Monday, December 1, 2014

1




“Bintan…Ummi nggak setuju pokoknya kalau kamu seneng sama Badrun”, terang Ummi.
       “Memangnya kenapa Mi? Kak Badrun juga santri, ngajinya juga pinter, bahkan banyak teman-temannya yang bilang dia sering mendapatkan prestasi waktu di Pondok dulu”, sanggah Bintan.
            “Memang dia santri…memang dia pinter ngajinya, tetapi dia tidak Kufu dengan kita. Bagaimanapun ayahmu adalah seorang Kiai pemangku sebuah masjid agung di desa kita ini. Disamping itu, beliau adalah seorang Mudir madrasah diniyah terbesar di kecamatan  Sayung ini. Sedang Badrun, dia hanyalah anak seorang tukang becak yang tidak jelas asal usul keturunannya. Yang jelas dia tidak se-Kufu denganmu Bintan”
            “Tapi Ummi…”
            “Tidak ada tapi-tapian…pokoknya Ummi tidak setuju. Titik”
          Tak terasa bulir-bulir air bening nan hangat mulai merembes membasahi kedua mata indah gadis cantik itu. Dialah Bintan Nailur Rohma, seorang gadis desa yang ayu tanpa polesan. Cantik tanpa manik-manik. Kecantikan batinnya tidak kalah dengan kecantikan lahiriyahnya. Dan itu tidak aneh, karena memang ia adalah putri semata wayang seorang Kiai pemangku masjid dan madrasah yang sangat terkenal di desa Kalisari, bahkan satu kecamatan Sayung pun mengenal ayahandanya ini. Siapa sih yang tidak mengenal Kiai Haji Amanullah Sajjad? Seorang Kiai sepuh dengan ke-aliman yang tidak perlu diragukan lagi. Kedudukannya sebagai imam dan guru besar masjid Nurul Hasanain semakin mengukuhkan kealimannya, disamping juga ada beberapa puluh santri putri yang menetap dibilik-bilik pesantren kecil yang baru saja dibangun oleh beliau di belakang rumahnya. Dan Bintan tentunya hidup dalam lingkungan santri yang sangat kental.
         Bintan adalah seorang gadis yang cerdas lagi penurut. Kecerdasannya terbukti dengan keberhasilannya menghapalkan Al-Qur’an sebanyak 30 juz yang hanya ditempuh dalam waktu kurang lebih 1,5 tahun saja di pesantren Betengan, Demak. Kecerdasannya ini semakin melengkapi kecantikan fisiknya yang selama ini banyak menjadi buah bibir dikampung halamannya. Ia merupakan gadis yang penurut, ia tidak pernah menolak perintah orang tuanya, apalagi membantahnya. Karena memang kedua orang tuanya mendidik anak gadis satu-satunya ini dengan akhlak islami yang indah dan menyejukkan hati. Karenanya tak heran jika ia menjadi anak yang keinginannya selalu dituruti oleh kedua orang tuanya.
         Banyak para Kiai maupun para Aghniya’[1] di desa kalisari yang sudah mengutarakan niatnya untuk meminang Bintan untuk putra-putra mereka. Bagi para kiai, tentunya mereka ingin menjalin hubungan shilaturrahim dengan keluarga kiai sepuh yang terkenal alim tersebut, disamping tentunya mereka mengharap keberkahan pada pernikahan ini. Sedang para Aghniya’ pun tidak mau kalah, karena setelah mendapatkan kenikmatan harta yang melimpah, mereka juga ingin menjadi orang yang terpandang di desanya, salah satunya adalah dengan berbesanan dengan salah satu tokoh masyarakat. Namun, Kiai Aman—begitulah panggilan akrab KH. Amanullah Sajjad—selalu saja mengatakan bahwa putrinya masih terlampau kecil, biarlah dia menyelesaikan pendidikannya terlebih dahulu.
