Advertise 728x90

Latest Post

Qashidah Al-Fatihiyyah

Written By diya al-haq on Monday, September 12, 2016 | 10:46 AM



Ceritanya, dulu Gus Lukman Hakim Jamiel itu mau jalan-jalan ke Turki. Di samping untuk menjenguk adik ceweknya, beliau juga sangat ingin sekali menziyarahi Sultan Muhammad Al-Fatih. Mendengar kabar itu, hati ini sangat puengen pake banget untuk ikut terbang ke sana. Bayangan taman-taman indah Turki, kerlap-kerlip lampunya, jalanan yang bersih dan tentunya Masjid Al-Hambra, sudah benar-benar bergelantungan di pelupuk mata. Seolah-olah memang aku sudah berada di Turki. Tapi apa di kata, nasib kere itu memang sering kali menyulitkan kita untuk sekedar berpetualang. Ditambah lagi, waktu itu konflik di Suriah baru mulai awal-awalnya. Oleh karena itu, pihak kampus tidak lantas memberikan Izin keluar negeri kepada sembarang mahasiswa, kecuali bagi mereka yang memang benar-benar ada kebutuhan mendesak (Hajah Mulihhah). Akhirnya berontho yang sudah mengubun-ubun itu pun menjadi tidak mungkin terealisasi.
Akhirnya, rencana dan harapan indah itu pun gagal total. Impian indah itu hanyalah tinggal mimpi di siang bolong, tak menjelma menjadi kenyataan yang bisa diraba. Nah, demi mengobati ke-galau-an hatiku ini, aku sempatkan menggores-goreskan pena yang sedari pagi sudah menemani jari jemariku. Ethok-ethoke ingin membuat untaian-untaian puisi guna me-wadul-kan kegalauanku ini pada Sultan Muhammad Al-Fatih. Ya, kegalauanku yang tidak hanya disebabkan oleh ketidak jadianku pergi ke Turki, lebih dari itu, aku juga galau melihat negeri Syam hancur dan luluh lantah diobrak-abrik oleh zombi-zombi buatan musuh kemanusiaan itu. Berapa banyak nyawa yang melayang sia-sia di sana. Betapa banyak darah-darah yang mengalir, yang tanah pun mungkin menangis saat tertumpahi darah-darah itu. Anak-anak menjadi Yatim, kehilangan ayah atau bahkan orang tua mereka. Wanita-wanita menjadi janda, tak ada yang menghidupi mereka. Sungguh memilukan kawan. Setiap aku mengintip dari sela-sela jendela, yang nampak hanya pemandangan anak-anak kecil dari Suriah yang bermain-main di pinggir jalan. Semestinya mereka kan masih duduk di bangku-bangku sekolah, tapi peperangan yang tak jelas itu, menjadikan mereka harus sekolah dan berguru pada jalanan dan realitas kehidupan yang pahit nan mencekam itu. Sungguh mengerikan kawan.
Dari konflik Suriah itu aku belajar betapa rasa aman dan tentram merupakan nikmat yang luar biasa dan tidak dapat dinilai dengan barang berharga duniawi apapun. Di samping aku juga belajar betapa kita sebagai umat Islam janganlah mudah untuk terprovokasi dan tersulut amarahnya, hanya gara-gara berbeda madzhab, pemikiran maupun ijtihad. Salah satu sumbu yang dijadikan alasan untuk mengobarkan perang saudara di Suriah adalah tuduhan buta yang menyatakan bahwa presiden Basyar Assad adalah seorang penganut Madzhab Syi’ah—walaupun kebenarannya pun belum pasti—yang oleh neo Khowarij era modern ini divonis kafir. Sehingga dengan semangat tinggi dan membabi buta, mereka berusaha untuk menumbangkan dan melengserkannya. Ya, seolah-olah mereka hendak menghabisi seorang pemimpin Syiah dan para pengikutnya, tapi kenyataan yang ada, korban perang Suriah sebagian besar adalah orang-orang Sunni Asy’ari seperti kita ini. Kenapa demikian? Sebab mayoritas rakyat Suriah adalah pengikut madzhab Sunni-Asy’ari. Sama halnya dengan Indonesia yang mayoritas umat Islam-nya adalah pengikut madzhab Sunni-Asy’ari, tapi lagi-lagi neo khowarij modern ini pun melakukan propaganda sama di negeri tercinta kita. Mereka kembali menawarkan dagangan busuk dan murah mereka guna mengguncang stabilitas kemanan negeri kita. Isu Sunni vs Syiah kembali di gulirkan, dan ternyata tidak sedikit dari saudara-saudara kita yang termakan isu tersebut. dan tidak menutup kemungkinan jikalau Indonesia akan di suriah-kan juga. Semoga hal itu tidak terjadi. Sebab kalau sampai terjadi, maka lagi-lagi yang menjadi korban adalah kita, kaum muslimin Sunni-Asy’ari, sebab kitalah mayoritas di sini. Dan tentunya, neo khowarij itu tidaklah hanya mengincar kaum Syiah saja, tetapi tujuan utamanya adalah kita juga, kaum Sunni-Asy’ari.
Yah, aku tak ingin kembali meratapi nasib saudara-saudara kita di Suriah hari ini. Sebab aku Yakin, Allah pasti akan memberikan pertolongan-Nya pada mereka. Untuk Gus Lukman Hakim Jamiel, di bawah ini adalah pesanan njenengan. Sebenarnya saya sudah lupa kalau pernah menulis puisi-puisi di bawah ini. Tetapi njenengan mengingatkan kembali. Sengaja saya tulis di catatan Facebook ini, ee mungkin saja ada selain njenengan yang bisa mengambil pelajaran. Atau bisa juga saya jadikan pengingat diri saya pribadi. Dan bagi teman-teman semua, kalau-kalau ada yang salah, tolong koreksinya ya. Suwun Gus. Silahkan ini puisinya:

