Advertise 728x90

Latest Post

Kiai Sholeh, Sosok Yang Dirindukan

Written By diya al-haq on Friday, March 6, 2015 | 12:24 AM


Wajahnya yang nampak sangar, menunjukkan ketegasan dan keteguhannya dalam memegang prinsip yang beliau yakini kebenarannya. Sorot matanya yang tajam mengisyaratkan pandangannya yang luas nun jauh ke depan menembus batas-batas ruang dan waktu. Dialah putra emas masanya, yang nampaknya zaman pun enggan untuk melahirkan lagi orang-orang semisalnya. Dialah Kiai Sholeh Bin Kiai Abdullah Mudzakkir Bin Kiai Ibrahim Suro, salah seorang ulama yang keilmuan dan keteladanannya mewarnai corak kehidupan masyarakat Desa Kalisari, Kec. Sayung, Kab. Demak, sampai sekarang ini. 

Memang, kalau kita mau jujur, Mbah Sholeh—begitulah beliau akrab dipanggil oleh para pecintanya—merupakan sesosok ulama yang ‘kaku’ dan keras perihal hukum syariat. Keteguhannya bagaikan karang yang tak pernah lapuk sedikit pun, walaupun diterpa oleh gelombang ombak bertubi-tubi. Namun, beliau cukup pandai dalam membungkus ke-kaku-an dan ketegasannya ini dengan kasih sayang dan perhatiannya yang tak pernah jemu terhadap masyarakat serta para santri binaan beliau. Hal itu terbukti dari kecintaan para pengikutnya yang dengan begitu bangganya menyebut Mbah Sholeh sebagai maha guru mereka. Tidak hanya itu saja, mereka pun rela untuk tunduk dan patuh terhadap apapun intruksi yang telah diarahkan oleh sang guru ini. Ditambah lagi dengan masih kuatnya beberapa ajaran beliau yang masih mengakar di masyarakat desa Kalisari ini. Bahkan masih banyak kenangan tentang beliau masih menjadi legenda lintas generasi, yang masih hangat diceritakan oleh para ayah pada putra-putrinya, kakek pada cucu-cucunya dan seterunya, pasca kurang lebih 40 tahun dari kewafatan beliau. 

Membicarakan Mbah Sholeh, tak ubahnya membicarakan laut—meminjam istilah yang pilih oleh salah satu santri beliau, yakni Bapak Sya’roni yang dengan bangga menyebut beliau sebagai lautan—yang tentunya sangat sulit untuk diketahui ujung pangkal dan tepinya. Bahkan, orang-orang yang sudah menyelam jauh di dalamnya pun akan kesulitan untuk melukiskan keindahannya. Begitu jugalah jikalau kita akan membicarakan sosok Kiai Sholeh ini. Namun, menurut saya pribadi, ada beberapa kisah dan cerita menarik yang harus diabadikan melalui sebuah karya tulis. Sehingga keberadaannya akan selalu terjaga dengan baik dan pada akhirnya bisa dinikmati oleh generasi selanjutnya nanti, terutama lagi adalah keluarga beliau yang semakin lama nampak semakin kurang mengenal beliau dengan lebih dekat. 

Ndingkik Burung Perkutut


Salah satu hal menarik dari sosok Mbah Sholeh ini adalah hobi beliau yang bagi saya termasuk unik, yakni ndingkik (mengintai) burung perkutut yang sarangnya berada disela-sela pepohonan. Dan seringnya hal ini beliau lakukan pada waktu malam hari dengan mengajak beberapa santri. Dan yang lebih unik lagi, Mbah Sholeh tidak hanya menangkap perkutut saja, tetapi beliau juga menyediakan asupan untuk burung-burung beliau itu dari hasil tanaman beliau sendiri. Karenanya tidak heran, sebagaimana dikisahkan oleh Bapak Hanif dan Bapak Rofi’ yang keduanya merupakan cucu dari adik kandung beliau sendiri, jikalau dulu di depan rumah beliau banyak tanaman juwawut, yang tak lain adalah untuk makanan burung-burung perkutut piaraan beliau. Dan yang perlu dicatat juga, beliau tidak pernah menjual burung perkutut piaraannya. Kalau seekor perkutut dirasa sudah terlalu lama berada dalam naungan beliau, atau kelihatan ada orang yang lain yang menyukainya, maka bergegas beliau akan memberikan perkutut itu pada orang lain tersebut. 

Sebagian orang mungkin melihat interaksi antara Mbah Sholeh dan burung perkutut peliharaannya tersebut sebagai sekedar hobi belaka, tidak lebih. Akan tetapi saya pribadi melihat bahwa sebenarnya interaksi tersebut telah menimbulkan dampak psikologis yang kuat dalam jiwa beliau. Hal ini tak ubahnya dengan interaksi yang pernah dialami oleh baginda Nabi Muhammad saat beliau menjadi penggembala bagi kambing-kambing sebagian penduduk Makkah, sebelum akhirnya beliau diangkat menjadi seorang Nabi. Ya, karena memang pola interaksi yang demikian ini pada dasarnya hanyalah sebagai prasarana dalam membentuk jiwa pemimpin dalam diri seseorang, disamping juga kepekaan terhadap lingkungan, kasih sayang, perhatian dan tentunya juga kesabaran dalam perjuangan nantinya. 

Salah satu kegemaran Mbah Sholeh lainnya adalah njagong atau sekedar kongkow-kongkow bersama dengan para pecinta dan santri-santrinya. Bahkan banyak riwayat yang sampai kepada saya menuturkan bahwa Mbah Sholeh sering begadang malam hanya untuk jagongan saja. Kalau tidak jagongan ya ndingking burung perkutut sebagaimana telah saya tuturkan di muka. Dan kalaupun beliau sendirian, maka beliau akan berusaha untuk membangkitkan jiwa seninya dengan mendengarkan alunan nyanyian aktris kuno Mesir kenamaan, Ummi Kultsum. 

Dalam satu cerita tutur rakyat Kalisari, disebutkan bahwa hampir setiap sore Mbah Sholeh selalu bersepeda dengan santainya untuk mengunjungi beberapa santri dan rakyatnya diberbagai pelosok desa Kalisari ini. Lalu dengan asyik beliau ngobrol ngalor ngidul bersama mereka, membahas berbagai tema yang menarik/mendengar berbagai macam keluhan rakyat maupun santri perihal problematika kehidupan yang sedang mereka hadapi. Melalui media jagongan ini pula, Mbah Sholeh dengan sangat elegan dan mudah telah mampu menyampaikan pesan dakwah Islam, disamping juga beliau bisa mengetahui secara langsung apa problem yang sedang menimpa masyarakat. Dan melalui media ini pulalah, Mbah Sholeh bisa mengetahui bagaimana aspirasi rakyat dan apa saja aspirasi mereka yang belum terpenuhi. 

Ini semua membuktikan bahwa beliau bukanlah sesosok Kiai yang manditho, dalam arti hanya sekedar duduk pada singgasana kesucian yang tinggi nun jauh di atas sana, sehingga sangat sulit bagi rakyat jelata dan masyarakat awam—apalagi para pendurhaka—untuk sekedar mereguk kesegaran ilmu dan hikmah beliau. Tidak. Beliau adalah sosok Kiai yang populis dan merakyat. Kalau bapak Presiden Jokowi sekarang ini mengenalkan tradisi blusukan, maka sebenarnya jauh-jauh hari para ulama dan kiai kita, di antaranya adalah Mbah Sholeh, sudah mengenalkannya terlebih dahulu. Bedanya mereka tidak diliput oleh media yang selalu menguntit di belakang. 

Perhatian Pada Umat Dan Santri

Berbekal dari ketajaman insting, kepekaan sosial, keteguhan sikap dan welas asih yang besar, Mbah Sholeh ngemong masyarakat dan santrinya menuju ke dalam sebuah pola kehidupan yang sesuai dengan bingkai ajaran Islam yang indah. Mbah Sholeh memperhatikan hampir semua aspek dan sisi kehidupan santrinya. Pernah suatu hari, ada seorang santri—seingat saya bernama bapak Akhyar—yang punya keinginan untuk mondok ke luar kota seperti umumnya anak-anak pada zaman itu. Namun saat sowan kepada Mbah Sholeh, beliau malah melarang si anak untuk berangkat mondok seperti teman-temannya. Dan yang lebih mencengangkan lagi, Mbah Sholeh menyuruh si anak tersebut untuk bekerja dan cukup ngaji kepada beliau saja. Selidik punya selidik, ternyata larangan Mbah Sholeh ini dikarenakan kedua orang tua si anak adalah keluarga yang kurang mampu, sehingga kalau si anak tetap memaksa mondok, maka pasti akan memberatkan beban orang tuanya.

