Advertise 728x90

Latest Post

BAHAYA KHUSYU’ISME

Written By diya al-haq on Thursday, January 29, 2015 | 9:49 AM



Man Izdada Khusyu’an Izdada Jahlan” sebuah ungkapan yang kurang lebih memiliki arti “barang siapa yang bertambah khusyu’-nya, maka akan bertambah pula kebodohannya. Aneh, memang ungkapan tersebut terasa sangat aneh ditelinga-telinga swasta seperti telingaku. Terlebih lagi, pertama kali aku mendengar istilah tersebut sering diulang-ulang oleh gurunda, simbah KH. Maemoen Zubair saat aku baru awal-awal masuk ke Ponpes Sarang. Tepatnya sekitar tahun 2003-2004, dan umurku pada waktu itu pun masih tergolong kecil, sekitar umur 16 tahunan. Nalar kekanak-kanakan yang masih kuat melekat dalam diriku belum mampu untuk mencerna dengan baik apa makna tersirat dibalik petuah “aneh” beliau ini.
            Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya corak serta wawasan yang menjadi menu harianku, ditambah lagi pergaulanku dengan orang-orang yang memiliki pola pikir yang bermacam-macam, sedikit demi sedikit kabut tebal yang menyelimuti ungkapan Mbah Maemoen tersebut akhirnya tersingkap. Walaupun konsekwensinya aku harus dicap sebagai santri yang “salah pergaulan”. Ya, aku masih ingat betul bahwa waktu itu aku masih duduk dikelas 1 Aliyah MGS dan jujur, pada waktu itu pemikiranku masih sangat lugu sekali. Namun alhamdulillah, pada waktu itu pulalah aku bersentuhan secara lebih intim dengan berbagai pemikiran Al-Imam Al-Ghozali. Semua itu gara-gara kitab Al-Munqidz Mina-D-Dholal yang dihadiahkan oleh mas Najih kebumen kepadaku. Dalam satu hari penuh, aku menghatamkan membaca serta memahami kitab tersebut sebanyak tiga kali. Hingga akhirnya aku benar-benar merasakan bahwa memang Al-Ghozali adalah sesosok ulama yang gagasan dan pemikirannya mampu mencerahkan. Sehingga layak sekali, jika kemudian beliau disebut sebagai salah satu “Sang Pencerah”.
            Tidak hanya itu saja, perkenalanku dengan KH. M. Wafi Maemoen—akrab dipanggil dengan Gus Wafi—dengan karakteristik beliau yang Mobile, progresif dan kaya akan ide, pun juga sedikit banyak telah memberi warna dan corak dalam cara berfikirku. Belum lagi KH. Baha’uddin NS—akrab aku panggil dengan Gus Baha’—yang pada waktu itu banyak memberikan inspirasi, hingga akhirnya aku nyaman dan setia mendengarkan rekaman-rekaman pengajian beliau yang serat akan nuansa ilmiah nan kritis. Pak Najib Bukhori pun tidak kalah juga, beliau adalah sosok muda dengan gagasan dan pemikiran brilian yang berani meloncat keluar “pagar” kemapanan, akan tetapi tetap kalem dalam melakukan perubahan. Hingga akhirnya aku juga rutin mengikuti kajian Bulughul Marom yang diampu oleh KH. Dr. Abdul Ghofur Maemoen yang tentunya sangat asyik dan penuh insirasi. Nah, pertemuanku dengan merekalah yang sedikit banyak kemudian memberikan dampak dan efek luar biasa pada diriku dalam memahami sosok Mbah Maemoen, yang diantaranya adalah dengan memahami dawuh beliau di atas.
            Memang, Mbah Maemoen tidak pernah—dan aku sendiri juga belum pernah mendengar—beliau menguraikan apa makna dari petuah beliau tersebut. Tetapi, sebagai seorang santri, aku sudah tergerak semenjak dulu untuk membaca, mengkaji dan bahkan berusaha untuk mendiskusikan berbagai tindakan, statement dan tentunya ijtihad beliau ini bersama beberapa teman yang bisa aku ajak berfikir ke arah sana. Berkenaan dengan dawuh: “Man Izdada Khusyu’an Izdada Jahlan” di atas, aku melihat paling tidak ada 3 hal yang ingin disampaikan oleh Mbah Maemoen, walaupun tentunya ini menurut pemahaman dan kajianku sendiri atas dawuh beliau.
            Pertama- Beliau nampak ingin menekankan bahwa akhir-akhir ini banyak orang-orang yang menampilkan prilaku, sikap, cara berpakaian dan mungkin juga tutur kata yang kesemuanya mengindikasikan bahwa mereka adalah orang-orang sholih, ahli ibadah dan seterusnya. Padahal, sejatinya ilmu yang yang bersemayam dalam kalbu mereka nol, alias kosong, alias tidak ada. Mereka menjadikan ke-khusyu’-an sebagai kedok dan topeng demi menutupi serta menyembunyikan kebodohan mereka. Nah, Mbah Moen menyampaikan pesan di atas agar para santri-santri Sarang tidak silau atau bahkan terpesona untuk mengikuti orang-orang yang demikian itu. Karenanya, tidak heran kalau dulu Gus Baha’ bercerita bahwa santri Sarang tempo dulu itu mempunyai cara berfikir ilmiah dan tidak ada yang kelihatan khusyu’. Dawuh beliau: “Ilmiah itu identik dengan kebebasan dalam berfikir, jika di batasi terus maka akan terpasung keilmiahannya”. Tentunya kebebasan ini bukan bebas segala-galanya, akan tetapi bebas yang masih berada dalam rel dan bingkai keilmuan Pesantren. Bahkan menurut cerita salah satu senior (Kang Fadhlan, akrab aku panggil dengan Wa’ Lan), dulu Gus Baha’ itu selesai Jama’ah Sholat tidak duduk untuk wiridan lama-lama, akan tetapi beliau bergegas untuk kembali melanjutkan Muthola’ah-nya yang sempat diistirahatkan karena jama’ah sholat. Dan jujur saja, sampai sekarang pun aku belum pernah melihat Gus Baha’ Wiridan/sholat Sunnah Ba’diyah setelah sholat Fardhu. Nampaknya kebiasaan di Pesantren itu masih terbawa saat beliau di rumah atau mungkin saja beliau memang masih asyik dengan Muthola’ah.
            Pernah ada yang bertanya kepadaku: “Lebih utama siapakah, santri yang asyik dengan muthola’ah-nya hingga ia lupa atau enggan melakukan amaliah-amaliah sunnah? Atau santri yang memperbanyak amaliah sunnah sementara Muthola’ah-nya kurang?”. Waktu itu aku menjawab bahwa santri yang bisa mensinergikan antara keduanya adalah yang terbaik. Namun jika terpaksa ia harus memilih salah satu dari keduanya, maka dengan tegas aku mengatakan bahwa santri yang memanfaatkan semua waktunya dan mengerahkan segala daya serta upaya guna Muthola’ah ilmu—tentunya mengecualikan waktu-waktu yang digunakan untuk melakukan kebutuhan primer yang lain, semisal makan—adalah lebih utama jika dibandingkan dengan memperbanyak ibadah Sunnah. Pendapatku ini berdasarkan statement imam an-nawawi yang diabadikan dalam mukaddimah kitab Minhaju-T-Tholibin. Beliau berkata:
فَإِنَّ الِاشْتِغَالَ بِالْعِلْمِ مِنْ أَفْضَلِ الطَّاعَاتِ و أَوْلَى مَا أُنْفِقَتْ فِيهِ نَفَائِسُ الْأَوْقَاتِ
Sesungguhnya, kesibukan seseorang untuk belajar ilmu itu adalah ketaatan paling baik dan kesibukan paling utama untuk menghabiskan waktu seseorang
            Kedua- Dari statement Mbah Maemoen di atas, sebenarnya beliau ingin mengajak santri dan masyarakat Pesantren untuk berfikir secara terbuka (Open Mind). Disamping tentunya beliau ingin mengajak kita agar melihat, melakukan analisa dan kajian secara proporsional, objektif, holistik dan tentunya komprehensif. Beliau kurang suka dengan santri yang hanya memiliki satu cara pandanga saja, sehingga pikirannya menjadi kaku, jumud dan mudah menyalahkan orang lain, terlebih lagi jikalau tidak ada klarfikasi/Tabayyun terlebih dahulu. Santri dengan model terakhir ini biasanya enggan dan acuh tak acuh terhadap setiap gagasan berbeda dari apa yang ada dalam pemahamannya selama ini. Bahkan tidak jarang dari mereka yang kemudian memusuhi dan menyerang dengan ngawur orang-orang yang memunculkan gagasan yang seakan di anggap baru tersebut.
            Dalam beberapa pengajiannya, Mbah Maemoen sering menyindir dan mengkritik orang-orang, baik dari kalangan umum maupun dari kalangan pesantren, yang memiliki pola pikir terlalu kaku dan jumud tersebut dengan menyitir sebuah statement ayahanda beliau, yakni Kiai Zubair Dahlan. Mbah Maemoen sering dawuh: “Bapak mbien ngendikan[1]:
حفظ شيئا وفات عنه أشياء
Hanya menghapal/menjaga/mengetahui satu hal saja, akan tetapi luput darinya banyak hal
            Tidak hanya itu saja, Mbah Maemoen dalam beberapa pengajiannya juga sering mengatakan bahwa:
Manungso kui kaprahe mung iso ndelok sak arah thok. Iku yo wajar, sebab deweke mung isone yo madep sak arah thok. Dadi yo mung 90 derajat thok. Lah ndunyo kui bunder ser. Bunder kui 360 derajat. Dadi santri ya harus tau segala[2]
            Aku memahami bahwa yang dimaksud dengan “harus tau segala” atau “Bunder Kui 360 Derajat” adalah berusaha untuk melihat segala sesuatu dengan sesuai porsinya dan tentunya harus secara utuh, komprehensif, tidak secuil atau separo saja. Karena tentunya pemahaman yang sepihak saja, akan menjadikan seseorang fanatik dan mudah mencela serta menyalahkan orang lain, padahal belum tentu orang lain tersebut salah.
            Dalam kesempatan lain, Mbah Maemoen pun sering dawuh mengutip statement Nabiyullah Ibrahim Alahis Salam:
على العاقل أن يكون عارفا بزمانه مقبلا في شأنه راضيا بربه
Bagi seorang yang berakal, hendaknya ia harus memahami kondisi dan fenomena yang terjadi pada masanya. Perhatian terhadap apa yang menjadi tanggung jawabnya (Sya’nu), serta ridha terhadap apa yang menjadi ketetapan tuhannya[3]
            Bahkan dulu sebelum aku kluyuran ke Lebanon dan sowan kepada beliau sebanyak 3 kali, Mbah Maemoen berpesan khusus kepadaku:
“Lebanon kui ono telu yoh...presidene Kristen, perdana mentrine Sunni, la ketua parlemene Syiah. La kowe yo kudu paham telu-telune yo...heh...yo paham Sunni, yo paham Kristen, yo paham Syiah...paham?”
“Nggeh Yai” [4], Jawabku.
Apakah dengan petuah ini beliau ingin menyuruhku untuk menjadi seorang Syi’i atau seorang Kristen? Tentunya tidak, Khasya Wa Kalla. Lalu apa maksud beliau? Secara pribadi, aku memahami bahwa beliau hendak mendorongku untuk menjadi orang yang pengalaman, terbuka, santri dengan wawasan yang tidak sempit/ dengan istilah beliau adalah menjadi “santri yang tau segala”. Karena pada akhirnya, realitas kehidupan menuntut kita untuk bijak dalam menyikapi perbedaan-perbedaan yang berkembang. Perbedaan adalah sebuah keniscayaan dan sunnatullah yang tidak bisa dipungkiri. Perbedaan bukan untuk dimusuhi, perbedaan bukan untuk dilawan dan bukan pula untuk dimusnahkan. Akan tetapi, semestinya perbedaan adalah untuk diracik sedemikian rupa, sehingga ia bisa menjadi pelangi yang walaupun berbeda-beda warnya, tetapi sedap nan sejuk dipandang mata.
Bahkan beda agama pun semestinya tidak menjadikan sesama manusia untuk saling bermusuhan. Dalam kajian Fiqh Islam, kita akan menemukan data bahwa tidak semua non muslim itu boleh diperangi, bahkan ada sebagian dari mereka yang harus dilindungi oleh institusi pemerintah. Yang boleh kita perangi hanyalah non muslim dengan predikat Harbi, yakni non muslim yang menyerang/memerangi umat Islam. Sedang non muslim yang Dzimmi (non muslim yang keamanannya menjadi tanggungan umat Islam, karena mereka siap untuk berdampingan secara damai dengan umat Islam), Musta’man (non muslim yang keamanannya dijamin oleh pemerintah yang sah) dan Mu’ahad (non muslim yang menyepakati adanya gencatan senjata dengan umat Islam), maka mereka ini tidaklah boleh kita perangi. Lalu bagaimana dengan Umat Islam yang berbeda pandangan dan madzhab dengan kita? Tentunya lebih tidak boleh lagi untuk kita perangi. Dan dalam bingkai pemahaman ini pula, kita bisa memahami Hadis Nabi yang berbunyi:
أمرت أن أقاتل الناس حتى يشهدوا أن لا إله إلا الله
            “Saya diperintahkan untuk berperang dengan manusia, hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah
Kita perhatikan redaksi (أقاتل) yang mengikuti shighot (bentuk kata) Mufa’alah yang tentunya bagi para pengkaji ilmu shorof sudah tidak asing lagi apa faidah-nya, yaitu Musyarokah. Faidah Musyarokah menunjukkan makna “saling”, yang pada akhirnya memberikan pemahaman kepada kita bahwasannya ada dua pelaku/lebih dalam sebuah pekerjaan. Nah, dalam redaksi hadis di atas, kata (أقاتل) menunjukkan saling bunuh membunuh antara manusia. Berarti yang akan diperangi Rasulullah, sebagaimana termaktub dalam redaksi hadis di atas, adalah non muslim yang memang ingin memerangi umat Islam juga, sedang yang lain tidak. Betapa hebatnya baginda Nabi dalam memilah dan memilih redaksi yang akan beliau sabdakan, sehingga tidak akan bisa menimbulkan kerancuan pemahaman dikemudian hari.
