Advertise 728x90

Latest Post

BAYANI-BURHANI-IRFANI; kongkow bersama Kiai Ajib [1]

Written By diya al-haq on Sunday, June 5, 2016 | 2:45 PM



            Rasa-rasanya memang sudah lama, saya tidak kongkow-kongkow dan ngobrol ngalor-ngidul bersama guruku yang satu ini, Kiai Muhammad Ajib, Sayung, Demak. Kalau boleh saya hitung, mungkin kurang lebih sudah hampir 2 bulan kami tidak duduk dalam satu majlis bersama. Dan jujur, saya sudah lama dicekam rasa kangen untuk bercengkrama dan berdiskusi dengan ide-ide brilian beliau. Dalam hati, saya berkata: “Hal baru apalagi kah yang akan saya dapat dari beliau?”, begitu dan selalu begitulah kata hatiku saat bertemu dengan beliau. Dan memang, saya menyengaja untuk jarang bertemu dengan beliau, semua itu tak lain agar kerinduan untuk bersua dengan beliau memuncak, sebagaimana dikatakan oleh pepatah Arab: “Zur Ghibban, Tazdad Hubban”. 

            Dan akhirnya, malam itu sehabis sholat Isya’, saya dan teman dari Indramayu sowan ke kediaman sederhana beliau di belakang masjid Jami’ Purwosari, Sayung, Demak. Motor kami parkir di depan rumah beliau yang sederhana. Rumah yang sudah kurang lebih 3 kali ditinggikan, sebab terkena serangan air laut yang naik dan terus naik ke permukaan daratan, hingga akhirnya memakan sebagian rumah warga sekitar (bahasa sininya disebut “Rob”). 

            “Assalamualaikum”, Salam terucap dari mulutku. 

            “Waalaikum Salaam..Oh Dhiya’, monggo-monggo silahkan..!”

            Saya dan teman pun berjalan memasuki rumah sederhana itu menuju ke ruang tamu yang hanya terisi 2 buah kursi yang sudah agak lusuh. Sederhana sekali bukan? Padahal beliau adalah salah satu ketua komisi dakwah MUI Demak, disamping juga menjadi salah satu Katib Syuriah—kalau tidak salah—NU Demak. Tetapi rumah, pola kehidupan dan gaya pakaian beliau ini sangat jauh dari kesan seorang Kiai pada umumnya, sangat apa adanya. Dan contoh nyatanya ya pada malam itu, beliau hanya mengenakan kaos NU biasa yang sudah agak lusuh, tanpa mengenakan peci, dan tentunya ditemani dengan rokok disela-sela jari beliau. 

Monggo-monggo silahkan duduk”, 

Beliau datang dari dalam sambil menenteng kursi plastik berwarna biru dengan tangan kanan beliau, dan digenggaman tangan kirinya ada sebungkus rokok beserta korek, entah, nggak terlalu jelas, apa merk rokok itu. Kami pun duduk pada 2 kursi kusam yang telah tersedia di ruang tamu beliau tersebut. Ah, nyaman juga kursi ini, empuk untuk berlama-lama berdiskusi dan mendengarkan petuah-petuah ilmiah guruku yang satu ini. 

            “Dhiya’, Piye kabare Ya’? Sudah lama nggak ngobrol ya?”, tanya beliau.

            Nggeh De. Sudah hampir 2 bulan lebih”, jawabku.

            Lha Mas ini, namanya siapa? Asalnya dari mana?”, tanya beliau ke temanku.

            Kulo Ainul Yaqin, asal Indramayu”, jawab temanku. 

            “Oh ya ya, nama yang bagus. ‘Ainul Yaqin”

Iya, begitulah salah satu kebiasaan guruku yang satu ini. Beliau sering sekali—bahkan mungkin sangat sering—memuji nama teman-temanku dengan pujian yang bagus-bagus. Pernah suatu hari aku bertanya kepada beliau, kenapa selalu memuji nama-nama yang bagus dan diucapkan dengan lisan yang fashih pula. “Idkholus Surur” itulah jawaban beliau waktu saya bertanya. Dan saya yakin, malam itu beliau memanggil nama temanku dengan fashih, lalu memuji-mujinya, tak lain adalah demi memberikan kebahagiaan kepada temanku itu. Lalu beliau bercerita banyak hal pada kami berdua, dan kami termangu-mangu mendengarkan cerita-cerita menarik beliau. Mulai dari pengalaman dakwah di luar Jawa, beliau pernah ngajar di Hidayatullah, cerita seorang temennya yang pandai berdakwah dan sudah banyak mengajak orang untuk masuk Islam, tapi banyak hutang dan lain sebagainya. Ya, begitulah, setiap kami sowan, pasti kami akan terkagum-kagum dengan pengalaman beliau yang seabrek-abrek dan jarang sekali ada pada diri orang lain. Nah, di sela-sela cerita itu, saya beranikan diri untuk bertanya tentang salah satu hal yang belum saya pahami:

“De, saya pernah membaca dalam salah satu buku karya Abid al-Jabiri tentang pembahasan Bayani-Burhani dan Irfani. Penjelasan hampir serupa, juga saya temukan dalam buku karya Murtadha Muthohhari, yakni tentang Kalam dan Irfan. Jujur saja, kalau pemahaman tentang Bayani dan Burhani, saya sedikit banyak sudah bisa mencerna dan memahami. Tapi kalau tentang Irfani, saya masih buta sama sekali. Kira-kira menurut njenengan itu bagaimana, De?”

Beliau diam sejenak dengan pandangan menerawang ke langit-langit rumah, nampak beliau sedang memikirkan tentang sesuatu. Kepulan asap membumbung tinggi ikut bergoyang-goyang menari menuju langit-langit rumah sederhana itu, sesekali beliau menyedot rokoknya. 

“Ehm...ehmmm”

Beliau berdehem-dehem, mulai membenahi posisi duduk dan wajah beliau nampak mulai serius. Yang pada mulanya dengan kaki kanan yang menumpangi kaki kiri, sekarang beliau duduk dengan lebih sigap. Senyum mulai nampak dari wajah beliau, dengan wajah lurus dan pandangan mata tajam, beliau memandang ke arahku.

“Sebenarnya aku sendiri pun kurang begitu paham dengan mendetil, Ya’. Sudah seringkali aku membaca buku-buku berkenaan dengan Irfani ini, tapi Irfani ini bukanlah hanya sekedar ilmu yang bersifat pemikiran, tapi lebih pada dzauq (intuisi)”.

Beliau duduk lebih sigap dan sekali lagi menyedot rokok yang ada di sela-sela jari beliau, seolah beliau sudah siap untuk memedar apa yang terpendam di dada beliau kepada kami. 

