Advertise 728x90

Latest Post

BERIMANKAH KEDUA ORANG TUA NABI? (1)

Written By diya al-haq on Sunday, May 22, 2016 | 6:38 AM



Seperti biasanya, setiap malam kamis ba’da-l-Isya’, ada pengajian kitab hadis Riyadhus Sholihin di Musholla Darussalam Nusantara yang diampu oleh Kang Shodrun dan diikuti oleh beberapa warga sekitar Musholla. Ada pak Ghufron—selaku salah satu Imam di Musholla—Pak Jumali dan kedua anaknya, lalu Mas Daru, Mas Udin dan beberapa warga lainnya. Satu persatu hadis dalam kitab Riyadhus Sholihin dibacakan dan di Murodi oleh Kang Shodrun dengan lancar, seperti halnya dulu saat dia ngaji di pesantren. Dan pada pukul 08.30 wib, pengajian telah selesai untuk kemudian memasuki seaseon santai-santai sambil tanya-jawab.
            Mas Daru mengambil seceret teh hangat dan beberapa gelas yang telah disediakan oleh Mbok Yah di serambi musholla. Memang Mbok Yah ini sangat luar biasa, beliau adalah sosok yang selalu ikhlas memberikan suguhan kepada jama’ah pengajian di Musholla peninggalan suaminya tersebut, baik berupa teh hangat atau pun cemilan-cemilan seadanya. Teh dituangkan ke dalam gelas, lalu disuguhkan kepada masing-masing jam’ah, termasuk juga Kang Shodrun sebagai pengampu ngaji hadis tersebut. setelah menyeruput teh hangat, Pak Ghufron berdehem-dehem “ehem..ehem” lalu dengan suara agak parau beliau berkata: 

Ngapunten Kang, saya mau bertanya tentang masalah yang keluar dari tema pembahasan kita tadi, boleh kan?”

            “Oh iya, monggo, silahkan Pak Ghufran”, jawaban dari Kang Shodrun. 

“Begini Kang, kemarin saat saya di Semarang mengirim cet ke sebagian daerah, saya istirahat di sebuah masjid untuk sekedar melakukan sholat dzuhur dan melepas lelah. Setelah sholat, saya leyeh-leyeh sebentar di serambi masjid sambil menikmati tiupan angin yang semilir. Baru saja saya mau merem, tiba-tiba saya dikagetkan oleh pengajian yang akan di gelar dalam masjid. Karena tertarik, saya pun mencoba ikut mendengarkan barang sebentar, siapa tahu dapat ilmu. Di samping waktunya juga masih lumayan lama. Singkat cerita saya mengikuti pengajian di situ, yang ternyata adalah ngaji hadis, seperti di musholla kita ini. Cuma yang mengganjal di hati saya adalah keterangan dari Ustadz pengampu pengajian tersebut yang menjelaskan bahwa kedua orang tua baginda Nabi Muhammad SAAW itu wafat dalam kondisi tidak beriman. Nah, kalau ndak salah, si Ustadz itu mendasarkan pendapat beliau pada sebuah hadis yang diriwayatkan oleh ahli hadis, siapa gitu saya lupa. Maklum kang, kan saya orang awam. Lha pertanyaan saya, apakah yang di katakan oleh Ustadz tadi itu benar Kang? Kan selama ini kita melakukan puji-pujian di musholla seringkali memuji-muji orang tua kanjeng Nabi, la ini kok ternyata katanya nggak beriman, trus pripun niku kang?”

            Kang shodrun sedikit terkaget dengan pertanyaan Pak Ghufron ini, sebab pertanyaan tersebut membutuhkan jawaban yang ilmiah dan panjang. Tapi kalau tidak dijawab pun akan berbahaya, sebab bisa-bisa nanti pak Ghufron meragukan keabsahab amaliah yang selama ini sudah berjalan di desa dan musholla bertahun-tahun. Seperti puji-pujian sebelum sholat yang di antaranya adalah memuji ayah dan bunda baginda Rasulullah saaw, semisal pujian: “Engkang romo asmane Sayyid Abdullah, engkang ibu asmane Siti Aminah”. Akhirnya dengan berbekal keilmuan yang seadanya, Kang Shodrun pun berusaha menjawab dengan detil dan ilmiah.

