Advertise 728x90

Latest Post

KENAPA "ROSM UTSMANI"?

Written By diya al-haq on Tuesday, July 4, 2017 | 10:13 PM



Dari dulu saya tidak paham, kenapa harus ada "Rosm Utsmani" dalam tatacara penulisan Mushaf al-Qur'an. "Bukankah sama saja makna yang ditimbulkan dari penulisan Khot tersebut?", begitu batinku dulu. Ya, maklum, saya ini hanya santri yang ngaji-nya dulu nggak kitab-kitab yang aneh-aneh, paling-paling ya Sullam Taufiq, Taqrib dan semisalnya. Jadi ya kurang paham masalah sampai "Rosm Utsmani" segala.
Nah, baru kali ini saya browsing-browsing dan menemukan kitab bagus. Saya katakan bagus, sebab kitab tersebut sedikit membuka mata saya yang selama ini buta tentang "Rosm Utsmani" dan memberikan gambaran kepada saya yang bodoh ini tentang alasan kenapa al-Qur'an ditulis dengan "Rosm Utsmani". Sehingga akhirnya saya sedikit tahu, bahwa setiap penulisan al-Qur'an dengan Rosm Utsmani yang berbeda antara satu dan yang lain itu, ternyata juga memiliki konsekwensi makna yang berbeda pula. Wow, betapa hebatnya al-Qur'an ini ya, bahkan dalam sisi cara penulisannya pun memiliki keistimewaan. Luar biasa.
Saya ingin sedikit mencontohkan Faidah penulisan al-Qur'an dengan "Rosm Utsmani". Semisal dalam kata (الكتاب), dalam semua surat bermakna "al-Qur'an" atau "Lauhu-l-Mahfudz". Oleh karenanya, dalam semua surat, kata (الكتاب) dengan tanpa huruf alif (ا) di antara huruf Ta' (ت) dan Ba' (ب). Kenapa demikian? Sebab al-Qur'an itu merupakan kitab suci yang amat sangat mudah dipahami oleh manusia dan sangat jelas pula proses turun (Tanzil)-nya. Pembungan Alif ini salah satu maknanya—menurut penulis Kitab tersebut—adalah untuk menunjukkan sesuatu yang dekat. Wallahu A'lam, saya sendiri kurang begitu paham korelasi antara pembuangan Alif dan mudahnya dipahami. Mungkin teman saya yang juga master dalam bab al-Qur'an dan Rosm Utsmani, Ustadzuna Ahmad Atho, bisa sedikit memberikan pencerahan nanti.
Tapi saya menangkap bahwa tujuan utama pembuangan dan penulisan alif pada kata (الكتاب) adalah sebagai pembeda. Mari kita perhatikan penjelasan berikut ini. Dalam semua surat al-Qur'an, kata (الكتاب) ditulis dengan membuang Alif, kecuali di 4 tempat sebagai berikut ini:
1. Pada surat Ar-Ro'du ayat ke-38.
{ لِكُلِّ أَجَلٍ كِتَابٌ } [الرعد: 38]
pada ayat tersebut, kata (الكتاب) ditulis dengan Alif, sebab maknanya bukan lagi "al-Qur'an" atau "Lauhu-l-Mahfudz". Tetapi waktu yang telah ditetapkan. Setelah potongan ayat, ini sebenarnya ada juga kata (الكتاب) lagi, tapi ditulis dengan membuang Alif, sebab bermakna "Lauhu-l-Mahfudz". Tepatnya pada ayat:
{يَمْحُو اللَّهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَبِ } [الرعد: 39]
2. Pada surat al-Hujr ayat ke-4.
{وَمَا أَهْلَكْنَا مِنْ قَرْيَةٍ إِلَّا وَلَهَا كِتَابٌ مَعْلُومٌ } [الحجر: 4]
pada ayat al-Hujr ini pun, kata (الكتاب) bermakna waktu atau tempo atau ajal, bukan bermakna "al-Qur'an" atau "Lauhu-l-Mahfudz".
3. Pada surat al-Kahfi ayat ke-27.
{وَاتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنْ كِتَابِ رَبِّكَ } [الكهف: 27]
Dalam ayat di atas, kata (الكتاب) bermakna "al-Qur'an". Di tulis dengan tanpa membuang Alif sebab kata (الكتاب) sudah di idhafah (sandar) kan pada kata (رَبِّكَ) yang secara otomatis memberikan makna "al-Qur'an". Berbeda dengan dua ayat sebelumnya.
4. Pada surat an-Naml ayat ke-1.
{طس تِلْكَ آيَاتُ الْقُرْآنِ وَكِتَابٍ مُبِينٍ } [النمل: 1]
Dalam ayat surat an-Naml ini pun kata (الكتاب) ditulis dengan tanpa membuang alif, sebab sudah maklum bahwa maknanya adalah al-Qur'an, karena dia sudah di 'Athafkan pada kata (الْقُرْآنِ) yang mau tidak mau adalah menunjukkan makna al-Qur'an, bukan makna lainnya.
Dari keempat ayat di atas, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa tujuan utama pembuangan maupun penulisan Alif adalah untuk membedakan antara (الكتاب) dengan makan "al-Qur'an dan Lauhu-l-Mahfudz" dengan kata (الكتاب) yang menggunakan makna lain. Dan dari sini pula, kita bisa mengambil kesimpulan bahwasanya para penulis wahyu dan mayoritas sahabat itu amat sangat paham tentang isi al-Qur'an, sehingga kepahaman mereka ini menuntut mereka untuk merealisasikannya, termasuk dalam tatacara penulisan al-Qur'an.
Wallahu A'lam.