“Jadi, Irfan itu adalah lelakone Nabi Khidhir, sedang Bayani dan Burhani adalah lelakone Nabi Musa...”

“Kaak..niki teh dan kopinya”, panggil istri beliau dari dalam.

Istri beliau masih memanggil beliau dengan panggilan “Kak”. Panggilan yang penuh kasih sayang, kemesraan dan cinta, yang sering kali menjadikan kami yang muda-muda ini iri pada kemesraan beliau berdua. Dan memang, kalau boleh bilang, beliau berdua ini walaupun sudah tua-tua, tapi tak segan-segan untuk menampakkan kemesraan mereka, bahkan di depan kami. Saya memahami bahwa semua itu adalah pendidikan dari beliau kepada kami, seolah beliau ingin menjelaskan kalau menampakkan kemesraan itu adalah salah satu cara untuk menjaga keutuhan biduk rumah tangga. Sering kali setiap beliau dibuatkan kopi oleh sang istri, maka tak segan-segan beliau mengatakan: “Masya Allah, terima kasih ya istriku yang sholihah. Mesti sedep ini buatan istriku”. Dan saya yang mendengar hanya cengengesan saja melihat kemesraan pasangan tua itu. 

Monggo-monggo, ini teh nya diminum dulu”

Kami pun mengambil teh yang telah tersedia di depan kami. 

“Melanjutkan yang tadi. Sering kali orang yang telah mencapai derajat Irfani, prilaku dan sikapnya itu tidak mudah dipahami oleh umumnya orang yang masih bersimpuh pada kedudukan Bayani atau pun Burhani. Apalagi bagi mereka yang tidak paham sama sekali, bahkan mencapai Bayani saja tidak.

Kalau boleh saya katakan; Bayani adalah start awal saat seseorang berusaha untuk memahami sebuah dawuh. Yakni pemahaman sesuai dengan kajian-kajian bahasa yang mana dawuh itu diberikan melalui bahasa itu. Sedang Burhani itu saat seseorang sudah tidak hanya terpaku pada kajian bahasa/teks saja, tetapi sudah merambah pada dimensi rasional. Nah, Irfani itu sudah berada di atas keduanya”, jelas beliau panjang lebar.

Ngapunten, kalau contoh riil-nya gimana De?”, tanyaku penasaran.

“Begini, Nabi Ibrahim—Alahis Salam—pernah mengalami 3 fase pengetahuan ini dalam perjalanan penghambaan (Ubudiyah) beliau, tepatnya adalah saat beliau menerima wahyu untuk menyembelih putra terkasihnya, Ismail Alaihis Salam. Coba baca ayat al-Qur’an yang menjelaskan tentang peristiwa itu, Allah berfirman:

{وَنَبِّئْهُمْ عَنْ ضَيْفِ إِبْرَاهِيمَ } {إِذْ دَخَلُوا عَلَيْهِ فَقَالُوا سَلَامًا قَالَ إِنَّا مِنْكُمْ وَجِلُونَ (52) قَالُوا لَا تَوْجَلْ إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَامٍ عَلِيمٍ } [الحجر: 51, 52، 53]

Dan kabarkanlah kepada mereka tentang tamu-tamu Ibrahim.  Ketika mereka masuk ke tempatnya, lalu mereka mengucapkan, "Salm sejahtera." Ibrahim berkata, "Sesungguhnya kami merasa takut kepadamu." Mereka berkata, "Janganlah kamu merasa takut, sesungguhnya kami memberi kabar gembira kepadamu dengan (kelahiran seorang) anak laki-laki (yang akan menjadi) orang yang alim.

“Dalam ayat di atas, seolah-olah Allah ingin mengisahkan kepada kita bagaimana kondisi psikologi seorang Nabi kekasih Allah, Ibrahim—Alaihis Salam—yang sudah lama sekali tidak memiliki anak sebagai penerus dakwah beliau. Oleh karenanya, tidak mengherankan jikalau saat Allah memberikan kabar gembira (Busyro) melalui Jibril, Nabi Ibrahim terkaget-kaget, seolah tidak percaya. Dan benar, kabar itu menjadi kenyataan dengan lahirnya Nabi Ismail, lalu juga Nabi Ishaq Alaihmas Salam

Beliau kembali menyerutup kopi hitam yang nampaknya sudah agak mulai dingin itu. “srruup”. Lalu beliau melanjutkan lagi:

“Namun setelah Ismail sudah mulai agak dewasa, bisa dimintai tolong membantu orang tua, terutama ayahnya, malahan Allah swt menurunkan ayat yang menyuruh Nabi Ibrahim menyembelih anak lelakinya itu, Ismail. Allah berfirman:

{فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ } [الصافات: 102]

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, "Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu

Dalam berinteraksi dengan perintah Allah di atas, Nabi Ibrahim melewati fase-fase Bayani-Burhani dan Irfani. Coba sampeyan bayangkan, orang tua renta yang sudah lama mendambakan anak, tapi tak kunjung juga diberi karunia anak, namun setelah mendapatkan anak, malah disuruh untuk menyembelih, kira-kira bagaimana perasaan beliau? Kalau sampeyan dalam posisi Nabi Ibrahim, tentunya akan bingung, antara percaya dan tidak percaya. Dan lebih uniknya lagi, perintah penyembelihan Ismail itu tidak melalui perantara Jibril seperti wahyu biasanya, tetapi malah hanya melalui mimpi yang memberikan kesan kurang mantap. Apalagi kalau diukur dengan nalar syariat, bahwa membunuh manusia itu hukumnya haram, apalagi ini anaknya sendiri. Jadi benar-benar membingungkan. Coba saja bayangkan, bagaimana campur aduknya perasaan Nabi Ibrahim pada waktu itu? 

Lagi-lagi, De Ajib melemparkan pandangan sambil menerawang jauh nun di sana, seolah-olah beliau sedang memikirkan sesuatu yang sangat jauh sekali. Beliau ambil lagi cangkir kopi dingin di depannya, lalu disrutup lagi “srrupp”: 

“Kondisi kejiwaan Nabi Ibrahim yang saya ceritakan di atas itulah yang disebut dengan Bayani, Ya’. Nah, dalam satu waktu, Nabi Ibrahim berusaha untuk merasionalkan perintah penyembelihan Ismail, putranya itu. Dalam hati Nabi Ibrahim berkata: “jangan-jangan yang diminta untuk disembelih bukanlah Ismail secara Hakiki dan penyembelihan itu pun juga bukan hal yang sifatnya hakiki, akan tetapi yang harus aku sembelih adalah kecintaanku kepada dunia. “Ismail-ku”—mungkin begitulah pikir Nabi Ibrahim—adalah segala hal yang menghalangiku untuk selalu ingat dan hanya cinta pada Allah”. Ya, Nabi Ibrahim berusaha untuk mencari-cari pemahaman dibalik perintah yang diwahyukan oleh Allah kepada beliau melalui mimpi. Upaya Nabi Ibrahim untuk merasionalkan apa yang telah beliau terima inilah yang disebut dengan Burhani, Ya’”

“Lha terus menawi Irfani seperti apa De?”, sergahku langsung. 