يَهِيمُ فؤادي إذ سمِعْتُ بِمدْحِكا # ولا سِيَّما مدحُ النَبِيِّ محمَّدِ
"Rasa rindu itu mencekam hatiku saat mendengar pujian tentangmu, terlebih lagi adalah pujian dari baginda Nabi Muhammad"
ويَرْحلُ قَلْبِي طائرًا بِهُيَامِهِ # يُقَبِّلُ شوقًا تُرْبَ قَبْرٍ مُمَجَّدِ
"Hatiku pun terbang membawa kerinduannya. Ia mencium tanah kuburan mulia itu dengan penuh kerinduan"
وتَأْخُذ مِنِّيْ هَيْبَةُ القَبْرِ تَغْمُرُ # فؤادي بِمَجْدِ ذا الإمَامِ المُجَاهِدِ
"Haibah (keagungan) kubur mulia itu telah mencengkram hatiku, ia pun menyelimuti hatiku dengan kagungan sang Mujahid ini"
أرَى وَجَلَ الجَلالِ يُسْلِيْ مَفَاصِلِي # وَحَقٌّ لَهُ بِذا الوقَارِ المُصَمَّد
"Aku melihat rasa malu (yang bercampur dengan) keagungan telah menjadikan seluruh persendianku tubuhku menjadi lemas. sungguh, memang kuburan ini berhak mendapatkan keagungangn istimewa ini"
سلامٌ عليك حَائِزَ المَجْدِ و العُلَى # سَلامٌ على سُلْطانِ فَتْحٍ مُحمَّدِ
"Salam sejahtera bagi anda, wahai orang yang merengkuh keagungan dan kemuliaan. Salam sejatera bagimu, duhai Sultan Muhammad Al-Fatih"
تَسِيْلُ عُيُونِي عَبْرَةً بِشِكَايَةٍ # إِليكَ أَلا عُدْتَ بِسَيْفٍ مُهَنَّد
"Air mataku pun bercucuran dengan begitu deras, ia mengadu kepada anda. "Duhai, andaikan anda kembali dengan menenteng pedang yang tajam"
ألا إنَّ أُمَّةَ النَّبِيِّ قَدِ اعْتَرَتْ # عليها مَكَائِدُ العَدُوِّ المُبَدَّدِ
"Dengarkanlah...sungguh umat Nabi telah serang dengan berbagai tipu muslihat musuh yang layak untuk di hancurkan"
فِلِسْطِينُ تَبْكِي بِالدِّمَاء مُوَلْوِلاً # وتَعْدُو بِها أَيْدِي الطُّغَاةِ فَأَنْجِد
"Palestina menangis dan meracu, air mata darah bercucuran. Ya, dia telah di dholimi oleh tangan-tangan tirani yang lalim, maka tolonglah"
و أَرْضُ الشَّـآم زُلْزِلَتْ بِالتَّقَاتُلِ # وجَمْرَةُ حَرْبٍ أُشْعِلَتْ بِالتَّوَقُّدِ
“Tanah Syam telah gonjang-ganjing dengan peperangan dan pembunuhan. Kobaran Bola api peperangan telah benar-benar di sulut"
ومَكَّةُ حلَّتْهَا نُفَاةُ التَّوَسُّلِ # كذلك طَيْبَةُ الحَبِيْبِ مُحَمَّد
"Sementara tanah Makkah sendiri, telah di kuasai oleh mereka yang menolak Tawassul. Begitu juga tanah penuh kedamaian (Thoybah) milik kekasihku, Muhammad"
أَقُولُ وَوَاسُلْطَانِيَاه أَغِثْ لَنا # بِجَاهِكَ عِنْدَ رَبِّ عَرْشٍ مُوَحَّدِ
"Aku pun hanya mampu berkata; Oooo...Duhai Sultanku. Berilah kami pertolongan, berkat kedudukan anda dengan Tuhan pemilik Arasy Yang Esa"
فَخُذْ ذِي شِكَايَةُ العَبِيْدِ المُذَلَّلِ # لَدَيْكَ مُؤَمِّلاً إِعَانةَ أَمْجَدِ
"Tolong, perhatikanlah pengaduan hamba yang hina ini kepadamu. Yang selalu mengharapkan pertolongan orang yang luhur"
أنَا اسْمِي ْ ضِيَاءُ الحَقِّ فَاشْفَعْ لنا غَدًا # وذَلِك يَوْمٌ لاَ يُلاَذُ بِعَسْجَدِ
"Aku, namaku adalah Dhiyaul Haq, berilah aku syafaat nanti. Ya, pada hari itu,dimana orang tidak bisa berlindung dengan emas (harta)”