Catatan:
Ahmad Atho: Ada perbedaan pandangan memang antara para ulama, bagi ulama ahli sejarah, Rasm Utsmani memang tak ada urusan dengan makna, bahkan ada yang mengatakan bahwa makna2 yg dijelaskan oleh ulama rasm, seperti contoh dalam ts, itu hanya mengada-ada.
Tapi bagi ulama ahli Rasm Utsmani, mereka meyakini ada makna tersembunyi dari setiap huruf yang tertulis, oleh karena itu wajib mengikuti penulisan Rasm Utsmani, tidak boleh menggunakan Rasm Qiyasi/ imla' 'adiy, karena bisa menghilangkan makna2 itu.
Diantara kitab yg mengulas makna2 isyari atau makna batin dari huruf-huruf yang ditambahkan, dikurangi, diganti, disambung atau dipisah adalah kitab Unwanud Dalil fi Marsumi khottit Tanzil, karya Ibnul Banna.

Ahmad Nashiih: Nderek usul sak nyeplose yaa. Hehee
Saya pribadi setuju dg statemen bahwa penulisan dg rosm usmani atau tidak tidak mengubah makna, apalagi tipikal alQur'an adlh hammalatul wujuuh,, hanya saja menghilangkan sirrul i'jaz yg hanya dipahami oleh orang2 khusus.Wallahu a'lam.
Ahmad Atho: Ada ulama yg berkomentar begini. Sebenarnya mengatakan ADA DUA PENDAPAT dalam hal penulisan Rasm Utsmani itu tidak tepat..Karena dua pendapat ini sangat jauh kualitasnya..
Pendapat pertama, wajib mengikuti Rasm Utsmani, adalah ijma' para ulama salaf, sejak masa sahabat.
Lalu baru pada abad 5 Hijriyah ada pendapat yg menyelisihinya, dipelopori oleh Al Baqilani, lalu pada abad selanjutnya ada yg mendukungnya, yaitu Izzuddin bin Abdissalam, lalu beberapa abad setelahnya ada lagi yg mendukung pendapat ini, meski banyak ulama yg mengatakan bahwa dia berpendapat pada sesuatu yang bukan bidangnya, yaitu Ibnu Khaldun.
Jadi menyandingkan dua pendapat itu sangat tidak layak, yang pertama adalah ijma', dan yang kedua adalah pendapat segelintir ulama muta-akhirin. Dikatakan segelintir karena lebih banyak yg tetap mengikuti pendapat pertama.
(At Tabyin fi Hija-it Tanzil).
Ahmad Nashiih: Bukankah Ibn Abdissalam kurunnya jauh di bawah Abu Dawud sang muallif al-Tabyiin, gih? Kok nama beliau bisa disebut?