“Saat Nabi Ibrahim mencoba merasionalkan wahyu Ilahiyah tersebut, pada akhirnya beliau menthok dan timbul perasaan khawatir kalau-kalau usaha itu hanya untuk memenuhi keinginan dan kesenangan diri beliau sendiri. Maka akhirnya beliau benar-benar yakin, bahwa perintah penyembelihan Ismail ini adalah murni sebuah ujian yang ditetapkan oleh Allah bagi beliau. Mau tidak mau, beliau harus rela dan pasrah (Islam) atas apa yang telah ditetapkan oleh Allah itu. Karenanya, beliau akhirnya bertekad untuk benar-benar melaksanakan perintah itu tanpa banyak mencari-cari alasan macam-macam. Dalam al-Qur’an, kondisi Nabi Ibrahim ini dikisahkan dengan apik dalam ayat:

{فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ (103) وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ (104) قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (105) إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ } [الصافات: 103 - 106]

Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim meletakkan pelipis anaknya di atas tanah, (nyatalah kesabaran mereka). Dan Kami panggil dia, "Hai Ibrahim. Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu." Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata

Pada kondisi inilah, Nabi Ibrahim telah memahami perintah Ilahiyah menggunakan metode Irfan. Yakni, metode yang merupakah murni pemberian Tuhan (Wahbah Ilahiyah) atau dalam bahasa lain disebut dengan “Ladunni”, dan itu terjadi saat seorang hamba sudah benar-benar terlepas dari belenggu-belenggu keinginan dan kepentingan duniawi, bahkan saat kepentingan itu bersentuhan langsung dengan pribadinya, sebagaimana yang dialami oleh Nabi Ibrahim tersebut. Begitulah kurang lebih yang saya pahami dari Bayani- Burhani-Irfani, Ya’”

Mendengar pemaparan De Ajib yang benar-benar ajib tersebut, aku hanya bisa diam terperangah saja. Hatiku terbang, mencoba mengais-ais berbagai pengetahuan yang pernah aku baca dalam berbagai macam kitab-kitab sufi, dalam hati aku hanya mampu bergumam: “Apakah manusia-manusia seperti Nabi Ibrahim inilah yang disebut dengan Insan Kamil, yakni manusia-manusia yang benar-benar sudah merdeka dari segala macam kepentingan pribadi. Manusia yang telah selesai dengan dirinya sendiri. Wallahu a’lam”, pekikku dalam hati, sambil aku sruput teh yang sudah mulai tidak hangat lagi ini []



INDONESIA MILIK ALLAH (Dalam konsep HTI dan IN, manakah yang lebih tepat?)

Written By diya al-haq on Monday, May 30, 2016 | 8:16 PM


            Beberapa waktu yang lalu, telinga kita sempat mendengar sebuah yel-yel yang berbunyi: “INDONESIA MILIK ALLAH”, yang digembar-gemborkan oleh sebuah organisasi pengusung Khilafah, yakni Hizbut Tahrir Indonesia atau yang biasa disingkat dengan HTI. Entah, apa sebenarnya maksud sebenarnya dari yel-yel tersebut, namun saya mencium adanya gelagat bahwa yel-yel itu tak lain mereka suarakan sebagai counter discours dari model sistem demokrasi yang selama ini dipraktekkan oleh negara Indonesia. Seolah-olah mereka ingin mengatakan bahwa jika “INDONESIA MILIK ALLAH”, maka sistem yang harus digunakan untuk mengatur Indonesia adalah sistem yang diturunkan dan diajarkan oleh Allah swt. Apakah sistem yang diturunkan oleh Allah itu? Menurut kelompok HTI, sistem tersebut ya sistem khilafah, bukan sistem Demokrasi yang berasal dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. 

            Saya tidak ingin membahas apakah sistem khilafah—sebagaimana pengakuan HTI—itu benar-benar sistem yang diturunkan oleh Allah atau tidak. Dan saya juga tidak ingin membahas apakah sistem Khilafah versi mereka itu benar atau salah. Tapi, saya ingin menunjukkan bahwa yel-yel “INDONESIA MILIK ALLAH” itu dahulu kala sudah pernah disemarakkan oleh orang-orang Nusantara yang mana konsep tersebut sekarang ini menjadi salah satu rujukan NU dengan Islam Nusantara-nya (IN). Sebagaimana hal tersebut diceritakan oleh Babad Joko Tingkir:

            Lemah kang siro ambah; saisine tanah Jawi; pan sadaya duweke kang dadi nata
            Kang rayi alon turira; Allah kang adarba bumi
[Utusan Demak berujar dengan tegas: “Bumi yang anda pijak, beserta segenap isi tanah Jawi ini, semuanya adalah milik raja. Sang adik, Ki Ageng Pengging (Raden Kebo kenanga, ayah Jaka Tingkir) berujar pelan: “Allah-lah yang memiliki tanah ini”][1]

Namun, yang perlu kita perhatikan dengan lebih seksama lagi, apakah interpretasi HTI dan Islam Nusantara terhadap yel-yel “INDONESIA MILIK ALLAH” itu memiliki makna yang sama atau malah bertolak belakang sama sekali? Kalau memang kenyataannya berbeda, lalu interpretasi manakah yang benar diantara keduanya? Sepanjang pengetahuan saya atas konsep Khilafah model HTI, mereka ingin menekankan bahwa umat Islam seluruh dunia haruslah dipimpin oleh satu orang khalifah yang mengatur semua aspek kehidupan umat Islam. Dan itulah—menurut mereka—yang dimaksud dengan “Khilafah ‘Ala Minhajin Nubuwwah”, sebab jikalau umat Islam dipimpin oleh pemimpin masing-masing negara, maka akan terjadi perpecahan antara sesama Umat Islam. Oleh karenanya, kelompok HTI ini akan selalu mengaitkan setiap kemunduran dan kemerosotan sebuah bangsa dengan tiadanya konsep Khilafah ini, hingga akhirnya tak segan-segan mereka melakukan pemberontakan terhadap seorang pemimpin yang sah, hanya gara-gara pemimpin tersebut telah dianggap dzalim dan bukanlah seorang khalifah atau kalau tidak demikian ya karena model negaranya bukanlah model khilafah, tetapi demokrasi. Maka harus digulingkan dan diganti dengan khalifah yang diharapkan bisa menjadikan sistem Khilafah sebagai model pemerintahannya kelak. Hasilnya bisa kita lihat, kehancuran demi kehancuran negara-negara Arab, mulai dari Tunisia, Iraq, Taliban dan terakhir sekarang ini adalah Syiria, menjadi pemandangan yang sudah biasa. Walaupun secara pribadi, saya tidak mengatakan bahwa penyebab kehancuran tersebut murni dari kelompok HTI saja, tapi kita juga tidak bisa memungkiri bahwa mereka juga berperan. 