Tidak hanya itu saja, bahkan jikalau ada salah seorang santri beliau yang tidak kelihatan tidur di masjid, maka beliau tidak segan-segan untuk mencarinya sendiri, sebagaimana hal itu pernah dialami oleh bapak Sya’roni, salah seorang santri beliau. Pernah dalam satu kesempatan, santri Sya’roni tidak tidur di masjid karena disuruh membantu oleh ibunya di rumah. Mau kembali ke masjid, waktu sudah beranjak mendekati tengah malam, sedang pekerjaannya dirumah tak kunjung selesai juga. Akhirnya santri Sya’roni tidur di Musholla kampung. Belum satu lelapan pun menghinggapi kedua matanya yang sudah sayu, terdengar dari luar suara keras yang memanggil-manggil namanya: 
“Sya’...Sya’roni...Sya’...Sya’roni”
“Geh...Geh Yai...wonten napa Yai? ”, Sya’roni menjawab dengan tergesa-gesa, dan ternyata itu suara Mbah Sholeh.
“Gak kethok neng pondok Sya’? ”
“Geh, wau mpun kedhalon ajeng wangsul pondok Yai ”
“Oh yo wes, ayo kene mbonceng aku ”
Maka, pada malam itu juga, dengan santainya Mbah Sholeh memboncengkan santri Sya’roni dengan sepeda merk Relly kesayangan beliau. 
Perhatian yang Mbah Sholeh berikan kepada santri tidaklah hanya seputar problematika kehidupan, tapi juga masalah yang berhubungan dengan ajaran Islam dan prakteknya. Salah satu hal yang menarik dalam hal ini adalah perhatian beliau pada santri-santri kecil yang baru saja di Khitan (jw-Sunat). Tanpa rasa canggung, Mbah Sholeh memeriksa sendiri khitan yang dilakukan oleh para santri, apakah khitan tersebut sudah benar atau belum. Kalau ada seorang santri yang khitannya belum benar/masih kurang pas, maka Mbah Sholeh akan menyuruh santri tersebut mengulangi lagi khitannya untuk kedua kali. Dan ini tidak beliau lakukan satu kali atau dua kali saja, akan tetapi berkali-kali. 
Tidak hanya berhenti dalam masalah Khitan saja, beliau pun memperhatikan sendiri tingkah polah santri-santrinya saat mereka tidak sedang mengaji. Semisal saat mereka sudah kembali ke gothakan  masing-masing. Pernah dalam satu malam, di desa Kalisari terdapat hiburan berupa pementasan wayang yang pada waktu itu bisa dikatakan merupakan salah satu seni dan hiburan yang sangat digemari oleh rakyat. Tentunya, para santri dilarang untuk mengunjungi pementasan wayang tersebut, entah alasan apa pastinya, tetapi saya sendiri menduga bahwa alasan utamanya adalah karena mengganggu belajar mereka. Namun, ada sebagian santri yang nampaknya masih ogah untuk mengikuti aturan tersebut. Dan mereka pun tetap saja berangkat untuk mengunjungi pentas seni rakyat tersebut dengan cara sembunyi-sembunyi, kiranya tidak di ketahui oleh Mbah Sholeh. 
Tak mau kalah dengan santri-santri yang bandhel itu, Mbah Sholeh yang sudah mengetahui rencana itu sebelumnya melakukan pengintaian sendiri. Ya, itu beliau lakukan sendiri, bukan menyuruh orang lain untuk melakukannya. Pengintaian tersebut beliau lakukan dengan memanjat pohon di pinggir jalan menuju ke arah masjid. Hal itu beliau lakukan untuk mengetahui siapa saja santri yang mendatangi pentas wayang tersebut. Memang sekilas lalu, hal tersebut terkesan aneh, terlalu dan berlebihan bagi seorang Kiai. Akan tetapi bagi saya pribadi, apa yang telah dilakukan oleh Mbah Sholeh merupakan hal yang sangat luar biasa. Bagaimana tidak? Dalam dunia ke-Kiai-an terdapat kesan tidak elok dan kurang pantas jikalau mereka itu terjun langsung untuk mengurusi para santri. Bahkan pondok yang bisa dibilang kecil pun, rata-rata yang mengurusi santri dengan lebih intensif malahan para pengurusnya, bukan Kiai-nya langsung. Sedang Mbah Sholeh ternyata lain, beliau terjun sendiri guna mengurusi para santri, dengan tanpa rasa canggung maupun gengsi. Tentunya apa yang dilakukan mbah sholeh ini membuahkan hasil yang sangat luar biasa, karena anda bisa membayangkan bagaimana senangnya seorang santri jikalau guru dan kiai-nya itu memperhatikan secara langsung apa saja yang menjadi keluhan dan kebutuhan mereka. Dan itu benar-benar dirasakan oleh masyarakat Kalisari hingga sekarang.

Bentuk perhatian lain dari seorang Mbah Sholeh kepada masyarakat adalah kebiasaan beliau setiap menjelang Idul Fitri tiba. Ya, Mbah Sholeh dulu—sebagaimana diceritakan oleh Bude Na’amah—selalu menyuruh para santri-santri beliau untuk membagi-bagikan beras maupun sedikit uang belanja kepada janda-janda yang ada di desa Kalisari setiap menjelang Idul Fitri. Sungguh hal yang sangat luar biasa akhlak beliau ini. Kedermawanan yang saat ini mungkin sangat sulit untuk dicari padanannya. Jadi saya sendiri akhirnya tidak heran, jikalau masyarakat dan santri-santrinya merasa sangat diperhatikan oleh beliau ini. Memang beginilah sosok pemimpin sejati. 

Perhatian Kepada Keluarga

Salah satu hal yang sangat membekas dalam diri setiap orang yang pernah berjumpa dengan Mbah Sholeh adalah perhatian yang beliau berikan kepada siapa saja. Sehingga setiap orang yang saya wawancarai itu menganggap masing-masing dari mereka adalah orang yang paling diperhatikan oleh Mbah Sholeh. Terlebih lagi keluarga beliau yang sangat banyak—karena ayahanda beliau, Al-Marhum Kiai Abdullah Mudzakir, mempunyai empat orang istri dan putra-putri yang sangat banyak sekali—pun ikut merasakan perhatian yang sangat luar biasa.

Dulu, Mbah Abdurrosyid dan Mbah Muslimah—kakek dan nenek saya yang tak lain adalah keponakan beliau, karena Mbah Muslimah adalah putri semata wayang dari Mbah Aminah yang tak lain adalah adik kandung Mbah Sholeh—pernah beberapa waktu tinggal di desa Jali, Kec. Bonang. Tetapi selang beberapa waktu tinggal disana, beliau berdua merasa tidak betah untuk tinggal lebih lama lagi disana, karena satu dua alasan yang tidak bisa saya sebutkan dalam tulisan sederhana ini, sebab menyangkut problematika pribadi seseorang yang telah ditokohkan oleh masyarakat desa tersebut. 

Akhirnya mereka berkeinginan kuat untuk hijrah ke desa Kalisari, kec. Sayung yang tak lain merupakan desa asli tempat tinggal Mbah Muslimah. Nah, mengetahui hal itu, Mbah Sholeh melarang Mbah Dur (panggilan akrab Mbah Abdurrosyid) dan istrinya Mbah Muslimah untuk pindah ke desa Kalisari. Larangan tersebut bukan lantaran Mbah Sholeh tidak senang dengan kehadiran Mbah Dur, tetapi lebih karena Mbah Dur masih memiliki tanggungan seorang ibu yang sudah tua renta dan tidak ada yang mengurusnya lagi, yakni Mbah Radisah. Mbah Sholeh menyuruh keponakannya itu untuk Birrul Walidain dengan mengurus ibundanya yang sudah sepuh itu, dan mengesampingkan kebutuhan pribadi, walaupun sebenarnya itu pun sangat mendesak sekali. Setelah Mbah Radisah wafat, dengan sendirinya, Mbah Sholeh memerintahkan Mbah Dur untuk hijrah ke Kalisari dan menjual semua aset tanah yang dimiliki oleh keponakannya tersebut, untuk kemudian hasil penjualan itu dibelikan tanah lagi di desa Kalisari. 