Dhiya Muhammad: cma masalahnya kalau memang penulisan rosm utsmani itu ijma' apa ulama2 yg menyelisihi itu tdk tau mas? pdhl mereka hebat2 lo, al baqillani dan Ibn abdissalam. pdhl munkirul ijma' sendiri jg berat sanksine...https://static.xx.fbcdn.net/images/emoji.php/v9/f4c/1/16/1f642.png:-) pripun niku mas?

Ahmad Atho: Maaf, maksud saya kitab Mukhtasarut Tabyin fi Hija-it Tanzil.
Mengenai apakah beliau tidak tahu kalau menyalahi ijma', saya lebih suka mengomentari sebagaimana Sayyid Alawi bin Ahmad Assegaf dalam kitab Majmu'atu Sab'ati Kutubin Mufidah ketika mengomentari Ibnu Arabi, beliau berkata :
وإنما غايته أنه أخطأ في الاجتهاد وهو غير قادح في صاحبه إذ كل من العلماء مأخوذ من قوله ومردود عليه إلا المعصومين
Ahmad Nashiih: Versi al-Zarkasyi / Al-Suyuthi malah ada 3 pendapat soal keharusan mematuhi rasm. Saya pribadi memilih fair saja, ini masalah khilafiyah, karena itu kenyataannya.

ليس بعد الواقع مزيد بيان
Tp penjelasan d alburhan/manahilul irfan yg mengutip pendapat Ibn Abdissalam sedikit dikritisi oleh ahli ilmu rosm kontemporer dr Irak, Ghanim Qadduri al-Hamad dlm disertasinya; Rasm alMushaf; Dirasah Luqhawiyyah Tarikhiyyah. Bisa didownload.