Lalu bagaimanakah interpretasi yel-yel “INDONESIA MILIK ALLAH” menurut Islam Nusantara? Sebelum kita mengambil kesimpulan akhir, ada baiknya kita baca dan kaji terlebih dahulu penjelasan dari salah satu pakar kajian Islam Nusantara ini, yakni Kiai Ahmad Baso dalam bukunya, Islam Nusantara. Di sana beliau menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “Allah kang adarba bumi [Allah-lah yang memiliki tanah ini]” adalah:

Ia [Ki Ageng Pengging] mendaku dunia kehidupan kaum santri , hidup bertani menggarap sawah, menjadi orang desa, serta—ini yang penting—membawa idiologi kaum santri bahwa; tanah itu bukan milik raja, tapi milik Allah yang diberikan kepada manusia sebagai amanah untuk digarap dengan sebaik-baiknya dan untuk sebesar-besar kemaslahatan bagi umat manusia di dunia ini. Dari sini orang pesantren meracik ide tentang tanah sebagai faktor produksi dalam ekonomo rakyat..[2]

Sebelumnya, pak Ahmad Baso menjelaskan juga:

Salah satu implikasi strategis dari pengakuan kedaulatan rakyat atas tanah ini adalah hancurnya sistem feodalisme dimana sang raja mengklaim sebagai pemilik tanah. Ketika raja-raja dibuat sebagai pedagang, maka tanah kemudian dikembalikan kepada rakyat, menjadi milik bersama...[3]

Penjelasan Pak Ahmad Baso ini mengingatkan dengan interpretasi yang dikemukakan oleh Pak Agus Sunyoto berkenaan dengan makna “Manunggaling Kawulo Ing Gusti”, bahwa statement tersebut bukanlah terjemahan jawa dari Wahdatu-L-Wujud dalam Sufi Falsafi. Tapi merupakan sebuah bentuk perlawanan bahwa antara “Gusti [raja/tuan]” dan “Kawula [rakyat jelata]” adalah mempunyai posisi yang sama (manunggal), yakni masing-masing berhak untuk memiliki tanah dan memanfaatkannya, bukan malah rakyat bekerja menggarap tanah untuk sang memenuhi kebutuhan raja-raja.

Dari pemaparan di atas, bisa kita tarik kesimpulan bahwa masing-masing interpretasi kedua kelompok tersebut adalah sebagai berikut:

1.        HTI menyuarakan “INDONESIA MILIK ALLAH” hanya sebagai batu pijakan saja untuk memuluskan jalan mereka, yang tak lain adalah merebut tampuk kekuasaan sebuah negara. Karena menurut mereka, sistem selain khilafah adalah salah dan menjadi penyebab utama kehancuran serta kemunduran sebuah bangsa, oleh karenanya haruslah diganti dengan khilafah. Slogan tersebut di atas lebih bernilai politik kekuasaan ansich, tidak lebih. Jadi, makna “INDONESIA MILIK ALLAH” menurut HTI adalah Indonesia merupakan milik orang-orang yang mendirikan Khilafah, sebab sistem yang diturunkan Allah adalah sistem Khilafah. 

2.        ISLAM NUSANTARA—sebagaimana yang diwakili oleh Ki Ageng Pengging—lebih menitik beratkan pada upaya pemberdayaan ekonomi rakyat/lebih luasnya mengangkat kesejahteraan rakyat, tanpa memandang sama sekali apa sistem kekuasaan yang digunakan. Slogan “INDONESIA MILIK ALLAH” disuarakan oleh Ki Ageng Pengging sebagai bentuk perlawanan atas sistem tuan tanah yang diterapkan oleh raja-raja zaman dahulu. Jadi makna “INDONESIA MILIK ALLAH” menurut pandangan Islam Nusantara adalah Indonesia milik rakyat, jadi kembalikan kedaulatan bumi dengan berbagai macam isinya kepada rakyat kembali. 

Nah, sekarang permasalahannya adalah manakah diantara kedua interpretasi tersebut yang memiliki landasan teoritis dari pemikiran para ulama kita? Oke, kita akan sedikit senam otak guna menjawab pertanyaan tersebut. Banyak kita temukan dalam ayat-ayat al-Qur’an teks-teks yang menyatakan bahwa kepemilikan atas benda tertentu itu haruslah diserahkan kepada Allah dan Rasul-Nya. Semisal ayat-ayat berikut ini: 

Ayat Ghonimah

Salah  satu dari ayat-ayat al-Qur’an yang menyatakan kepemilikan terhadap sebuah barang/benda itu dikembalikan kepada Allah adalah ayat yang menjelaskan tentang Ghonimah, yakni surat al-Anfal ayat ke-41, yang bunyinya:

{وَاعْلَمُوا أَنَّمَا غَنِمْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَأَنَّ لِلَّهِ خُمُسَهُ وَلِلرَّسُولِ } [الأنفال: 41]

Ketahuilah, sesungguhnya setiap harta rampasan perang yang kamu peroleh, maka sesungguhnya seperlima harta itu untuk Allah dan Rasul-Nya

Lalu apakah yang dimaksud dengan “Allah dan Rasul-nya” pada ayat di atas? al-Imam Fakhruddin Ar-Rozi dalam tafsirnya yang berjudul “Mafatihu-l-Ghoib” menyatakan[4]:

وأما بعد وفاة الرسول صلى الله عليه وسلّم ، فعند الشافعي رحمه الله : أنه يقسم على خمسة أسهم ، سهم لرسول الله ، يصرف إلى ما كان يصرفه إليه من مصالح المسلمين ، كعدة الغزاة من الكراع والسلاح—إلى قوله—واعلم أن ظاهر الآية مطابق لقول الشافعي رحمه الله وصريح فيه ، فلا يجوز العدول عنه إلا لدليل منفصل أقوى منها ، 