Ngetên pak Ghufron—dan saya mohon yang lain juga memperhatikan—bahwa sebenarnya memang ada hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Jami’ Shohih-nya yang memberikan kesan seolah-olah kedua orang tua baginda Nabi itu wafat dalam kondisi tidak beriman. Bunyi hadis tersebut adalah berikut:

صحيح مسلم - (ج 2 / ص 122)
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِى شَيْبَةَ حَدَّثَنَا عَفَّانُ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَجُلاً قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيْنَ أَبِى قَالَ « فِى النَّارِ ». فَلَمَّا قَفَّى دَعَاهُ فَقَالَ « إِنَّ أَبِى وَأَبَاكَ فِى النَّارِ ».

Inti dari hadis di atas, baginda Nabi menjawab pertanyaan seorang sahabat yang ayahnya berada di neraka, bahwa ayah beliau dan sahabat itu sama-sama berada di neraka...”
Tiba-tiba pak Ghufron nylonong memotong keterangan kang shodrun dengan pertanyaan lagi: 

“Wah kalau gitu, benêr apa yang di katakan oleh ustadz tadi, Kang?”

“Sabar dulu pak Ron, dengarkan dulu penjelasan saya, ini panjang lho penjelasannya. Sampean harus sabar ya...”, jawab Kang Shodrun sambil ketawa. 

“Oh iya, iya kang”

“Begini pak, tidak semua hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam shohih-nya itu lantas disepakati ke-shohih-annya oleh semua huffaadz, seperti halnya hadis yang saya bacakan di atas. Banyak ulama-ulama Huffadz (pakar hadis yang berhak memberikan hukum shohih/tidaknya sebuah hadis) yang mengkritik keshohihan hadis di atas. Baik dari sisi Matnu-l-Hadis, maupun mata rantai Sanad-nya. Oke, saya akan menjelaskan dengan detil dan mudah, tolong di perhatikan ya. Untuk menghukumi sebuah hadis itu shohih atau tidak, ada 2 sisi yang harus di perhatikan, yakni Sanad dan Matn. Lalu bagaimana dengan hadis di atas?

Sanad.

al-Imam al-Hafidz Jalaluddin As-Suyuthi dalam kitab At-Ta’dzim Wal Minnah menyatakan bahwa hadis riwayat muslim tersebut di atas ada 2 ‘illat. ‘Illat yang terdapat pada sisi sanad adalah diriwayatkannya hadis di atas dari Hammad bin Salamah dari jalur Tsabit Bin Anas. Dalam risalah kecil di atas, As-Suyuthi mengatakan[1]:

فصل: ظهر لي في حديث (إن أبي وأباك في النار) علتان إحداهما من حيث الإسناد وذلك أن الحديث أخرجه مسلم وأبو داود من طريق حماد بن سلمة عن ثابت بن أنس—إلى قوله—وهذا الحديث تفرد به مسلم عن البخاري وفي أفراد مسلم أحاديث متكلم فيها ولا شك أن يكون هذا منها

Fashl: nampak jelas bagiku bahwa hadis dalam (إن أبي وأباك في النار) terdapat 2 ‘illat. Pertama dari sisi sanad. Yakni bahwa hadis itu di riwayatkan oleh Muslim dan Abu dawud melalui jalur Hammad Bin Salamah dari Tsabit Bin Anas—sampai ucapan beliau—hadis ini adalah hadis ghorib yang hanya diriwayatkan oleh Muslim saja, tidak (bersamaan dengan) al-Bukhori. Dan dalam hadis-hadis yang hanya di riwayatkan (Afrod) oleh muslim saja, terdapat banyak hadis yang perlu di kritik (Mutakallam Fih). Dan tidak perlu di ragukan lagi, bahwa hadis di atas masuk ke dalam hadis yang perlu di kritik itu

Lalu beliau melanjutkan lagi dengan mengatakan bahwa:

أما أولا فثابت وإن كان إماما ثقة فقد ذكره ابن عدي في كامله في الضعفاء وقال إنه وقع في أحاديثه نكرة وذلك من الرواة عنه فإنه روى عنه الضعفاء. وأورده الذهبي في الميزان. وأما ثانيا فحماد بن سلمة وإن كان إماما عابدا عالما فقد تكلم جماعة في روايته وسكت البخاري عنه فلم يخرج له شيئا في صحيحه