Ketiga- Dari statement di atas, Mbah Maemoen ingin mengajak kita untuk flash back/kembali merenungi sejarah umat Islam yang telah lalu. Mbah Maemoen mengajak kita untuk memperhatikan tragedi berdarah yang sangat menusuk hati setiap umat Islam, yakni peristiwa pembunuhan Imam Ali KarramaLlah Wajhah yang direncanakan oleh sekelompok orang yang mengaku paling benar, paling paham atas interpretasi al-Qur’an maupun Hadis, merasa paling baik dan paling khusyu’. Mereka berpendapat bahwa Imam Ali, Amr Bin Ash, Abu Musa Al-Asy’ari, Mu’awiyah, pelaku perang Jamal dan semua orang yang ridha atas keputusan Tahkim adalah orang-orang yang kafir yang halal darahnya[5]. Merekalah Khowarij, kaum paling khusyu’ sepanjang perjalanan sejarah umat Islam.
Dalam kajian sejarah, Khowarij adalah salah satu kelompok paling berbahaya bagi kehidupan umat Islam. Dan lagi-lagi, khusyu’ menjadi semacam tameng dan topeng yang sangat berguna untuk memuluskan aksi-aksi mereka. Coba saja kita perhatikan bersama, bagaimana Al-Imam Ahmad Bin Hanbal menggambarkan beberapa ciri khas mereka dari sebuah hadis yang beliau kutip dalam musnadnya dari Abu Sa’id Al-Khudri RadhiyaLlahu Anhu.
Dulu, pada masa kehidupan Rasul Shollallahu Alaihi Wa Sallam, ada suatu peristiwa yang sangat menggemparkan jagad para sahabat. Suatu hari di masjid Rasul ada seseorang yang kelihatannya demikian khusuk melaksanakan shalat. Kekhusyukannnya begitu memikat dan menawan hati sebagian shahabat yang melihatnya. Mereka banyak memperbincangkannya, bahkan sengaja ada yang menceritakan pemandangan itu di dekat Rasul, dengan maksud agar beliau mengomentarinya. Mereka sangat berharap ada komentar dan perkataan Rasul tentang orang itu. Namun, alih-alih pujian yang muncul dari lisan beliau yang suci, justru tantangan bagi sahabat yang punya nyali untuk memisahkan kepala dari tubuhnya. Semua terperangah, seolah tidak percaya dengan perkataan Rasul. Bahkan Rasul berkata : “Orang inilah yang nantinya akan menebarkan aroma perpecahan dan fitnah kehancuran dalam agama. Aku melihat hembusan setan di dahinya. Sekiranya engkau membunuh orang itu, maka tidak akan terjadi perpecahan umat dikemudian hari”.
Rasul lalu memerintahkan Abu Bakar Radhiyallahu Anhu untuk membunuhnya, tetapi sayang, dia tidak mampu mengalahkan perasaannya untuk membunuh orang yang sedang khusyu’ beribadah tersebut. Kemudian Rasulullah merintahkan Umar ibn Al-Khaththab Radhiyallahu Anhu dengan perintah yang sama, namun Umar mengalami perasaan yang sama. Dia lebih tunduk kepada perasaannya ketimbang perintah wajib dari Rasul. Kemudian Rasul memeritahkan Ali ibn Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu, dan Ali pun tanpa berpikir panjang segera bangkit dengan menghunus pedang dihadapan Rasul dan para sahabat. Namun sayang, rupanya hal itu diketahui oleh orang itu sehingga dia kabur meninggalkan masjid[6].
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa mereka adalah orang-orang yang hapal Al-Qur’an (يقرؤون القرآن), akan tetapi makna dan kandungan Al-Qur’an hanya sampai dimulut mereka saja, tidak bisa meresap dalam kalbu (ولم يجاوز تراقيهم). Bahkan Abdurrahman Ibnu Muljam Al-Murodi, pembunuh Imam Ali, pun adalah orang yang super khusyu’. Dia terkenal sebagai penghapal Al-Qur’an, selalu melakukan sholat malam dan selalu menahan dahaga dengan puasa di siang hari. Namun, dia merasa sebagai orang paling baik, orang paling benar dan orang paling berhak untuk menafsirkan al-Qur’an, karenanya tidak heran jikalau kemudian dia mengkafirkan Imam Ali, menghalalkan darahnya dan bahkan akhirnya membunuh beliau.
Dr. Umar Abdullah Kamil—salah satu santri dan murid dari Abuya Sayyid Muhammad Bin Alawi Al-Maliki—menyebutkan beberapa ciri-ciri tertentu dari khowarij. Dan anehnya, ciri-ciri tersebut pun sampai sekarang masih melekat dalam diri sebagian umat Islam yang menganggap dirinya sebagai orang yang paling benar dan paling khusyu’. Beberapa ciri khas mereka adalah:
1.    Khowarij tempo dulu selalu menggembor-gemborkan slogan dan syi’ar “La Hukma Illa Lillah”, tidak ada hukum kecuali hukumnya Allah. Namun Imam Ali mengatakan bahwa slogan ini hanyalah bualan saja, ia merupakan “Kalimatu Haqqin Urida Biha Al-Bathil”, sebuah ungkapan yang benar, namun dibalik itu terdapat tujuan dan maksud yang salah dan batil. Jadi slogan itu hanyalah kedok saja untuk membenarkan apa yang menjadi hasrat dan keinginan mereka saja. Ungkapan tersebut tidak benar-benar keluar karena ingin mengikuti perintah Allah. Begitu juga dengan khowarij di era modern sekarang ini. Mereka berusaha ingin menegakkan syariat Islam disebuah negara/daerah tertentu, namun sebenarnya semua itu hanyalah mereka jadikan kedok untuk memuluskan langkah mereka guna meraih kekuasaan. Dan saat mereka sudah duduk dikursi empuk, maka praktek penerapan syariat pun tak pernah bisa terealisasikan, seperti halnya kejadian di Mesir pasca tumbangnya Husni Mubarok. Atau kalaupun bisa merealisasikan apa yang mereka sebut ‘syariat’, maka yang diterapkan adalah syariat dengan versi mereka sendiri. Sehingga hal itu memberikan dampak berupa intimadasi, diskriminasi dan tentunya Isolasi terhadap kelompok lain yang tidak sepaham dengan mereka. Pemandangan seperti inilah yang terjadi pada Saudi Arabia dengan paham Wahhabi sampai sekarang. Dari kronologi inilah kemudian muncul syiar Nahdhatul Ulama (NU) yang menyatakan bahwa NKRI harga mati.
2.    Khowarij tempo dulu adalah orang-orang yang sangat berlebihan dalam masalah beribadah dan dalam pemahaman agama. Saking khusyu’-nya, mereka memiliki pemahaman bahwa pelaku dosa besar adalah orang kafir yang halal darahnya. Mereka mengkafirkan para pemimpin seperti Imam Ali, Mu’wiyah serta Amr Bin ‘Ash. Tidak berhenti pada pengkafiran saja, bahkan mereka sudah bergerak dan berusaha membunuh kesemuanya, walaupun akhirnya mereka hanya berhasil membunuh Imam Ali saja. Sama dengan mereka adalah Neo Khowarij sekarang ini. Mereka mempunyai anggapan bahwa para pemimpin Indonesia sekarang ini sudah kafir. Hal ini karena mereka menganggap bahwa para pemimpin itu tidak menetapkan syariat Islam sebagai undang-undang. Berpijak dari sini, mereka kemudian melegalkan adanya revolusi dan pemberontakan terhadap sebuah pemerintahan yang sah. Rakyat yang tidak mau ikut revolusi guna meruntuhkan kekuasaan pemerintah dengan model seperti ini pun mereka cap sebagai rakyat yang kafir juga. Lihat saja berbagai macam pergolakan yang terjadi berbagai belahan negara Islam akhir-akhir ini. Mulai dari Al-Jazair, Tunisia, Libya, Mesir dan terakhir adalah Syiria yang sampai sekarang masih terus bergejolak. Semua itu adalah karena benih-benih ke-khusyu’-an Khowarij ini berkembang biak dengan baik, tanpa ada yang mampu untuk membendungnya.
3.    Khowarij tempo dulu tidak takut mati sama sekali demi menegakkah syariat Allah yang berada dalam hayalan mereka. Dengan semangat dan keberanian penuh, mereka maju untuk berperang tanpa memperdulikan untuk apa dan siapa yang mereka perangi. Keberanian ini bukan tanpa sebab, karena mereka mempunyai anggapan bahwa kematiannya inilah yang memuluskan jalan mereka menuju ke Surga. Tak jauh beda dengan mereka adalah khowarij modern sekarang ini. Mereka rela menjadi ‘pengantin’ dengan mengorbankan dirinya guna mendapatkan kapling Surga nanti.
4.    Khowarij tempo dulu enggan untuk membunuh babi, karena mereka menganggap itu sebagai kerusakan. Padahal mereka berani membunuh sahabat Nabi, Abdullah Bin Hubab beserta istrinya yang sedang hamil dan beberapa sahabat yang lain. Mereka juga enggan untuk memungut sepotong kurma yang terjatuh di atas tanah. Namun disisi lain mereka mudah menuduh orang lain sebagai pelaku bid’ah, kafir, syirik dan tuduhan miring lainnya, hanya gara-gara berbeda dalam masalah khilafiyah saja.
5.    Khowarij tempo dulu terjebak dalam pemahaman keagamaan secara tekstualis ansich, sehingga hal itu menjadikan mereka berfikir secara konservtif. Al-Hafidz Ibnul Jauzi menuturkan sebuah riwayat yang menjelaskan bahwa saat Ibnu Muljam akan di Qishash karena pembunuhan yang ia lakukan terhadap Imam Ali, maka Abdullah Bin Ja’far Bin Abi Thalib memotong kedua tangannya. Tetapi Ibnu Muljam tetap kekeh diam saja, tidak ada sedikit pun ratapan keluar dari mulutnya. Lalu kedua matanya dicukil dengan paku yang dipanaskan, ia pun hanya diam saja, tidak ada ratapan sama sekali keluar dari mulutnya, bahkan dengan bangganya ia membaca: “Iqro’ Bismi Robbika-L-Ladzi Kholaq”. Namun saat Ibnu Ja’far hendak memotong lisannya, tiba-tiba Ibnu Muljam meratap. Abdullah bertanya: “Kenapa engkau meratap wahai Ibnu Muljam?”, “Aku khawatir meninggal sedang aku dalam kondisi tidak bisa berdzikir dengan lisanku”. Dari riwayat Ibnul Jauzi ini, bisa kita ambil kesimpulan bahwa Ibnul Muljam memahami perintah dzikir secara lahiriah saja, karenanya ia takut kalau tidak bisa berdzikir dengan lisannya itu. Padahal esensi dari sebuah dzikir adalah ingat Allah dengan hati, sedang dzikir dengan lisan hanyalah sunnah saja. Dan masih banyak lagi ciri-ciri khowarij yang tidak bisa aku sebutkan satu persatu di sini.
Uraian yang sangat panjang ini hanyalah ingin mengantarkan kita pada sebuah gagasan besar Mbah Maemoen yang disampaikan dengan gaya bahasa yang terkesan humoris, penuh teka teki tetapi serat akan makna: “Man Izdada Khusyu’an Izdada Jahlan”. Dan dalam era modern ini, banyak kita temukan kelompok-kelompok maupun perorangan yang sedikit banyak telah terjangkiti virus khowarij ini. Banyak orang awam yang terkagum-kagum dengan ke-khusyu’-an mereka, terlebih lagi kebanyakan mereka adalah orang-orang yang memiliki olah vokal luar bisa dan mental yang kuat. Padahal sebenarnya pengetahuan dan keilmuan mereka berkenaan dengan masalah agama sangatlah minim sekali. Sedang orang yang sebenarnya memiliki pengetahuan agama cukup luas, lama di Pesantren dan memiliki pemahaman Islam yang moderat, malah tidak mampu untuk berbicara di depan audien banyak. Ia tidak mampu untuk bermain retorika sebagaimana para pengikut gagasan neo khowarij yang telah aku sebutkan di depan. Lalu bagaimana solusinya?
Ya, solusi yang diberikan Mbah Maemoen selama ini adalah dengan tidak berhenti untuk belajar. Jangan merasa puas dengan apa yang telah kita ketahui sekarang ini, karena pada dasarnya ilmu yang tidak kita ketahui lebih banyak dari pada ilmu yang kita ketahui. Dengan terus belajar dan membaca apa saja, seseorang akan dengan mudah memahami apa yang di pahami oleh orang lain. Dan tentunya hal itu pula akan mengantarkan ia pada kedewasaan dan keterbukaan pemikiran (Open Mind). Seorang santri yang telah lama belajar dan bertapa di pesantren sekalipun, kalau dia berhenti untuk belajar dan membaca, maka tidak menutup kemungkinan virus khowarij ini pun akan menjangkitinya. Karenanya Mbah Maemoen juga menyampaikan hal ini kepada masyarakat pesantren agar mereka sadar dan tidak berhenti untuk belajar dan membaca apa saja.
Walhasil, melalui petuah “Man Izdada Khusyu’an Izdada Jahlan” ini, paling tidak ada 3 hal yang ingin disampaikan Mbah Maemoen kepada kita—konklusi ini adalah menurut pemahaman dan analisaku pribadi, bukan langsung disampaikan oleh beliau. Pertama, kita jangan terpesona dengan penampilan lahiriah seseorang yang nampaknya khusyu’, karena seringnya hal itu menipu kita. Kedua, hendaknya kita menjadi umat Islam—terlebih lagi santri—yang mau selalu belajar dan terus membaca. Apapun harus kita ketahui, jangan puas hanya dengan pengetahuan yang sekilas saja, karena hal itu bisa menimbulkan sikap fanatik buta yang sangat dilarang oleh Islam itu sendiri. Ada sebuah ungkapan menarik dari para ulama yang berbunyi:
الإنسان  أعداء ما جهلوا
Manusia adalah musuh dari kebohannya sendiri
Begitu juga ungkapan yang terekam dengan manis dalam kitab Ta’lim:
خذ ما صفا ودع ما كدر
Ambillah yang baik, tinggalkan yang tidak baik
Ketiga, hendaknya kita berhati-hati dengan paham Neo Khowarij yang akhir-akhir ini merebak diberbagai belahan negara Indonesia tercinta ini. Ketiga paham “khusyu’isme” ini tidak hanya membahayakan orang diluar kelompoknya saja, akan tetapi juga membayakan keberlangsungan eksistensi dan kesatuan NKRI yang harus di jaga. Jadi ojo khusyu’-khusyu’ nemen...!