Madrasah Ramadhan



Ramadhan tahun ini telah menyapa kita dengan belaian hari-harinya yang penuh dengan keindahan dan keberkahan. Dan tak terasa, ternyata sudah hampir setengah bulan lamanya kita berpuasa, menahan lapar dan dahaga di siang hari, dan tentunya melakukan aktifitas-aktifitas Ramadhan lainnya di malam Hari-nya, semisal Shalat Tarawih, Tadarus Al-Qur'an, Tahajjud, I'tikaf dan masih banyak praktek ibadah yang lain. Namun, yang masih menjadi pertanyaan dalam diri kita, apa sebenarnya "Puncak" dari amaliah Ramadhan yang ingin kita capai, sehingga setelah nanti Ramadhan beranjak berpisah, meninggalkan kita, kita masih merasakan sentuhan-sentuhan halus Ramadhan dalam relung-relung jiwa kita?
Memang benar, selama ini umumnya kita—walaupun tidak semua—memandang Bulan Suci Ramadhan hanya sebagai ajang untuk berlomba-lomba memasang topeng-topeng kesucian di depan manusia. Dan saat Ramadhan sudah usai, maka akan kelihatanlah betapa beringas dan menjijikkannya wajah-wajah asli yang bersembunyi di balik topeng-topeng suci itu. Kenapa semua itu terjadi? Menurut saya pribadi, semua itu terjadi tak lain karena kita tidak pernah memposisikan Ramadhan sebagai “Madrasah” guna mendidik Nafsu kita. Atau kalaupun ada yang menganggap Ramadhan sebagai “Madrasah”, itu pun hanya seperti sekolahan pada umumnya sekarang ini, yang hanya gila akan formalitas, tanpa mempertimbangkan esensi dari makna pendidikan itu sendiri. Sehingga yang ada hanya jasad tanpa nyawa, tubuh tanpa ruh dan jiwa.
Untuk mentahbiskan Ramadhan sebagai Madrasah yang sebenarnya, kita perlu mengetahui terlebih dahulu makna-makna yang tersembunyi di balik puasa di Bulan suci Romadhan ini. Dalam ayat Al-Qur'an Allah berfirman yang artinya:
"Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian semua untuk berpuasa, sebagaimana diwajibkan bagi orang-orang sebelum kalian. Supaya kalian bisa meraih ke-takwaan"
Dalam kesempatan singkat ini, saya ingin sedikit mengulas makna dari redaksi "Kama Kutiba 'Alalladzina Min Qoblikum. La'allakum Tattaquun". Dari teks ayat tersebut, bisa kita pahami bahwa puasa merupakan ibadah yang sebenarnya sudah pernah ada dan menjadi sebuah amaliah wajib bagi umat-umat terdahulu, sebelum umat Muhammad Saw. Ini menunjukkan antara lain, bahwa ajaran Islam itu mempunyai keterkaitan yang cukup erat, dengan ajaran-ajaran umat lainnya. Walaupun tentunya ada perbedaan-perbedaan krusial yang menjadi ciri khas masing-masing dari umat beragama dan Islam.
Syaikh Mutawalli Sya'rowi—seorang pakar Tafsir kontemporer dari Mesir—menjelaskan dalam Tafsir-nya bahwa Puasa merupakan sebuah metode pendidikan kemanusiaan yang ada dalam setiap agama, walaupun antara satu agama dan yang lain mempunyai perhitungan hari dan tatacara yang berbeda-beda. Almarhum Dr. Wahbah Zuhaili dalam tafsir Al-Munir menjelaskan bahwa puasa adalah ajaran yang disepakati oleh semua pemeluk agama. Bahkan agama pagan (penyembah berhala) pun sudah mengenal ajaran puasa ini.
Orang-orang—dari penuturan Syaikh Wahbah—Mesir kuno, Yunani, Ramawi dan India pada era dahulu pun sebenarnya sudah mengenal puasa. Dalam kitab perjanjian lama (Taurat) pun ditemukan pujian atas puasa dan orang-orang yang berpuasa, dan juga sudah bisa dipastikan bahwa Nabi Musa pun pernah berpuasa selama 40 hari lamanya. Sedangkan orang-orang Yahudi sekarang ini juga melakukan ritual puasa selama 1 minggu full, guna memperingati keruntuhan Yerussalem. Begitu juga dengan injil-injil modern sekarang ini yang memuji puasa dan menganggapnya sebagai sebuah ibadah terpuji. Dari sini bisa kita pahami, bahwa Ibadah puasa merupakan ajaran lintas generasi dan lintas agama yang kesemuanya mempunyai tujuan satu, yakni meraih ketakwaan.