            Benarkah Bintan—putri Kiai Aman—masih kecil? Sebenarnya tidak juga, karena umur Bintan sudah 19 tahun. Dan itu sangat layak sekali untuk menikah. Lalu kenapa Kiai Aman mengatakan demikian? Itu tak lain tak bukan adalah siasat penolakan secara halus dari seorang Kiai yang sangat mengerti Toto Kromo dan Andab Ashor[2]. Sebenarnya Kiai Aman sudah menginginkan sekali kalau putri semata wayangnya ini segera menikah, tapi beliau sendiri belum menemukan sosok suami yang pas buat putrinya itu. Bagaimana dengan Badrun? Sebetulnya Kiai Aman cocok dengan Badrun, hanya saja setelah beliau mendengar omelan istrinya pada putrinya tadi, beliau pun hanya diam saja. Tidak mampu  berkata apa-apa.
********
Bentakan Umminya barusan bagaikan petir di siang bolong yang menyambar setiap persendian tubuh indah Bintan. Kemelut mendung yang gelap menyelemuti hatinya yang sedang galau di pagi itu tak juga kunjung menyingkap. Keceriaan burung-burung yang bernyanyi dengan riang dan melompat dari satu dahan ke dahan pohon yang lain pun  tidak bisa menghibur hatinya yang sedang sedih.
“Kenapa Ummi memarahiku sampai demikian? Aku tidak melakukan kesalahan apa-apa. Masak Cuma ngobrol sebentar ama Kak Badrun saja langsung dimarahi”, begitulah pikir Bintan.
Ya, hanya seonggok bantal gulinglah yang akhirnya menemani tangisnya di pagi hari yang sejuk itu. Tak lama kemudian terdengar suara pintu di ketuk dari luar: “tok…tok…Assalamualaikum Bintan”.
“Waalaikum Salam…masuk saja! Pintu tidak ku kunci”, perintahnya.
Cklek…pintu dibuka, lalu masuklah seorang gadis dengan dandanan ala santri yang anggun nan menawan. Balutan baju berwarna putih dengan pernak pernik hiasan gambar bunga mawar dan stelan kerudung ungu kemarah-merahan semakin menambah keanggunan gadis tersebut, yang ternyata adalah Husna, teman Bintan di pondok Betengan dulu yang kebetulan rumahnya satu desa dengannya.
“Ooo…kamu Na. kok tumben kamu main ke sini Na. ada apakah gerangan?”, sapa Bintan sambil mengusap bekas-bekas air mata yang tadi mengaliri kedua pipinya yang merah merona.
“Ya masak nggak boleh kangen sama Ning[3] Bintan ini…loh ning, ada apa kok kelihatan sembab matanya? Habis nangis yaa…?”, selidik Husna sambil mesam mesem.
“Enggak kok…nggak apa-apa, tadi Cuma kelilipan debu saja”
“Ah…aku nggak percaya. Pasti gara-gara Kak Badrun ini. Hayo ngaku saja…! Nggak usah malu-malu sama aku”,
“Ehmmm…aku bingung Na”
“Bingung kenapa?”
“Tadi Ummi memarahiku habis-habisan. Dikiranya aku pacaran sama Kak Badrun, padahal aku nggak pacaran. Dan Ummi tidak setuju. Katanya nggak kufu lah…dia anak tukang becak lah. Padahal Kak Badrun itu santri yang mumpuni lho…”
“Mumpuni sih mumpuni Tan…Alim sih alim Tan. Tapi ya gitu, kamu tahu sendiri kan. Dia sekarang ini hanya seorang tukang becak. Setelah bapaknya Kak Badrun meninggal, dia menggantikan posisi bapaknya menjadi tukang becak juga. Biasanya dia  mencari pelanggan disekitar pasar Nggenuk sana. Aku kira kok bener tuh apa kata Ummimu”
“Tapi cinta kan tidak mengenal materi Na. dalam ajaran kitab kuning yang kita pelajari selama ini pun, materi tidaklah menjadi pertimbangan utama kan”
“Ah itu kan hanya teori…kenyataannya?”