[1] Ucapan Mbah Maemoen dengan bahasa jawa yang artinya “Dulu ayah berkata”.
[2] Artinya: “manusia itu umumnya hanya bisa melihat satu arah saja. Itu ya wajar saja, sebab dia hanya bisa menghadap pada satu arah saja. Jadi ya hanya mendapatkan 90 derajat saja. Sedangkan dunia itu bulat. Bulat itu 360 derajat. Jadi seorang santri ya harus tau segala”.
[3] Banyak redaksi yang semakna dengan apa yang disampaikan oleh Mbah Maemoen di atas. Akan tetapi secara pribadi aku belum menemukan data dengan redaksi yang sama persis dengan apa yang disampaikan Mbah Maemoen di atas. Imam Ar-Rozi, Al-Biqo’i dan An-Nasafi menggunakan redaksi: ينبغي للعاقل أن يكون حافظاً للسانه عارفاً بزمانه مقبلاً على شأنه. sedang yang hampir mirip adalah redaksi As-Suyuthi dalam Ad-Durru-L-Mantsur yang berbunyi: وحق على العاقل أن يكون عارفاً بزمانه ، حافظاً للسانه ، مقبلاً على شأنه. Wallahu A’lam Bis Showab.
[4] Artinya: “Lebanon itu ada 3 kelompok ya, presidennya dari kristen, perdana mentrinya dari islam sunni, ketua parlemennya dari islam syiah. Nah, kamu harus faham ketiga-tiganya ya. Heh. Ya paham sunni, paham kristen dan paham syiah. Paham kamu?”. “Iya Kiai”.
[5] Lihat Dr. Umar Abdullah Kamil dalam (tt), Al-Mutathorrifun Khowariju-L-Ashri,
[6] Ini adalah ringkasan Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam musnad-nya, sedang Al-Hafidz Al-Haitsami mengomentari hadis ini sebagai hadis yang para perowinya Tsiqqah. Lihat Al-Hafidz Nuru-D-Din Ali Bin Abi Bakar Al-Haitsami (1412), Majma’u-Z-Zawaid Wa Manba’u-L-Fawaid, Beirut: Dar El-Fikr. Vol: 6. Hal: 335. 