Yang pertama adalah Tsabit. Walaupun beliau adalah seorang imam dengan predikat Tsiqqoh (bisa di percaya), tetapi Ibnu ‘Ady menyebutkan dalam kitab al-Kamil bahwa beliau masuk dalam kategori orang-orang yang lemah (Dhu’afa’), dan Ibnu ‘Ady mengatakan bahwa dalam hadis-hadis tsabit terdapat kemunkaran. Semua itu terjadi karena orang-orang yang meriwayatkan dari beliau. Ad-dzahabi juga memasukkan tsabit dalam kitab al-Mizan. Adapun yang kedua, adalah hammad bin salamah. Walaupun beliau adalah seorang imam yang ahli ibadah nan alim, tetapi sekelompok ulama hadis telah mengkritik riwayat beliau. Sedang Imam Bukhori sendiri diam tentang beliau dan tidak meriwayatkan satu hadis pun dari beliau dalam shohih-nya

Dari pemaparan As-Suyuthi yang kedua, bisa kita tarik kesimpulan bahwa:
1 1. Tsabit bin Anas masuk kateori orang yang lemah (Dhaif), walaupun dalam hal kesalehan, beliau adalah orang yang amanah dan dapat di percaya.
22.   Banyak hadis-hadis munkar yang di nisbatkan kepada Tsabit. Semua itu terjadi sebab murid-murid Tsabit adalah orang-orang yang lemah juga (Dhu’afa’).
33. Begitu juga dengan Hammad. Yang menjadi permasalahan bukanlah amanah dan tsiqqah-nya, tetapi adalah Dhobtur-Rawi (kemampuan rawi dalam menghapal teks-teks hadis beserta dengan Rijal-nya) sampai-sampai al-Bukhori tidak memasukkan menerima riwayatnya dalam kitab shohih-nya. Guna lebih detil lagi dalam memahami posisi Hammad bin Salamah ini, kita bisa baca juga keterangan Al-Imam ad-dzahabi berikut ini:

حماد ثقة له أوهام وله مناكير كثيرة وكان لايحفظ فكانوا يقولون إنها دست في كتبه—إلى قوله—فبان بهذا أن الحديث المتنازع فيه لابدع أن يكون منكرا وقد وصفت أحاديث كثيرة في مسلم بأنها منكرة

Hammad adalah seorang yang dapat di percaya, tetapi banyak terjadi dugaan-dugaan (auham) dalam riwayatnya. Dia juga banyak meriwayatkan hadis-hadis yang munkar. Dia bukanlah seorang penghapal. Ada banyak ulama yang mengatakan bahwa kitab-kitab beliau banyak mengalami distorsi—sampai pada ucapan Dzahabi—maka jelas sudah dari sini bahwa hadis yang dipertentangkan tidak ada keraguan lagi itu adalah hadis yang munkar. Banyak dari hadis-hadis riwayat Muslim yang mendapatkan masuk klasifikasi hadis munkar

Juga penjelasan dari Sayyid Ahmad As-Sayyih Al-Husaini menjelaskan dalam kitab beliau yang berjudul “Nasyru-l-A’thor Wa Natsru-l-Azhar Fi Najati Aba-in Nabiyyi-l-Ath-har”, beliau mengatakan:

وعند العلماء أن معمرا أثبت من حماد لأن حمادا في أحاديثه مناكير شتى وقد تكلم علماء الرجال في حفظه فهو مجروح متهم ولم يخرج له البخاري ومسلم في الأصول إلا من روايته عن ثابت

menurut para ulama, Ma’mar lebih kuat dari pada Hammad, sebab dalam beberapa riwayat Hammad terdapat banyak kemunkaran yang bermacam-macam. Para ulama-ulama Rijal telah mengkritik hapalan beliau. Maka beliau adalah seorang yang majruh (sudah terkoyak validitasnya) dan muttaham (perlu di curigai). Imam Bukhori dan Imam Muslim pun tidak meriyawatkan dari Hammad dalam hadis-hadis pokok mereka, kecuali saat hammad meriwayatkan dari tsabit

Tiba-tiba pak Jumali yang dari tadi diam mengangkat tangan, intruksi:

“Kang, tambah mumet saya mendengarkan pemaparan njenengan yang luas dan mbulet itu. Udah, langsung saja pada intinya, jadi gimana tentang sanad hadis riwayat muslim tadi?”