Bintan hanya terdiam memandangi wajah Husna yang duduk di depannya. Memang sebagai seorang gadis yang sedari kecil hidup di pesantren dan tidak pernah berkumpul dengan kerasnya kehidupan diluar bilik-bilik pesantren, Bintan bisa dikatakan kurang pengalaman dengan dunia luar, bahkan bisa dikatakan ia sama sekali tidak punya pengalaman tentang dunia di luar dinding pesantren.
“Tan…banyak tetanggaku yang bercerai setelah menikah selama dua tahun atau lebih. Dulu-dulunya mereka mendewa-dewakan cinta seperti dirimu. Tapi pada akhirnya, materi pun yang berbicara. Kebanyakan perceraian mereka ya karena minimnya materi yang menunjang hidup mereka”
Bintan pun terdiam kembali saat mendengar masukan teman sepondoknya tadi. Diambilnya nafas dalam-dalam, lalu dikeluarkan lagi.
“Benar juga apa yang dikatakan Husna—gumamnya dalam hati. Tapi, bukankah banyak juga artis yang kawin cerai-kawin cerai? Padahal materi yang mereka miliki bisa dikatakan lebih dari cukup”, sekali lagi dia mendesah.
“Tan…mendingan kamu sama Gus Amiq putra Kiai Ubaidillah itu saja. Jelas-jelas secara nasab dia lebih unggul dari Kak Badrun. Dan secara keilmuan pun, Gus Amiq tentunya juga lebih unggul, Dia itu S1 dari universitas Karachi, Pakistan lo. Disamping dia juga ganteng dan ayahnya seorang Kiai plus saudagar kaya di desa kita ini”
“Ah ada-ada saja kau ini Husna..”
“Atau kalau nggak ya itu sama Kak Iqbal saja. Putra tunggal Dokter Kamil yang kaya raya itu. Sebentar lagi Kak Iqbal juga akan di wisuda menjadi dokter kok. Dan kalau kamu menikah dengannya, kamu nggak usah susah-susah mikir kalau sakit. Tinggal di suntik selesai deh…hehehe”, diiringi tawa riang Husna.
Mendengar gurauan dan ledekan Husna tersebut, Bintan jadi ikut tersenyum ria. Kedatangan temannya ini sedikit mengobati rasa dongkol yang bersarang dihatinya karena di marahi ibunya tadi. Sedikit demi sedikit rona-rona kesedihan mulai memudar dari wajah ayu Bintan. Mereka berdua ngobrol nglantur kesana kemari sepanjang pagi itu, hingga tak di duga-duga, Adzan Dhuhur sudah berkumandang dari corong menara masjid di samping rumah Bintan. Pertanda mereka harus bergegas menuju ke masjid dan menghentikan gurauannya di pagi itu.




[1] Orang-orang yang kaya raya.
[2] Budi pekerti dan sopan santun.
[3] Panggilan kehormatan yang khusus untuk putri seorang Kiai. Sedang Gus adalah panggilan kehormatan yang khusus untuk putra Kiai.

Thursday, November 27, 2014

Mbah Ma’ruf In Memorian



Ma’ruf, sebuah nama pasaran yang sering kita dengar, sebab saking banyaknya orang yang bernama Ma’ruf. Bahkan saking ‘pasaran’-nya nama ini, di desaku pun banyak saya temukan orang-orang yang bernama Ma’ruf dengan berbagai status sosial dan profesinya. Ada Ma’ruf seorang bakul krupuk tayammum, ada juga Ma’ruf tukang potong rambut, disamping Ma’ruf-Ma’ruf lainnya yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu disini. Begitu juga, jika saya menyebut Kiai Ma’ruf, maka akan terpampang didepan saya sederet nama Ma’ruf yang begitu banyak dan kesemuanya bergelar Kiai. Untuk lebih mudahnya, sebut saja nama Kiai Ma’ruf Amin, yang tak lain dan tak bukan adalah salah satu anggota MUI pusat, disamping juga merupakan salah satu Mustasyar ormas NU. Mungkin teman-teman dari Kudus juga teringat dengan Al-Marhum Kiai Ma’ruf Irsyad, yang santri-santri madrasah Qudsiyah meratapi kepergian beliau dengan sebuah Kasidah yang menawan nan mengharukan dengan judul “Syaikhana”.