Ada pun setelah wafatnya Rasulullah, maka menurut Imam Syafi’i ghonimah itu harus lah dibagi menjadi seperlima bagian. Satu bagian untuk Rasulullah digunakan untuk kemaslahatan Umat Islam, semisal memberikan persiapan untuk tentara, baik berupa baju perang atau pedang—sampai pada perkataan beliau—ketahuilah bahwa teks dari ayat di atas itu sesuai dengan pendapat As-Syafi’i—rahimahuLlah—secara eksplisit. Maka tidaklah boleh berpindah dari pendapat Syafi’i di atas kecuali ada dalil lain (yang terpisah) dan lebih kuat

Senada dengan Ar-Razi adalah pendapat yang ditampilkan oleh al-Imam Abu Hayyan al-andalusy dalam tafsirnya “Al-Bahru-l-Mukhith”, di sana beliau menyatakan[5]:

فأما قوله فإن لله خمسه فالظاهر أن ما نسب إلى الله يصرف في الطاعات كالصدقة على فقراء المسلمين وعمارة الكعبة ونحوهما ، وقال بذلك فرقة 

Adapun firman Allah (فإن لله خمسه), maka yang tersurat dari ayat itu adalah bahwa apa yang dinisbatkan kepada Allah itu haruslah digunakan untuk berbagai macam ketaatan, semisal bersedekah kepada umat islam yang fakir, meng-‘imarah Ka’bah dan semisal keduanya. Pendapat ini disampaikan oleh sekelompok ulama”. 

Berbeda dari keduanya adalah pendapat Imam Malik bin Anas yang diceritakan oleh Syaikh Dr. Wahbah Zuhaili dalam tafsir-nya “At-Tafsir Al-Munir”. Di sana beliau menyatakan[6]:

وقال مالك رحمه اللّه: الأمر في الخمس مفوض إلى رأي الإمام، ويجعل في بيت المال، إن رأى قسمته على هؤلاء المذكورين في الآية فعل، وإن رأى إعطاء بعضهم دون بعض، فله ذلك.

Imam Malik—Rahimahullah—berkata: masalah seperlima ini diserahkan kepada pendapat Imam (pemimpin) dan diserahkan pada Baitu-l-Mal. Jika Imam berpendapat untuk dibagi kepada mereka yang disebut dalam ayat, maka dia boleh melakukannya. Jika Imam berpendapat memberikan sebagian, bukan sebagian yang lain, maka dia juga mempunyai kebebasan melakukan hal tersebut

Dari semua data di atas, bisa kita tarik kesimpulan bahwa makna “dikembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya” adalah:
a.      Dikembalikan kepada kemaslahatan umat Islam.
b.      Dikembalikan kepada Imam (pemimpin)—walaupun bukan seorang khalifah—untuk kemudian dibelanjakan sesuai dengan kemaslahatan umat Islam.
Jadi, inti dari penjelasan di atas adalah bahwa kemaslahatan umat Islam—secara umum, terlebih lagi dalam bidang ekonomi dan keamanan mereka—menjadi interpretasi paling dekat terhadap teks di atas.

Ayat Fai’

Teks suci lain yang di dalamnya terdapat redaksi “Allah dan Rasul-Nya” adalah ayat yang berbicara tentang harta Fai’, sebagaimana berikut ini:

{مَا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَى رَسُولِهِ مِنْ أَهْلِ الْقُرَى فَلِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ } [الحشر: 7]

Setiap harta rampasan (fay') yang diberikan Allah kepada rasul-Nya yang berasal dari penduduk kota-kota itu adalah untuk Allah dan Rasul-Nya

Sebelum kita mengambil kesimpulan sepihak, ada baiknya kita menengok terlebih dahulu bagaimana ulama-ulama kita dahulu menginterpretasi redaksi “Allah dan Rasul-Nya” di atas. Al-imam Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad Bin Abi Bakar al-Qurthubi dalam tafsir-nya menyatakan[7]:

وأما بعد وفاة رسول الله صلى الله عليه وسلم، فالذي كان من الفئ لرسول الله صلى الله عليه وسلم يصرف عند الشافعي في قول إلى المجاهدين المترصدين للقتال في الثغور، لانهم القائمون مقام الرسول عليه الصلاة والسلام. وفي قول آخر له: يصرف إلى مصالح المسلمين من سد الثغور وحفر الانهار وبناء القناطر، يقدم الاهم فالاهم، وهذا في أربعة أخماس الفئ. فأما السهم الذي كان له من خمس الفئ والغنيمة فهو لمصالح المسلمين بعد موته صلى الله عليه وسلم بلا خلاف، كما قال عليه الصلاة والسلام: (ليس لي من غنائمكم إلا الخمس والخمس مردود فيكم).
 
Adapun setelah wafatnya baginda Rasulullah saw, maka menurut Imam As-Syafi’i—dalam salah satu pendapat beliau—bahwa harta Fai’ itu diserahkan kepada orang-orang yang berjihad menjaga benteng-benteng perbatasan, karena merekalah orang-orang yang menempati posisi baginda Rasul saw. Dalam pendapat Syafi’i yang lain, bagian Rasul itu diserahkan untuk kemaslahatan umat Islam yang berupa memperkuat benteng pertahanan, mengeduk beberapa sungai, membangung badan ekonomi hingga akhirnya didahulukan yang paling penting. Inilah pembagian 4 dari seperlima harta Fai’. Adapun bagian baginda Nabi yang dari seperlima harta Fai’ dan Ghonimah, maka setelah beliau wafat, semuanya diserahkan untuk kemaslahatan umat Islam tanpa ada perkhilafan sama sekali, sebagaimana hal itu disabdakan oleh baginda Rasul sendiri; tidak ada bagian untukku dari Ghonimah kalian kecuali seperlima. Bahkan yang seperlima itu pun dikembalikan kepada kalian juga

Sama dengan penjelasan dari at-Thobari di atas adalah pemaparan al-Imam Fakhruddin Ar-Razi dalam “Mafatihu-l-Ghaib”, beliau menyatakan[8]:

قال الواحدي كان الفيء في زمان رسول الله ( صلى الله عليه وسلم ) مقسوماً على خمسة أسهم أربعة منها لرسول الله ( صلى الله عليه وسلم ) خاصة وكان الخمس الباقي يقسم على خمسة أسهم سهم منها لرسول الله أيضاً والأسهم الأربعة لذي القربى واليتامى والمساكين وابن السبيل وأما بعد وفاة الرسول عليه الصلاة والسلام فللشافعي فيما كان من الفيء لرسول الله قولان أحدهما أنه للمجاهدين المرصدين للقتال في الثغور لأنهم قاموا مقام رسول الله في رباط الثغور والقول الثاني أنه يصرف إلى مصالح المسلمين من سد الثغور وحفر الأنهار وبناء القناطر يبدأ بالأهم فالأهم هذا في الأربعة أخماس التي كانت لرسول الله ( صلى الله عليه وسلم ) وأما السهم الذي كان له من خمس الفيء فإنه لمصالح المسلمين بلا خلاف
 