MUTAFAIHIQUN (1)*



Saat aku masih belajar di Universitas Al-Azhar, Mesir, aku pernah mengalami kesulitan dalam memahami satu redaksi Fiqh yang membahas tentang masalah Mu'amalat. Dalam kitab tersebut disebutkan redaksi:

ويحرم بيع برَمْبَلولٍ ببَرَمْبلول

Aku merasa janggal dengan redaksi di atas. Dalam hati kecil, aku mengatakan bahwa redaksi di atas dibaca "Wa Yahrumu Bai'u Barambalulin Bi Barambalulin", tetapi aku masih saja merasa janggal, sebab aku tidak pernah mendengar ada kata-kata "Barambalulin" dalam bahasa Arab.

Akhirnya, karena saking penasarannya, aku memulai untuk membuka-buka berbagai macam kitab Syarah (penjelas) atas kitab Fiqh yang aku baca tadi. Tapi hasilnya nihil, tak ada satupun dari kitab-kitab Syarah yang aku baca menjelaskan redaksi yang memusingkan kepalaku di atas. Tak mau putus asa, akhirnya aku pun kembali menyingsingkan lengan baju, "Cancut Tali Wondho", aku pun mulai membuka-buka kitab Hasyiah yang merupakan kitab-kitab penjelas atas kitab Syarah, dan tetunya lebih lebar nan panjang dari kitab-kitab Syarah. Namun aneh, lagi-lagi aku gagal menemukan penjelasan tentang redaksi "Barambalulin" itu, jangankan menemukan penjelasan, menyinggung sedikit pun juga tidak.

"Aneh sekali, masak nggak ada satu pun Ulama yang menjelaskan tentang kata 'Barambalulin' ini. Berarti semua Ulama sepakat dalam kesalahan dong", begitu pikirku pada waktu itu.

Aku tetap tidak mau menyerah, pantang bagiku untuk menyerah sebelum mengerahkan segala daya dan upaya, apalagi guna memahami sebuah redaksi kitab. Dan jalan terakhir yang aku tempuh adalah membuka Kamus. Aku kumpulkan berbagai macam kamus yang ada, mulai dari kamus Lughoh (Bahasa), kamus Fiqh, kamus Istilah dan pelbagai macam kamus lainnya. Lembar demi lembar setiap kamus itu aku teliti dengan sabar, satu persatu sampai berjam-jam pun berlalu, namun hasilnya masih nihil juga. Ya, di sinilah akhirnya aku sampai pada titik putus asa dan jenuh. Akalku sudah tidak mampu lagi untuk mencerna redaksi di atas. Dan akhirnya aku benar-benar menyerah. Dan Kalah.