“Ha ha ha..iya, iya pak Jumali. Maaf, ini karena saya nuruti keinginan pak Ghufron. Intinya hadis riwayat Muslim di atas itu secara sanad adalah hadis yang Dhoif alias lemah, sebab hadis tersebut di riwayatkan melalui jalur Hammad bin Salamah dari Tsabit bin Anas, yang mana kedua perowi tersebut itu telah dihukumi lemah oleh para Huffadz yang pakar dalam bidang Hadis. Hadis yang secara mata rantai Sanad-nya lemah, maka hadis tersebut pun juga lemah hukumnya. Nah, menggunakan hadis yang lemah, itu hanya diperbolehkan oleh para ulama dalam Fadhailu-l-A’mal saja, bukan dalam masalah hukum atau pun akidah. Sedang masalah keislaman kedua orang tua Nabi—menurut saya pribadi—itu sudah masuk dalam ranah yang mendekati akidah. Jadi kita tidak boleh menggunakan hadis tersebut di atas sebagai pijakan menarik kesimpulan. Terlebih lagi jikalau hadis tersebut bertentangan dengan teks-teks al-Qur’an”

“Terus kalau dari sisi matn-nya hadis tersebut bagaimana, Kang?”, tanya pak Ghufron yang kelihatan masih semangat sendiri, jika di banding dengan yang lain.

Sambil melirik jam yang sudah menunjukkan pukul 09.30 wib, Kang Shodrun berkata:

“Ya silahkan, terserah jama’ah, apa mau di lanjut sekarang atau besok malam sabtu saja, sebab ini sudah melebihi kebiasaannya. Sudah mulai larut malam. Silahkan gimana jama’ah?”

“Malam sabtu saja Kang Shodrun, sudah lelah, besok masih harus kerja juga”, jawaban serempak dari jama’ah. 

Akhirnya pengajian malam kamisan itu pun di tutup dengan untaian doa yang melangit oleh Pak Ghufron selaku sesepuh dan Imam Musholla. Wallahu A’lam []

[1] Perhatikan bagian-bagian ungkapan yang saya garis bawahi. Karena di situlah titik pembahasan utama.

