Advertise 728x90

Latest Post

SEMENJAK AL-QORI, SAMPAI MBAH BISYRI

Written By diya al-haq on Thursday, April 21, 2016 | 11:43 PM



            Memang sangat sulit untuk membedakan antara saingan dan berlomba dalam kebaikan (Musabaqoh Fil Khoir). Apalagi jika yang melihat adalah orang yang masih mengenakan kacamata awam yang serba hitam-putih, pasti langsung burem matanya atau beleken, saat melihat beberapa tokoh-tokoh agama yang saling ‘berlomba’. Entah persaingan atau berlomba dalam kebaikan—menurut saya pribadi—jika yang melakukannya adalah orang-orang yang masih menjadikan ilmu sebagai pijakan utamanya, maka pasti akan membawa keberkahan dan rahmat bagi seluruh umat manusia. Hal ini sesuai dengan adagium “Ikhtilafu-L-Aimmah Rahmah”, berbeda jauh jikalau kemudian yang saling berbeda pendapat adalah orang-orang bodoh yang bersembunyi dibalik kebesaran jubah agama, pasti yang muncul hanyalah hujatan dan sumpah serapah belaka. Tak ada kesantunan ilmiah dan Adabu-L-Ikhtilaf di sana. Padahal, kalau toh kita melihat dengan jernih, ‘persaingan’ para Alim Ulama itu pasti akan membuahkan hikmah yang tidak bisa kita katakan kecil, sebab paling tidak, dari persaingan tersebut akan lahir karya-karya ilmiah yang akan bisa kita nikmati sepanjang masa.
            Anda nggak percaya? Okelah, mari kita tengok sejarah kehidupan para ulama kita yang sudah teruji keilmuan dan keikhlasannya. Sebut saja al-Imam Ibnu Hajar Al-Asqallani Rahimahu-Llah. Seorang alim besar yang tidak hanya sekedar mendapatkan julukan “Imam” saja, tetapi beliau adalah “Amiru-L-Mukminin Fil Hadis” yang kurang lebih bermakna pemimpin semua orang Islam dalam masalah ilmu hadis, hal ini karena kepiawaian beliau dalam meracik dan mengkaji ilmu hadis. Cukuplah sebagai bukti dari kealiman beliau adalah kitab Fathu-L-Bari yang tak lain adalah komentar (Syarah) atas kitab hadis terkenal, yakni shohih al-Bukhori. Lantas, apakah setelah beliau mendapatkan gelar yang wah luar biasa itu, tidak ada orang lain yang menyaingi beliau dalam keilmuan? Tidak kawan. Ibnu hajar menulis kitab Fathu-L-Bari itu selama kurang lebih 5 tahunan—bayangkan kitab segede itu di tulis hanya dalam waktu kurang lebih 5 tahun dan belum ada komputer untuk nge-save lo—dan setelah selasai, beliau mulai mengajarkannya kepada santri-santri halaqoh-nya. Nah, baru saja 3 tahun kitab itu beredar di masyarakat umum, sudah muncul karya baru  dengan genre yang sama pula, yakni sama-sama komentar atas kitab Bukhori. Dan yang lebih menarik lagi, dalam kitab yang baru tersebut, sang penulis pun juga menuliskan kritikan-kritikan atas kitab Fathu-L-Bari karya Ibnu Hajar.
            Siapakah penulis kitab baru tersebut? tak lain dan tak bukan adalah imam Mulla Ali Al-Qori al-Hanafi. Kalau Ibnu Hajar Al-Aqollani punya syarah Fathu-L-Bari, maka Mulla Ali Al-Qori punya syarah juga dengan judul Umdatu-l-Qori. Kalau Ibnu Hajar lebih banyak menekankan pola berfikir Madzhab Syafi’i dalam buku jumbonya tersebut, maka al-Qori pun tak mau kalah, beliau juga memberikan argumen-argumen Fiqh Hanafi dalam buku jumbonya. Syarah Fathu-L-Bari menimbulkan persepsi sementara bagi para pembaca, bahwa Imam al-Bukhori adalah seorang pengikut Madzhab Syafi’i. Namun setelah muncul syarah Umdatu-L-Qori, maka persepsi itu terbantahkan dengan sendirinya, dan ternyata al-Bukhori pun bisa di pahami dengan alur dan metodologi Hanafi. Jadi tidaklah bisa, jikalau lantas muncul klaim bahwa al-Bukhori bermadzhab Syafi’i atau pun madzhab-madzhab yang lain. Seolah al-Qori ingin menekankan, jangan kita mudah mengklaim sebuah kebenaran.