Dengan wajah lesu tak bergairah, aku berjalan gontai mendatangi salah satu guruku yang nampak sedang asyik mendaras Al-Qur'an di salah satu sudut masjid Al-Azhar. Dengan suara lemah dan wajah yang kelihatan pucat pasi, aku beranikan diri untuk bertanya kepada guruku itu:
"Ya Syaikh, sebenarnya apa makna dari kata برَمْبَلولٍ ببَرَمْبلول (Barambalulin Bi Barambalulin)? Aku telah mencari ke seluruh kitab Syarah yang aku ketahui dan hasilnya nihil. Aku sudah meneliti hampir sebagian besar kitab-kitab Hasyiah atas kitab ini, dan lagi-lagi tak satu pun kata-kata dalam hasyiah tersebut yang mengupas redaksi di atas. Bahkan berpuluh-puluh kamus pun sudah aku buka, tetap saja masih tidak aku temukan. Apakah semua Ulama memang sepakat dalam kesalahan wahai guru? Atau jangan-jangan malah pengarang kitab ini yang salah tulis?"
Mendengar kegusaran dan keluhan muridnya yang masih muda ini, guruku malah hanya tersenyum manis sambil mengangguk-anggukkan kepala. Lalu sejurus kemudian guruku berkata:
"Duhai Hasan anakku...Tidaklah seseorang mengambil ilmu dari kitab—tanpa ada guru yang menuntunnya sama sekali—kecuali dia pasti akan tersesat. Keberadaan seorang guru merupakan sebuah keharusan, agar dia bisa menjelaskan permasalahan-permasalahan yang rumit, memerinci keterangan yang masih global atau pun malah sebaliknya, meringkas sesuatu yang terlalu lebar dan sulit untuk dimengerti. Andaikan kitab saja sudah mencukupi untuk mengantarkan seseorang sebagai Ahlu-l-Ilmi, niscaya Allah tidak perlu untuk mengutus para Nabi dan Rasul bersamaan dengan kitab-kitab suci yang diturunkan-Nya. Dan tentunya Allah pun tidak  akan susah-susah memberikan ancaman bagi orang-orang yang menyembunyikan Ilmunya setelah sebelumnya Allah mengambil janji dari mereka untuk menjelaskan isi kitab yang telah mereka pelajari"
Mendengar nasehat guruku di atas, aku hanya bisa diam terperangah. Kata-kata singkat yang menusuk ke dalam ulu hati yang  paling dalam, seolah-olah dentuman lonceng yang sangat keras sekali bergaung di samping daun telinga hatiku. Ya, aku hanya diam seribu bahasa, aku larut dalam perasaanku yang bercampur aduk tak menentu, entah kenapa tiba-tiba seluruh tubuhku dipenuhi guyuran peluh yang sangat deras, aku mandi peluh dan keringat. Rasa malu sedikit demi sedikit merayapi diriku, “ah sesombong itukah aku”, gumamku dalam hati.
"Ehmm..ehmm", suara dehem guruku membuyarkan angan dan bayang-bayang yang menari-nari di benakku. 
"Anakku, Hasan...cara membaca redaksi di atas (ويحرم بيع برَمْبَلولٍ ببَرَمْبلول ) yang benar adalah "Wayahrumu Bai'u Burrin Mablulin Bi Burrin Mablulin" yang artinya adalah: "Haram menjual gandum yang basah (dibayar) dengan (alat pembayaran berupa) gandum yang basah juga"
Mendengar penjelasan guruku di atas aku benar-benar tersadar, bahwa sebenarnya dalam mencari Ilmu agama itu tidaklah hanya dibutuhkan kecerdasan akal saja, kegigihan saja atau bahkan kitab-kitab yang besar dan luas saja, kamus-kamus yang bermacam-macam, tapi paling pertama dan utama adalah kita membutuhkan Tawadhu'. Ya, ketawadhu'-an seorang Tilmidz untuk sekedar duduk menunduk di depan guru-nya, lalu bertanya dengan hati dan perasaan yang memang benar-benar ingin bertanya, bukan malahan menguji gurunya. Na'udzubillah. Semenjak itu, aku tidak pernah melupakan kalam Hikmah yang keluar dari cermin bening guruku di atas, walaupun semua itu tidak lantas menjadikanku kendor dalam membaca atau pun Muthola'ah. Aku jadi teringat sebuah ungkapan indah Imam Syafi’i:
ما ضُحِكَ من خطأ امرئ قط إلاَّ وثبت صوابه في قلبه
Tidaklah seseorang ditertawakan atas kesalahan yang diperbuatnya kecuali kebenaran yang diketahuinya setelah itu akan benar-benar tertancap dalam hatinya