Saat perjalanan hijrah yang memakan waktu tidak sebentar itu, salah satu putra Mbah Dur yang bernama Rofi’ sakit keras. Setelah diobati ke sana kemari, ternyata Rofi’ ini tak kunjung sehat juga, bahkan ada kesan penyakitnya bertambah sampai-sampai—menurut cerita Ibu Na’amah, kakak tertua bapak Rofi’—Rofi’ dikhawatirkan akan meninggal. Mengetahui kesusahan yang menimpa salah satu cucunya itu, Mbah Sholeh tanggap dan serta merta langsung bertindak tanpa menunggu sowanan terlebih dahulu. Dengan lugasnya Mbah Sholeh melakukan Suwuk terhadap Rofi’ kecil ini. Setelah di Suwuk oleh Mbah Sholeh, akhirnya Rofi’ kecil ini berangsur-angsur sehat dan sampai sekarang alhamdulillah masih diberi kesehatan oleh Allah, karena beliau tak lain adalah ayahanda penulis sendiri. 

Pernah dalam satu waktu, Ibu Na’amah putri Mbah Dur yang tertua, melahirkan putra pertamanya di desa Kalisari. Tentunya hal ini merupakan kabar yang sangat menggembirakan bagi keluarga Mbah Dur, karena yang lahir ini merupakan cucu pertama, ditambah lagi adalah seorang bayi laki-laki yang kelak diharapkan bisa menjadi orang yang bermanfaat. Pada waktu pagi buta, setelah sholat Subuh, Mbah Sholeh sudah berada di kediaman Mbah Dur untuk menjenguk Ibu Na’amah yang baru saja melahirkan, dengan membawa beberapa barang bawaan yang berhubungan dengan bayi dan ibunya. Dengan santai dan penuh keakraban Mbah Sholeh menanyakan kesehatan bayi serta ibundanya. Dan dengan penuh perhatian, Mbah Sholeh berkata kepada Ibu Na’amah: 

“Nduk, sok anakmu iki jenengano Luthfil Hakim yo. In sya Allah bakale dadi wong seng mulyo” 
Saya melihat, Ibu Na’amah menceritakan peristiwa ini dengan penuh suka cita dan wajah yang berbinar-binar sangat bahagia. Sebagai seorang tokoh yang sangat disegani, dihormati dan bahkan menjadi panutan masyarakatnya, ternyata Mbah Sholeh sangat perhatian sekali dengan saudara-saudaranya. Dan perhatian itu tidak hanya sekedar memberikan support ataupun motivasi belaka, tetapi beliau bertindak secara langsung. Dan yang lebih unik lagi, perhatian beliau tidak hanya berkenaan dengan hal-hal yang kelihatannya nampak besar, tetapi hal-hal yang dianggap sepele oleh sebagian orang, maka oleh Mbah Sholeh hal tersebut diperhatikan juga. 

Dalam satu waktu, Mbah Murni—ibunda Mbah Sholeh yang tak lain adalah istri tertua dan pertama dari Mbah Mudzakir—sakit keras. Akhirnya Mbah Sholeh menyuruh Mbah Muslimah yang merupakan cucu dari Mbah Murni untuk datang dengan membawa makanan kesukaan ibundanya itu, yakni iwel-iwel. Baru setelah Mbah Muslimah datang dengan membawa iwel-iwel inilah, beberapa hari kemudian Mbah Murni wafat dalam kondisi tenang. Inilah bentuk perhatian Mbah Sholeh yang sangat besar terhadap ibundanya. Beliau mengetahui bahwa cucu kesayangan Mbah Murni adalah Mbah Muslimah, karena dari kecil sudah ditinggal wafat oleh ayah ibunya dan akhirnya ikut sang nenek, yakni Mbah Murni. Tentunya Mbah Murni sangat ingin sekali bertemu dengan cucu kesayangannya itu sebelum akhirnya beliau meninggal dunia dengan tenang. 

Sosok Yang Teguh Memegang Prinsip

Pada awal pembicaraan tentang Mbah Sholeh tadi, telah saya sebutkan bahwa beliau adalah orang yang teguh nan kokoh dalam memegang prinsip. Sesuatu yang menurut beliau benar secara syariat, maka hal tersebut akan beliau pertahankan dengan sungguh-sungguh. Keteguhan serta ketegasan beliau ini sudah tidak asing lagi dikalangan masyarakat Kalisari, sampai-sampai kisah keteguhan itu menjadi cerita yang berpindah-pindah dari satu mulut rakyat, ke mulut yang lain sampai sekarang. 
Tetangga saya, Lek Haris, bercerita bahwa beliau mempunyai seorang saudara yang bernama Pak Thoifur Prampelan (hal ini karena memang Lek Haris aslinya berasal dari desa Prampelan). Dulu Pak Thoifur ini pernah mondok ke berbagai macam pondok pesantren yang berada di daerah Demak ini, yang diantaranya adalah mondok di daerah Mranggen yang pada waktu itu memang sangat masyhur menjadi pusat keilmuan. Setalah Pak Thoifur mondok ke berbagai macam pesantren, ayahnya menyuruh beliau untuk mondok di Pesantren Salafiyah yang di asuh oleh Mbah Sholeh. 
Pak Thoifur ini oleh Mbah Sholeh sering disuruh memijit beliau setelah selesai mengaji. Dan di sela-sela pijitan itulah, kemudian Mbah Sholeh mengeluarkan petuah-petuah kehidupan kepada Pak Thoifur. Pernah suatu hari, Mbah Sholeh melihat resepsi pernikahan salah seorang warga. Acara resepsi tersebut sangat mewah sekali, dan yang paling nampak adalah mempelai perempuan yang dipertontonkan di depan orang dengan begitu menor dan berlebihan. Nah, lalu Mbah Sholeh berkata kepada Pak Thoifur: 
“Fur, sok kowe nek nikahan yo ojo koyok ngono kui yo” 
“Nggeh Yai. La trus sak niki nek ningali tiyang seng mantenan pripun carane Yai” , tanya Pak Thoifur selanjutnya.
“Yo nganggo koco moto” , jawab Mbah Sholeh. 
Memang, sampai sekarang saya sendiri juga belum mengetahui secara pasti, apa sebenarnya yang melatarbelakangi larangan Mbah Sholeh yang disampaikan kepada pak thoifur tersebut. Dan saya juga kurang tahu secara pasti, bagaimana bentuk serta model resepsi pernikahan yang terjadi dalam kisah di atas. Namun saya mempunyai dugaan kuat, bahwa resepsi pernikahan yang dilarang oleh Mbah Sholeh adalah yang mengandung unsur kemaksiatan di dalamnya. Sebagaimana hal tersebut banyak dijelaskan dalam buku-buku Fiqh, tepatnya dalam bab walimah. Bahkan dalam buku Al-Majmu’ah Al-Kafiyah, karya Kiai Sholeh Ndarat—guru dari Kiai Mudzakir, yang tak lain ayahanda dari Mbah Sholeh—terdapat penjelasan bahwa sebuah walimah yang pelaksanaannya dengan berhutang-hutang/mengada-adakan sesuatu yang tidak ada, maka hukum pelaksanaan walimah tersebut hukumnya haram, dan mendatangi walimah dengan model tersebut pun hukumnya juga haram. Mungkinkah Mbah Sholeh terpengaruh oleh pendapat Kiai Sholeh Ndarat ini? Bisa saja, tapi pastinya ya Wallahu A’lam. 

Salah satu bukti keteguhan beliau dalam berpegang pada hukum adalah larangan penggunaan alat spiker yang beliau berlakukan bagi semua santri dan pengikut beliau. Memang tidak jelas, apa hukum penggunaan spiker dan alasan sebenarnya yang mendasari larangan beliau ini. Apakah beliau mengharamkan penggunaan alat spiker ini? Kalau memang iya, lalu apa alasan yang mendasari keharamannya ini? 

Kalau kita merunut cerita yang dituturkan Lek Haris dari Pak Thoifur, maka bisa ditarik kesimpulan bahwa memang Mbah Sholeh mengharamkan penggunaan spiker. Dan alasan yang diceritakan pun adalah karena penggunaan spiker itu bisa menimbulkan sikap pamer dan riya’ kepada tetangga-tetangga sekitar, sebagaimana hal ini dituturkan oleh Lek Haris dari Pak Thoifur. Dari sini, nampaknya Mbah Sholeh sudah terpengaruh oleh karakteristik Fiqh yang dipadukan dengan nilai-nilai Sufi. Sebagaimana hal itu dulu pun pernah terjadi dalam dunia Islam. Tepatnya saat terjadi ketegangan antara pembela Fiqh An Sich dan penganut ajaran Sufi. Ketegangan antara keduanya sangatlah keras sekali, hingga akhirnya datanglah Al-Ghozali yang mempunyai gagasan baru dengan mengkompromikan kedua aliran dalam dunia pemikiran Islam tersebut. Karenanya tidak aneh, jikalau dalam salah satu fatwanya, Al-Ghozali menyatakan bahwa ke-khusyu’-an seseorang merupakan salah satu syarat sah-nya sholat. Sehingga orang yang tidak khusyu’ dalam sholatnya, maka sholat itu tidak sah. Ya, khusyu’ yang semestinya masuk dalam ranah sufistik, tetapi oleh Al-Ghozali ditarik pada ranah Fiqhiyyah. 