            Setelah mengetahui bahwa kitabnya dikritik oleh pesaingnya, Ibnu Hajar tidak tinggal diam, maka beliau pun menulis kritik balasan terhadap syarah al-Qori tersebut. Lahirlah kitab Al-Intiqodh Fi-L-I’tirodh yang kurang lebih berjumlah 4 jilid besar-besar. Dalam buku tersebut, Ibnu Hajar membantah sekaligus menjawab satu persatu kritikan-kritikan Al-Qori yang di tulis dalam syarahnya atas Al-Bukhori. oleh karenanya, bagi siapapun yang membaca kita Al-Intiqodh, pasti akan bingung dengan pola penyusunannya yang seringnya hanya menyebutkan “Qola al-Mu’taridh”, lalu setelah itu beliau menjawab hanya dengan “Qultu”. Seingat saya, setelah itu al-Qori pun kembali menjawab bantahan Ibnu Hajar tersebut dengan sebuah kitab yang berjudul “Al-I’tidhodh Fi-L-Intiqodh” yang besarnya kurang lebih juga sama. Dari semua itu, yang menarik adalah adab dan akhlak para ulama tersebut dalam berbeda pendapat. Walaupun karyanya dikritik dengan tajam oleh pesaingnya, Ibnu Hajar tidak lantas mengeluarkan cacian, hujatan maupun sumpah serapah. Bahkan nama sang pengkritik pun tidak beliau sebutkan secara eksplisit, beliau hanya menggunakan kata-kata sang pengkritik (al-Mu’taridh). Bukankah hal ini sangat indah sekali kawan? Memang, jikalau perkhilafan itu terjadi antara “A-immah” bukan orang-orang pinggiran yang bodoh “Al-Jahalah” yang nampak hanyalah keindahan di mata kita, para makmumin ini.
            Dalam kalangan NU, sebenarnya tradisi perbedaan sudahlah mengakar puluhan tahun yang lalu. Dan—menurut saya pribadi—contoh yang paling riil adalah persaingan kakak-beradik KH. Bisyri Musthofa dan KH. Misbah Musthofa Rahimahuma-Llah. Beliau berdua adalah tokoh ulama yang tidak hanya alim nan mumpuni dalam bidang keagamaan, namun juga kreatif menghasilkan karya-karya ilmiah yang sampai sekarang masih bisa dinikmati oleh semua masyarakat Nusantara secara umum. Saat Mbah Bisyri menulis masterpice-nya, yakni Al-Ibriz Fi Tafsiri-L-Qur’ani-L-Aziz yang sangat fenomenal itu, maka adik beliau, Kiai Misbah pun tak mau kalah dengan sang kakak. Beliau pun juga menulis Tafsir yang tak kalah hebatnya, yakni tafsir Al-Iklil Fi Ma’anit Tanziil. Namun sayangnya, ada kabar yang sampai kepada saya pribadi, bahwa ada beberapa pembahasan dalam tafsir Al-Iklil yang di kurangi atau di hilangkan oleh pihak penerbit. Entah penerbit siapa juga, saya kurang tahu. Akhirnya karena kekecewaan tersebut, Mbah Misbah menulis tafsir lagi dengan judul Taju-l-Muslimin, namun sayang, belum sampai selesai penulisannya, keburu Mbah Misbah di panggil oleh Sang Pencipta untuk sowan.
            Persaingan antara kedua kakak-beradik ini tidaklah hanya berhenti sampai di situ saja. Kalau Mbah Bisyri punya syarah Jurumiyyah dengan judul An-Nibrasiyyah, maka Mbah Misbah juga punya syarah atas kitab yang sama dengan judul At-Ta’liqot Al-Bangilaniyyah. Jika Mbah Bisyri menulis syarah atas nadzam ‘Amrithi dengan judul Al-Unsyuthi, maka Mbah Misbah juga tidak mau kalah, beliau menulis syarah atas nadzam yang sama dengan judul Minnatu-L-Mu’thi. Dalam bidang ilmu sejarah, Mbah Bisyri menulis kitab Tarikhu-L-Auliya’ yang bercerita tentang Walisongo di tanah Jawa, tak kalah cerdik, Mbah Misbah pun menulis kitab sejarah dengan genre yang sama, yakni tentang Walisongo, tapi cerdiknya, beliau menulis tentang Walisongo luar negeri. Kitab tersebut berjudul Tarikhu-L-Auliya’ Al-Abror (Walisongo luar negeri). Dan begitu seterusnya, masih banyak lagi karya-karya beliau berdua yang muncul karena persaingan. Tetapi sekali lagi saya tekankan, persaingan tersebut adalah dalam rangka berlomba dalam kebaikan, sehingga hasil dari persaingan tersebut adalah munculnya karya-karya ilmiah yang indah dan bisa kita nikmati sampai sekarang.
            Lalu bagaimana dengan kita sekarang ini kawan? Antara kita sendiri berbeda, itu pasti. Tapi apakah kita menjaga adab dan akhlak dalam berbeda itu?? Ah entahlah, semoga kita semua selamat. 