* Kisah ini diceritakan oleh Syaikh Hasan Hitou dalam buku beliau yang berjudul “MUTAFAIHIQUN”. Dan Insya Allah, kisah-kisah unik dan menarik dalam buku tersebut akan saya ceritakan ulang dengan gaya bahasa saya sendiri. Semoga tercapai.

BAYANI-BURHANI-IRFANI; kongkow bersama Kiai Ajib [1]

Written By diya al-haq on Sunday, June 5, 2016 | 2:45 PM



            Rasa-rasanya memang sudah lama, saya tidak kongkow-kongkow dan ngobrol ngalor-ngidul bersama guruku yang satu ini, Kiai Muhammad Ajib, Sayung, Demak. Kalau boleh saya hitung, mungkin kurang lebih sudah hampir 2 bulan kami tidak duduk dalam satu majlis bersama. Dan jujur, saya sudah lama dicekam rasa kangen untuk bercengkrama dan berdiskusi dengan ide-ide brilian beliau. Dalam hati, saya berkata: “Hal baru apalagi kah yang akan saya dapat dari beliau?”, begitu dan selalu begitulah kata hatiku saat bertemu dengan beliau. Dan memang, saya menyengaja untuk jarang bertemu dengan beliau, semua itu tak lain agar kerinduan untuk bersua dengan beliau memuncak, sebagaimana dikatakan oleh pepatah Arab: “Zur Ghibban, Tazdad Hubban”. 

            Dan akhirnya, malam itu sehabis sholat Isya’, saya dan teman dari Indramayu sowan ke kediaman sederhana beliau di belakang masjid Jami’ Purwosari, Sayung, Demak. Motor kami parkir di depan rumah beliau yang sederhana. Rumah yang sudah kurang lebih 3 kali ditinggikan, sebab terkena serangan air laut yang naik dan terus naik ke permukaan daratan, hingga akhirnya memakan sebagian rumah warga sekitar (bahasa sininya disebut “Rob”). 

            “Assalamualaikum”, Salam terucap dari mulutku. 

            “Waalaikum Salaam..Oh Dhiya’, monggo-monggo silahkan..!”

            Saya dan teman pun berjalan memasuki rumah sederhana itu menuju ke ruang tamu yang hanya terisi 2 buah kursi yang sudah agak lusuh. Sederhana sekali bukan? Padahal beliau adalah salah satu ketua komisi dakwah MUI Demak, disamping juga menjadi salah satu Katib Syuriah—kalau tidak salah—NU Demak. Tetapi rumah, pola kehidupan dan gaya pakaian beliau ini sangat jauh dari kesan seorang Kiai pada umumnya, sangat apa adanya. Dan contoh nyatanya ya pada malam itu, beliau hanya mengenakan kaos NU biasa yang sudah agak lusuh, tanpa mengenakan peci, dan tentunya ditemani dengan rokok disela-sela jari beliau. 

Monggo-monggo silahkan duduk”, 

Beliau datang dari dalam sambil menenteng kursi plastik berwarna biru dengan tangan kanan beliau, dan digenggaman tangan kirinya ada sebungkus rokok beserta korek, entah, nggak terlalu jelas, apa merk rokok itu. Kami pun duduk pada 2 kursi kusam yang telah tersedia di ruang tamu beliau tersebut. Ah, nyaman juga kursi ini, empuk untuk berlama-lama berdiskusi dan mendengarkan petuah-petuah ilmiah guruku yang satu ini. 

            “Dhiya’, Piye kabare Ya’? Sudah lama nggak ngobrol ya?”, tanya beliau.

            Nggeh De. Sudah hampir 2 bulan lebih”, jawabku.

            Lha Mas ini, namanya siapa? Asalnya dari mana?”, tanya beliau ke temanku.

            Kulo Ainul Yaqin, asal Indramayu”, jawab temanku. 