            Namun jikalau saya menyebut nama Al-Marhum Kiai Ma’ruf Zubair Sarang, mungkin jarang yang mengenal beliau. Bahkan kalangan pesantren sendiri pun belum tentu mengenal beliau. Paling-paling orang hanya menebak-nebak saja kalau beliau ini masih memiliki kekerabatan dengan Kiai Maemoen Zubair, sebab ada nama “Zubair” setelah nama beliau—dan memang kenyataannya Kiai Ma’ruf ini adalah satu-satunya adik lelaki Mbah Maemoen yang masih hidup. Akan tetapi, bagi santri Sarang—terlebih lagi adalah santri angkatan tua [dan Alhamdulillah saya sendiri masuk ketegori masa transisi..hehe]—saat mendengar nama Kiai Ma’ruf, pasti yang terbayang dalam benak mereka adalah sesosok pria dengan tubuh yang gagah, kulit kuning nan bersih, rambut terurai panjang yang tak jarang bisa sampai ke bawah daun telinga, kumis rapi bak Gatot Kaca, hidung bangir serta suara yang tidak terlalu keras menggelegar, dan tidak pula rendah, suara beliau sedang-sedang saja. Setiap orang yang memandang wajahnya, akan menemukan telaga kesejukan nan kejernihan di sana.
            Gus Ma’ruf—begitulah saya mendengar sebagian santri angkatan tua memanggil beliau—adalah sesosok Kiai yang kenceng, tetapi humoris. Dalam memegang sebuah prinsip, terutama yang berhubungan dengan pribadi, keluarga maupun santri, beliau termasuk orang yang kenceng. Tetapi, ke-kenceng-an itu mampu beliau sembunyikan rapat-rapat dibalik jiwa humorisnya. Dalam satu waktu beliau pernah berkelakar:
            “Wong Kristen kui aneh-aneh wae…Nabi Isa kui wes apek-apek disebut nabi, ee malah diarani Roh Kudus. Ngko suwe-suwe ono Roh Demak…Roh Pati…Roh Semarang”, beliau menyampaikan itu dengan terkekeh.
            Mendengar kelakar beliau ini, sontak saja semua santri yang mengikuti pengajian Tafsir Munir pun ikut tertawa Kemekhelen. Gus Baha’—panggilan akrab KH. Bahauddin Nur Salim—pun pernah bercerita kepada saya bahwa suatu hari beliau, Gus Ma’ruf dan Gus Najih (KH. Najih Maemoen) pernah berkumpul dalam satu ruangan. Tiba-tiba Gus Ma’ruf nylethuk:
            “Kabeh perkoro kui ono hikmahe Ha’. Makkah dikuasai wong-wong Wahabi yo ono hikmahe…cobo bayangno nek seng nguasai Makkah kui wong-wong kejawen atau abangan, watu-watu seng neng duwur Gunung Arofah, Jabal Rohmah, Gunung Uhud kui ntek kabeh”, Gus Ma’ruf sambil tersenyum-senyum melirik Gus Najih keponakan beliau.
            “Kok saget Gus?”, Tanya Gus Baha’.
            “Yo iso…la digawe Akik kabeh”, jawab Gus Ma’ruf sambil terkekeh.
            Lalu apakah Gus Ma’ruf mendukung Wahhabi lantaran guyonan tersebut? Tentu jawabnya adalah tidak. Itu terbukti dari salah satu humor yang pernah beliua lontarkan dalam satu kesempatan. Beliau dawuhan:
            “Nek jarene dongo nggo mayyit ora tekan, kok yo ora di balikke maneh yo. Padahal nek tukang pos kok kirimane ora tekan, kan yo di balikke maneh”, sambil terkekeh juga.