Firasat Mukmin

Written By diya al-haq on Saturday, April 9, 2016 | 9:53 AM



Pada suatu malam, aku bersama-sama dengan Guruku di sebuah Masjid Jami'. Tiba-tiba ada seorang lelaki yang masuk, dan berputar-putar mengitari orang-orang yang sedang tidur di masjid tersebut. Tak lama kemudian, dengan pelan Guru memanggilku:
"Rabi', berdirilah dan tanyakan kepada lelaki tersebut; apakah dia kehilangan seorang budah hitam dengan ciri-ciri salah satu matanya terluka"

Lalu aku pun berdiri dan menghampiri lelaki tersebut untuk dan menyampaikan pertanyaan guruku tadi. Setelah aku sampaikan pertanyaan guruku, lelaki itu menjawab:
"Benar"
"Kalau demikian, marilah ikuti aku. Kita temui guruku bersama-sama", ajakku kepada lelaki tersebut.
Lalu kami pun berjalan beriringan untuk menemui Guruku. Lelaki itu bertanya kepada beliau, apakah beliau melihat budak miliknya yang sedang di cari-cari. Guruku menjawab:
"Tadi dia lewat sini, carilah dia di penjara"
Lelaki itu bergegas pergi menuju ke penjara, karena mengikuti anjuran Guruku tadi. Selang beberapa waktu, lelaki itu datang dan menceritakan bahwa apa yang di katakan oleh Gurunda itu benar semua. Dalam kondisi kebingungan seperti ini, aku pun memberanikan diri untuk bertanya kepada Guruku:
"Duhai guru, ceritakanlah padaku, sebenarnya bagaimana anda bisa mengetahui itu semua. Sungguh aku benar-benar bingung dengan semua kejadian tersebut tadi"
"Baiklah. dengarkan...! Tadi, aku melihat ada orang yang masuk ke dalam masjid, lalu dia berputar-putar mengitari samping-samping orang yang sedang tidur. Maka dari situ aku menarik kesimpulan bahwa dia sedang mencari seorang budak yang melarikan diri darinya. Aku juga melihat, bahwa dia hanya mengitari orang-orang tidur yang berkulit hitam, sedang yang berkulit putih tidak, maka dari situ aku bisa menyimpulkan bahwa budaknya yang lari adalah budak hitam, bukan budak putih. Terus, setiap dia mendekati orang yang tidur, dia selalu memperhatikan bagian mata kirinya, maka aku bisa menyimpulkan bahwa budaknya yang lari itu terluka salah satu matanya".
Dengan dercak kagum yang belum hilang dari raut mukanya, si murid terus melanjutkan pertanyaan:
"Lalu dari mana anda tahu, kalau budak tersebut berada di penjara, Guru?"
"Saya teringat sebuah Hadis yang bunyinya:
العبد إذا جاعوا سرقوا وإذا شبعوا زنوا
"Budak itu jika lapar, maka dia akan mencuri. Dan jika sudah kenyang, dia akan berzina"
Maka saya mengambil kesimpulan, bahwa budak miliknya tersebut lari pastinya karena melakukan kesalahan. Dan kesalahannya itu tidak akan terlepas dari umumnya karakter budak, yakni antara mencuri atau berzina. Dan pastinya, tempat bagi orang yang melakukan kedua kriminalitas itu tempatnya tak lain adalah penjara".
Si murid hanya bisa diam tercengang penuh keheranan dan kekaguman atas uraian masalah yang di sampaikan oleh gurunya tersebut. Ya, Guru tersebut adalah Imamuna As-Syafi'i. Sedang muridnya adalah Rabi' Al-Muradi. Kisah tentang kehebatan firasat Imam As-Syafi’i sudah tidak perlu untuk di ragukan lagi. Pernah beliau sedang duduk-duduk dengan gurunya, Muhammad bin Hasan As-Syaibani, di pelataran Ka’bah. Ada seorang lelaki yang lewat di depan mereka berdua, tiba-tiba sang guru berkata kepada si murid:
“Ayo, mari kita tebak. Apa pekerjaan yang dilakukan orang yang barusan lewat?”
“Baiklah, dia adalah seorang penjahit”, tebak As-Syafi’i.
“Bukan, dia adalah seorang tukang batu”, tebak Muhammad.
Lalu, keduanya mengutus seseorang untuk menanyakan apa sebenarnya pekerjaan si lelaki tersebut tadi. dan ternyata, lelaki itu menjawab:
“Dahulu, saya adalah seorang penjahit, tetapi sekarang saya adalah tukang batu”
Sungguh luar biasa firasat seorang mukmin, oleh karenanya, benar sekali apa yang di sampaikan oleh baginda Nabi: “Hati-hatilah terhadap firasat seorang Mukmin, karenanya sebenarnya dia melihat dengan cahaya pemberian Allah dalam hatinya” []