Lukisan Indah Untuk Saudaraku

Written By diya al-haq on Tuesday, January 27, 2015 | 12:45 PM



Alkisah, di sebuah negeri antah berantah sana, terdapat seorang Raja yang adil dan selalu berusaha untuk memakmurkan Rakyatnya. Semua rakyat bahagia dan gembira dengan berbagai kebijakan yang ditetapkan oleh sang Raja. Kehidupan Sang Raja serasa bertaburan dengan berwarna warni bunga yang indah nan harum semerbak. Hidup senang, Rakyat makmur nan bahagia. Mestinya dia benar-benar bahagia. Namun, ia masih saja termenung dan kelihatan cemberut setiap waktu. Ada satu hal yang masih ia gelisah, galau dan tidak bisa ikut berbahagia seperti rakyatnya. Ya, hal itu karena dia terlahir dalam kondisi salah satu matanya buta dan kaki kirinya pincang. Ia menganggap ini aib yang sangat menyakitkan. Apa jadinya jikalau seorang Raja itu orang yang "Pece" (buta salah satu matanya) dan pincang? tentu sangat memalukan.

Karenanya, dia ingin saat dia meninggal nanti, ada kenang-kenangan yang memperlihatkan dirinya secara sempurna, tidak ada kekurangan sama sekali.
Demi merealisasikan keinginannya tersebut, akhirnya dia mengundang seluruh pelukis yang berada di setiap jengkal tanah kekuasaannya. Ia menitahkan kepada mereka untuk melukis dirinya dengan lukisan yang paling baik dan sempurna. Lukisan yang benar-benar bisa menggambarkan kesempurnaan dirinya, sempurna dalam segala kebijakannya dan sempurna secara fisik.