Saya hanya akan menerjemahkan pemaparan ar-razi di atas pada bagian yang telah saya garis bawahi saja, kurang lebih adalah berikut:

Adapun setelah baginda Rasul saw wafat, maka (berkenaan dengan seperlima harta fai’) Imam Syafi’i mempunyai 2 pendapat. Pertama; itu diperuntukkan bagi para mujahidin yang disiapkan untuk berperang menjaga benteng-benteng perbatasan, sebab mereka adalah orang-orang yang menempati posisi baginda Rasul saw dalam menjaga benteng. Kedua; harta itu diberikan untuk kemaslahatan umat Islam, baik yang berupa membenahi benteng-benteng, mengeduk beberapa sungai, membangun badan-badan ekonomi. Dan tentunya dimulai dari yang paling penting. Ini ada pada bagian yang empat perlima Fai’ yang merupakan hak Rasulullah saw. Adapun bagian seperlima yang merupakan milik Rasulullah, maka harus diserahkan untuk kemaslahatan umat Islam, tanpa ada khilaf sama sekali

Saya kira, dua ayat di atas sudah cukup mewakili apa yang ingin saya paparkan dalam kajian sederhana ini bahwa dalam memahami “Allah dan Rasul-Nya” dalam al-Qur’an saja, para Mufassir kita sering kali memberikan interprestasi yang bersifat Majazi, bukan dipahami dengan makna apa adanya. Nah, begitu juga dalam memahami statement “INDONESIA MILIK ALLAH”. Kalau kita artikan sesuai lahiriah teks tersebut, maka sudah jelas, bukan hanya Indonesia saja yang milik Allah, bahkan dunia seisinya pun juga milik Allah. Lalu kenapa statement tersebut di atas dimunculkan oleh kawan-kawan HTI? Apakah mereka tidak paham bahwa semuanya memang milik Allah? Kalau masalah begini saja mereka tidak paham, lalu khilafah model apa yang ingin mereka dirikan? Kalau paham, kenapa statement lucu di atas ditampilkan? Jujur saja, saya khawatir statement di atas ini masuk dalam lingkaran ungkapan Imam Ali saat menanggapi slogan kaum Khowarij yang mengatakan “La Hukma Illa LiLlah”, yakni “Kalimatu Haqqin Urida Bi Ha-l-Bathil”, sebuah statement yang benar, tetapi diselewengkan untuk tujuan yang salah. 

Walhasil, saya menemukan bahwa interpretasi yang ditawarkan oleh Islam Nusantara dalam memahami statement “INDONESIA MILIK ALLAH” lebih tepat, lebih bersifat populis dan kontekstual. Saya katakan lebih tepat, sebab lebih cocok dengan pemaparan para Mufassir klasik sebagaimana telah saya paparkan dengan singkat tadi. saya katakan lebih populis, sebab inti dari statement di atas tidak hanya berujung pada politik kekuasaan saja, yang seringkali hanya menjadi ajang bagi orang-orang tertentu yang berduit dan kuat. Tetapi lebih menitik beratkan pada kesejahteraan rakyat umum, bukan kesejahteraan rakyat elit dan khusus saja. Dan lebih kontekstual, sebab rakyat Indonesia telah memiliki wadah sendiri yang sudah disepakati oleh semua rakyat Indonesia dari berbagai macam kalangan. Dan tentunya sebagai muslim yang baik akan memahami bahwa “Al-Muslimuuna ‘Ala Syuruthihim”, setiap orang Islam haruslah berkomitment terhadap janji dan kesepatakan yang telah mereka buat sendiri. Wallahu A’lam []



[1] Ahmad Baso (2015), Islam Nusantara; Ijtihad jenius dan Ijma’ Ulama Indonesia, Jakarta: Pustaka Afid. Vol: 1. Hal: 201.
[2] Ibid.
[3] Ibid. Hal: 200.
[4] Al-Imam Fakhruddin Muhammad bin Amar Ar-Razi (tt), Mafatihu-l-Ghoib, Lebanon: Dar Ihya’ Turats. Hal: 2146.
[5] Abu Hayyan Al-Andalusy (tt), Al-Bahru-l-Muhith, Lebanon: Dar El-Fikr. Vol: 4. Hal: 405.
[6] Dr. Wahbah Zuhaily (), At-Tafsir Al-Munir, Vol: 8. Hal: 10.
[7] Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad Bin Abi Bakar al-Qurthubi (1405), Tafsir al-Qurthubi, Lebanon: Dar Ihya’ Turats. Vol: 18. Hal: 12-13.
[8] Al-Imam Fakhruddin Muhammad bin Amr Ar-Razi (tt), Mafatihu-l-Ghoib. Vol: 29 . Hal:  247.

BERIMANKAH KEDUA ORANG TUA NABI? (1)

Written By diya al-haq on Sunday, May 22, 2016 | 6:38 AM



Seperti biasanya, setiap malam kamis ba’da-l-Isya’, ada pengajian kitab hadis Riyadhus Sholihin di Musholla Darussalam Nusantara yang diampu oleh Kang Shodrun dan diikuti oleh beberapa warga sekitar Musholla. Ada pak Ghufron—selaku salah satu Imam di Musholla—Pak Jumali dan kedua anaknya, lalu Mas Daru, Mas Udin dan beberapa warga lainnya. Satu persatu hadis dalam kitab Riyadhus Sholihin dibacakan dan di Murodi oleh Kang Shodrun dengan lancar, seperti halnya dulu saat dia ngaji di pesantren. Dan pada pukul 08.30 wib, pengajian telah selesai untuk kemudian memasuki seaseon santai-santai sambil tanya-jawab.
            Mas Daru mengambil seceret teh hangat dan beberapa gelas yang telah disediakan oleh Mbok Yah di serambi musholla. Memang Mbok Yah ini sangat luar biasa, beliau adalah sosok yang selalu ikhlas memberikan suguhan kepada jama’ah pengajian di Musholla peninggalan suaminya tersebut, baik berupa teh hangat atau pun cemilan-cemilan seadanya. Teh dituangkan ke dalam gelas, lalu disuguhkan kepada masing-masing jam’ah, termasuk juga Kang Shodrun sebagai pengampu ngaji hadis tersebut. setelah menyeruput teh hangat, Pak Ghufron berdehem-dehem “ehem..ehem” lalu dengan suara agak parau beliau berkata: 

Ngapunten Kang, saya mau bertanya tentang masalah yang keluar dari tema pembahasan kita tadi, boleh kan?”