Mimpi-mimpi indah Imam Syafi’i


            Dalam bahasa ke-Nabi-an, kita mengenal istilah Irhash, yakni sebuah pertanda yang ditampilkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala bahwa seseorang yang ‘bersama’ tanda tersebut pada akhirnya nanti adalah seorang Nabi yang diutus oleh Allah sebagai pengemban risalah suci dari-Nya. dan tentunya sudah tidak asing lagi kisah-kisah irhash yang bersama-sama menemani baginda Nabi Muhammad Shollallahu Alaihi Wa Sallam sebelum beliau di angkat menjadi seorang Nabi dan Rasul. Mulai dari kisah awan hitam yang mengayomi perjalanan dagang beliau saat bersama Maesaroh, pelayan Khodijah itu. Sehingga beliau dan rombongan tidak merasakan panasnya sengatan matahari sama sekali. Lalu banyaknya tetumbuhan dan bebatuan yang seolah-olah mengucapkan salam kepada beliau, dan masih banyak keajaiban-keajaiban lainnya yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu di sini.
Nah, tidak jauh beda dengan para Nabi dan Rasul tersebut adalah para pewaris mereka, yakni para Ulama dan kekasih Allah (Auliya’). Di antara para pewaris Nabi tersebut adalah al-Imam Muhammad Bin Idris As-Syafi’i RadhiyaLlah ‘Anhu. Sebelum menjadi seorang Alim besar nan masyhur, ternyata Al-Imam As-Syafi’i sudah terlebih dahulu mendapatkan kabar gembira akan kedudukan mulia yang akan beliau peroleh itu. Kabar gembira tersebut beliau peroleh dari Allah melalui mimpi-mimpi indah yang beliau lihat semenjak sang imam masih kecil, sebagaimana hal itu beliau ceritakan sendiri.
            Imam Ibnu Hajar Al-Asqollani dalam bukunya “Tawalit-Ta’sis fi Manaqibi Ibni Idris” mengisahkan bahwa ada beberapa mimpi indah yang sebenarnya menjadi semacam kabar gembira (Al-Mubassyrirat) bahwa sang Imam akan menjadi seorang ‘Alim yang ilmunya menyebar di hampir seluruh dunia Islam. ibnu hajar berkata bahwa Al-Hakim meriwayatkan dari Al-Hasan Bin Sufyan dari Harmalah bin Yahya bahwa beliau mendengar as-syafi’i berkata:
“Saat aku masih kecil aku bermimpi melihat seorang lelaki yang berada di depan kerumunan manusia. Dia sedang mengajari mereka. aku dekati lelaki itu dan aku berkata kepadanya; ajarilah aku. Lalu lelaki tersebut mengeluarkan sebuah timbangan dari sarung tangannya dan memberikan timbangan itu kepadaku, sambil berkata; ini untukmu.
Setelah aku terbangun dari tidur, aku mencari seorang yang bisa menakwilkan mimpi. Aku ceritakan kepadanya semua yang aku lihat, lalu dia berkata: “Engkau akan menjadi seorang pemimpin (Imam) yang sesuai dengan jalan Islam dan Sunnah Rasul”.