Mbah Sholeh Wafat 

Pagi itu, seperti biasanya, di depan rumah Mbah Sholeh telah terdapat beberapa karung goni yang terbentang guna untuk menjemur gabah yang telah di panen beberapa hari yang lalu. Biasanya, yang menata dan mengulak-alik gabah tersebut adalah Mbah Muslimah, tetapi nampaknya pagi itu beliau tidak datang. Entah tidak tahu, apa penyebab ketidak datangan beliau Mbah Muslimah. Akhirnya Mbah Sholeh sendiri yang mengulak-alik gabah tersebut dengan kaki beliau. Kalau-kalau ada ayam yang mendekat, maka beliau mengusirnya, agar ayam tersebut tidak notholi gabah yang telah tertata dengan rapi dan baik. 
Tiba-tiba telinga beliau mendengar air yang berkecipakan di sumur Masjid. Nampaknya ada orang yang sedang mandi di sana. Dengan lantang beliau memanggil-manggil orang tersebut:
“Sopo kui neng sumur?”
“Kulo Mbah”
“Sopo?”
“Na’amah kaleh Naezah Mbah”
“Zah...Zah...mreneo Nduk”
Tiba-tiba Unaezah kecil—memang pada waktu itu Lek Unaezah masih kecil, bahkan mungkin belum sekolah—mendatangi Mbah Sholeh sambil menutupi sebagian tubuh mungilnya dengan kain tapeh.
“Zah....Makmu undango, kon nggusahi pitik. Wetengku loro”
“Nggeh Mbah”
Ya, memang Mbah Sholeh memiliki penyakit Magh yang akut. Dan peristiwa di pagi itu bisa dikatakan merupakan pertemuan terakhir beliau dengan keluarga, santri-santri serta masyarakat. Karena setelah itu beberapa hari kemudian, Mbah Sholeh wafat karena penyakit Magh yang kronis tersebut. Padahal 1 tahun sebelum beliau meninggal, Mbah Sholeh sudah mendaftar Haji. Haul beliu sampai sekarang masih diperingati oleh masyarakat Kalisari dan sekitarnya, tepatnya pada tanggal 2 Jumada-L-Akhirah. 
“Allahummaghfir Lahu War Hamhu Wa ‘Afihi Wa’fu ‘Anhu. Wa Akrim Nuzulahu Wa Wassi’ Madkholahu Waj’alil Jannata Matswahu Bi Rohmatika Ya Arhamar Rohimin”. 

KECERDIKAN ABU HANIFAH

Written By diya al-haq on Saturday, February 14, 2015 | 1:23 AM


Seorang alim yang bernama Qotadah suatu hari memasuki kota Kufah. lalu dengan penuh ke-PD-an beliau berkata ditengah-tengah masyarakat: "Bertanyalah kalian kepadaku tentang apa saja..! akan aku jawab semua". Semua diam, karena memang semua mengakui kealiman beliau. Tetapi tiba-tiba ada seorang anak kecil yang turut hadir di situ mengacungkan jari telunjuknya, dengan polos seraya bertanya:

"Apakah jenis kelamin dari semut yang hampir saja terinjak oleh Raja Sulaiman? Apakah ia jantan atau betina?", Tanya si anak kecil.

Mendapat pertanyaan yang tak terduga-duga demikian, Qotadah hanya bisa diam dan membisu, karena memang sulit sekali jawabannya. Melihat Qotadah yang nampak kesulitan menjawab, anak tersebut segera pergi karena tidak enak. Tetapi beberapa orang mengejarnya dan saat bertemu mereka bertanya:

"Apa jenis kelamin semut tersebut wahai anak kecil?", tanya orang yang mengejarnya.
"Jenis kelaminnya betina pak", jawab si anak kecil.
"Kok kamu bisa tau dari mana", kejar si bapak.
"Dari al-Qur'an"
"Coba gimana ayatnya sebutkan"
"Allah berfirman:

قَالَتْ نَمْلَةٌ

Andaikan semut itu jantan, tentunya Allah akan berfirman: (
قَالَ) tanpa ada huruf Ta' Mabsuthoh", jawab anak tersebut.
Mendengar jawaban yang cerdas itu, orang tua tadi bertanya:
"Siapa namamu nak?"
"Nu'man Bin Tsabit".

Dalam kisah lain disebutkan bahwa Imam Abu Hanifah sedang berkumpul dengan santri-santrinya dalam satu majlis untuk melakukan kajian Fiqh. Saat sedang seru-serunya membahas, tiba-tiba ada seorang wanita dengan wajah yang andaikan bulan purnama tahu pun akan malu memperlihatkan cahayanya, karena saking cantiknya. Tiba-tiba wanita tadi meletakkan sebutir buah apel yang berwarna dua, setengah berwarna kuning dan separonya lagi berwarna merah. Semua murid sang imam bingung, lalu sang imam mengambil apel tadi dan membelahnya jadi dua, hingga tampak jelas bahwa isi apel tersebut berwarna putih bersih. Setelah melihat apa yang dilakukan sang imam, wanita tadi dengan tersipu malu, pergi tanpa mengucapkan kata apa-apa.

Nah, tambah bingung lagi para murid Imam Abu Hanifah dan mereka saling berpandangan satu sama lainnya. Melihat kebingungan diwajah murid-muridnya, sang imam pun berkata:

"Wanita tadi adalah seorang gadis yang masih perawan, dia malu untuk bertanya secara langsung tentang masalah Haidh. Makanya, dia melatakkan apel dengan dua warna tadi, yang artinya kalo darah yang keluar darinya sebagian masih merah dan sebagian lagi sudah kuning, apakah berarti sudah suci, tidak haidh lagi? Maka ketika aku belah apel tadi dan tampak jelas warna putih dalam apel, dia faham bahwa bisa dikatakan suci kalau yang keluar adalah cairan putih".

Ya beliau inilah yang kemudian hari di kenal dengan sebutan Imam Abu Hanifah, seorang pendiri salah satu madzhab Fiqh dalam lingkungan Sunni. Memang, rentetan panjang sejarang telah banyak melukiskan dan manggambarkan kecerdasan serta  kecerdikan beliau ini. Sehingga tidak heran jika kemudian madzhab Hanafi terkenal sebagai Ahlu-R-Ro’yi. Sementara ini, sebagian intelektual Islam memahami bahwa maksud dari Ahlu-R-Ro’yi adalah madzhab yang lebih mengedepankan rasionalitas dari pada tekstual, sebagaimana hal itu bisa kita lihat misalnya dari penjelasan Syaikh Khudhori Bek dalam bukunya, Tarikh Tasyri’. Sehingga yang muncul adalah kesan negativ yang menempel pada madzhab Hanafi, seolah-olah mereka lebih mengedepankan rasional (Aql) dari pada teks-teks agama (Naql). Namun yang perlu dicatat adalah apa yang ditulis oleh salah satu ulama Hanafiyah Muta’akhirin, yakni Syaikh Muhammad Zahid Al-Kautsari, yang memiliki pemaknaan lain atas istilah Ahlu-R-Ro’yi yang disematkan kepada Imam Abu Hanifah dan para pengikut madzhab Hanafi secara umum.

Menurut Syaikh Muhammad Zahid Al-Kautsari, maksud dari istilah Ahlu-R-Ro’yi adalah sebuah pernyataan yang mengukuhkan bahwa para Ulama Hanafiyah merupakan segolongan intelektual Islam yang paling mampu dan berkompeten dalam melakukan ijtihad sebagai media guna memahami ajaran Islam. Al-Kautsari mengatakan bahwa semua mujtahid memanfaatkan dan menggunakan akal serta nalar (Ro’yu) mereka untuk memahami Al-Qur’an maupun Al-Hadis. Yang membedakan antara satu dan yang lain adalah porsi yang mereka berikan pada nalar serta akal mereka dalam memahami kedua pusakan Islam tersebut, disamping tentunya adalah perbedaan kemampuan dan kecerdasan nalar masing-masing dari para mujtahid, sehingga akhirnya hal itu pula yang menyebabkan mereka berbeda-beda. Jadi semua menggunakan nalar dan akal (Ro’yu), hanya Ulama Hanafiyah-lah yang paling berkompeten dalam memahami teks-teks kedua pusaka islam tersebut di atas.