Dari guyonan ini, saya bisa mengambil satu kesimpulan bahwa sebenarnya beliau ini pun tidak setuju dengan orang-orang Wahhabi, terlebih lagi beliau pun saat berada di makkah juga sempat untuk ngaji kepada abuya Sayyid Muhammad Bin Alawi Al-Maliki yang terkenal getol membela Ahlussunnah Wal Jama’ah di Makkah sana. Lalu kenapa beliau mengatakan bahwa kekuasaan kaum Wahhabi atas makkah pun ada hikmahnya? Saya kira ini hanyalah sekedar peringatan dari beliau, bahwa bagaimanapun segala ciptaan Allah itu pasti ada hikmahnya, sejelek apapun itu. Walaupun kita juga harus mewaspadai keberadaan wahabi itu sendiri. Yah, begitulah Gus Ma’ruf yang saya kenal. Walaupun hanya sempat ngaji sebentar saja pada beliau, namun yang sebentar itu membawa kesan yang sangat mendalam.
Tahun 2010 yang lalu telah memasuki bulan Ramadhan dengan penuh kebahagiaan. Berduyun-duyun para santri mulai memenuhi satu persatu bilik-bilik pesantren di Sarang, entah yang memang asli santri Sarang, maupun santri pondok lain yang ingin mengaji di Sarang. Dan yang menambah lengkap kebahagiaan kami adalah sebuah pengumuman bahwa Gus Ma’ruf juga ngori’ kitab Nurud Dzolam, buah karya Kiai Nawawi Banten. Padahal kabar sebelumnya, beliau sudah sakit keras dan dalam waktu yang sudah berbulan-bulan beliau telah dirawat di rumah sakit. Tentunya kabar ini menjadi secercah harapan bagi kesembuhan beliau, dan tentunya merupakan kabar membahagiakan pula untuk para santri dan Muhibbin beliau.
Sore itu, kami pun berduyun-duyun menuju ke kediaman beliau—karena memang pengajian pasan beliau pada sore hari setelah asar—dan begitu masuk ke tempat pengajian, kami disuguhi sebuah pemandangan seorang ulama sejati yang sangat cinta terhadap ilmu dan membaktikan seluruh hidupnya untuk ilmu. Gus Ma’ruf yang dulunya sangat gagah, ganteng dan sangat mempesona setiap mata yang memandang, namun pada  sore itu bola mata kami melihat sosok lain yang berbeda. Tubuhnya yang sangat kurus, saking kurusnya seakan tidak ada daging yang tersisa dalam tubuh beliau. rona-rona ketampanan itu masih nampak, walaupun gurat-gurat kelelahan, kesedihan dan tentunya kesakitan yang sangat nampak sekali di wajah beliau hampir-hampir saja menutupinya.  
Satu hal yang tidak berubah dari beliau, yaitu suaranya. Dalam kondisi yang sedemikian payah, susah dan sangat lelah, suara beliau masih nampak sangat bersemangat sekali. Dan humornya pun masih meluncur sedemikian elegannya, tanpa kesan di paksakan sama sekali. Suara beliau mengindikasikan kebahagiaan yang tak terhingga, walaupun wajah dan kondisi fisiknya berbicara lain. beliau seakan mengajari kami yang masih santri-santri belia ini bahwa kehidupan seornag santri adalah kehidupan ilmu. Kebahagiaan seorang santri adalah kebahagiaan karena ilmu [Hayatuna Hayatul Ilmi Wa Farhatuna Bil Ilmi].
Tenang rasa-rasanya hati ini mendengar beliau sudah mengajar lagi, yang tentunya itu menunjukkan kesehatan beliau yang semakin membaik. Ramadhan memasuki malam yang ke-7. Hujan angin turun cukup deras dan lebat. Turunnya hujan memaksa saya untuk membenahi genteng kamar yang sebagian masih saja bocor. Semakin lama hujan pun semakin lebat saja, ah saya pun basah kuyup karena hujan tersebut. sambaran petir membahana di sana sini seakan kicauan burung yang kebingungan karena ada sesuatu yang sedang menimpanya. Angin pun meniup tak beraturan, sehingga kamar-kamar bagian atas yang tak biasanya kemasukan air, pada malam itu pun terpaksa kebanjiran. Yang suasana alam sarang pada malam itu seakan memberikan isyarat kepadaku, akan adanya hal besar yang sedang/akan terjadi. Tapi apa gerangan sesuatu tersebut?