Tetapi, lagi-lagi, nampaknya apa yang menjadi harapannya tersebut sulit untuk terealisasikan. Para pelukis itu nampak kesulitan untuk melaksanakan titah sang Raja. Mereka mengakui bahwa sang Raja adalah seseorang yang bisa dikatakan sempurna dalam kebaikan dan kebijakan. Namun secara fisik? Mereka tidak tahu, bagaimana caranya melukis sang Raja dalam kondisi sempurna secara fisik, sedang kenyataannya sang Raja memang cacat mata dan kakinya. Semua pelukis yang datang nampak enggan melakukan tugas besar nan berat itu. Melihat hal itu, sang Raja muram, wajahnya nampak lesu dan tidak ada gairah lagi dalam menjalankan pemerintahan. Sepanjang hari ia nampak murung dan hanya mengurung diri dalam kamar. Hingga akhirnya, roda pemerintahan yang menjadi tanggung jawabnya, sedikit demi sedikit terbengkalai.

 Melihat kondisi sang Raja yang sedang dirundung nestapa, dan pemerintahannya  yang sedang semrawut, ada seorang pelukis kecil yang memberanikan diri untuk melukis sang Raja sesuai dengan keinginannya tadi. Pada mulanya, semua pelukis senior mencibir dan merendahkannya.
"Apa mampu anak ingusan itu memenuhi keinginan Raja yang aneh itu? kita saja yang sudah ahli menyerah kok, apalagi dia yang masih ingusan", Cela mereka.
Tetapi pelukis kecil itu tetap melangkah maju. Ia tidak gentar dengan berbagai celaan, olokan maupun cibiran dari para seniornya. Dengan mantap dia menghadap pada Sang Raja dan menyatakan kesanggupannya untuk melukis sang Raja pada waktu itu juga. Dengan senyum mengembang dan hati gembira, sang Raja mempersilahkan si pelukis kecil untuk memulai melukis. Mulailah si pelukis kecil melukis. Waktu terus berjalan. Detik demi detik terus berlalu. 1 jam telah terlewati. Sedang si pelukis kecil masih saja melanjutkan lukisannya itu. Peluh membasahi dahinya, keringat dingin mengucur deras di setiap persendian tubuhnya. 6 Jam waktu telah terlewati hingga akhirnya lukisan itu selesai.

"Duhai baginda Raja, silahkan lihat...! inilah lukisan yang tuan paduka inginkan", kata pelukis kecil mempersilahkan sang Raja untuk melihat hasil karyanya itu.

Dengan pelan-pelan, penuh perhatian, ketelitian dan penglihatan yang seksama, sang Raja mengamati lukisan buah karya pelukis kecil itu. Nampak senyum mengembang di kedua bibir sang Raja. Wajahnya nampak cerah dan bahagia melihat lukisan itu. Melihat gelagat bahagia pada wajah sang Raja, para pelukis senior dan semua abdi negara yang dari tadi mendampingi sang Raja penasaran, mereka ingin melihat bagaimana sebenarnya lukisan itu? Berbondong-bondong mereka bergegas mendekat untuk melihat lukisan itu. Hasilnya sama, mereka pun terkagum-kagum akan lukisan anak kecil itu. Bagaimanakah lukisan itu?

Pada punggung kanvas itu, si pelukis kecil menggambar sang Raja seolah-olah beliau sedang memegang senapan panjang dalam kondisi setengah duduk. Kaki kiri yang sebenarnya pincang, di lukis dalam kondisi di tekuk selutut ke arah tanah. Dan matanya yang buta tadi di lukis dalam kondisi tertutup, seakan-akan sang Raja sedang mengincar seekor hewan buruan untuk di bidik. Dengan lukisan yang demikian unik, cacat sang Raja tidak nampak kelihatan, dan si pelukis kecil pun tidak sedang berbohong dengan lukisannya. Bahkan yang nampak adalah kecerdasan dan kecerdikan si pelukis kecil.

Marilah kita berusaha untuk melukis saudara-saudara kita dengan lukisan yang indah, menawan, anggun dan penuh dengan kebahagiaan. Sehingga kita lebih sering tersenyum bersama, dari pada menitikan air mata perpecahan dimana-mana. Salam persaudaraan.

إذا كنت فى كل الأمور معاتبا # صديقك لم تلق الذى لا تعاتبه
فعش واحدا أو صل أخاك # فإنه مقارف ذنب مرة ومجانبه
إذا أنت لم تشرب مرارا على القذى # ظئمت واي الناس تصفو مشاربه
ومن ذا الذى ترضى سجاياه كلها # كفى المرأ نبلا أن تعد معايبه
Bila semua kelakuan sahabatmu kau caci-maki,
Kau tak akan temukan teman yang tak kau caci-maki
Jika begitu hiduplah sendiri saja.
Atau jalinlah silaturrahim dengan sahabatmu
Meski ia pasti tak bebas dari salah dan kurang.
Adakah manusia yang sepenuhnya bersih ?
terbebas dari kesalahan dan dosa
O, cukuplah kita tahu betapa mulianya seseorang
Jika dia sadar atas kelemahan dirinya


Mbah Maemoen Dan Ahlul Bait

Written By diya al-haq on Thursday, January 22, 2015 | 10:16 PM


Ahlul Bait Rasulullah Shollallahu Alaihi Wa Sallam sejak dahulu hingga sekarang memang telah menempati ruang tersendiri dalam hati setiap orang Islam, tanpa terkecuali. Bukan hanya madzhab Syi’ah saja, akan tetapi sebenarnya madzhab Sunni juga sangat memuliakan dan mencintai Ahlul Bait. Terlebih lagi jikalau dalam diri Ahlul Bait tersebut tidak hanya terdapat kemuliaan darah suci Rasulullah yang mengalir dalam setiap nadinya, akan tetapi juga terdapat kemuliaan ilmu serta akhlak mulia Rasulullah, tentunya akan lebih luar biasa lagi dalam menarik simpati dan cinta umat Islam kepada mereka. Kecuali satu kelompok dalam Islam yang memang hatinya telah dipenuhi oleh kebencian dan permusuhan terhadap Ahlul Bait Rasulullah Shollallahu Alaihi Wa Sallam. Yang dalam sejarah disebut dengan kelompok Nashibin.

        Kalau kita merunut sejarah, maka kita akan menemukan banyak data yang menunjukkan betapa besar kecintaan kaum muslimin kepada Ahlul Bait. Bahkan para  penyair Arab yang notabenenya kehidupan mereka akrab dengan hura-hura, foya-foya, arak, wanita biduan dan berbagai macam kemewahan serta glamor dunia pun ternyata juga sangat mencintai Ahlul Bait Rasulullah ini. Walaupun tidak sedikit pula dari mereka yang malah menggunakan syair/puisi karya mereka sebagai alat untuk mencaci, menghujat dan kalau perlu mendzolimi ahlul bait.

        Bagi para pengkaji Sastra Arab, nama Farozdaq tentunya sudah tidak asing lagi bagi mereka. Penyair ini pernah dijebloskan ke dalam penjara yang terletak diantara Makkah-Madinah oleh putra mahkota dinasti Marwaniyah, Al-Walid Ibnu Abdil Malik, lantaran puisi gubahannya yang dianggap sebagai alat politik guna menguatkan propaganda yang mendukung ahlul bait atau paling tidak mendukung serta mencintai ahlul bait. Dan tentunya kita sudah mafhum, bahwa dinasti Marwaniyah sangatlah memusuhi dan berusaha untuk mengenyahkan Ahlul Bait Nabi, sebagaimana dinasti Umayyah sebelum mereka.

        Ya, Makkah saat itu sedang ramai oleh para peziarah dari berbagai penjuru dunia. Ka’bah pun tak pernah sepi dari para Thoifin (orang yang thowaf) mengelelilinginya, sehingga saking banyaknya, antara satu dan yang lain saling berdesakan, terlebih lagi jikalau sudah berdekatan dengan Hajar Aswad. Sebagai seorang putra mahkota, Al-Walid bin Abdul Malik Bin Marwan tentunya ingin mengitari Ka’bah dengan tanpa susah payah. Ia ingin dengan leluasa mengusap dan mencium Hajar Aswad sepuasnya tanpa diganggu oleh Thoifin yang lain. Namun apa daya, manusia-manusia yang thowaf disekitar ka’bah nampaknya sudah tidak memperdulikan lagi pada apa yang namanya strata sosial. Mereka tidak lagi membedakan apakah itu anak raja atau bukan, pertimbangan mereka hanyalah kemuliaan dalam ‘pandangan’ Allah saja. Alih-alih Al-Walid bisa leluasa mendekati Ka’bah, eh malah-malah ia tersingkirkan dan terdesak ke pinggir menjauhi Ka’bah. Akhirnya dengan rasa dongkol, ia dan para hulubalangnya hanya duduk-duduk saja dipinggiran Mathof sambil mengamati polah dan tingkah laku orang-orang yang sedang melakukan ibadah Thowaf.