Tentunya, pemaknaan Al-Kautsari ini sangat jauh berbeda sekali dengan interpretasi yang telah diberikan oleh kebanyakan pakar Islam sementara ini. Dan memang, kesan fanatisme madzhab tercium sangat kental sekali dari apa yang disampaikan oleh Al-Kautsari—dan memang Al-Kautsari sendiri terkenal sangat fanatik terhadap Madzhab Hanafi dan tentunya Abu Hanifah. Tetapi bagi saya pribadi, pemaknaan yang diberikan oleh Al-Kautsari ini setidaknya bisa menjadi bantahan bagi sementara orang yang menganggap bahwa dari Madzhab Hanafi inilah benih-benih “Liberalisme Islam” muncul. Padahal kalau kita mengkaji kitab semisal Musykilu-L-Atsar karya At-Thohawi atau Fiqhu-L-Akbar, Fiqhu-L-Absath serta Al-Washiat yang ketiganya adalah karya Imam Abu Hanifah, niscaya kita akan menemukan kuatnya ulama Hanafiyah dalam berpegang pada teks agama. Hanya saja, cara yang mereka tempuh dalam mengimani dan berpegang pada teks agama tidaklah sama dengan cara yang ditempuh oleh selain mereka. Mestinya perbedaan ini tidaklah lantas menjadikan tuduhan yang macam-macam, atau bahkan sampai menghujat.


Walhasil, seorang Imam Abu Hanifah adalah salah satu icon kegemilangan dan kejeniusan para intelektual Islam masa lalu—bahkan beliau masih masuk dalam kurun Salaf, karena beliau wafat pada sekitar tahun 150 H, tahun dimana Imam Syafi’i lahir—yang rasa-rasanya sulit untuk kita temukan padanannya di era modern sekarang ini. Sangat layak sekali jika kemudian kita mengenang apa yang menjadi kelebihan dan kehebatan beliau dalam bidang ilmiah, walaupun tentunya kehebatan beliau dalam bidang yang lain pun juga tidak bisa dikesampingkan. Semuanya adalah dengan harapan kita bisa meneladani beliau, atau paling tidak bisa mengidolakan beliau. Terlebih lagi sekarang ini, zaman dimana kebanyakan orang Islam kehilangan idola yang sebenarnya. Bukankah menampilkan profil beliau ini merupakan satu jihad tersendiri?