Syaikh Thoha Hubaisyi Al-Azhary



Universitas Al-Azhar, Mesir, merupakan salah satu corong keilmuan Islam Moderat paling kuno di dunia ini. Sudah banyak ulama-ulama terkemuka dan para Imam yang lahir dari rahim Universitas tua ini. Sebut saja al-Imam Ibrahim Al-Baijuri, salah satu ulama yang merupakan seorang penulis produktif. Banyak karya-karya ilmiah lahir di tangan dingin beliau, salah satunya adalah Hasyiah paling populer atas kitab Matn Taqrib. Ada juga Syaikh Ibnu Hajar al-Haitamy yang menjadi salah satu imam besar dalam madzhab Syafi’i. Syaikh Abdullah As-Syarqawy, al-Imam Jalaluddin As-Suyuthi dan masih banyak lagi yang lain. Nama-nama tersebut tentunya tidaklah asing di telinga para santri Nusantara ini. Apalagi kitab-kitab karya ulama tersebut masih banyak dikaji dan dijadikan rujukan dalam mengkaji pelbagi problematika kontemporer.
Eksistensi al-Azhar sampai sekarang masih sangat di perhitungkan, terlebih lagi dalam kancah ilmiah. Tidak sedikit dari ulama al-Azhar di era modern ini yang masih produktif dalam menulis karya-karya ilmiah. Dan yang saya tangkap, karya-karya ulama Al-Azhar era modern ini pada umumnya bukanlah hanya sekedar pengulangan atau pun resume terhadap karya-karya ulama sebelumnya, tapi banyak analisa-analisa jeli nan teliti yang menghiasi karya-karya tersebut, di tambah lagi dengan kritik-kritik ilmiah atas pemikiran-pemikiran ulama masa lalu, yang tentunya kritikan tersebut tidak hanya berdasarkan fakta-fakta ilmiah, tapi juga metodologi analisa yang tajam.
Salah satu ulama al-Azhar di era modern ini adalah Syaikh Thoha Hubaisyi Hafidzahullah Ta’la. Siapakah beliau ini? Jujur saja, saya bukanlah seorang al-Azhary—dalam arti santri/mahasiswa yang mencicipi belajar langsung di ruwaq atau pun bangku kuliah al-Azhar—dan saya pun tidak begitu mengenal siapa beliau sebenarnya. Pertama kali saya mendengar nama beliau adalah saat rame-ramenya  pro-kontra berkenaan masalah bacaan al-Qur’an dengan Langgam Jawa. Kalau tidak salah, dulu teman-teman mahasiswa al-Azhar bertanya kepada beliau berkenaan hukum membaca al-Qur’an dengan Langgam Jawa, dan jawaban beliau adalah boleh. Setelah beberapa saat kemudian, orang-orang FPI yang ada di Mesir pun mengklarifikasi fatwa ini kepada beliau langsung, tetapi hukumnya berubah. Wallahu A’lam sebenarnya bagaimana, saya tidak akan membahas di sini. Hanya saja, semenjak itu saya menjadi penasaran, siapakah sebenarnya sosok Syaikh Thoha Hubaisyi ini?
Sampai di sini saya kebingungan, tidak tahu kepada siapa saya harus bertanya dan menggali informasi tentang beliau. Tiba-tiba ada inbok masuk, dan ternyata adalah dari Ahmad Ali Ibrahim, salah satu adek kelas saya di pondok dahulu yang sekarang sedang belajar di al-Azhar, Mesir. Dia bertanya ini itu, tentang kabar lah, tentang kunjungan Syaikh Ahmad At-Thayyib dan masih banyak yang lain. Nah, saya pun berfikir, “Kenapa tidak mengorek informasi tentang Syaikh Thoha Hubaisyi dari salah satu santri al-Azhar saja? Kan lebih valid”. Akhirnya saya pun bertanya kepada Gus Iib—panggilan akrab Ahmad Ali Ibrahim tadi—tentang guru-guru besar di al-Azhar sana. Dan ndelalah, dia kok bercerita tentang Syaikh Thoha Hubaisyi ini, ya klop jadinya.
Memang tidak banyak yang di ceritakan oleh Gus Iib kepadaku berkenaan Syaikh Thoha Hubaisyi ini, namun cerita Gus Iib ini sudah cukup memberikan gambaran kepada saya, siapakah sosok Syaikh Hubaisyi ini. Menurut cerita Gus Iib, Syaikh Hubaisyi merupakan sesosok ulama yang buta kedua matanya, akan tetapi melek mata batinnya. Buktinya adalah banyaknya karya-karya ilmiah yang lahir dari pemikiran beliau yang jenius dan luar biasa. Di antaranya adalah buku berjudul “At-Tayyarat Wa-L-Madzahib Al-Mu’ashirah: Tahlil Wa Rudud” yang jika kita lihat dari judulnya (maklum belum punya kitabnya), buku ini berisi tentang pemikiran-pemikiran dan kelompok-kelompok di era modern ini. Beliau tidak hanya menyebutkan apa saja pemikiran tersebut, tetapi juga melakukan analisa (Tahlil) dengan mendalam, untuk kemudian kalau ada yang tidak sesuai, maka beliau akan melakukan kritikan (Rudud) atas pemikiran ataupun madzhab tersebut. Ada juga buku yang berjudul “Al-Akhlaq Fi Itharin-Nadzrah At-Tathowwuriyah”, yang jika kita perhatikan dari judulnya—dan sekali lagi saya belum punya bukunya—buku ini memperbincangkan masalah akhlak yang di analisa dengan kacamata perkembangan era mutakhir ini. Wallahu A’lam, saya kurang tahu secara persis, apa sebenarnya isi buku tersebut. dan masih banyak lagi karya-karya beliau lainnya, yang waktu itu tidak disebutkan oleh Gus Iib kepada saya.
