan oleh perasaan mereka sendiri, sehingga mereka menganggap orang-orang yang baik adalah tuhan mereka. Dan ada pula yang mengganggap bahwa matahari adalah tuhan mereka, karena mereka sangat merasakan manfaat dari matahari. Dan masih banyak yang lainnya. Nah, dalam kondisi yang demikian inilah fungsi diutusnya para nabi dan rasul sangat nyata sekali. Ya, para Nabi dan Rasul di utus untuk menunjukkan kepada manusia, bahwa sang pencipta adalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala, bukan makhluk lain seperti dirinya sendiri. Dan masih banyak lagi hikmah yang tidak bisa penulis ungkap dalam buku sederhana ini. Wallahu A’lam Bis Showab.

Tuesday, November 11, 2014

KISAH CINTA DI BALIK RUNTUHNYA DINASTI AYYUBIYAH

Alkisah, ketika perancis mulai menyerang mesir yang waktu itu di bawah kekuasaan dinasti Ayyubiyah, sang raja yang bernama sultan Najmuddin Ayyub meninggal dunia, tepatnya pada tahun 647 H. Beliau berkuasa selama kurang lebih 9 tahun dan pada waktu itu beliau berumur 44 tahun. Akan tetapi kematian beliau ini tidak di ketahui oleh banyak orang, karena kabar menyedihkan ini di sembunyikan oleh budak perempuan (ummu walad) sang raja yang bernama Syajaratud Dur, yang terkenal cerdik, pandai dan lincah. Ia hanya memberi tahu kepada para pembesar kerajaan saja dan putra mahkota yang bernama Thuran Syah yang setelah itu menjadi raja dan melakukan perlawan terhadap penjajahan perancis hingga berhasil mengusir mereka.
Yang menarik dari kisah peperangan ini adalah peran ulama dalam rangka melawan penjajahan perancis, Sayyid Ahmad Zaini Dahlan mengisahkan bahwa Sulthanul Ulama syekh Izzuddin bin Abdussalam juga ikut andil dalam peperangan ini dan berkat karamah beliau pulalah pasukan perancis kalang kabut dan tercerai berai. Di kisahkan bahwa ketika pasukan perancis mulai menyerang Syekh Izzuddin dengan lantang berkata sambil memberi isyarat jari telunjuk ke atas: "ya riikhu khudziihim", yg artinya kurang lebih adalah: "wahai angin, ambil dan siksalah mereka", beliau mengatakan ini sebanyak 3 kali, lalu datanglah angin yang kencang dan dahsyat meluluh lantahkan pasukan perancis hingga kemenangan ada dipihak kaum muslimin. Kaum muslimin bersorak sorai bahagia dan berkata: "segala puji bagi Allah yang telah memperlihatkan kepada kita seorang Alim yang angin pun tunduk kepadanya". peristiwa ini terjadi pada hari Rabu ke-3 bulan Muharram tahun 648 H.
Akan tetapi, setelah kemenang ini, budak-budak dari ayah Sulthan Thuran syah membunuh beliau pada hari ke-17 bulan tersebut dan mereka sepakat untuk mengangkat sang permaisuri (Syajaratud dur) sebagai kepala pemimpin yang baru. Dalam sejarah Mesir tidak pernah ada pemimpin yang perempuan sebelumnya sehingga hal ini pun menyebabkan khalifah Mu'tashim mencela pemerintah mesir karena mengangkat wanita sebagai pemimpinnya.
Setelah beliau menjadi raja, ia dan para menterinya sepakat untuk melepaskan raja perancis dan mengangkat Izzuddin Aibik sebagai raja menggantikannya. Setelah Izzuddin menjadi raja dia kemudian menikahi Syajaratud dur yang memang sebelumnya sudah ada jalinan cinta sebelumnya. akan tetapi kenyataan berbalik, bukan cinta yang di dapat oleh Syajaratud dur, akan tetapi penghianatan, karena setelah Izzuddin aibik menjadi raja dia malah menikah dengan putri raja Maushil. sebagai seorang wanita, cemburulah Syajaratud dur dan karena terbakar rasa cemburu inilah kemudian dia melakukan tindakan yang dicatat merah tinta sejarah, karena kemudian dia beserta para budak wanitanya membunuh sang raja ketika beliau sedang bersantai di kolam renang kerajaan, setelah sang raja terbunuh dan hal ini di ketahui oleh para budak sang raja, maka mereka pun gantian membunuh sang ratu Syajaratud dur. Peristiwa ini terjadi pada tahun 655 H. Sungguh unik dunia ini, banyak hal yang kita sangka indah tapi ternyata adalah racun yang berbisa dan siap membunuh mereka yang lupa akan hari yang perhitungan amal. semoga Allah menjadikan kita termasuk hambanya yang selalu sadar. wa Allahu a'lam.