            Bisa di pahami, bahwa ini adalah mimpi pertama sang imam berkenaan dengan kabar gembira, yakni saat-saat beliau masih sangat belia sekali. Sebab arti kecil yang saya tampilkan di atas, sebenarnya dalam redaksi aslinya menggunakan kata Shobiyyan yang artinya masih kecil sekali, belum sampai Baligh. Lalu selanjutnya adalah sebuah riwayat yang di sampaikan oleh al-Imam Al-Baihaqi dari jalur sanad Ali bin Muhammad al-Qurasyi dari Ar-Rabi’, bahwa beliau mendengar As-Syafi’i berkata:
“Saya bermimpi bertemu dengan baginda Nabi Muhammad Shollallahu Alaihi Wa Sallam. Lalu berkata kepadaku; “duhai anak kecil”
Labbaik, ada apakah baginda Rasul?”, jawabku.
“Dari suku apakah kau ini?”
“Dari sukumu duhai baginda Nabi”
“Mendekatlah kepadaku...!”
“lalu saya mendekati baginda Nabi. Setelah dekat, beliau mengambil sedikit ludah beliau. Lalu aku buka mulutku, dan beliau mengoleskan ludah beliau yang suci tersebut pada lidahku, kedua bibirku dan mulutku. Lalu beliau berkata; sekarang pergilah. Semoga Allah memberkahimu”
Semenjak itu, lidahku tidak pernah lagi terasa lahn dalam menyampaikan hujjah atau pun syiir”
Begitu juga, Ar-Rabi’ mengisahkan bahwa beliau mendengar As-Syafi’i pernah bercerita:
“Saat dulu saya berada di Baghdad, saya bermimpi bertemu dengan Sayyidina Ali bin Abi Thalib RadhiyaLlahu ‘Anhu. Beliau duduk di sampingku, lalu melepaskan cincin beliau dan memakaikannya kepadaku. Saat aku ceritakan mimpi itu pada seorang yang pandai takwil mimpi, ia mengatakan bahwa jika mimpiku itu benar, maka tidak akan ada tempat di dunia ini, jikalau nama Ali di sebut, kecuali pasti namamu juga di sebut”
Dalam riwayat lain, di sebutkan bahwa Imam Syafi’i bermimpi kalau ada seseorang yang sowan kepada beliau. Lalu orang tersebut membawa semua kitab-kitab sang Imam. Kemudian menyebar-sebarkan kitab-kitab tersebut ke udara. Saat beliau bangun, lalu beliau menceritakan kisah tersebut kepada orang-orang yang pandai menakwili mimpi, dan mereka mengatakan bahwa nanti tidaklah ada sejengkal tanah pun di bumi Islam, kecuali pasti ilmunya Imam Syafi’i masuk ke situ. Dan memang kenyataannya demikian, sekarang hampir separuh penduduk bumi ini, mengamalkan ajaran Islam dengan mengikuti alur metodologi dan pendapat beliau Imam As-Syafi’i. Sungguh memang allah telah benar-benar mempersiapkan beliau sebagai orang yang di tunggu-tunggu oleh dunia ini. Semoga kita menjadikan beliau teladan []

