Advertise 728x90

Latest Post

Sang FAQIH dari SARANG

Written By diya al-haq on Saturday, November 11, 2017 | 3:45 PM



Malam itu, suasana kota Sarang sudah nampak lengang dan sepi, tidak seperti biasanya yang diramaikan oleh suara diskusi ataupun lalaran Muhafadzoh kang-kang Santri seperti biasanya. Dan memang wajar sepi, sebab malam itu adalah malam pertama liburan Mulud atau liburan tengah tahun yang sudah menjadi kebiasaan di Pondok-pondok pada Umumnya. Tapi aku pribadi nampaknya tidak ingin langsung pulang, tapi pengen maen ke rumah temen di Ndawe, Kudus. Tepatnya di rumah neneknya Shobiburrohman Nawawi.
Karena aku mondok di al-Anwar, sedang Shobib di MUS, akhirnya aku pun beranjak menjemput dia di MUS, nanti kita akan naik bis bersama dari gerbang pondok. Memasuki pelataran pondok MUS, hanya suasana lengang dan sepi yang aku temukan. Di tambah lagi gelap banget, ya maklum lah, sudah jam 10 malam. Apa lagi saat itu waktu liburan, jadi benar-benar gelap. Aku berjalan menyusuri setiap inci halaman pondok MUS, tapi sayang, aku tidak tahu di mana kamar kang Shobib. Akhirnya aku mencari-cari kang santri, siapa tahu ada yang masih tersisa di pondok. Alhamdulillah, di pojok Musholla pondok, nampak sosok dengan kaos oblong, peci putih dan terlihat nyala rokok yang sesekali memerah. Aku pun mendekati sosok tersebut:
"Kang, kamare Kang Shobib pundhi nggih?", tanyaku pada sosok dalam temaram gelap tersebut.
"Oh, Shobib Sumatra? Al-Hambran atas. Goleki ae", jawab beliau dengan singkat.
"Suwun",
Aku pun nglonyor sambil menenteng sendal jepit lusuhku menuju ke kamar al-Hambran atas. Dan akhirnya ketemu dengan kang Shobib. Turun bareng-bareng menuju jalan, dan kembali berpapasan dengan sosok dalam temaram gelap tersebut. Tapi kali ini aneh, kang Shobib menghampiri sosok tersebut, merunduk ta'dhim dan mencium tangan beliau. Hatiku mulai bertanya-tanya tentang sosok tersebut. Setelah Shobib menemuiku, aku pun bertanya:
"Kang, kui mau sopo tho?"
"Lhoh, gak ruh tah sampean, niku wau Mbah Said", jawab Shobib sambil cengengesan.
Deg, hatiku pun kalut, aku berbalik dan mendatangi sosok misterius tadi, aku salim dengan beliau, aku cium tangan beliau yang ternyata adalah KH. Said Abdurrahim. Ya, begitulah aku pertama kali mengenal dan secara langsung melihat pasuryan mulia beliau.
Beliau adalah sosok dengan tubuh yang tegap, gagah dan pandangan mata yang tajam menunjukkan kedisiplinan dan kesungguhan beliau dalam segala hal. Sosok "Faqih" yang lebih memilih banyak diam, akan tetapi berbicara melalui karya-karya ilmiah yang lahir dari tangan dingin beliau. Sebut saja kitab "Hilyatut Thullab fi Syarhi Mathlab", "Kifayatul Ashab fi Syarhi Nadzmi Asybah Wan Nadzoir", "I'lamul Munadzimin", "Kasyaf Isthilahatil Fuqoha'" dan masih banyak yang lain.