Kondisi fisik Syaikh Thoha Hubaisyi yang buta ini, tetapi beliau masih bisa menghasilkan karya-karya ilmiah dengan bobot yang tinggi pula, mengingatkan saya pada sosok-sosok ulama salaf dulu yang juga buta dan banyak menghasilkan karya ilmiah. Contoh kecil adalah al-Imam As-Sayyid Abdullah Bin Alawi Al-Haddad yang tentunya sudah tidak asing lagi di telinga kita. Al-haddad sudah buta semenjak beliau masih kecil, namun kebutaan itu tidaklah lantas menyurutkan niat dan semangatnya untuk belajar dan belajar, sehingga akhirnya beliau mencapai derajat Alimiyyah. Banyak karya-karya ilmiah lahir dari mata batin beliau yang ‘melek’, sebagaimana Syaikh Hubaisyi tadi. Ya, Allah masih menyelipkan banyak ulama-ulama dan kekasihnya di muka bumi ini, sehingga saya yakin kalau Qiyamat belum akan datang. Saya sempat bertanya, syaikh hubaisyi ini mengajar kitab apa saja? Gus Iib menjawab bahwa banyak kitab yang di ampu oleh beliau, salah satunya adalah kitab Ihya’ Ulumiddin karya al-Ghazali. Saya penasaran bagaimana cara beliau mengajar, padahal beliau itu buta? Gus Iib menjawab kalau beliau mengajar dengan hapalan beliau yang ada dalam hati. Masya Allah, masih ada ulama yang hapal Ihya’, luar biasa.
Salah satu kelebihan dari Syaikh Thoha Hubaisyi ini adalah sikap dermawan beliau. Sebagaimana yang diceritakan oleh Gus Iib kepadaku, Syaikh Hubaisyi ini mencetak buku-buku karya ilmiah beliau tersebut di atas dengan uang pribadi beliau sendiri. Lalu beliau tidak pernah merasa rugi jikalau kemudian karya tersebut beliau bagi-bagikan kepada mahasiswa dan siapa saja yang ngaji kepada beliau secara Cuma-Cuma. Adakah kedermawanan yang melebihi kedermawanan seseorang yang menginfakkan ilmu dan buku-buku yang menjadi sarana menggapai ilmu tersebut? Sungguh luar biasa beliau ini. Tidak hanya sampai di situ saja, kedermawanan Syaikh Hubaisyi ini juga nampak dengan keistiqomahan beliau dalam mengajar Tholabah, padahal jarak rumah beliau dan tempat mengajarnya, biasa di tempuh dalam waktu kurang lebih 5 jam. Dan kalau beliau telat, maka beliau tidak segan-segan untuk meminta maaf kepada santri-santri atas keterlambatan itu. Pernah suatu hari beliau terlambat datang ke majlis, di sebabkan jalanan yang macet karena ada perayaan Milad Imam Husain—sebagaimana di ceritakan oleh Gus Iib—dan iya, beliau meminta maaf dengan sungguh atas keterlambatan beliau ini.
Salah satu akhlak beliau yang menonjol adalah sikap Tawadhu’ beliau yang luar biasa. Pernah suatu hari—lagi-lagi ini cerita dari Gus Iib—beliau mengumpulkan semua santri-santri, lalu beliau meminta kepada semua santri yang hadir untuk berkenan memenuhi permintaan beliau. Sambil menangis-nangis, beliau mengulangi lagi apa yang telah beliau sampaikan, yakni agar semua santri-santri dan murid beliau berkenan memenuhi permintaan beliau. Semua yang hadir terharu, dan tidak sedikit pula dari mereka yang kemudian menitikkan air mata—ah jadi mau ikut-ikutan nangis deh—dan tidak ada jawaban yang keluar dari mulut mereka kecuali kata “Na’am”. Baru setelah semua santri menjawab dengan “Na’am”, maka beliau mengutarakan apa permintaan beliau. Dan yang lebih mencengangkan lagi, ternyata permintaan beliau itu adalah beliau meminta agar nanti di akherat semua santri-santri dan murid-murid yang belajar dan ngaji kepada beliau, berkenan untuk men-syafa’ati beliau. Tida hanya sampai disitu, beliau mengulang-ulangi pertanyaan itu, sampai beliau benar-benar yakin, bahwa santri-santri berkenan memberikan syafa’atnya nanti di akherat. Pecahlah tangis sebagian besar santri, hati mereka runtuh, luluh, bahkan menjerit, dan bahkan mungkin mereka bertanya-tanya: “Siapakah sebenarnya sosok di depan mereka ini, manusia ataukah malaikat?”. Betapa mulianya Tawadhu’ beliau ini.
Saya sendiri kurang tahu, bagaimana kabar Syaikh Hubaisyi sekarang ini. Semoga saja beliau masih dalam kondisi sehat wal afiyat. Tapi yang jelas, ada secercah kerinduan yang menyeruak dalam dada ini untuk sekedar bertemu, istifadah, mencium tangan sejuk beliau atau mungkin bisa ber-intisab kepada beliau dengan menjadi salah satu kolom dari mata rantai ilmiah beliau. Semoga harapan itu terpenuhi, entah kapan. Bukankah semua berawal dari sebuah harapan, kawan?