FAWAID

Berikut ini adalah beberapa faidah yang merupakan hasil renungan dari penulis sendiri, yang kesemuanya merupakan buah dari orang yang meyakini, mengetahui, memahami dan tentunya selalu berusaha merasakan makna dari sifat-sifat Allah.
  1. Meyakini wujudnya Allah [وجود الله] akan menjadikan seseorang memiliki pandangan serta tujuan hidup yang jelas. Karena orang yang berakal sehat pasti akan bertanya: “apakah saya ini ada karena di ciptakan atau ada dengan sendirinya? Jikalau saya ada karena di ciptakan, lalu apakah saya ini ciptakan dengan tujuan tertentu atau memang hanya sekedar di ciptakan saja tanpa tujuan? Kalau memang ada tujuan tertentu dalam penciptaan saya, lalu apa tujuan saya di ciptakan? Dan sudahkah saya melakukan sesuatu itu sesuai dengan tujuan penciptaan saya tersebut?”. Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan memunculkan gerak motorik dan sikap progresif dalam jiwa manusia yang berkeyakinan akan adanya Allah. Dia akan selalu mencari tujuan penciptaan dirinya dan selalu belajar. Untuk selanjutnya dia pun akan berfikir dan bertanya lagi: “apakah alam semesta ini juga ada yang mencipatakan atau ada dengan sendirinya tanpa pencipta? Kalau memang ada yang menciptakan, lalu apa tujuan alam semesta ini di ciptakan? Bagaimana pula saya sebagai manusia seharusnya berinteraksi dengan alam semesta ini? Apakah saya harus merusaknya atau malah memanfaatkan alam semesta ini sesuai dengan tujuan penciptanya? Sudahkah hal itu saya lakukan?”. Semua pertanyaan-pertanyaan tersebut muncul karena dasar awal adalah meyakini adanya Allah sebagai tuhan. Berbeda dengan orang yang tidak mengakui adanya tuhan, maka dia tidak akan memiliki tujuan hidup  yang jelas dan bahkan serinya masing-masing dari mereka akan menjadikan segala keinginan serta nafsu dalam dirinya sebagai tuhan yang mereka ‘ciptakan’ sendiri, akan tetapi mereka tidak pernah merasakan hal itu. Dan dengan pongahnya mereka mengatakan bahwa tuhan tidak ada, tuhan telah mati dan kata-kata lain yang kesemuanya berasal dari sebuah keyakinan tidak adanya tuhan bagi alam semesta ini.