Lalu, apakah dari pemaparan di atas bisa kita pahami kalau Islam dalam ajaran puasa ini telah “menjiplak” ajaran umat-umat terdahulu? Sebagaimana hal itu dituduhkan oleh sebagian kaum orientalis. Oh, menurut saya pribadi tidak bisa kita katakan demikian. Sebab pada dasarnya agama-agama yang hidup pada rumpun semitik itu adalah agama Islam, hanya saja mempunyai Syariat (undang-undang) yang berbeda antara satu dan yang lain, yang mana undang-undang tersebut berbeda karena adanya konteks dan kondisi yang berbeda pula. Disamping juga adanya distorsi (Tahrif) dalam sebagian ajaran agama-agama tersebut. Sebenarnya adanya sedikit kesamaan ajaran masing-masing agama itu semakin menguatkan kita, bahwa ajaran Islam adalah ajaran yang mempunyai sanad turun temurun semenjak Nabi-Nabi terdahulu, sehingga akhirnya sampai pada Nabi penutup, yakni Baginda Rasul Muhammad Saw. Mestinya pemahaman itu yang kita kembangkan, bukan malah menganggap bahwa ajaran Islam adalah jiplakan ajaran agama sebelumnya, tapi lebih tepatnya adalah ajaran yang menyempurnakan ajaran-ajaran Nabi sebelumnya. Nah, dari pemaparan singkat di atas sudah bisa kita ketahui bahwa puasa adalah “Madrasah” sepanjang masa bagi Nafsu hewani kita. Lalu apakah tujuan dari pendidikan Madrasah Ramadhan ini?
Tujuan utama dari Puasa—sebagaimana kebanyakan Ibadah pada umumnya—adalah sebagaimana diceritakan sendiri oleh Allah, yaitu "La'allakum Tattaquun" yang bisa kita artikan dengan "membentuk pribadi yang bertakwa". Dari redaksi potongan ayat terakhir ini, yang menggunakan susunan Jumlah Ismiyah—bukan Jumlah Fi'liyyah—bisa kita pahami bahwa takwa yang dimaksud itu tidaklah bersifat temporer, tapi lebih bersifat kontinue. Takwa tidak hanya pada bulan Ramadhan saja, tapi setelah Ramadhan pun, ketakwaan seseorang harus selalu menghiasi pola pikir, prilaku, tindak tanduk dan tentunya pola interaksi terhadap sesama manusia.
Lalu, apa itu takwa? Selama ini, kita memahami takwa sebagai upaya untuk melakukan setiap perintah dan menjauhi larangan Allah swt. Namun, menurut saya pribadi, gambaran takwa paling menarik adalah apa yang pernah dipaparkan oleh Sayyidina Ali Karramallahu wajhah saat beliau mengatakan: "Takwa pada hari ini adalah penjaga dan tameng, sedang pada esok hari, (takwa) adalah jalan menuju surga". Kenapa saya anggap paling menarik? Sebab disitu Sayyidina Ali lebih menekankan Takwa pada sisi ruhiyah, bukan jasmaniyah. Dan penggambaran ini sangat cocok sekali dengan esensi dari Puasa Ramadhan yang sedang kita lakukan sekarang ini.
Oke, untuk lebih memudahkan memahami keterkaitan antara esensi puasa Ramadhan dan pemaparan Takwa dari Imam Ali, saya akan sedikit memberikan contoh yang lebih riil. Dalam kehidupan sehari-hari, tentunya kita akan banyak menemukan hal-hal yang bisa dikatakan bertentangan dengan Syariat. Banyak kita temukan di luar sana orang-orang yang dengan bangganya melakukan maksiat, bahkan tak segan-segan memamerkan prilaku maksiat-nya itu, semisal mengkosumsi minuman beralkohol, berjudi, mengkonsumsi narkoba, para wanita yang berjalan tanpa menutup aurat dan masih banyak yang lain. Nah, melihat realitas yang demikian ini, kalau kita memaknai takwa dengan berusaha mengerjakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, berarti kita harus menghindari dan menjauhi semua orang yang melakukan prilaku maksiat tersebut, dan itu merupakan hal yang sangat sulit sekali tentunya. Bahkan kalau kita lihat realitas kehidupan sekarang ini yang sudah semakin penuh dengan trik dan intrik penipuan, mulai dari instansi pemerintahan, sampai masyarakat kecil, tentunya sebagai insan yang sedang meniti jalan ketakwaan akan mengalami kesulitan dalam kehidupannya. Hal ini jika ketakwaan kita artikan sebagai menghindari larangan Allah. Dan mungkin, pada akhirnya orang hanya akan menemukan ketakwaannya, jika dia hidup di pegunungan sana atau ada juga yang pada akhirnya bersikap ekstrim guna mengenyahkan kemaksiatan yang ada dihadapannya. Berat bukan?