Berbicara tentang kepakaran beliau dalam "Fiqh", bisa dilihat saat dulu kami belajar kitab Qowaid "Asybah Nadzoir" di MGS. Beliau kalau mengajar itu yang membacakan adalah santri, dan seingatku yang membaca waktu itu adalah Gus Ahmad Syarifuddin Hidayatulloh Misbah (Gus Dayat). Seperti biasa, setelah masuk ruang auditorium, beliau menyuruh santri untuk membaca, beliau mendengarkan sementara kami sibuk memberikan absahan makna. Tetiba beliau keluar ruangan, dan bacaan pun terus berjalan. Satu lempir terlewati, dua, tiga, empat dan seterusnya, hingga berlempir-lempir halaman terlewati. Tapi Yai Said belum juga datang kembali. Sebagian santri sudah mulai ramai, yah begitulah kang santri kalau ditinggal Kiai keluar sebentar saja sudah ramai. Saat sedang ramai-ramainya, tetiba Yai Said masuk. Tanpa Ba Bi Bu, beliau nampak mendengarkan sedikit bacaan Gus Dayat, akhirnya halaman perhalaman kitab "Asybah" sudah beliau buka. Dan tetiba beliau ngethok-ngethok meja:
"Heem...hem",
Deheman beliau ini menunjukkan ada yang salah pada bacaan Gus Dayat, yang akhirnya diulang bacaan yang salah tadi. Adegan tersebut tadi adalah pemandangan yang luar biasa bagi santri-santri seperti kami. Yang mana menunjukkan penguasaan yang luar biasa dari Kiai Said terhadap kitab "Asybah". Dan perlu di catat, kitab "Asybah" yang beliau bawa adalah fotocopyan dari "Asybah" almarhum Kiai Sahal Mahfudz yang sudah ada Ta'liqot (catatan kaki) beliau saat dahulu ngaji pada Kiai Zubair Dahlan, ayahanda Kiai Maemoen.
Kiai Said bukanlah hanya sosok Kiai yang "Faqih", tapi juga sosok yang selalu mengikuti perkembngan zaman, untuk kemudian merespon dengan melahirkan karya ilmiah. Dulu kala saat sedang ramai-ramainya media memberitakan perceraian Ahmad Dani dan Maiya, lalu berlanjut pada saling berebut hak asuh anak, Kiai Said pun juga merespon isu tersebut dengan menulis sebuah kitab dengan judul "Tsamrotul Fuad Fi Hadhonatil Awlaad". Saat rame isu larangan memilih presiden Wanita—yang pada waktu itu adalah Ibu Megawati berpasangan dengan al-marhum KH. Hasyim Muzadi—maka beliau menulis buku dengan judul "al-Intikhob al-'Aam".
Sikap beliau yang selalu merespon kondisi aktual bangsa ini tidaklah mengherankan, sebab beliau selalu mengikuti perkembangan dunia melalui membaca koran, yang memang internet waktu itu tidaklah seperti sekarang ini. Salah satu cerita dari temen, Yusuf Zakaria namanya. Dia pernah sowan bersama dengan pamannya, dan di persilahkan masuk ke kamar pribadi beliau. Ternyata apa yang dilihat di kamar beliau? Tak lain hanyalah kasur tipis yang di atasnya sudah terdapat tumpukan kitab, sebagian terbuka, dan koran yang juga berada di samping beliau. Nampak baru saja di baca. Sangat amat sederhana sekali pemandangan tersebut, yang kesemuanya menunjukkan kecintaan beliau pada ilmu.
Inilah yang sedikit yang aku kenal dari sosok Faqih Sarang, Syaikhuna Said Abdurrahim, Sarang. Mungkin temen-temen saya yang pernah menjadi orang dekat beliau punya cerita lebih banyak lagi. Semisal mas Ahmad Atho Katib beliau, Jamal Lutfi, Patih Muhammad Zaim, dan lain sebagainya.
Semoga bisa meneladani.



 
Powered by Blogger.
Advertise 650 x 90
 
Copyright © 2014. Anjangsana Suci Santri - All Rights Reserved | Template - Maskolis | Modifikasi by - Leony Li
Proudly powered by Blogger