        Tiba-tiba peristiwa aneh terjadi. Ada sesosok pemuda yang nampak dari kejauhan berjalan dan berusaha untuk mendekati Hajar Aswad. Langkahnya pelan tetapi penuh kepastian. Perlahan namun diiringi dengan kewibawaan. Dan yang lebih mencengangkan lagi adalah sikap aneh yang menghinggapi orang-orang yang sedang berputar mengitari Ka’bah. Tanpa dikomando, dengan serempak mereka membelah dan memberi jalan pada sosok pemuda asing tersebut, hingga dengan mudah serta tanpa susah payah sama sekali sang pemuda tadi bisa mendekati Rukun Yamani, dimana Hajar Aswad bersemayam di sana. Dengan santainya pemuda itu mengusap Hajar Aswad lalu menciumnya.

        Melihat pemandangan yang menakjubkan itu, semua mata terperanjat. Masing-masing dari mereka sibuk dengan pikirannya sendiri-sendiri, setelah melihat peristiwa yang unik nan aneh itu. Sambil berbisik-bisik mereka saling bertanya: “Siapakah dia?”. Mendengar keributan dan pertanyaan yang secara tidak langsung menusuk telinga dan mengusik ketenangan jiwanya, dengan ketus Al-Walid menjawab: “Ah, entahlah siapa dia, aku tidak tahu”. Jawaban Al-Walid ini tidak lain hanyalah untuk mengalihkan perhatian para hulubalang dari pemuda asing tadi. Sebab pada dasarnya ia sangat mengenal pemuda itu, yang tak lain dan tak bukan adalah Imam Ali Zainal Abidin As-Sajjad bin Imam Al-Husain bin Imam Ali Bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhum.

        Mendengar jawaban Al-Walid yang terkesan latah dan sinis itu, Farozdaq yang kebetulan melintasi rombongan putra mahkota itu merasa geram. Secara spontan (Irtijal) Farozdaq menyenandungkan untaian-untaian bait syair yang dikemudian hari sangatlah masyhur dengan sebutan Kasidah Mimiyyah. Disebut dengan kasidah Mimiyyah karena Qofiyah-nya berupa huruf “Mim”. Pembukaan kasidah tersebut adalah sebagai berikut:
هذا الذي تعرف البطحاء وطأته # والبيت يعرفه والحل والحرم
(Imam Ali Zainul Abidin) ini adalah orang yang tanah Bathkha’ (tanah makkah) selalu mengenal setiap langkahnya
Ka’bah pun mengenalnya, begitu pula tanah Halal dan tanah Haram
        Sama dengan Farozdaq adalah apa yang dilakukan oleh Imam Abu Hanifah (pendiri Madzhab Fiqh Hanafi). Tepatnya saat Kholifah Al-Mansur memanggil Imam Ja’far As-Shodiq untuk menghadap beliau guna uji coba kesetiaan. Saat itu, Al-Mansur menyuruh Imam Abu Hanifah untuk membuat 40 pertanyaan yang paling sulit dan rumit jawabannya, semua pertanyaan itu akan digunakan untuk menjatuhkan kewibawaan serta kemuliaan Imam Ja’far di depan mata para pendukungnya. Al-mansur berencana demikian, tetapi Allah punya rencana lain. Bukannya wibawa Imam Ja’far yang jatuh, malahan Imam Abu Hanifah yang jatuh hati pada sang imam. Ke-40 pertanyaan yang tadi sudah dipersiapkan oleh Imam Abu Hanifah, ternyata semua bisa dijawab oleh Imam Ja’far dengan benar beserta argumentasi yang gemilang pula. Sungguh luar bisa. Hingga akhirnya, mau tidak mau, Imam Abu Hanifah lalu berguru kepada Imam Ja’far selama kurang lebih 2 tahun lamanya. Sehingga dalam sejarah, kita sering mendengar ungkapan menakjubkan dari seorang Imam Abu Hanifah:
لولا السنتان لهلك النعمان
Andaikan bukan karena 2 tahun (berguru pada Imam Ja’far), niscaya Nu’man (Abu Hanifah) akan hancur
        Lalu bagaimana dengan guru-guru kita di Nusantara ini? Secara umum para ulama Nusantara sangat menghormati Ahlul Bait Rasulullah sebagaimana Farozdaq dan Imam Abu Hanifah di atas. Dalam satu kesempatan, saya pernah mendapatkan sebuah cerita dari Al-Marhum Kiai Makin Mudzakkir yang menggambarkan bagaimana bentuk pernghormatan dan kecintaan yang dilakukan oleh Kiai Maemoen Zubair terhadap salah satu Ahlul Bait dan cucu Rasulullah yang sangat ‘Alim nan mulia, yakni Al-Imam Sayyid Muhammad Bin Alawi Al-Maliki Al-Hasani.

        Saat Abuya—begitulah biasanya Sayyid Muhammad akrab dipanggil oleh santri-santri dan para pecintanya—berkunjung ke Sarang, Mbah Maemoen selaku tuan rumah langsung ikut turun tangan sendiri dalam rangka meladeni Abuya. Kiai Makin bercerita bahwa saat Abuya sedang menyambut banyaknya tamu yang berdatangan dari berbagai penjuru, dan masing-masing mengeluhkan segala permasalahannya untuk kemudian dijawab satu persatu oleh Abuya, Mbah Maemoen berada disamping beliau untuk menemani. Sambil mendengarkan Abuya yang memedar keilmuan tanpa kenal lelah, Mbah Maemoen malah sibuk mengupas kulit buah apel yang telah disuguhkan di atas meja. Dengan pelan-pelan dan penuh kesabaran, Mbah Maemoen mengupas kulit apel dengan sangat hati-hati. Baru setelah kulit apel benar-benar terkelupas semua, Mbah Maemoen kemudian menyuguhkan apel yang sudah bersih tadi kepada Abuya. Melihat Mbah Maemoen yang menawarkan sebuah apel yang sudah bersih, Abuya mengambil apel itu dengan tangan beliau yang mulia serta kemudian menggigit apel itu dengan satu gigitan kecil, lalu mengunyahnya.

Ya, hanya satu gigitan saja, lalu Abuya meletakkan apel itu di atas meja. Melihat apel yang telah digigit Abuya tergeletak di atas meja, Mbah Maemoen bergegas mengambil apel itu dan memasukkannnya ke dalam saku baju beliau. Kemudian beliau kembali mengupas apel baru untuk kemudian disuguhkan kepada Abuya lagi. Dan peristiwa pertama tadi terulang kembali, Abuya hanya menggigit apel itu dengan satu gigitan saja lalu meletakkan apel tersebut di atas meja. Dan lagi-lagi Mbah Maemoen bergegas mengambil apel ‘bekas’ gigitan abuya tersebut untuk kemudian dimasukkan kedalam kantong saku beliau. Hal seperti ini terulang sampai tiga kali. Setelah Abuya meninggalkan Sarang untuk melanjutkan kunjungan ilmiah beliau, Mbah Maemoen membagi-bagikan ketiga apel yang didalamnya terdapat ‘bekas’ gigitan Abuya tadi kepada tiga orang wanita, (seingat saya) Mbah Nun yang rumahnya dibeli Mbah Maemoen untuk kemudian dibangun pondok di atasnya, kalau tidak salah adalah bangunan khos NH. Lalu yang satu lagi diberikan kepada salah satu istri beliau, namun saya lupa, siapakah istri beliau yang mendapatkan hadiah apel berkah gigitan Abuya ini. Apakah Ibu Nyai Fahimah Maemoen atau Ibu Nyai Masthiah Maemoen. Dan yang terakhir pun saya lupa, diberikan kepada siapakah gerangan apel ketiga itu.