Hal ini tentunya akan berbeda, jikalau kita mengikuti dan mengembangkan konsep ketakwaan ala Imam Ali Radhiyallahu 'Anhu, yang menyatakan bahwa Takwa adalah kekuatan rohani yang menjadi tameng dan perisai dalam diri seseorang. Takwa ala Imam Ali ini akan menjadikan seseorang kebal dalam menghadapi maksiat, sehingga seseorang akan bisa hidup dalam kondisi apapun dan berinteraksi dengan siapa pun, entah itu orang baik atau pun orang yang jelek, tanpa seorang muslim harus merasa khawatir akan terkontaminasi oleh perbuatan maksiat yang ada.
Takwa ala Imam Ali ini akan menjadikan seorang Muslim memiliki sikap sebagaimana ikan yg hidup di lautan yang luas. Air lautnya asin, tetapi ikan yang di dalamnya—selama masih hidup—tidak akan ikut terkontaminasi asin pula. Ikan itu bisa berenang kemanapun ia suka, tanpa harus menghindari satu kawasan ataupun daerah tertentu, sebab asinnya air laut tidak akan mempengaruhi dirinya sama sekali. Begitu juga dengan seseorang yang sudah berhias dengan ke-takwa-an Ala Imam Ali ini. Seorang Muslim bisa bebas berkumpul dan berinteraksi dengan siapapun, tanpa ia harus khawatir akan terkontaminasi oleh perbuatan maksiat yang tersebar dengan begitu bebasnya di sekitar masyarakat yang ada.
Dan kalau kita mau jujur, ketakwaan ala Imam Ali—sebagaimana tersebut di atas—itu benar-benar akan bisa terealisasikan saat seseorang bisa sukses dan lulus dalam Madrasah Ramadhan. Iya, puasa Ramadhan tak ubahnya sebuah “Madrasah” kelas elit dengan standar kompetensi-nya adalah menggapai Derajat Takwa. Sedang siswa-siswa madrasah Ramadhan tersebut adalah Nafsu-nafsu kita. Madrasah Ramadhan ini adalah sekolahan yang tidak hanya taraf  Nasional ataupun internasional, tetapi lebih dari itu semua, ia adalah madrasah dengan taraf kelayakan di Akhirat nanti. Sehingga Tidaklah sembarang orang yang benar-benar siap untuk berkompetensi dan untuk selanjutnya sukses melewati Madrasah Romadhan ini, bahkan dalam Al-Qur'an pun yang di Khithobi oleh Allah hanyalah orang-orang yang beriman (dan tentunya sudah tidak asing lagi bagi kita, apa dan bagaimana perbedaan orang yang masih dalam taraf Islam saja, dengan orang yang sudah bertitle Iman).
Dalam Madrasah Ramadhan ini, seorang muslim benar-benar diajak oleh Allah swt guna meningkatkan kadar ketakwaannya. Yang selama ini takwa hanya sebatas menghindari hal-hal yang dilarang oleh Allah, sekarang ia harus beranjak membangun perisai dan benteng ruhaniyah dalam dirinya sendiri. Sehingga saat dia berpuasa, dia tidak mudah tergoda oleh berbagai macam larangan-larangan agama. Dia tidak akan mudah ngiler saat melihat temannya yang berlainan agama menyantap makanan dengan enaknya, sebagaimana ia tidak akan seperti anak kecil yang sedang latihan puasa, lalu merengek minta dibelikan es krim saat melihat adiknya menyantap es krim. Tidak sama sekali.
Puasa adalah sebuah ibadah yang betul-betul rahasia, sehingga yang tau hanyalah diri hamba itu sendiri dan Allah. Oleh karenanya, pembangunan perisai dan benteng takwa rohani pun sangatlah cocok dengan puasa ini. Karenanya, mari kita benar-benar manfaatkan puasa ini tidak hanya dengan sekedar menahan lapar dan haus, tapi lebih dari itu, adalah dengan terus menerus belajar mendalami ajaran Islam yang indah ini secara lebih lagi, kemudian mengamalkan semampunya sebagai ajang penyucian hati kita.
Dan pada akhirnya, saat nanti Idul Fitri datang, kita memang benar-benar layak untuk disebut sebagai wisudawan Ramadhan yang sukses dalam mendidik Nafsunya. Tidak hanya sekedar wisudawan abal-abal yang sekarang marak di dunia pendidikan kita, sudah memegang ijazah, tapi kualitasnya nol puthul. Dan tentunya kita sebagai siswa-siswa Madrasah Ramadhan tidak menginginkan hal yang demikian. Bukankah begitu kawan? Wallahu A'lam bis Showab.