            “Oh ya ya, nama yang bagus. ‘Ainul Yaqin”

Iya, begitulah salah satu kebiasaan guruku yang satu ini. Beliau sering sekali—bahkan mungkin sangat sering—memuji nama teman-temanku dengan pujian yang bagus-bagus. Pernah suatu hari aku bertanya kepada beliau, kenapa selalu memuji nama-nama yang bagus dan diucapkan dengan lisan yang fashih pula. “Idkholus Surur” itulah jawaban beliau waktu saya bertanya. Dan saya yakin, malam itu beliau memanggil nama temanku dengan fashih, lalu memuji-mujinya, tak lain adalah demi memberikan kebahagiaan kepada temanku itu. Lalu beliau bercerita banyak hal pada kami berdua, dan kami termangu-mangu mendengarkan cerita-cerita menarik beliau. Mulai dari pengalaman dakwah di luar Jawa, beliau pernah ngajar di Hidayatullah, cerita seorang temennya yang pandai berdakwah dan sudah banyak mengajak orang untuk masuk Islam, tapi banyak hutang dan lain sebagainya. Ya, begitulah, setiap kami sowan, pasti kami akan terkagum-kagum dengan pengalaman beliau yang seabrek-abrek dan jarang sekali ada pada diri orang lain. Nah, di sela-sela cerita itu, saya beranikan diri untuk bertanya tentang salah satu hal yang belum saya pahami:

“De, saya pernah membaca dalam salah satu buku karya Abid al-Jabiri tentang pembahasan Bayani-Burhani dan Irfani. Penjelasan hampir serupa, juga saya temukan dalam buku karya Murtadha Muthohhari, yakni tentang Kalam dan Irfan. Jujur saja, kalau pemahaman tentang Bayani dan Burhani, saya sedikit banyak sudah bisa mencerna dan memahami. Tapi kalau tentang Irfani, saya masih buta sama sekali. Kira-kira menurut njenengan itu bagaimana, De?”

Beliau diam sejenak dengan pandangan menerawang ke langit-langit rumah, nampak beliau sedang memikirkan tentang sesuatu. Kepulan asap membumbung tinggi ikut bergoyang-goyang menari menuju langit-langit rumah sederhana itu, sesekali beliau menyedot rokoknya. 

“Ehm...ehmmm”

Beliau berdehem-dehem, mulai membenahi posisi duduk dan wajah beliau nampak mulai serius. Yang pada mulanya dengan kaki kanan yang menumpangi kaki kiri, sekarang beliau duduk dengan lebih sigap. Senyum mulai nampak dari wajah beliau, dengan wajah lurus dan pandangan mata tajam, beliau memandang ke arahku.

“Sebenarnya aku sendiri pun kurang begitu paham dengan mendetil, Ya’. Sudah seringkali aku membaca buku-buku berkenaan dengan Irfani ini, tapi Irfani ini bukanlah hanya sekedar ilmu yang bersifat pemikiran, tapi lebih pada dzauq (intuisi)”.

Beliau duduk lebih sigap dan sekali lagi menyedot rokok yang ada di sela-sela jari beliau, seolah beliau sudah siap untuk memedar apa yang terpendam di dada beliau kepada kami. 

“Jadi, Irfan itu adalah lelakone Nabi Khidhir, sedang Bayani dan Burhani adalah lelakone Nabi Musa...”

“Kaak..niki teh dan kopinya”, panggil istri beliau dari dalam.

Istri beliau masih memanggil beliau dengan panggilan “Kak”. Panggilan yang penuh kasih sayang, kemesraan dan cinta, yang sering kali menjadikan kami yang muda-muda ini iri pada kemesraan beliau berdua. Dan memang, kalau boleh bilang, beliau berdua ini walaupun sudah tua-tua, tapi tak segan-segan untuk menampakkan kemesraan mereka, bahkan di depan kami. Saya memahami bahwa semua itu adalah pendidikan dari beliau kepada kami, seolah beliau ingin menjelaskan kalau menampakkan kemesraan itu adalah salah satu cara untuk menjaga keutuhan biduk rumah tangga. Sering kali setiap beliau dibuatkan kopi oleh sang istri, maka tak segan-segan beliau mengatakan: “Masya Allah, terima kasih ya istriku yang sholihah. Mesti sedep ini buatan istriku”. Dan saya yang mendengar hanya cengengesan saja melihat kemesraan pasangan tua itu. 