Peristiwa ini, paling tidak memberikan gambaran kepada kita sejauh mana seorang ulama sekaliber KH. Maemoen Zubair pun sangat menaruh hormat kepada Ahlul Bait Rasulullah Shollallahu Alaihi Wa Sallam. Bahkan saya sendiri sering sekali mendengar dengan telinga saya sendiri bagaimana beliau sering menuturkan hadis Tsaqolain yang sangat masyhur itu:
المستدرك على الصحيحين للحاكم مع تعليقات الذهبي في التلخيص - (ج 4 / ص 250)
قال رسول الله صلى الله عليه و سلم إني تارك فيكم الثقلين كتاب الله و أهل بيتي و إنهما لن يتفرقا حتى يردا علي الحوض
Rasulullah Shollallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: Aku tinggalkan bagi kalian dua hal yang berat. Kitab Allah (Al-Qur’an) dan keluargaku. Keduanya tidak akan berpisah hingga mereka mendatangiku di samping telagaku nanti

        Disamping beliau juga sering mengingatkan bahwa ulama dari kalangan ahlul bait di akhir zaman ini bagaikan sampan Nabi Nuh, siapa saja yang mau menaikinya, maka dia akan selamat. Sedang siapa saja yang enggan naik atau malah berpaling, maka dia akan celaka, hancur dan binasa. Dalam satu kesempatan, Mbah Maemoen menyampaikan analisa sejarah yang sangat menarik dan luar biasa. Dalam dunia Islam, kita mengenal apa yang disebut dengan Tajdid dan Mujaddid. Dan bahkan ada beberapa kitab yang ditulis berkenaan dengan masalah ini, semisal kitab At-Tanbi’ah Bi Man Yab’atsuhu-Llah ‘Ala Ro’si Kulli Mi’ah buah karya Imam As-Suyuthi. Begitu juga Mbah Maemoen dengan karya beliau yang hampir serupa, berjudul Ulama’una Al-Mujaddidun.

Menurut Mbah Maemoen, setelah tahun ke-1000 hijriyah/abad ke-10, para Mujaddid yang diutus oleh Allah ke bumi ini harus dari kalangan Ahlul Bait Rasulullah. Sebut saja—lanjut beliau—pada abad ke-11 Mujaddid-nya adalah Al-Imam Abdullah Bin Alawi Al-Haddad. Seorang cucu baginda Rasul yang walaupun buta mata lahir, namun melek mata batin-nya. Sehingga jangan heran jikalau kemudian banyak bermunculan karya-karya ilmiah beliau yang indah nan mempesona. Tidak hanya Habib Abdullah Bin Alawi saja yang diutus, akan tetapi juga Al-Imam Sayyid Ja’far Al-Barzanji, penulis kitab sastra berkenaan dengan Maulid Nabi yang sangat terkenal. Disamping juga kitab Lujainu-D-Dani Fi Manaqis Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani.

Lalu pada abad ke-12 hijriyah, Mujaddid-nya adalah Al-Imam As-Sayyid Muhammad Al-Murtadho Az-Zabidi. Beliau adalah satu-satunya ulama yang mampu men-syarahi (memberikan komentar dan catatan) atas kitab Ihya’ Ulumiddin yang tak lain merupakan masterpiec-nya Imam Al-Ghozali. Nama syarah beliau ini adalah Ithafu-S-Sadah Al-Muttaqin (Hadiah untuk orang-orang mulia nan bertakwa). Tidak hanya berhenti pada syarah Ihya’ saja, bahkan beliau mampu menulis syarah atas kitab Mu’jam Arab yang sangat besar, yaitu Al-Qomus Al-Mukhit, buah karya dari seorang pakar Bahasa Arab (Al-Lughowi) Al-Imam Majduddin Ya’qud Al-Fairuzabadi. Syarah atas kitab al-qomus ini diberi nama dengan Taju-L-Arus Fi Syarhi-L-Qomus (Mahkota bagi pengantin, komentar atas Al-Qomus). Dan dalam abad ke-12 hijriyah ini pulalah, allah mengutus pula seorang mujtahid lagi yang mempunyai karya sederhana, ringan akan tetapi kemasyhuran serta kemanfaatannya membumbung tinggi ke seluruh penjuru dunia. Yaitu Al-Imam As-Sayyid Muhammad Al-Marzuqi yang menulis kitab nadzam Aqidatu-L-Awam.

Dan pada abad ke-13 hijriyah, Allah mengutus beberapa ulama dari kalangan Ahlul Bait. Diantaranya adalah Sayyid Ahmad Zaini Dahlan yang menulis buku Tarikh Asyraf Fi Makkah dan beberapa buku keagamaan lainnya. Ada juga Sayyid Bakri Syatho, penulis Hasyiah I’anatu-T-Tholibin ‘Ala Fathi-L-Mu’in. Kitab Fathu-L-Mu’in sendiri ditulis oleh seorang ulama kelahiran india, dan menurut saya pribadi, rasa-rasanya para pengkaji kitab tersebut akan kesulitan jikalau tidak menggunakan Hasyiah Sayyid Bakri ini sebagai pendampingnya.

Lalu siapakah Mujaddid pada abad ke-14 Hijriyah sekarang ini? Mbah Maemoen mengajukan beberapa nama ulama timur tengah dari kalangan Ahlul Bait. Sebagian dari mereka kini telah wafat dan sowan kepada Allah, semisal guru besar para ulama indonesia yaitu Musnidu-D-Dunya Abul Faidh Syaikh Yasin Bin Isa Al-Fadani. Beliau adalah salah satu Ulama Nusantara yang berhasil mengukir prestasi keilmiahan ditingkat internasional, karena beliau ini mengajar di Masjid Al-Haram. Banyak karya-karya ilmiah lahir dari tangan beliau, sebut saja kitab Al-Fawaid Al-Janiyah yang merupakan hasyiah atas kitab Al-Mawahib As-Saniyyah. Belum lagi kitab Nailul Ma’mul Syarah Ghoyatu-L-Wushul yang tak lain merupakan karya besar Syaikh Zakariya Al-Anshori. Memang luar biasa imam Al-Fadani ini.

Selain Syaikh Yasin, ada juga Sayyid Muhammad Bin Alawi Al-Maliki Al-Hasani, yang ceritanya telah saya tuturkan di atas. Memang bisa dikatakan bahwa cucu baginda Rasul yang satu ini merupakan satu-satunya benteng Sunni yang kokoh bertahan mempertahankan akidah Aswaja ditengah-tengah faham Wahhabi yang memang menjadi madzhab negara Saudi Arabia. Banyak karya-karya beliau yang sampai sekarang masih bisa kita nikmati dan kita kaji. Dan tentunya, kitab Mafahim Yajibu An Tushohhah sudah tidak asing lagi ditelinga kita. Yah, memang kitab monumental satu ini sangatlah luar biasa hebatnya, saking hebatnya sampai-sampai hampir seluruh ulama, para hakim dan para mufti diseluruh penjuru negara Islam memberikan sambutan dan pujian mereka terhadap Sayyid Muhammad selaku penulis kitab Mafahim.

Sedangkan Mujaddid yang masih hidup sampai sekarang, menurut Mbah Maemoen adalah semisal Sayyid Zain Bin Ibrahim Bin Smith yang sekarang ini mukim di Madinah. Habib kelahiran Bogor ini juga termasuk salah satu ulama Ahlul Bait yang gigih dalam mempertahankan keyakinan Ahlussunnah di tengah hiruk pikuk faham Wahhabi, yang bisa saya katakan hampir merebak dan menjangkiti setiap sendi-sendi kehidupan warga negara Saudi. Bahkan ada sebagian teman saya yang menjadi murid beliau bercerita, bahwa karena ketegasan dan sikap kritis Habib Zain terhadap idiologi negara ini, akhirnya beliau dilarang untuk memberikan Ta’lim (pengajian) dan dilarang pula untuk menerima santri-santri yang ingin berguru kepada beliau dikediamannya seperti biasa.

Mbah Maemoen menjatuhkan pilihan beliau tentang Mujaddid terhadap Habib Zain bukanlah semata-mata karena kegigihan beliau membela faham Ahlussunnah saja, akan tetapi juga karena keilmuan beliau yang sangat luar biasa. Banyak karya-karya ilmiah yang lahir dari sentuhan tangan dingin beliau, sebut saja kitab Al-Manhaj As-Sawi, belum lagi kitab Syarah Hadis Jibril. Dan masih banyak yang lain lagi. Ada juga Syaikh Sayyid Sholih Farfur Al-Mishri beserta kedua putranya, yaitu Syaikh Sayyid Husamuddin dan Syaikh Sayyid Abdullatif, yang keduanya berada di Damaskus.