  2. Keyakinan bahwa hanya Allah lah dzat yang Qadim (ada tanpa permulaan) dan yang Baqi (ada tanpa akhir), akan memunculkan sebuah pandangan serta tujuan hidup bagi seseorang untuk tidak mencintai dan bergantung kepada makhluk yang pasti akan rusak dan sirna. Karena selain Allah (makhluk) pada hakekatnya pasti ada permulaan dan akhirnya. Misal ada selain Allah yang kekal—contohnya seperti surga dan neraka—pasti itu karena memang Allah-lah yang menghendaki, menjadikan dan menciptakan ia untuk menjadi kekal. Setiap manusia sebenarnya mempunyai fitrah untuk cinta pada sesuatu yang kekal. Coba saja kita renungkan bersama, jika ada manusia yang tidak mempunyai anak, pasti ia akan mencari-cari obat untuk mengobati dirinya ataupun istrinya agar memiliki anak. Setelah dia memiliki anak, maka ia akan berusaha untuk menjaga si anak agar tidak tertimpa mara bahaya apapun yang bisa menjadikan anak itu tiada. Dan jika sudah waktunya menikah, maka si anak akan di nikahkan dan tentunya manusia tadi sangat berharap sekali akan mendapatkan cucu dari anaknya tersebut. Kasih sayang seorang manusia pada mulanya diberikan kepada anak, lalu setelah ada sang cucu, maka kasih sayang itu berpindah kepada cucunya dan begitu seterusnya. Pertanyaannya: kenapa manusia begitu senang dan bersemangat untuk mempunyai keturunan? Kenapa pula Allah mensyariatkan adanya pernikahan? Sebenarnya semua itu adalah rangsangan fitroh yang ditanamkan oleh Allah dalam hati manusia bahwa ia sebenarnya mencintai sesuatu yang kekal dan berusaha untuk menjadi kekal. Salah satu jalan manusia untuk mendapatkan kekekalan itu adalah dengan mempunyai keturunan. Hanya saja, yang sejatinya kekal hanyalah Allah, karena selain Allah pastilah akan sirna dan rusak. Jadi sewajarnya jika kemudian makhluk mencintai Allah, menggantungkan harapannya hanya kepada Allah dan berusaha untuk selalu kembali kepada Allah sebagai dzat yang Maha Kekal.
  3. Keyakinan bahwa Allah berbeda dengan makhluk-Nya [مخالفته للحوادث], akan menggerus pandangan hidup yang hanya bersandar pada segala hal yang bersifat kebendaan yang ditimbulkan oleh panca indra dan khayalan saja. Kenapa penulis katakan demikian? Karena akar dari segala penyamaan Allah terhadap makhluk-Nya adalah pola pikir indrawi dan Khoyali. Yang mana kedua pola pikir ini masih berada di bawah tingkatan akal sehat. Manusia yang hanya bersandar pada indarawi saja, maka dia akan mengukur segala sesuatu yang dia hadapi dengan sudut pandang kebendaan yang pada akhirnya akan membentuk pola pikir matrealistik. Sedang manusia-manusia yang bersandar pada khayalan, maka ia tidak akan bisa melihat sesuatu sesuai dengan kenyataannya. Coba saja kita perhatikan beberapa manusia yang mempunyai anggapan bahwa arwah dan hantu gentayangan adalah orang-orang yang telah lama meninggal dan datang untuk mengganggu mereka. Pandangan semacam ini muncul karena kuatnya pola khayalan yang menancap dalam jiwa mereka. Padahal yang disebut orang telah mati tentunya tidak bisa bergerak-gerak atau bahkan sampai gentayangan kemana-mana seenaknya sendiri. Nah, keyakinan bahwa Allah tidak sama dengan makhluk-Nya akan menggerus dua hal tersebut tadi, sehingga nantinya yang akan muncul adalah manusia-manusia cerdas dengan pola pikir yang sesuai dengan akal sehat.
  4. Manusia-manusia yang meyakini bahwa Allah adalah dzat yang tidak butuh kepada yang lain [قيامه بنفسه] adalah manusia-manusia yang tidak bersombong diri kepada Allah. Lalu apakah ada manusia-manusia yang berani untuk bersombong diri kepada Allah? Ya, ada sebagian manusia-manusia yang menyombongkan diri kepada Allah. Mereka sholat tapi mereka sombong kepada Allah, mereka puasa, zakat, haji, berdzikir dan melakukan amal ibadah lainnya, akan tetapi mereka menyombongkan diri kepada Allah. Siapakah mereka? Mereka adalah manusia-manusia yang merasa telah menyuguhkan segala amaliah mereka kepada Allah, seolah-olah Allah butuh terhadap amal mereka. Padahal Allah tidaklah butuh kepada makhluk-Nya sama sekali—dan amal mereka termasuk dalam kategori makhluk yang tidak dibutuhkan oleh Allah.  Orang yang meyakini bahwa Allah tidak butuh kepada yang lain adalah manusia yang telah berhias dengan sifat Tawadhu’ secara hakiki, karena berbagai amal ibadah yang ia lakukan adalah murni karena kecintaan kepada Allah, murni karena mengharap rohmat dan anugrah Allah. Tidak ada sama sekali dalam hati mereka perasaan bahwa amal perbuatan mereka bisa menjadikan mereka masuk surga, atau bahkan sebagai suguhan yang di manfaatkan oleh Allah. Tidak sama sekali.