AKHLAK KARIMAH

Written By diya al-haq on Monday, February 13, 2017 | 8:20 PM


Kalau kau bertanya kepadaku:
"Apa itu Akhlak Karimah?",
Maka perhatikan dan lihatlah Imam Abu Ishaq As-Shirazy berikut ini.

**1**
Suatu hari Imam Abu Ishaq As-Shirazy--salah seorang Ahli Fiqh kenamaan dalam Madzhab Syafi'i, penulis kitab al-Muhadzab, al-Luma' dan masih banyak yang lain--memanggil salah satu santrinya dan berkata:

"Nak, aku mewakilkan kepadamu untuk membelikan aku sepotong roti dan sebungkus minyak zaitun, dengan mangkok ini sebagai alat pembayarannya", sambil beliau memberikan sebuah mangkok kepada salah satu santrinya.

"Nanti, setelah membeli, letakkan roti dan zait itu pada mangkok yang ini", beliau kembali memberikan mangkok yang hampir sama dengan mangkuk yang pertama.

Berangkatlah kang santri guna menjalankan titah sang guru membeli roti dan minyak zait. Namun, ditengah jalan kang santri ini lupa dan ragu, tadi mangkok manakah yang dijadikan sebagai alat bayar, dan mangkok mana yang dijadikan sebagai tempat roti dan minyak zait. Tapi kan sama saja, semuanya adalah mangkok milik gurunya. Tanpa pikir panjang, kang santri pun membelikan roti dan minyak dari salah satu mangkok yang ada di tangannya, dan bergegas pulang. Roti dan minyak Zaitun ia serahkan kepada sang guru, namun keraguan masih menyelinap di sela-sela kalbunya, dengan rada gemetar ia berkata kepada sang guru:

"Syaikh, Maaf, tadi saya sebenarnya ragu dan lupa, mangkok manakah yang seharusnya digunakan untuk membeli dan mangkok manakah yang digunakan sebagai tempat/wadah"

Mendengar penuturan santrinya tersebut, Syaikh Abu Ishaq pun meletakkan roti dan minyak Zaitun yang sudah berada di tangan beliau. Tangan Beliau tidak lagi menyentuh roti maupun minyat Zaitun tersebut, beliau berkata:

لا أدري اشترى الذي وكلته أم بالأخرى

"Aku tidak tahu, apakah dia membeli dengan apa yang aku wakilkan kepadanya atau dengan yang lain"

Note:
1.    Dalam Bab Wakalah. seorang wakil (yang dipasrahi) yang sudah mendapatkan mandat dari Muwakkil (orang yang memasrahkan) dengan sesuatu yang tertentu, maka dia harus mengikuti apa yang menjadi syarat Muwakkil, kalau tidak maka tidak sah. Kalau tidak sah, Hasilnya pun juga haram. Dalam Fiqh dikatakan:

والوكيل أمين فيما يقبضه وفيما يصرفه وإن قيد بشيء، اتبع
"Seorang wakil adalah orang yang amanat terhadap apa yang dia terima dan apa yang dia belanjakan. jikalau wakalah di tentukan dengan sesuatu (oleh Muwakkil), maka harus diikuti"
2.    Imam Abu Ishaq sudah sangat paham bahwa akad yang tidak sah sesuai Syariat, maka hasilnya pun juga haram. Bisa saja beliau berkelit denga kaidah "keyakinan tidak bisa dikalahkan dengan keraguan", karena memang kenyataannya sang murid lupa, tetapi beliau memilih wara', dengan tidak mau menyentuh sama sekali roti dan zaitun tersebut.

**2***

Pernah dalam satu waktu, Syaikh Abu Ishaq sedang berjalan bersama dengan santri-santri beliau menyusuri lorong-lorong kawasan Iraq. Tiba-tiba datanglah seekor anjing yang menghalangi perjalan mereka. Dengan keras dan penuh amarah, salah satu muridnya membentak-bentak anjing tersebut, mengusirnya dan bahkan hampir saja melemparinya dengan batu. Sambil mengumpat-umpat:

 "Hewan najis, huss".

Mendengar hal itu, Syaikh Abu Ishaq marah, beliau menyuruh salah satu muridnya tersebut untuk diam dan tidak boleh mengusir apalagi membentak-bentak anjing tersebut. Dengan sedikit marah beliau berkata:

لم طردته عن الطريق أما علمت أن الطريق بيني وبينه مشترك

"Kenapa engkau mengusirnya dari jalan ini. Apakah engkau tidak tahu bahwasanya jalan ini milik umum, sehingga aku dan anjing tersebut memiliki hal yang sama (Musytarok)"

note:
1.    Anjing memang Najis dalam madzhab Syafi'i, tetapi bukan berarti kita boleh mencaci maki, melemparinya dengan batu, mengusir atau mengumpatnya. Kita sendiri sering salah dalam menilai, banyak dari kita yang langsung menilai jikalau seseorang memiliki anjing, maka dia langsung dinilai sebagai non muslim, ini adalah penilaian dan persepsi yang salah kaprah, dan harus diluruskan.
2.    Di sini seorang Imam Abu Ishaq pun memberikan segala sesuatu sesuai pada haknya. Inilah sikap adil. Anjing yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan masalah hukum syariat, kecuali dia sebagai salah satu objek hukum, tapi beliau tetap memberikan hak pada anjing itu untuk lewat di jalan Umum yang memang bukan hak beliau.
Powered by Blogger.
Advertise 650 x 90
 
Copyright © 2014. Anjangsana Suci Santri - All Rights Reserved | Template - Maskolis | Modifikasi by - Leony Li
Proudly powered by Blogger