NGAJI AHADAN 1

Written By diya al-haq on Saturday, April 2, 2016 | 9:49 PM



Sering kali muncul pertanyaan;
"Kenapa huruf alif pada kata "Bismi" dari ayat (بسم الله الرحمن الرحيم) di buang? Sementara alif tersebut tidak di buang pada "Bismi" dari ayat (اقرأ باسم ربك)"
Berkenaan dengan pertanyaan tersebut, Al-Imam Fakhruddin Ar-Razi memberikan dua alternatif jawaban:
Pertama; bahwa kalimat (بسم الله) lebih sering digunakan dan dibaca dalam berbagai macam kondisi, selama tidak dalam kondisi yang bertentangan dengan syariat. Oleh karenanya, untuk tujuan meringankan "Takhfif", alif dari kata "Bismi" itu di buang. Hal ini tentunya sangat berbeda jauh dengan kata "Bismi" pada ayat (باسم ربك) yang tidak sering di baca oleh seseorang.
Kedua; sebenarnya, alif didatangkan adalah sebagai perantara agar kalimat "Ismu" itu bisa dibaca. Berbeda jika tidak ada alif, maka kita akan memulai bacaan dari huruf "Sin" yang di sukun. Dan tentunya sudah tidak asing bagi kita, bahwa orang Arab tidak bisa memulai sebuah dengan Huruf yang mati. Nah, saat didatangkan huruf "Ba'", maka secara otomatis fungsi dari alif tersebut tergantikan. Sehingga tidak aneh, jikalau kemudian alif dibuang.
Tetapi, pasti anda masih bertanya-tanya; “Kan huruf "Ba'" juga di datangkan pada ayat (باسم ربك) dan menggantikan posisi alif, lalu kenapa alif tidak dibuang di sini? Jawabnya adalah karena "Ba'" dalam ayat tersebut walaupun secara fungsi verbal/pengucapan bisa menggantikan alif, tetapi dalam fungsi pemberian makna, Ba' pada ayat tersebut tidak bisa menggantikan. Sebab andaikan huruf "Ba'" pada ayat (باسم ربك) di buang, maka maknanya pun akan tetap sama saja. Tidak ada bedanya—secara makna nahwi umum—saat anda membaca (اقرأ باسم ربك) dan (اقرأ اسم ربك). Walaupun tentunya secara nilai sastrawi, tentunya akan tetap muncul makna yang lebih.
Hal ini akan berbeda sama sekali jika—misalnya—kita membuang huruf "Ba'" pada pada ayat (بسم الله), sebab pasti maknanya akan rusak dan kacau balau. Nah, oleh sebab itulah kenapa kemudian Ar-Razi mengatakan bahwa huruf "Ba'" dalam surat al-'Alaq itu belum bisa menggantikan posisi alif.
Oke. Sebelum menutup kajian sederhana ini, ada sebuah uraian menarik yang ditampilkan oleh Ar-Razi. Beliau mengatakan bahwa sebenarnya huruf "Ba' Jarr" merupakan huruf dengan karakteristik rendah. Terbukti dari Syakl-nya saja, ia di baca Kasroh. Tetapi, dengan sebab karakter rendah diri ini pulalah ia memperoleh kemuliaan. Ya, ia rela untuk selalu ber-Khidmah dengan menjadikan dirinya sebagai penyangga Lafadl Allah. Maka sebab khidmahnya inilah Allah mengangkat derajat huruf Jarr tersebut. Yakni dengan menjadikan ia selalu di sebut-sebut bersama-sama dengan nama Allah yang Mulia itu. Nah, hendaknya hati manusia pun belajar dari huruf Ba' ini pula, sifat rendah hati, tawadhu' dan tidak merasa sombong dengan merasa paling baik atau pun paling benar-lah, yang pada akhirnya akan menjadikan seorang itu memperoleh kemuliaan 'IndaLlah.
Bagaimanakah caranya agar sifat Tawahu' dan rendah hati ini bisa menghiasi diri seseorang? Lagi-lagi kita harus belajar kepada kepada Huruf Ba’. Bagaimana? Tidak ada cara lain untuk mencapai sifat-sifat terpuji itu kecuali dengan selalu mengaitkan, menautkan dan menyambungkan hati manusia dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sebagaimana huruf Ba' yang selalu bersambung dan terikat dengan "IsmuLlah". Sebab dengan demikian, semua kesombongan, kecongkakan, keegoisan dan ke-Fir'aun-an diri kita akan sirna dan hancur lebur di terpa oleh keagungan (Jalal) Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Mungkin inilah yang di maksud dengan Hikmah Ibnu AthaiLlah RohimahuLlah yang berbunyi:

 معصية أورثت ذلاواتقارا خير من طاعة أورثت عزا واستكبارا 

"Kemaksiatan (dan berbagai kejelekan yang merendahkan diri lainnya) yang menyebabkan seseorang merasa rendah dan selalu butuh (kepada Allah) itu lebih baik dari sebuah kebaikan yang menyebabkan perasaan mulia dan sombong"

Pangkal dari segala kesombongan dan kecongkakak seorang manusia adalah menguatnya ke-AKU-an (Ananiyah) dalam diri orang tersebut. Bahkan seorang Fir’aun pun sampai berani mengaku sebagai Tuhan, tak lain dan tak bukan adalah sebab menguatnya sifat ke-Aku-an ini dalam dirinya. Sampai di sini, saya teringat penjelasan menarik dari Gurunda KH. Ahmad Bahauddin Nur Salim dalam salah satu pengajian Tafsir asuhannya. Kurang lebih beliau mengatakan: 

Semua wirid dan dzikir yang di ajarkan oleh baginda Nabi mempunyai tujuan satu, yakni untuk melumat dan menghancurkan ke-AKU-an manusia. Coba perhatikan semua Shighot/Lafadz dzikir yang di ajarkan oleh Nabi Muhammad. Yang ada “SubhanaLlah, AlhamduliLlah, Allahu Akbar”. Semua dengan mengghilangkan kata “aku”. Tidak ada Kanjeng Nabi mengajarkan “Sabbatu-Llah” “Hamidtu-Llah” atau “Ukabbiru-Llah”. Kecuali jikalau wirid tersebut itu menunjukkan bahwa seseorang telah melakukan kesalahan, maka sebagai bentuk pengakuan (i’tirof) seseorang di haruskan menyebutkan dirinya sendiri. Semisal saat dia melakukan kesalahan, maka dia akan membaca istighfar dengan mewiridkan “AstaghfiruLlah” yang bermakna aku meminta ampunan pada Allah”

Semoga Allah selalu menuntun kita untuk meniti jalan menjadi hamba yang bisa seperti Ba’ Huruf Jarr ini, sehingga ujungnya kita bisa meraih ridha dan cinta-Nya. Bukankah kita semua mengharapkan begitu adanya? []

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد أن لاإله إلا أنت أستغفرك وأتوب إليك

Powered by Blogger.
Advertise 650 x 90
 
Copyright © 2014. Anjangsana Suci Santri - All Rights Reserved | Template - Maskolis | Modifikasi by - Leony Li
Proudly powered by Blogger