Monggo-monggo, ini teh nya diminum dulu”

Kami pun mengambil teh yang telah tersedia di depan kami. 

“Melanjutkan yang tadi. Sering kali orang yang telah mencapai derajat Irfani, prilaku dan sikapnya itu tidak mudah dipahami oleh umumnya orang yang masih bersimpuh pada kedudukan Bayani atau pun Burhani. Apalagi bagi mereka yang tidak paham sama sekali, bahkan mencapai Bayani saja tidak.

Kalau boleh saya katakan; Bayani adalah start awal saat seseorang berusaha untuk memahami sebuah dawuh. Yakni pemahaman sesuai dengan kajian-kajian bahasa yang mana dawuh itu diberikan melalui bahasa itu. Sedang Burhani itu saat seseorang sudah tidak hanya terpaku pada kajian bahasa/teks saja, tetapi sudah merambah pada dimensi rasional. Nah, Irfani itu sudah berada di atas keduanya”, jelas beliau panjang lebar.

Ngapunten, kalau contoh riil-nya gimana De?”, tanyaku penasaran.

“Begini, Nabi Ibrahim—Alahis Salam—pernah mengalami 3 fase pengetahuan ini dalam perjalanan penghambaan (Ubudiyah) beliau, tepatnya adalah saat beliau menerima wahyu untuk menyembelih putra terkasihnya, Ismail Alaihis Salam. Coba baca ayat al-Qur’an yang menjelaskan tentang peristiwa itu, Allah berfirman:

{وَنَبِّئْهُمْ عَنْ ضَيْفِ إِبْرَاهِيمَ } {إِذْ دَخَلُوا عَلَيْهِ فَقَالُوا سَلَامًا قَالَ إِنَّا مِنْكُمْ وَجِلُونَ (52) قَالُوا لَا تَوْجَلْ إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَامٍ عَلِيمٍ } [الحجر: 51, 52، 53]

Dan kabarkanlah kepada mereka tentang tamu-tamu Ibrahim.  Ketika mereka masuk ke tempatnya, lalu mereka mengucapkan, "Salm sejahtera." Ibrahim berkata, "Sesungguhnya kami merasa takut kepadamu." Mereka berkata, "Janganlah kamu merasa takut, sesungguhnya kami memberi kabar gembira kepadamu dengan (kelahiran seorang) anak laki-laki (yang akan menjadi) orang yang alim.

“Dalam ayat di atas, seolah-olah Allah ingin mengisahkan kepada kita bagaimana kondisi psikologi seorang Nabi kekasih Allah, Ibrahim—Alaihis Salam—yang sudah lama sekali tidak memiliki anak sebagai penerus dakwah beliau. Oleh karenanya, tidak mengherankan jikalau saat Allah memberikan kabar gembira (Busyro) melalui Jibril, Nabi Ibrahim terkaget-kaget, seolah tidak percaya. Dan benar, kabar itu menjadi kenyataan dengan lahirnya Nabi Ismail, lalu juga Nabi Ishaq Alaihmas Salam

Beliau kembali menyerutup kopi hitam yang nampaknya sudah agak mulai dingin itu. “srruup”. Lalu beliau melanjutkan lagi:

“Namun setelah Ismail sudah mulai agak dewasa, bisa dimintai tolong membantu orang tua, terutama ayahnya, malahan Allah swt menurunkan ayat yang menyuruh Nabi Ibrahim menyembelih anak lelakinya itu, Ismail. Allah berfirman:

{فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ } [الصافات: 102]

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, "Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu

Dalam berinteraksi dengan perintah Allah di atas, Nabi Ibrahim melewati fase-fase Bayani-Burhani dan Irfani. Coba sampeyan bayangkan, orang tua renta yang sudah lama mendambakan anak, tapi tak kunjung juga diberi karunia anak, namun setelah mendapatkan anak, malah disuruh untuk menyembelih, kira-kira bagaimana perasaan beliau? Kalau sampeyan dalam posisi Nabi Ibrahim, tentunya akan bingung, antara percaya dan tidak percaya. Dan lebih uniknya lagi, perintah penyembelihan Ismail itu tidak melalui perantara Jibril seperti wahyu biasanya, tetapi malah hanya melalui mimpi yang memberikan kesan kurang mantap. Apalagi kalau diukur dengan nalar syariat, bahwa membunuh manusia itu hukumnya haram, apalagi ini anaknya sendiri. Jadi benar-benar membingungkan. Coba saja bayangkan, bagaimana campur aduknya perasaan Nabi Ibrahim pada waktu itu? 