Melihat pemaparan Mbah Maemoen yang sedemikian indah nan panjang, terbersit dalam angan-angan saya sebuah pertanyaan: “Apa gerangan maksud dan tujuan analisa Mbah Maemoen yang menarik Ahlul Bait ke dalam kancah Tajdid?”. Sebenarnya, dalam kecintaan pada Ahlul Bait, Mbah Maemoen dan para ulama lainnya sedang mengamalkan firman  Allah dalam Al-Qur’an:
قُلْ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِلَّا الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَى  [الشورى/23]
Katakanlah, "Aku tidak meminta kepadamu suatu upah pun atas seruanku ini kecuali kecintaan kepada keluargaku

Disamping memang Mbah Maemoen sendiri sangat sering sekali mengutip hadis Tsaqolain yang sangat masyhur itu dengan berbagai riwayatnya, sebagaimana telah saya sebutkan di atas tadi. Tetapi yang lebih menarik perhatian saya adalah pemaknaan dan interpretasi yang diberikan Mbah Maemoen terhadap ayat dan hadis tersebut di atas tadi. Sepanjang kajian yang saya lakukan, memang saya belum pernah menemukan bahwa Mbah Maemoen menafsirkan ayat maupun hadis di atas secara eksplisit. Namun dari beberapa mauidzoh maupun pengajian beliau, seakan saya menangkap sebuah isyarat tentang pemaknaan yang diberikan oleh beliau. Sebelum saya menuturkan lebih lanjut penafsiran Mbah Maemoen yang saya pahami, saya ingin menyebutkan terlebih dahulu beberapa penafsiran seputar ayat ataupun hadis di atas. selama kajian sederhana yang saya lakukan, paling tidak ada dua interpretasi ayat di atas, terlebih lagi dalam memahami hadis Tsaqolain di atas.

Pertama adalah pemahaman madzhab Syiah yang secara tegas menyatakan bahwa makna ayat dan hadis di atas tidak akan bisa terealisasi kecuali dengan madzhab Ahlul Bait, baik secara Akidah maupun Fiqhiyah. Dan dalam era kontemporer sekarang ini, madzhab Syiah yang paling nampak berkembang adalah Madzhab Ja’fariyah yang dinisbatkan kepada Imam Ja’far As-Shodiq. Juga Madzhab Zaidiyah yang dinisbatkan kepada Imam Zaid Bin Ali Zainul Abidin. Argumentasi (Hujjah) yang mereka jadikan pijakan dalam menetapkan hal ini adalah hadis Tsaqolain yang telah saya sebutkan di atas tadi. Menurut pemahaman mereka, kata [و أهل بيتي] dalam hadis yang dihubungkan dengan menggunakan huruf ‘Athof “Waw” menunjukkan makna bahwa posisi Ahlul Bait (‘Itroh) adalah sama dengan Kitabullah. Kalau Kitabullah bisa menjadi hujjah, maka Ahlul Bait pun bisa menjadi Hujjah. Atau bisa juga diartikan bahwa Ahlul Bait adalah yang telah diberi otoritas oleh baginda Nabi guna menafsirkan Al-Qur’an.

Kedua adalah pemahaman yang menyatakan bahwa ayat serta hadis di atas tidak lebih hanya menunjukkan kewajiban mencintai, menghormati dan tentunya bersimpati kepada Ahlul Bait. Walaupun andaikata Ahlul Bait Rasul terdzolimi, maka mereka pun mengatakan wajib untuk melakukan pembelaan. Hanya saja, kecintaan mereka terhadap ahlul bait tidak sampai derajat harus mengikuti/menjadikan mereka sebagai imam dan panutan dalam bermadzhab, baik dalam masalah Akidah maupun Fiqhiyyah. Dalam buku Al-Muroja’at yang merupakan buku terindah dan terbagus—paling tidak bagi saya—dalam mendeskripsikan dialog antara Sunni-Syiah, saya menemukan sebuah data bahwa makna kedua ini juga disampaikan oleh Grand Syaikh Universitas Al-Azhar, yakni Syaikh Salim Al-Bisyri.

Nah, lalu di manakah posisi Mbah Maemoen terhadap dua interpretasi yang telah saya sebutkan di atas? Saya melihat Mbah Maemoen berusaha untuk menarik makna ayat maupun hadis di atas tidak hanya pada kecintaan, penghormatan dan simpati kepada Ahlul Bait saja. Bahkan ada kesan beliau menarik ayat/hadis tersebut pada ranah ilmiah. Hal ini bisa kita lihat dari penjelasan beliau di atas yang menyatakan bahwa para Mujaddid setelah abad ke-10 hijriyah haruslah dari kalangan Ahlil Bait Rasul. Dan dalam diskursus Tajdid, tentunya ranah ilmiah lebih mendapatkan porsi dari yang lain, pergerakan atau pemerintahan misalnya. Karena memang ada sebagian ulama yang menyatakan bahwa Tajdid tidak hanya berkutat pada ranah ilmiah saja, terbukti seorang Umar Bin Abdul Aziz Radhiyallahu ‘Anhu pun bisa memperoleh predikat Mujaddid dalam ranah kepemimpinan.

Sebenarnya apa yang beliau lakukan ini—menurut pemahaman dan kajian saya—hampir mirip dengan apa yang dilakukan oleh Madzhab Syiah yang juga menarik ayat/hadis di atas pada ranah illmiah, tidak hanya pada kecintaan dan penghormatan saja.  Hingga pada akhirnya mereka mencapai pada kesimpulan bahwa kecintaan terhadap Ahlul Bait tidak mungkin terealisasi kecuali dengan Taklid pada mereka dalam masalah Akidah ataupun Fiqh, sebagaimana telah saya paparkan di depan. Yang membedakan gagasan Mbah Maemoen dan Madzhab Syiah adalah Mbah Maemoen tidak menetapkan  bahwa Ahlul Bait bisa dijadikan hujjah/merupakan intrepretasi satu-satunya yang paling benar dalam memahami teks Al-Qur’an. Hal ini karena tidak bisa terlepas dari tuntunan akidah Sunni yang tidak memberikan predikat ‘Ishmah pada selain para Nabi. Karenanya siapa pun selain para Nabi dan Rasul sangat mungkin salah dalam pandangan Madzhab Sunni ini, entah itu Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad maupun selain mereka. Sehingga tidak boleh fanatik terhadap selain Kitabullah dan Sunnah baginda Nabi. Masih terngiang dengan jelas ditelinga kita ungkapan spektakuler Imam Malik Bin Anas yang sangat masyhur itu:
كل منا يترك ويرد عليه قوله إلا صاحب هذا القبر
Masing-masing dari kita boleh saja ditinggalkan dan dikritik pendapatnya, kecuali orang yang ada dalam kuburan ini (baginda Nabi Muhammad)


        Walhasil, bagi saya Mbah Maemoen telah menampilkan madzhab dan interpretasi baru dalam memahami teks ayat/hadis di atas yang sangat berbeda sama sekali dari dua interpretasi yang telah ada sebelumnya. Mbah Maemoen tidak hanya berhenti pada taraf kecintaan dan penghormatan saja, tetapi juga pada ranah ilmiah tanpa harus terjebak dalam pemahaman Madzhab Syiah. Beliau pun tidak hanya berhenti pada gagasan saja, tapi beliau juga mempraktekkan gagasan beliau ini dengan menyuruh putra-putra, cucu maupun sebagian santri-santrinya untuk melanjutkan belajar mereka kepada Sayyid Ahmad Bin Muhammad Al-Maliki Al-Hasani, Sayyid Abbas Bin Alawi Al-Maliki Al-Hasani (adik kandung Sayyid Muhammad), Sayyid Salim Bin Abdullah As-Syathiri (pengasuh Ribath Tarim Yaman). Disamping juga belajar kepada Syaikh Sholih Farfur di Mesir dan Syaikh Husamuddin maupun Syaikh Abdullatif di Syiria yang kesemuanya pun masih Ahlul Bait Rasulullah. Ya, merekalah sampan Nabi Nuh yang akan menyelamatkan siapa saja yang “menaikinya” dari terkaman ombak duniawi yang fana ini. Lalu, maukah kita menaikinya? Semoga. Wallahu A’lam Bis Showab.
Powered by Blogger.
Advertise 650 x 90
 
Copyright © 2014. Anjangsana Suci Santri - All Rights Reserved | Template - Maskolis | Modifikasi by - Leony Li
Proudly powered by Blogger