Ya, tepatnya pada pagi hari ke-7 bulan Romadhan, Sarang kembali menangis atas kepergian salah satu anaknya yang terbaik untuk kembali lagi ke pelukannya. Gus Ma’ruf Zubair wafat dengan tenang. Semua mata dipenuhi genangan air mata yang terus mengalir bak air bah. Setiap mulut tak pernah lelah untuk mengucapkan kalimat Thayyibah dan Tarji’, entah apakah untuk dihadiahkan kepada Gus Ma’ruf atau sebenarnya untuk mereka sendiri guna menenangkan jiwanya yang sedang goyah atas kewafatan beliau ini. Sambaran petir yang membahana disetiap jengkal kaki langit dan memekakkan setiap telinga manusia tadi malam, seakan-akan adalah perasaan alam yang menggambarkan hal besar yang sedang atau akan terjadi, dan memang benar, kewafatan beliau pagi itu memang sangat mengagetkan semua orang dan merupakan musibah besar bagi umat muslim, khususnya masyarakat Pesantren.
Saya sendiri? Ah saya malah seperti anak kecil yang tidak bisa menahan air mata yang rasa-rasanya tak mau kunjung berhenti untuk mengalir. Terlebih lagi saat melihat Mbah Maemoen—kakak dari Gus Ma’ruf—keluar dari rumah adiknya dengan wajah yang dipenuhi gurat kesedihan tak terhingga. Mulut ini hanya bisa mewek, menjerit dan bungkam tak mampu berkata apa-apa. Sungguh saya seperti anak kecil yang bingung dan linglung tentang apa yang sedang terjadi. Padahal sebenarnya saya sudah tua dan pongkrang, karena sudah kelas 3 Aliyah. Mas Badruzzaman—salah satu teman dari Tegal—yang waktu itu berada disamping saya menasehati:
“Wes mas…wes mas…Insya Allah Mbah Ma’aruf Husnul Khotimah
Mendengar nasehat yang sedemikian itu aku tak mampu mengeluarkan sepatah katapun untuk menjawab nasehat Mas Zaman tadi. Saya hanya mampu memeluk tubuhnya yang gemuk dan gempal itu. Dalam hati saya hanya mampu berkata:
“Mas…sugguh banyak nikmat yang tidak kita sadari, dan baru kita sadari saat nikmat itu pergi”
Mendung nampak menggelayut semenjak pagi itu di langit Sarang. Ribuan Mu’azzin dan Mu’azziyat ikut mengantar jenazah beliau ke tempat istirahatnya yang terakhir. Dengan isak tangis yang sangat sendu dan menyedihkan, Mbah Maemoen memberi sambutan atas nama keluarga, dan beliau atas nama keluarga pula meminta maaf kalau-kalau almarhum ada kesalahan. Tapi serempak masyarakat dan seluruh yang hadir seakan sepakat satu kata, kami hanya mengenal beliau sebagai orang baik, orang sholih, tidak yang lain. Pekik tangis Gus Ari—putra Gus Ma’ruf—semakin menambah kegalauan hati para pelayat, saya tak kuasa untuk menahan air mata ini untuk mengalir kedua kalinya. Grentes hati ini rasanya. Hanya sebuah doa yang mampu terucap dari kedua bibirku ini:
“Allahummaghfir Lahu War Hamhu Wa ‘Afihi Wa’fu ‘Anhu. Wa Akrim Nuzulahu Wa Wassi’ Madkholahu Waj’alil Jannata Matswahu Bi Rohmatika Ya Arhamar Rohimin”.