SEMENJAK AL-QORI, SAMPAI MBAH BISYRI

Written By diya al-haq on Thursday, April 21, 2016 | 11:43 PM



            Memang sangat sulit untuk membedakan antara saingan dan berlomba dalam kebaikan (Musabaqoh Fil Khoir). Apalagi jika yang melihat adalah orang yang masih mengenakan kacamata awam yang serba hitam-putih, pasti langsung burem matanya atau beleken, saat melihat beberapa tokoh-tokoh agama yang saling ‘berlomba’. Entah persaingan atau berlomba dalam kebaikan—menurut saya pribadi—jika yang melakukannya adalah orang-orang yang masih menjadikan ilmu sebagai pijakan utamanya, maka pasti akan membawa keberkahan dan rahmat bagi seluruh umat manusia. Hal ini sesuai dengan adagium “Ikhtilafu-L-Aimmah Rahmah”, berbeda jauh jikalau kemudian yang saling berbeda pendapat adalah orang-orang bodoh yang bersembunyi dibalik kebesaran jubah agama, pasti yang muncul hanyalah hujatan dan sumpah serapah belaka. Tak ada kesantunan ilmiah dan Adabu-L-Ikhtilaf di sana. Padahal, kalau toh kita melihat dengan jernih, ‘persaingan’ para Alim Ulama itu pasti akan membuahkan hikmah yang tidak bisa kita katakan kecil, sebab paling tidak, dari persaingan tersebut akan lahir karya-karya ilmiah yang akan bisa kita nikmati sepanjang masa.
            Anda nggak percaya? Okelah, mari kita tengok sejarah kehidupan para ulama kita yang sudah teruji keilmuan dan keikhlasannya. Sebut saja al-Imam Ibnu Hajar Al-Asqallani Rahimahu-Llah. Seorang alim besar yang tidak hanya sekedar mendapatkan julukan “Imam” saja, tetapi beliau adalah “Amiru-L-Mukminin Fil Hadis” yang kurang lebih bermakna pemimpin semua orang Islam dalam masalah ilmu hadis, hal ini karena kepiawaian beliau dalam meracik dan mengkaji ilmu hadis. Cukuplah sebagai bukti dari kealiman beliau adalah kitab Fathu-L-Bari yang tak lain adalah komentar (Syarah) atas kitab hadis terkenal, yakni shohih al-Bukhori. Lantas, apakah setelah beliau mendapatkan gelar yang wah luar biasa itu, tidak ada orang lain yang menyaingi beliau dalam keilmuan? Tidak kawan. Ibnu hajar menulis kitab Fathu-L-Bari itu selama kurang lebih 5 tahunan—bayangkan kitab segede itu di tulis hanya dalam waktu kurang lebih 5 tahun dan belum ada komputer untuk nge-save lo—dan setelah selasai, beliau mulai mengajarkannya kepada santri-santri halaqoh-nya. Nah, baru saja 3 tahun kitab itu beredar di masyarakat umum, sudah muncul karya baru  dengan genre yang sama pula, yakni sama-sama komentar atas kitab Bukhori. Dan yang lebih menarik lagi, dalam kitab yang baru tersebut, sang penulis pun juga menuliskan kritikan-kritikan atas kitab Fathu-L-Bari karya Ibnu Hajar.
            Siapakah penulis kitab baru tersebut? tak lain dan tak bukan adalah imam Mulla Ali Al-Qori al-Hanafi. Kalau Ibnu Hajar Al-Aqollani punya syarah Fathu-L-Bari, maka Mulla Ali Al-Qori punya syarah juga dengan judul Umdatu-l-Qori. Kalau Ibnu Hajar lebih banyak menekankan pola berfikir Madzhab Syafi’i dalam buku jumbonya tersebut, maka al-Qori pun tak mau kalah, beliau juga memberikan argumen-argumen Fiqh Hanafi dalam buku jumbonya. Syarah Fathu-L-Bari menimbulkan persepsi sementara bagi para pembaca, bahwa Imam al-Bukhori adalah seorang pengikut Madzhab Syafi’i. Namun setelah muncul syarah Umdatu-L-Qori, maka persepsi itu terbantahkan dengan sendirinya, dan ternyata al-Bukhori pun bisa di pahami dengan alur dan metodologi Hanafi. Jadi tidaklah bisa, jikalau lantas muncul klaim bahwa al-Bukhori bermadzhab Syafi’i atau pun madzhab-madzhab yang lain. Seolah al-Qori ingin menekankan, jangan kita mudah mengklaim sebuah kebenaran.