            “Oh iya, monggo, silahkan Pak Ghufran”, jawaban dari Kang Shodrun. 

“Begini Kang, kemarin saat saya di Semarang mengirim cet ke sebagian daerah, saya istirahat di sebuah masjid untuk sekedar melakukan sholat dzuhur dan melepas lelah. Setelah sholat, saya leyeh-leyeh sebentar di serambi masjid sambil menikmati tiupan angin yang semilir. Baru saja saya mau merem, tiba-tiba saya dikagetkan oleh pengajian yang akan di gelar dalam masjid. Karena tertarik, saya pun mencoba ikut mendengarkan barang sebentar, siapa tahu dapat ilmu. Di samping waktunya juga masih lumayan lama. Singkat cerita saya mengikuti pengajian di situ, yang ternyata adalah ngaji hadis, seperti di musholla kita ini. Cuma yang mengganjal di hati saya adalah keterangan dari Ustadz pengampu pengajian tersebut yang menjelaskan bahwa kedua orang tua baginda Nabi Muhammad SAAW itu wafat dalam kondisi tidak beriman. Nah, kalau ndak salah, si Ustadz itu mendasarkan pendapat beliau pada sebuah hadis yang diriwayatkan oleh ahli hadis, siapa gitu saya lupa. Maklum kang, kan saya orang awam. Lha pertanyaan saya, apakah yang di katakan oleh Ustadz tadi itu benar Kang? Kan selama ini kita melakukan puji-pujian di musholla seringkali memuji-muji orang tua kanjeng Nabi, la ini kok ternyata katanya nggak beriman, trus pripun niku kang?”

            Kang shodrun sedikit terkaget dengan pertanyaan Pak Ghufron ini, sebab pertanyaan tersebut membutuhkan jawaban yang ilmiah dan panjang. Tapi kalau tidak dijawab pun akan berbahaya, sebab bisa-bisa nanti pak Ghufron meragukan keabsahab amaliah yang selama ini sudah berjalan di desa dan musholla bertahun-tahun. Seperti puji-pujian sebelum sholat yang di antaranya adalah memuji ayah dan bunda baginda Rasulullah saaw, semisal pujian: “Engkang romo asmane Sayyid Abdullah, engkang ibu asmane Siti Aminah”. Akhirnya dengan berbekal keilmuan yang seadanya, Kang Shodrun pun berusaha menjawab dengan detil dan ilmiah.

Ngetên pak Ghufron—dan saya mohon yang lain juga memperhatikan—bahwa sebenarnya memang ada hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Jami’ Shohih-nya yang memberikan kesan seolah-olah kedua orang tua baginda Nabi itu wafat dalam kondisi tidak beriman. Bunyi hadis tersebut adalah berikut:

صحيح مسلم - (ج 2 / ص 122)
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِى شَيْبَةَ حَدَّثَنَا عَفَّانُ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَجُلاً قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيْنَ أَبِى قَالَ « فِى النَّارِ ». فَلَمَّا قَفَّى دَعَاهُ فَقَالَ « إِنَّ أَبِى وَأَبَاكَ فِى النَّارِ ».

Inti dari hadis di atas, baginda Nabi menjawab pertanyaan seorang sahabat yang ayahnya berada di neraka, bahwa ayah beliau dan sahabat itu sama-sama berada di neraka...”
Tiba-tiba pak Ghufron nylonong memotong keterangan kang shodrun dengan pertanyaan lagi: 

“Wah kalau gitu, benêr apa yang di katakan oleh ustadz tadi, Kang?”

“Sabar dulu pak Ron, dengarkan dulu penjelasan saya, ini panjang lho penjelasannya. Sampean harus sabar ya...”, jawab Kang Shodrun sambil ketawa. 

“Oh iya, iya kang”

“Begini pak, tidak semua hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam shohih-nya itu lantas disepakati ke-shohih-annya oleh semua huffaadz, seperti halnya hadis yang saya bacakan di atas. Banyak ulama-ulama Huffadz (pakar hadis yang berhak memberikan hukum shohih/tidaknya sebuah hadis) yang mengkritik keshohihan hadis di atas. Baik dari sisi Matnu-l-Hadis, maupun mata rantai Sanad-nya. Oke, saya akan menjelaskan dengan detil dan mudah, tolong di perhatikan ya. Untuk menghukumi sebuah hadis itu shohih atau tidak, ada 2 sisi yang harus di perhatikan, yakni Sanad dan Matn. Lalu bagaimana dengan hadis di atas?

Sanad.

al-Imam al-Hafidz Jalaluddin As-Suyuthi dalam kitab At-Ta’dzim Wal Minnah menyatakan bahwa hadis riwayat muslim tersebut di atas ada 2 ‘illat. ‘Illat yang terdapat pada sisi sanad adalah diriwayatkannya hadis di atas dari Hammad bin Salamah dari jalur Tsabit Bin Anas. Dalam risalah kecil di atas, As-Suyuthi mengatakan[1]:

فصل: ظهر لي في حديث (إن أبي وأباك في النار) علتان إحداهما من حيث الإسناد وذلك أن الحديث أخرجه مسلم وأبو داود من طريق حماد بن سلمة عن ثابت بن أنس—إلى قوله—وهذا الحديث تفرد به مسلم عن البخاري وفي أفراد مسلم أحاديث متكلم فيها ولا شك أن يكون هذا منها

Fashl: nampak jelas bagiku bahwa hadis dalam (إن أبي وأباك في النار) terdapat 2 ‘illat. Pertama dari sisi sanad. Yakni bahwa hadis itu di riwayatkan oleh Muslim dan Abu dawud melalui jalur Hammad Bin Salamah dari Tsabit Bin Anas—sampai ucapan beliau—hadis ini adalah hadis ghorib yang hanya diriwayatkan oleh Muslim saja, tidak (bersamaan dengan) al-Bukhori. Dan dalam hadis-hadis yang hanya di riwayatkan (Afrod) oleh muslim saja, terdapat banyak hadis yang perlu di kritik (Mutakallam Fih). Dan tidak perlu di ragukan lagi, bahwa hadis di atas masuk ke dalam hadis yang perlu di kritik itu

Lalu beliau melanjutkan lagi dengan mengatakan bahwa:

أما أولا فثابت وإن كان إماما ثقة فقد ذكره ابن عدي في كامله في الضعفاء وقال إنه وقع في أحاديثه نكرة وذلك من الرواة عنه فإنه روى عنه الضعفاء. وأورده الذهبي في الميزان. وأما ثانيا فحماد بن سلمة وإن كان إماما عابدا عالما فقد تكلم جماعة في روايته وسكت البخاري عنه فلم يخرج له شيئا في صحيحه