Lagi-lagi, De Ajib melemparkan pandangan sambil menerawang jauh nun di sana, seolah-olah beliau sedang memikirkan sesuatu yang sangat jauh sekali. Beliau ambil lagi cangkir kopi dingin di depannya, lalu disrutup lagi “srrupp”: 

“Kondisi kejiwaan Nabi Ibrahim yang saya ceritakan di atas itulah yang disebut dengan Bayani, Ya’. Nah, dalam satu waktu, Nabi Ibrahim berusaha untuk merasionalkan perintah penyembelihan Ismail, putranya itu. Dalam hati Nabi Ibrahim berkata: “jangan-jangan yang diminta untuk disembelih bukanlah Ismail secara Hakiki dan penyembelihan itu pun juga bukan hal yang sifatnya hakiki, akan tetapi yang harus aku sembelih adalah kecintaanku kepada dunia. “Ismail-ku”—mungkin begitulah pikir Nabi Ibrahim—adalah segala hal yang menghalangiku untuk selalu ingat dan hanya cinta pada Allah”. Ya, Nabi Ibrahim berusaha untuk mencari-cari pemahaman dibalik perintah yang diwahyukan oleh Allah kepada beliau melalui mimpi. Upaya Nabi Ibrahim untuk merasionalkan apa yang telah beliau terima inilah yang disebut dengan Burhani, Ya’”

“Lha terus menawi Irfani seperti apa De?”, sergahku langsung. 

“Saat Nabi Ibrahim mencoba merasionalkan wahyu Ilahiyah tersebut, pada akhirnya beliau menthok dan timbul perasaan khawatir kalau-kalau usaha itu hanya untuk memenuhi keinginan dan kesenangan diri beliau sendiri. Maka akhirnya beliau benar-benar yakin, bahwa perintah penyembelihan Ismail ini adalah murni sebuah ujian yang ditetapkan oleh Allah bagi beliau. Mau tidak mau, beliau harus rela dan pasrah (Islam) atas apa yang telah ditetapkan oleh Allah itu. Karenanya, beliau akhirnya bertekad untuk benar-benar melaksanakan perintah itu tanpa banyak mencari-cari alasan macam-macam. Dalam al-Qur’an, kondisi Nabi Ibrahim ini dikisahkan dengan apik dalam ayat:

{فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ (103) وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ (104) قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (105) إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ } [الصافات: 103 - 106]

Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim meletakkan pelipis anaknya di atas tanah, (nyatalah kesabaran mereka). Dan Kami panggil dia, "Hai Ibrahim. Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu." Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata

Pada kondisi inilah, Nabi Ibrahim telah memahami perintah Ilahiyah menggunakan metode Irfan. Yakni, metode yang merupakah murni pemberian Tuhan (Wahbah Ilahiyah) atau dalam bahasa lain disebut dengan “Ladunni”, dan itu terjadi saat seorang hamba sudah benar-benar terlepas dari belenggu-belenggu keinginan dan kepentingan duniawi, bahkan saat kepentingan itu bersentuhan langsung dengan pribadinya, sebagaimana yang dialami oleh Nabi Ibrahim tersebut. Begitulah kurang lebih yang saya pahami dari Bayani- Burhani-Irfani, Ya’”

Mendengar pemaparan De Ajib yang benar-benar ajib tersebut, aku hanya bisa diam terperangah saja. Hatiku terbang, mencoba mengais-ais berbagai pengetahuan yang pernah aku baca dalam berbagai macam kitab-kitab sufi, dalam hati aku hanya mampu bergumam: “Apakah manusia-manusia seperti Nabi Ibrahim inilah yang disebut dengan Insan Kamil, yakni manusia-manusia yang benar-benar sudah merdeka dari segala macam kepentingan pribadi. Manusia yang telah selesai dengan dirinya sendiri. Wallahu a’lam”, pekikku dalam hati, sambil aku sruput teh yang sudah mulai tidak hangat lagi ini []



Powered by Blogger.
Advertise 650 x 90
 
Copyright © 2014. Anjangsana Suci Santri - All Rights Reserved | Template - Maskolis | Modifikasi by - Leony Li
Proudly powered by Blogger