            Setelah mengetahui bahwa kitabnya dikritik oleh pesaingnya, Ibnu Hajar tidak tinggal diam, maka beliau pun menulis kritik balasan terhadap syarah al-Qori tersebut. Lahirlah kitab Al-Intiqodh Fi-L-I’tirodh yang kurang lebih berjumlah 4 jilid besar-besar. Dalam buku tersebut, Ibnu Hajar membantah sekaligus menjawab satu persatu kritikan-kritikan Al-Qori yang di tulis dalam syarahnya atas Al-Bukhori. oleh karenanya, bagi siapapun yang membaca kita Al-Intiqodh, pasti akan bingung dengan pola penyusunannya yang seringnya hanya menyebutkan “Qola al-Mu’taridh”, lalu setelah itu beliau menjawab hanya dengan “Qultu”. Seingat saya, setelah itu al-Qori pun kembali menjawab bantahan Ibnu Hajar tersebut dengan sebuah kitab yang berjudul “Al-I’tidhodh Fi-L-Intiqodh” yang besarnya kurang lebih juga sama. Dari semua itu, yang menarik adalah adab dan akhlak para ulama tersebut dalam berbeda pendapat. Walaupun karyanya dikritik dengan tajam oleh pesaingnya, Ibnu Hajar tidak lantas mengeluarkan cacian, hujatan maupun sumpah serapah. Bahkan nama sang pengkritik pun tidak beliau sebutkan secara eksplisit, beliau hanya menggunakan kata-kata sang pengkritik (al-Mu’taridh). Bukankah hal ini sangat indah sekali kawan? Memang, jikalau perkhilafan itu terjadi antara “A-immah” bukan orang-orang pinggiran yang bodoh “Al-Jahalah” yang nampak hanyalah keindahan di mata kita, para makmumin ini.
            Dalam kalangan NU, sebenarnya tradisi perbedaan sudahlah mengakar puluhan tahun yang lalu. Dan—menurut saya pribadi—contoh yang paling riil adalah persaingan kakak-beradik KH. Bisyri Musthofa dan KH. Misbah Musthofa Rahimahuma-Llah. Beliau berdua adalah tokoh ulama yang tidak hanya alim nan mumpuni dalam bidang keagamaan, namun juga kreatif menghasilkan karya-karya ilmiah yang sampai sekarang masih bisa dinikmati oleh semua masyarakat Nusantara secara umum. Saat Mbah Bisyri menulis masterpice-nya, yakni Al-Ibriz Fi Tafsiri-L-Qur’ani-L-Aziz yang sangat fenomenal itu, maka adik beliau, Kiai Misbah pun tak mau kalah dengan sang kakak. Beliau pun juga menulis Tafsir yang tak kalah hebatnya, yakni tafsir Al-Iklil Fi Ma’anit Tanziil. Namun sayangnya, ada kabar yang sampai kepada saya pribadi, bahwa ada beberapa pembahasan dalam tafsir Al-Iklil yang di kurangi atau di hilangkan oleh pihak penerbit. Entah penerbit siapa juga, saya kurang tahu. Akhirnya karena kekecewaan tersebut, Mbah Misbah menulis tafsir lagi dengan judul Taju-l-Muslimin, namun sayang, belum sampai selesai penulisannya, keburu Mbah Misbah di panggil oleh Sang Pencipta untuk sowan.
            Persaingan antara kedua kakak-beradik ini tidaklah hanya berhenti sampai di situ saja. Kalau Mbah Bisyri punya syarah Jurumiyyah dengan judul An-Nibrasiyyah, maka Mbah Misbah juga punya syarah atas kitab yang sama dengan judul At-Ta’liqot Al-Bangilaniyyah. Jika Mbah Bisyri menulis syarah atas nadzam ‘Amrithi dengan judul Al-Unsyuthi, maka Mbah Misbah juga tidak mau kalah, beliau menulis syarah atas nadzam yang sama dengan judul Minnatu-L-Mu’thi. Dalam bidang ilmu sejarah, Mbah Bisyri menulis kitab Tarikhu-L-Auliya’ yang bercerita tentang Walisongo di tanah Jawa, tak kalah cerdik, Mbah Misbah pun menulis kitab sejarah dengan genre yang sama, yakni tentang Walisongo, tapi cerdiknya, beliau menulis tentang Walisongo luar negeri. Kitab tersebut berjudul Tarikhu-L-Auliya’ Al-Abror (Walisongo luar negeri). Dan begitu seterusnya, masih banyak lagi karya-karya beliau berdua yang muncul karena persaingan. Tetapi sekali lagi saya tekankan, persaingan tersebut adalah dalam rangka berlomba dalam kebaikan, sehingga hasil dari persaingan tersebut adalah munculnya karya-karya ilmiah yang indah dan bisa kita nikmati sampai sekarang.
            Lalu bagaimana dengan kita sekarang ini kawan? Antara kita sendiri berbeda, itu pasti. Tapi apakah kita menjaga adab dan akhlak dalam berbeda itu?? Ah entahlah, semoga kita semua selamat. 



Powered by Blogger.
Advertise 650 x 90
 
Copyright © 2014. Anjangsana Suci Santri - All Rights Reserved | Template - Maskolis | Modifikasi by - Leony Li
Proudly powered by Blogger