  5. Orang yang bertauhid/mengesakan tuhan, maka dia akan di didik untuk memiliki keteguhan dalam bersikap dan selalu mempunyai tujuan yang jelas serta terarah dalam kehidupannya. Kenapa bisa terjadi demikian? Karena memang orang yang mempunyai keyakinan bahwa tuhan adalah tunggal [وحدانية], yaitu Allah, maka dia tidak akan terombang-ambingkan oleh berbagai kondisi psikis maupun kondisi lingkungan yang selalu berubah-ubah. Sebab tauhid yang terdapat dalam jiwanya akan menuntun dia untuk teguh dengan sebuah pendirian dan kuat dalam pendapat, selama pendirian dan pendapat itu merupakan pancaran dari nur tauhid dan iman kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Penulis yakin bahwa setiap orang—dengan berbagai keyakinan agama dan status sosial yang dimilikinya—memiliki keinginan dalam hatinya. Bahkan tidak jarang kita temukan orang-orang yang memiliki keinginan bermacam-macam dan banyak sekali, sehingga kadang-kadang penulis sendiri sempat terheran-heran akan banyaknya keinginan manusia model ini. Coba bayangkan, andaikata semua keinginan itu sama kuatnya dan ingin di capai dalam satu waktu, kira-kira mampukan orang tersebut merealisasikan semua keinginannya itu? Penulis kira dia tidak akan mampu, bahkan yang muncul adalah sebuah kebingunan dalam diri orang tersebut, sehingga ia sama sekali tidak melangkah guna merealisasikan keinginannya tadi. Nah, kira-kira kenapa orang tadi tidak bisa merealisasikan semua keinginan dalam hatinya tersebut? Jawabnya adalah karena dia ‘mensekutukan’ satu keinginan dengan yang lain. Dalam arti dia tidak memprioritaskan satu keinginannya terlebih dahulu agar dapat direalisasikan, akan tetapi malah ingin melakukan semuanya. Berbeda andaikan ia merealisasikan satu keinginannya terlebih dahulu, baru kemudian ia berupaya untuk melakukan yang lain, niscaya keinginan yang sudah ia prioritaskan tersebut akan lebih mudah terealisasi. Karena ada titik fokus (bertauhid/menyatukan tujuan terlebih dahulu) dalam pelaksanaan. Begitulah tauhid dalam Islam mendidik umat muslim untuk memiliki prioritas dalam mengambil tindakan dan sikap. Orang yang bertauhid tidak akan diombang-ambingkan oleh perubahan zaman, karena dia mempunyai keteguhan dalam bersikap. Coba saja kita perhatikan orang-orang yang plin plan dan oportunis dalam sikapnya, semua itu muncul karena dalam jiwa orang tersebut terdapat ‘syirik’ yang berupa tidak adanya tujuan yang murni satu dalam dirinya, atau bisa saja dia mempunyai satu tujuan inti, akan tetapi tujuan itu telah terkotori oleh limbah-limbah disekitarnya. Ia jatuh dalam kebingungan yang akhirnya membuka peluang bagi nafsu dan syaitan untuk mempermainkan dirinya dalam kehidupan ini. Ia mudah terpengaruh oleh kondisi sekitar, oleh lingkungan dan teman-teman pergaulannya. Sekali lagi, semua itu terjadi karena ia tidak memiliki tauhid yang terhujam kuat dalam jiwanya. 