BAHAYA KHUSYU’ISME

Written By diya al-haq on Thursday, January 29, 2015 | 9:49 AM



Man Izdada Khusyu’an Izdada Jahlan” sebuah ungkapan yang kurang lebih memiliki arti “barang siapa yang bertambah khusyu’-nya, maka akan bertambah pula kebodohannya. Aneh, memang ungkapan tersebut terasa sangat aneh ditelinga-telinga swasta seperti telingaku. Terlebih lagi, pertama kali aku mendengar istilah tersebut sering diulang-ulang oleh gurunda, simbah KH. Maemoen Zubair saat aku baru awal-awal masuk ke Ponpes Sarang. Tepatnya sekitar tahun 2003-2004, dan umurku pada waktu itu pun masih tergolong kecil, sekitar umur 16 tahunan. Nalar kekanak-kanakan yang masih kuat melekat dalam diriku belum mampu untuk mencerna dengan baik apa makna tersirat dibalik petuah “aneh” beliau ini.
            Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya corak serta wawasan yang menjadi menu harianku, ditambah lagi pergaulanku dengan orang-orang yang memiliki pola pikir yang bermacam-macam, sedikit demi sedikit kabut tebal yang menyelimuti ungkapan Mbah Maemoen tersebut akhirnya tersingkap. Walaupun konsekwensinya aku harus dicap sebagai santri yang “salah pergaulan”. Ya, aku masih ingat betul bahwa waktu itu aku masih duduk dikelas 1 Aliyah MGS dan jujur, pada waktu itu pemikiranku masih sangat lugu sekali. Namun alhamdulillah, pada waktu itu pulalah aku bersentuhan secara lebih intim dengan berbagai pemikiran Al-Imam Al-Ghozali. Semua itu gara-gara kitab Al-Munqidz Mina-D-Dholal yang dihadiahkan oleh mas Najih kebumen kepadaku. Dalam satu hari penuh, aku menghatamkan membaca serta memahami kitab tersebut sebanyak tiga kali. Hingga akhirnya aku benar-benar merasakan bahwa memang Al-Ghozali adalah sesosok ulama yang gagasan dan pemikirannya mampu mencerahkan. Sehingga layak sekali, jika kemudian beliau disebut sebagai salah satu “Sang Pencerah”.
            Tidak hanya itu saja, perkenalanku dengan KH. M. Wafi Maemoen—akrab dipanggil dengan Gus Wafi—dengan karakteristik beliau yang Mobile, progresif dan kaya akan ide, pun juga sedikit banyak telah memberi warna dan corak dalam cara berfikirku. Belum lagi KH. Baha’uddin NS—akrab aku panggil dengan Gus Baha’—yang pada waktu itu banyak memberikan inspirasi, hingga akhirnya aku nyaman dan setia mendengarkan rekaman-rekaman pengajian beliau yang serat akan nuansa ilmiah nan kritis. Pak Najib Bukhori pun tidak kalah juga, beliau adalah sosok muda dengan gagasan dan pemikiran brilian yang berani meloncat keluar “pagar” kemapanan, akan tetapi tetap kalem dalam melakukan perubahan. Hingga akhirnya aku juga rutin mengikuti kajian Bulughul Marom yang diampu oleh KH. Dr. Abdul Ghofur Maemoen yang tentunya sangat asyik dan penuh insirasi. Nah, pertemuanku dengan merekalah yang sedikit banyak kemudian memberikan dampak dan efek luar biasa pada diriku dalam memahami sosok Mbah Maemoen, yang diantaranya adalah dengan memahami dawuh beliau di atas.
            Memang, Mbah Maemoen tidak pernah—dan aku sendiri juga belum pernah mendengar—beliau menguraikan apa makna dari petuah beliau tersebut. Tetapi, sebagai seorang santri, aku sudah tergerak semenjak dulu untuk membaca, mengkaji dan bahkan berusaha untuk mendiskusikan berbagai tindakan, statement dan tentunya ijtihad beliau ini bersama beberapa teman yang bisa aku ajak berfikir ke arah sana. Berkenaan dengan dawuh: “Man Izdada Khusyu’an Izdada Jahlan” di atas, aku melihat paling tidak ada 3 hal yang ingin disampaikan oleh Mbah Maemoen, walaupun tentunya ini menurut pemahaman dan kajianku sendiri atas dawuh beliau.
            Pertama- Beliau nampak ingin menekankan bahwa akhir-akhir ini banyak orang-orang yang menampilkan prilaku, sikap, cara berpakaian dan mungkin juga tutur kata yang kesemuanya mengindikasikan bahwa mereka adalah orang-orang sholih, ahli ibadah dan seterusnya. Padahal, sejatinya ilmu yang yang bersemayam dalam kalbu mereka nol, alias kosong, alias tidak ada. Mereka menjadikan ke-khusyu’-an sebagai kedok dan topeng demi menutupi serta menyembunyikan kebodohan mereka. Nah, Mbah Moen menyampaikan pesan di atas agar para santri-santri Sarang tidak silau atau bahkan terpesona untuk mengikuti orang-orang yang demikian itu. Karenanya, tidak heran kalau dulu Gus Baha’ bercerita bahwa santri Sarang tempo dulu itu mempunyai cara berfikir ilmiah dan tidak ada yang kelihatan khusyu’. Dawuh beliau: “Ilmiah itu identik dengan kebebasan dalam berfikir, jika di batasi terus maka akan terpasung keilmiahannya”. Tentunya kebebasan ini bukan bebas segala-galanya, akan tetapi bebas yang masih berada dalam rel dan bingkai keilmuan Pesantren. Bahkan menurut cerita salah satu senior (Kang Fadhlan, akrab aku panggil dengan Wa’ Lan), dulu Gus Baha’ itu selesai Jama’ah Sholat tidak duduk untuk wiridan lama-lama, akan tetapi beliau bergegas untuk kembali melanjutkan Muthola’ah-nya yang sempat diistirahatkan karena jama’ah sholat. Dan jujur saja, sampai sekarang pun aku belum pernah melihat Gus Baha’ Wiridan/sholat Sunnah Ba’diyah setelah sholat Fardhu. Nampaknya kebiasaan di Pesantren itu masih terbawa saat beliau di rumah atau mungkin saja beliau memang masih asyik dengan Muthola’ah.
            Pernah ada yang bertanya kepadaku: “Lebih utama siapakah, santri yang asyik dengan muthola’ah-nya hingga ia lupa atau enggan melakukan amaliah-amaliah sunnah? Atau santri yang memperbanyak amaliah sunnah sementara Muthola’ah-nya kurang?”. Waktu itu aku menjawab bahwa santri yang bisa mensinergikan antara keduanya adalah yang terbaik. Namun jika terpaksa ia harus memilih salah satu dari keduanya, maka dengan tegas aku mengatakan bahwa santri yang memanfaatkan semua waktunya dan mengerahkan segala daya serta upaya guna Muthola’ah ilmu—tentunya mengecualikan waktu-waktu yang digunakan untuk melakukan kebutuhan primer yang lain, semisal makan—adalah lebih utama jika dibandingkan dengan memperbanyak ibadah Sunnah. Pendapatku ini berdasarkan statement imam an-nawawi yang diabadikan dalam mukaddimah kitab Minhaju-T-Tholibin. Beliau berkata:
فَإِنَّ الِاشْتِغَالَ بِالْعِلْمِ مِنْ أَفْضَلِ الطَّاعَاتِ و أَوْلَى مَا أُنْفِقَتْ فِيهِ نَفَائِسُ الْأَوْقَاتِ
Sesungguhnya, kesibukan seseorang untuk belajar ilmu itu adalah ketaatan paling baik dan kesibukan paling utama untuk menghabiskan waktu seseorang
            Kedua- Dari statement Mbah Maemoen di atas, sebenarnya beliau ingin mengajak santri dan masyarakat Pesantren untuk berfikir secara terbuka (Open Mind). Disamping tentunya beliau ingin mengajak kita agar melihat, melakukan analisa dan kajian secara proporsional, objektif, holistik dan tentunya komprehensif. Beliau kurang suka dengan santri yang hanya memiliki satu cara pandanga saja, sehingga pikirannya menjadi kaku, jumud dan mudah menyalahkan orang lain, terlebih lagi jikalau tidak ada klarfikasi/Tabayyun terlebih dahulu. Santri dengan model terakhir ini biasanya enggan dan acuh tak acuh terhadap setiap gagasan berbeda dari apa yang ada dalam pemahamannya selama ini. Bahkan tidak jarang dari mereka yang kemudian memusuhi dan menyerang dengan ngawur orang-orang yang memunculkan gagasan yang seakan di anggap baru tersebut.
            Dalam beberapa pengajiannya, Mbah Maemoen sering menyindir dan mengkritik orang-orang, baik dari kalangan umum maupun dari kalangan pesantren, yang memiliki pola pikir terlalu kaku dan jumud tersebut dengan menyitir sebuah statement ayahanda beliau, yakni Kiai Zubair Dahlan. Mbah Maemoen sering dawuh: “Bapak mbien ngendikan[1]:
حفظ شيئا وفات عنه أشياء
Hanya menghapal/menjaga/mengetahui satu hal saja, akan tetapi luput darinya banyak hal
            Tidak hanya itu saja, Mbah Maemoen dalam beberapa pengajiannya juga sering mengatakan bahwa:
Manungso kui kaprahe mung iso ndelok sak arah thok. Iku yo wajar, sebab deweke mung isone yo madep sak arah thok. Dadi yo mung 90 derajat thok. Lah ndunyo kui bunder ser. Bunder kui 360 derajat. Dadi santri ya harus tau segala[2]
            Aku memahami bahwa yang dimaksud dengan “harus tau segala” atau “Bunder Kui 360 Derajat” adalah berusaha untuk melihat segala sesuatu dengan sesuai porsinya dan tentunya harus secara utuh, komprehensif, tidak secuil atau separo saja. Karena tentunya pemahaman yang sepihak saja, akan menjadikan seseorang fanatik dan mudah mencela serta menyalahkan orang lain, padahal belum tentu orang lain tersebut salah.
            Dalam kesempatan lain, Mbah Maemoen pun sering dawuh mengutip statement Nabiyullah Ibrahim Alahis Salam:
على العاقل أن يكون عارفا بزمانه مقبلا في شأنه راضيا بربه
Bagi seorang yang berakal, hendaknya ia harus memahami kondisi dan fenomena yang terjadi pada masanya. Perhatian terhadap apa yang menjadi tanggung jawabnya (Sya’nu), serta ridha terhadap apa yang menjadi ketetapan tuhannya[3]
            Bahkan dulu sebelum aku kluyuran ke Lebanon dan sowan kepada beliau sebanyak 3 kali, Mbah Maemoen berpesan khusus kepadaku:
“Lebanon kui ono telu yoh...presidene Kristen, perdana mentrine Sunni, la ketua parlemene Syiah. La kowe yo kudu paham telu-telune yo...heh...yo paham Sunni, yo paham Kristen, yo paham Syiah...paham?”
“Nggeh Yai” [4], Jawabku.
Apakah dengan petuah ini beliau ingin menyuruhku untuk menjadi seorang Syi’i atau seorang Kristen? Tentunya tidak, Khasya Wa Kalla. Lalu apa maksud beliau? Secara pribadi, aku memahami bahwa beliau hendak mendorongku untuk menjadi orang yang pengalaman, terbuka, santri dengan wawasan yang tidak sempit/ dengan istilah beliau adalah menjadi “santri yang tau segala”. Karena pada akhirnya, realitas kehidupan menuntut kita untuk bijak dalam menyikapi perbedaan-perbedaan yang berkembang. Perbedaan adalah sebuah keniscayaan dan sunnatullah yang tidak bisa dipungkiri. Perbedaan bukan untuk dimusuhi, perbedaan bukan untuk dilawan dan bukan pula untuk dimusnahkan. Akan tetapi, semestinya perbedaan adalah untuk diracik sedemikian rupa, sehingga ia bisa menjadi pelangi yang walaupun berbeda-beda warnya, tetapi sedap nan sejuk dipandang mata.
Bahkan beda agama pun semestinya tidak menjadikan sesama manusia untuk saling bermusuhan. Dalam kajian Fiqh Islam, kita akan menemukan data bahwa tidak semua non muslim itu boleh diperangi, bahkan ada sebagian dari mereka yang harus dilindungi oleh institusi pemerintah. Yang boleh kita perangi hanyalah non muslim dengan predikat Harbi, yakni non muslim yang menyerang/memerangi umat Islam. Sedang non muslim yang Dzimmi (non muslim yang keamanannya menjadi tanggungan umat Islam, karena mereka siap untuk berdampingan secara damai dengan umat Islam), Musta’man (non muslim yang keamanannya dijamin oleh pemerintah yang sah) dan Mu’ahad (non muslim yang menyepakati adanya gencatan senjata dengan umat Islam), maka mereka ini tidaklah boleh kita perangi. Lalu bagaimana dengan Umat Islam yang berbeda pandangan dan madzhab dengan kita? Tentunya lebih tidak boleh lagi untuk kita perangi. Dan dalam bingkai pemahaman ini pula, kita bisa memahami Hadis Nabi yang berbunyi:
أمرت أن أقاتل الناس حتى يشهدوا أن لا إله إلا الله
            “Saya diperintahkan untuk berperang dengan manusia, hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah
Kita perhatikan redaksi (أقاتل) yang mengikuti shighot (bentuk kata) Mufa’alah yang tentunya bagi para pengkaji ilmu shorof sudah tidak asing lagi apa faidah-nya, yaitu Musyarokah. Faidah Musyarokah menunjukkan makna “saling”, yang pada akhirnya memberikan pemahaman kepada kita bahwasannya ada dua pelaku/lebih dalam sebuah pekerjaan. Nah, dalam redaksi hadis di atas, kata (أقاتل) menunjukkan saling bunuh membunuh antara manusia. Berarti yang akan diperangi Rasulullah, sebagaimana termaktub dalam redaksi hadis di atas, adalah non muslim yang memang ingin memerangi umat Islam juga, sedang yang lain tidak. Betapa hebatnya baginda Nabi dalam memilah dan memilih redaksi yang akan beliau sabdakan, sehingga tidak akan bisa menimbulkan kerancuan pemahaman dikemudian hari.