Yang pertama adalah Tsabit. Walaupun beliau adalah seorang imam dengan predikat Tsiqqoh (bisa di percaya), tetapi Ibnu ‘Ady menyebutkan dalam kitab al-Kamil bahwa beliau masuk dalam kategori orang-orang yang lemah (Dhu’afa’), dan Ibnu ‘Ady mengatakan bahwa dalam hadis-hadis tsabit terdapat kemunkaran. Semua itu terjadi karena orang-orang yang meriwayatkan dari beliau. Ad-dzahabi juga memasukkan tsabit dalam kitab al-Mizan. Adapun yang kedua, adalah hammad bin salamah. Walaupun beliau adalah seorang imam yang ahli ibadah nan alim, tetapi sekelompok ulama hadis telah mengkritik riwayat beliau. Sedang Imam Bukhori sendiri diam tentang beliau dan tidak meriwayatkan satu hadis pun dari beliau dalam shohih-nya

Dari pemaparan As-Suyuthi yang kedua, bisa kita tarik kesimpulan bahwa:
1 1. Tsabit bin Anas masuk kateori orang yang lemah (Dhaif), walaupun dalam hal kesalehan, beliau adalah orang yang amanah dan dapat di percaya.
22.   Banyak hadis-hadis munkar yang di nisbatkan kepada Tsabit. Semua itu terjadi sebab murid-murid Tsabit adalah orang-orang yang lemah juga (Dhu’afa’).
33. Begitu juga dengan Hammad. Yang menjadi permasalahan bukanlah amanah dan tsiqqah-nya, tetapi adalah Dhobtur-Rawi (kemampuan rawi dalam menghapal teks-teks hadis beserta dengan Rijal-nya) sampai-sampai al-Bukhori tidak memasukkan menerima riwayatnya dalam kitab shohih-nya. Guna lebih detil lagi dalam memahami posisi Hammad bin Salamah ini, kita bisa baca juga keterangan Al-Imam ad-dzahabi berikut ini:

حماد ثقة له أوهام وله مناكير كثيرة وكان لايحفظ فكانوا يقولون إنها دست في كتبه—إلى قوله—فبان بهذا أن الحديث المتنازع فيه لابدع أن يكون منكرا وقد وصفت أحاديث كثيرة في مسلم بأنها منكرة

Hammad adalah seorang yang dapat di percaya, tetapi banyak terjadi dugaan-dugaan (auham) dalam riwayatnya. Dia juga banyak meriwayatkan hadis-hadis yang munkar. Dia bukanlah seorang penghapal. Ada banyak ulama yang mengatakan bahwa kitab-kitab beliau banyak mengalami distorsi—sampai pada ucapan Dzahabi—maka jelas sudah dari sini bahwa hadis yang dipertentangkan tidak ada keraguan lagi itu adalah hadis yang munkar. Banyak dari hadis-hadis riwayat Muslim yang mendapatkan masuk klasifikasi hadis munkar

Juga penjelasan dari Sayyid Ahmad As-Sayyih Al-Husaini menjelaskan dalam kitab beliau yang berjudul “Nasyru-l-A’thor Wa Natsru-l-Azhar Fi Najati Aba-in Nabiyyi-l-Ath-har”, beliau mengatakan:

وعند العلماء أن معمرا أثبت من حماد لأن حمادا في أحاديثه مناكير شتى وقد تكلم علماء الرجال في حفظه فهو مجروح متهم ولم يخرج له البخاري ومسلم في الأصول إلا من روايته عن ثابت

menurut para ulama, Ma’mar lebih kuat dari pada Hammad, sebab dalam beberapa riwayat Hammad terdapat banyak kemunkaran yang bermacam-macam. Para ulama-ulama Rijal telah mengkritik hapalan beliau. Maka beliau adalah seorang yang majruh (sudah terkoyak validitasnya) dan muttaham (perlu di curigai). Imam Bukhori dan Imam Muslim pun tidak meriyawatkan dari Hammad dalam hadis-hadis pokok mereka, kecuali saat hammad meriwayatkan dari tsabit

Tiba-tiba pak Jumali yang dari tadi diam mengangkat tangan, intruksi:

“Kang, tambah mumet saya mendengarkan pemaparan njenengan yang luas dan mbulet itu. Udah, langsung saja pada intinya, jadi gimana tentang sanad hadis riwayat muslim tadi?”

“Ha ha ha..iya, iya pak Jumali. Maaf, ini karena saya nuruti keinginan pak Ghufron. Intinya hadis riwayat Muslim di atas itu secara sanad adalah hadis yang Dhoif alias lemah, sebab hadis tersebut di riwayatkan melalui jalur Hammad bin Salamah dari Tsabit bin Anas, yang mana kedua perowi tersebut itu telah dihukumi lemah oleh para Huffadz yang pakar dalam bidang Hadis. Hadis yang secara mata rantai Sanad-nya lemah, maka hadis tersebut pun juga lemah hukumnya. Nah, menggunakan hadis yang lemah, itu hanya diperbolehkan oleh para ulama dalam Fadhailu-l-A’mal saja, bukan dalam masalah hukum atau pun akidah. Sedang masalah keislaman kedua orang tua Nabi—menurut saya pribadi—itu sudah masuk dalam ranah yang mendekati akidah. Jadi kita tidak boleh menggunakan hadis tersebut di atas sebagai pijakan menarik kesimpulan. Terlebih lagi jikalau hadis tersebut bertentangan dengan teks-teks al-Qur’an”

“Terus kalau dari sisi matn-nya hadis tersebut bagaimana, Kang?”, tanya pak Ghufron yang kelihatan masih semangat sendiri, jika di banding dengan yang lain.

Sambil melirik jam yang sudah menunjukkan pukul 09.30 wib, Kang Shodrun berkata:

“Ya silahkan, terserah jama’ah, apa mau di lanjut sekarang atau besok malam sabtu saja, sebab ini sudah melebihi kebiasaannya. Sudah mulai larut malam. Silahkan gimana jama’ah?”

“Malam sabtu saja Kang Shodrun, sudah lelah, besok masih harus kerja juga”, jawaban serempak dari jama’ah. 

Akhirnya pengajian malam kamisan itu pun di tutup dengan untaian doa yang melangit oleh Pak Ghufron selaku sesepuh dan Imam Musholla. Wallahu A’lam []

[1] Perhatikan bagian-bagian ungkapan yang saya garis bawahi. Karena di situlah titik pembahasan utama.
Powered by Blogger.
Advertise 650 x 90
 
Copyright © 2014. Anjangsana Suci Santri - All Rights Reserved | Template - Maskolis | Modifikasi by - Leony Li
Proudly powered by Blogger