  6. Keyakinan seseorang terhadap sifat Allah yang berupa Qudroh,Irodah dan ‘Ilmu akan menuntun manusia untuk menjadi orang yang pandai berniat. Kenapa bisa demikian? Ya, sebab niat bisa muncul jika dalam jiwa seseorang terdapat 3 unsur tersebut di atas. Niat—sebagaimana telah sering kita ketahui—adalah melakukan sesuatu bersamaan dengan sebuah tujuan. Seseorang bisa mempunyai sebuah tujuan, jika dia memiliki ilmu pengetahuan tentang sesuatu yang ingin dia tuju. Sebuah tujuan bisa terealisasikan jika orang tersebut punya kemampuan. Ilustrasi mudahnya adalah orang yang makan karena lapar. Dia tahu (berilmu) bahwa makan bisa menjadikan dia kenyang, maka saat dia lapar akan terbersit dalam hatinya bahwa dia ingin (ber-irodah) makan. Lalu mulailah dia berjalan, menanak nasi, memasak lauk pauk dan akhirnya makan yang kesemuanya merupakan tindakan (ber-qudroh) untuk menuju tujuan yang berupa kenyang. Coba saja andaikan salah satu dari ketiga unsure tadi tidak terpenuhi, semisal dia tidak tahu kalau makan bisa menjadikan dirinya kenyang, pasti dia tidak akan makan. Atau dia tahu bahwa makan bisa menjadikan kenyang, akan tetapi ia malas dan tidak punya keinginan makan, maka dia pun tidak bisa kenyang. Atau dia tahu kalau makan bisa menjadikan dirinya kenyang dan dia pun punya keinginan untuk makan, hanya saja dia lumpuh sehingga tidak memiliki kemampuan untuk menyuapkan sesendok nasi pun ke dalam mulutnya, maka dia pun tidak akan bisa kenyang jika tidak ada orang lain yang menyuapinya.
  7. Seseorang yang benar-benar meyakini bahwa Allah adalah dzat Yang Maha Hidup dan tidak akan mati, maka dia tidak akan merasa takut menghadapi kehidupan ini, karena dia akan selalu mengembalikan semua urusannya kepada dzat yang Maha Hidup. Dia tahu bahwa kehidupan ini adalah anugrah dan pemberian Allah Subhanahu Wa Ta’la, dan tentunya Allah pun memberikan aturan yang berkaitan dengan bagaiman interaksi manusia dan kehidupan yang merupakan anugrah ini.
  8. Orang yang meyakini bahwa Allah adalah dzat yang Maha Mendengar dan Maha Melihat, maka dia akan menjadi orang yang berusaha selalu merasa diperhatikan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’la dan ber-Muroqobah. Yang dimaksud dengan Muroqobah disini adalah dia selalu berusaha untuk memperhatikan dirinya sendiri, ia akan selalu bertanya-tanya kepada dirinya sendiri apakah ia berada dalam satu kondisi yang diridhai Allah atau tidak? Dia juga akan bertanya-tanya, bagaimanakah aturan Allah bagi hambanya yang sedang berada dalam kondisi tertentu, semisal kondisi sehat/sakit/susah/senang? Tentunya kita masih ingat betul bagaimana kisah seorang guru yang memberikan ayam kepada masing-masing santrinya untuk disembelih disuatu tempat yang tidak diketahui dan dilihat oleh siapapun. Akhirnya masing-masing santri mencari tempat yang menurut mereka tidak ada orang yang bisa melihat apa yang akan mereka lakukan. Singkat cerita, semua santri berhasil menyembelih masing-masing ayam yang diberikan kepada mereka, kecuali seorang santri yang kembali dengan ayam yang masih utuh karena belum disembelih. Lalu sang guru bertanya kepada satu-satunya santri yang tidak berhasil menyembelih ayam tadi: “kenapa kamu tidak menyembelih ayammu?”, santri itu menjawab: “karena aku tidak menemukan sebuah tempat yang tidak dilihat oleh siapapun, sebab dimanapun aku berada, Allah Subhanahu Wa Ta’la selalu melihatku”. Jawaban sang santri tersebut memberikan pelajaran bagi kita, bahwa saat seseorang benar-benar beriman dan percaya bahwa Allah adalah dzat yang Maha Melihat, Maha Mendengar dan Maha Mengetahui, niscaya dia akan selalu berusaha untuk Muroqobah dan Muhasabah dirinya sendiri.  Tidak sedetik pun dia merasa terbebaskan dari penglihatan dan pendengaran Allah Subhanahu Wa Ta’la, dan perasaan yang demikian ini akan menjadikan dia selalu menimbang segala tingkah lakunya dengan timbangan aturan/syariat yang telah ditetapkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’la.