Ketiga- Dari statement di atas, Mbah Maemoen ingin mengajak kita untuk flash back/kembali merenungi sejarah umat Islam yang telah lalu. Mbah Maemoen mengajak kita untuk memperhatikan tragedi berdarah yang sangat menusuk hati setiap umat Islam, yakni peristiwa pembunuhan Imam Ali KarramaLlah Wajhah yang direncanakan oleh sekelompok orang yang mengaku paling benar, paling paham atas interpretasi al-Qur’an maupun Hadis, merasa paling baik dan paling khusyu’. Mereka berpendapat bahwa Imam Ali, Amr Bin Ash, Abu Musa Al-Asy’ari, Mu’awiyah, pelaku perang Jamal dan semua orang yang ridha atas keputusan Tahkim adalah orang-orang yang kafir yang halal darahnya[5]. Merekalah Khowarij, kaum paling khusyu’ sepanjang perjalanan sejarah umat Islam.
Dalam kajian sejarah, Khowarij adalah salah satu kelompok paling berbahaya bagi kehidupan umat Islam. Dan lagi-lagi, khusyu’ menjadi semacam tameng dan topeng yang sangat berguna untuk memuluskan aksi-aksi mereka. Coba saja kita perhatikan bersama, bagaimana Al-Imam Ahmad Bin Hanbal menggambarkan beberapa ciri khas mereka dari sebuah hadis yang beliau kutip dalam musnadnya dari Abu Sa’id Al-Khudri RadhiyaLlahu Anhu.
Dulu, pada masa kehidupan Rasul Shollallahu Alaihi Wa Sallam, ada suatu peristiwa yang sangat menggemparkan jagad para sahabat. Suatu hari di masjid Rasul ada seseorang yang kelihatannya demikian khusuk melaksanakan shalat. Kekhusyukannnya begitu memikat dan menawan hati sebagian shahabat yang melihatnya. Mereka banyak memperbincangkannya, bahkan sengaja ada yang menceritakan pemandangan itu di dekat Rasul, dengan maksud agar beliau mengomentarinya. Mereka sangat berharap ada komentar dan perkataan Rasul tentang orang itu. Namun, alih-alih pujian yang muncul dari lisan beliau yang suci, justru tantangan bagi sahabat yang punya nyali untuk memisahkan kepala dari tubuhnya. Semua terperangah, seolah tidak percaya dengan perkataan Rasul. Bahkan Rasul berkata : “Orang inilah yang nantinya akan menebarkan aroma perpecahan dan fitnah kehancuran dalam agama. Aku melihat hembusan setan di dahinya. Sekiranya engkau membunuh orang itu, maka tidak akan terjadi perpecahan umat dikemudian hari”.
Rasul lalu memerintahkan Abu Bakar Radhiyallahu Anhu untuk membunuhnya, tetapi sayang, dia tidak mampu mengalahkan perasaannya untuk membunuh orang yang sedang khusyu’ beribadah tersebut. Kemudian Rasulullah merintahkan Umar ibn Al-Khaththab Radhiyallahu Anhu dengan perintah yang sama, namun Umar mengalami perasaan yang sama. Dia lebih tunduk kepada perasaannya ketimbang perintah wajib dari Rasul. Kemudian Rasul memeritahkan Ali ibn Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu, dan Ali pun tanpa berpikir panjang segera bangkit dengan menghunus pedang dihadapan Rasul dan para sahabat. Namun sayang, rupanya hal itu diketahui oleh orang itu sehingga dia kabur meninggalkan masjid[6].
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa mereka adalah orang-orang yang hapal Al-Qur’an (يقرؤون القرآن), akan tetapi makna dan kandungan Al-Qur’an hanya sampai dimulut mereka saja, tidak bisa meresap dalam kalbu (ولم يجاوز تراقيهم). Bahkan Abdurrahman Ibnu Muljam Al-Murodi, pembunuh Imam Ali, pun adalah orang yang super khusyu’. Dia terkenal sebagai penghapal Al-Qur’an, selalu melakukan sholat malam dan selalu menahan dahaga dengan puasa di siang hari. Namun, dia merasa sebagai orang paling baik, orang paling benar dan orang paling berhak untuk menafsirkan al-Qur’an, karenanya tidak heran jikalau kemudian dia mengkafirkan Imam Ali, menghalalkan darahnya dan bahkan akhirnya membunuh beliau.
Dr. Umar Abdullah Kamil—salah satu santri dan murid dari Abuya Sayyid Muhammad Bin Alawi Al-Maliki—menyebutkan beberapa ciri-ciri tertentu dari khowarij. Dan anehnya, ciri-ciri tersebut pun sampai sekarang masih melekat dalam diri sebagian umat Islam yang menganggap dirinya sebagai orang yang paling benar dan paling khusyu’. Beberapa ciri khas mereka adalah:
1.    Khowarij tempo dulu selalu menggembor-gemborkan slogan dan syi’ar “La Hukma Illa Lillah”, tidak ada hukum kecuali hukumnya Allah. Namun Imam Ali mengatakan bahwa slogan ini hanyalah bualan saja, ia merupakan “Kalimatu Haqqin Urida Biha Al-Bathil”, sebuah ungkapan yang benar, namun dibalik itu terdapat tujuan dan maksud yang salah dan batil. Jadi slogan itu hanyalah kedok saja untuk membenarkan apa yang menjadi hasrat dan keinginan mereka saja. Ungkapan tersebut tidak benar-benar keluar karena ingin mengikuti perintah Allah. Begitu juga dengan khowarij di era modern sekarang ini. Mereka berusaha ingin menegakkan syariat Islam disebuah negara/daerah tertentu, namun sebenarnya semua itu hanyalah mereka jadikan kedok untuk memuluskan langkah mereka guna meraih kekuasaan. Dan saat mereka sudah duduk dikursi empuk, maka praktek penerapan syariat pun tak pernah bisa terealisasikan, seperti halnya kejadian di Mesir pasca tumbangnya Husni Mubarok. Atau kalaupun bisa merealisasikan apa yang mereka sebut ‘syariat’, maka yang diterapkan adalah syariat dengan versi mereka sendiri. Sehingga hal itu memberikan dampak berupa intimadasi, diskriminasi dan tentunya Isolasi terhadap kelompok lain yang tidak sepaham dengan mereka. Pemandangan seperti inilah yang terjadi pada Saudi Arabia dengan paham Wahhabi sampai sekarang. Dari kronologi inilah kemudian muncul syiar Nahdhatul Ulama (NU) yang menyatakan bahwa NKRI harga mati.
2.    Khowarij tempo dulu adalah orang-orang yang sangat berlebihan dalam masalah beribadah dan dalam pemahaman agama. Saking khusyu’-nya, mereka memiliki pemahaman bahwa pelaku dosa besar adalah orang kafir yang halal darahnya. Mereka mengkafirkan para pemimpin seperti Imam Ali, Mu’wiyah serta Amr Bin ‘Ash. Tidak berhenti pada pengkafiran saja, bahkan mereka sudah bergerak dan berusaha membunuh kesemuanya, walaupun akhirnya mereka hanya berhasil membunuh Imam Ali saja. Sama dengan mereka adalah Neo Khowarij sekarang ini. Mereka mempunyai anggapan bahwa para pemimpin Indonesia sekarang ini sudah kafir. Hal ini karena mereka menganggap bahwa para pemimpin itu tidak menetapkan syariat Islam sebagai undang-undang. Berpijak dari sini, mereka kemudian melegalkan adanya revolusi dan pemberontakan terhadap sebuah pemerintahan yang sah. Rakyat yang tidak mau ikut revolusi guna meruntuhkan kekuasaan pemerintah dengan model seperti ini pun mereka cap sebagai rakyat yang kafir juga. Lihat saja berbagai macam pergolakan yang terjadi berbagai belahan negara Islam akhir-akhir ini. Mulai dari Al-Jazair, Tunisia, Libya, Mesir dan terakhir adalah Syiria yang sampai sekarang masih terus bergejolak. Semua itu adalah karena benih-benih ke-khusyu’-an Khowarij ini berkembang biak dengan baik, tanpa ada yang mampu untuk membendungnya.
3.    Khowarij tempo dulu tidak takut mati sama sekali demi menegakkah syariat Allah yang berada dalam hayalan mereka. Dengan semangat dan keberanian penuh, mereka maju untuk berperang tanpa memperdulikan untuk apa dan siapa yang mereka perangi. Keberanian ini bukan tanpa sebab, karena mereka mempunyai anggapan bahwa kematiannya inilah yang memuluskan jalan mereka menuju ke Surga. Tak jauh beda dengan mereka adalah khowarij modern sekarang ini. Mereka rela menjadi ‘pengantin’ dengan mengorbankan dirinya guna mendapatkan kapling Surga nanti.
4.    Khowarij tempo dulu enggan untuk membunuh babi, karena mereka menganggap itu sebagai kerusakan. Padahal mereka berani membunuh sahabat Nabi, Abdullah Bin Hubab beserta istrinya yang sedang hamil dan beberapa sahabat yang lain. Mereka juga enggan untuk memungut sepotong kurma yang terjatuh di atas tanah. Namun disisi lain mereka mudah menuduh orang lain sebagai pelaku bid’ah, kafir, syirik dan tuduhan miring lainnya, hanya gara-gara berbeda dalam masalah khilafiyah saja.
5.    Khowarij tempo dulu terjebak dalam pemahaman keagamaan secara tekstualis ansich, sehingga hal itu menjadikan mereka berfikir secara konservtif. Al-Hafidz Ibnul Jauzi menuturkan sebuah riwayat yang menjelaskan bahwa saat Ibnu Muljam akan di Qishash karena pembunuhan yang ia lakukan terhadap Imam Ali, maka Abdullah Bin Ja’far Bin Abi Thalib memotong kedua tangannya. Tetapi Ibnu Muljam tetap kekeh diam saja, tidak ada sedikit pun ratapan keluar dari mulutnya. Lalu kedua matanya dicukil dengan paku yang dipanaskan, ia pun hanya diam saja, tidak ada ratapan sama sekali keluar dari mulutnya, bahkan dengan bangganya ia membaca: “Iqro’ Bismi Robbika-L-Ladzi Kholaq”. Namun saat Ibnu Ja’far hendak memotong lisannya, tiba-tiba Ibnu Muljam meratap. Abdullah bertanya: “Kenapa engkau meratap wahai Ibnu Muljam?”, “Aku khawatir meninggal sedang aku dalam kondisi tidak bisa berdzikir dengan lisanku”. Dari riwayat Ibnul Jauzi ini, bisa kita ambil kesimpulan bahwa Ibnul Muljam memahami perintah dzikir secara lahiriah saja, karenanya ia takut kalau tidak bisa berdzikir dengan lisannya itu. Padahal esensi dari sebuah dzikir adalah ingat Allah dengan hati, sedang dzikir dengan lisan hanyalah sunnah saja. Dan masih banyak lagi ciri-ciri khowarij yang tidak bisa aku sebutkan satu persatu di sini.
Uraian yang sangat panjang ini hanyalah ingin mengantarkan kita pada sebuah gagasan besar Mbah Maemoen yang disampaikan dengan gaya bahasa yang terkesan humoris, penuh teka teki tetapi serat akan makna: “Man Izdada Khusyu’an Izdada Jahlan”. Dan dalam era modern ini, banyak kita temukan kelompok-kelompok maupun perorangan yang sedikit banyak telah terjangkiti virus khowarij ini. Banyak orang awam yang terkagum-kagum dengan ke-khusyu’-an mereka, terlebih lagi kebanyakan mereka adalah orang-orang yang memiliki olah vokal luar bisa dan mental yang kuat. Padahal sebenarnya pengetahuan dan keilmuan mereka berkenaan dengan masalah agama sangatlah minim sekali. Sedang orang yang sebenarnya memiliki pengetahuan agama cukup luas, lama di Pesantren dan memiliki pemahaman Islam yang moderat, malah tidak mampu untuk berbicara di depan audien banyak. Ia tidak mampu untuk bermain retorika sebagaimana para pengikut gagasan neo khowarij yang telah aku sebutkan di depan. Lalu bagaimana solusinya?
Ya, solusi yang diberikan Mbah Maemoen selama ini adalah dengan tidak berhenti untuk belajar. Jangan merasa puas dengan apa yang telah kita ketahui sekarang ini, karena pada dasarnya ilmu yang tidak kita ketahui lebih banyak dari pada ilmu yang kita ketahui. Dengan terus belajar dan membaca apa saja, seseorang akan dengan mudah memahami apa yang di pahami oleh orang lain. Dan tentunya hal itu pula akan mengantarkan ia pada kedewasaan dan keterbukaan pemikiran (Open Mind). Seorang santri yang telah lama belajar dan bertapa di pesantren sekalipun, kalau dia berhenti untuk belajar dan membaca, maka tidak menutup kemungkinan virus khowarij ini pun akan menjangkitinya. Karenanya Mbah Maemoen juga menyampaikan hal ini kepada masyarakat pesantren agar mereka sadar dan tidak berhenti untuk belajar dan membaca apa saja.
Walhasil, melalui petuah “Man Izdada Khusyu’an Izdada Jahlan” ini, paling tidak ada 3 hal yang ingin disampaikan Mbah Maemoen kepada kita—konklusi ini adalah menurut pemahaman dan analisaku pribadi, bukan langsung disampaikan oleh beliau. Pertama, kita jangan terpesona dengan penampilan lahiriah seseorang yang nampaknya khusyu’, karena seringnya hal itu menipu kita. Kedua, hendaknya kita menjadi umat Islam—terlebih lagi santri—yang mau selalu belajar dan terus membaca. Apapun harus kita ketahui, jangan puas hanya dengan pengetahuan yang sekilas saja, karena hal itu bisa menimbulkan sikap fanatik buta yang sangat dilarang oleh Islam itu sendiri. Ada sebuah ungkapan menarik dari para ulama yang berbunyi:
الإنسان  أعداء ما جهلوا
Manusia adalah musuh dari kebohannya sendiri
Begitu juga ungkapan yang terekam dengan manis dalam kitab Ta’lim:
خذ ما صفا ودع ما كدر
Ambillah yang baik, tinggalkan yang tidak baik
Ketiga, hendaknya kita berhati-hati dengan paham Neo Khowarij yang akhir-akhir ini merebak diberbagai belahan negara Indonesia tercinta ini. Ketiga paham “khusyu’isme” ini tidak hanya membahayakan orang diluar kelompoknya saja, akan tetapi juga membayakan keberlangsungan eksistensi dan kesatuan NKRI yang harus di jaga. Jadi ojo khusyu’-khusyu’ nemen...!






[1] Ucapan Mbah Maemoen dengan bahasa jawa yang artinya “Dulu ayah berkata”.
[2] Artinya: “manusia itu umumnya hanya bisa melihat satu arah saja. Itu ya wajar saja, sebab dia hanya bisa menghadap pada satu arah saja. Jadi ya hanya mendapatkan 90 derajat saja. Sedangkan dunia itu bulat. Bulat itu 360 derajat. Jadi seorang santri ya harus tau segala”.
[3] Banyak redaksi yang semakna dengan apa yang disampaikan oleh Mbah Maemoen di atas. Akan tetapi secara pribadi aku belum menemukan data dengan redaksi yang sama persis dengan apa yang disampaikan Mbah Maemoen di atas. Imam Ar-Rozi, Al-Biqo’i dan An-Nasafi menggunakan redaksi: ينبغي للعاقل أن يكون حافظاً للسانه عارفاً بزمانه مقبلاً على شأنه. sedang yang hampir mirip adalah redaksi As-Suyuthi dalam Ad-Durru-L-Mantsur yang berbunyi: وحق على العاقل أن يكون عارفاً بزمانه ، حافظاً للسانه ، مقبلاً على شأنه. Wallahu A’lam Bis Showab.
[4] Artinya: “Lebanon itu ada 3 kelompok ya, presidennya dari kristen, perdana mentrinya dari islam sunni, ketua parlemennya dari islam syiah. Nah, kamu harus faham ketiga-tiganya ya. Heh. Ya paham sunni, paham kristen dan paham syiah. Paham kamu?”. “Iya Kiai”.
[5] Lihat Dr. Umar Abdullah Kamil dalam (tt), Al-Mutathorrifun Khowariju-L-Ashri,
[6] Ini adalah ringkasan Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam musnad-nya, sedang Al-Hafidz Al-Haitsami mengomentari hadis ini sebagai hadis yang para perowinya Tsiqqah. Lihat Al-Hafidz Nuru-D-Din Ali Bin Abi Bakar Al-Haitsami (1412), Majma’u-Z-Zawaid Wa Manba’u-L-Fawaid, Beirut: Dar El-Fikr. Vol: 6. Hal: 335. 
Powered by Blogger.
Advertise 650 x 90
 
Copyright © 2014. Anjangsana Suci Santri - All Rights Reserved | Template - Maskolis | Modifikasi by - Leony Li
Proudly powered by Blogger