Advertise 728x90

BAHAYA KHUSYU’ISME

Written By Unknown on Thursday, January 29, 2015 | 9:49 AM



Man Izdada Khusyu’an Izdada Jahlan” sebuah ungkapan yang kurang lebih memiliki arti “barang siapa yang bertambah khusyu’-nya, maka akan bertambah pula kebodohannya. Aneh, memang ungkapan tersebut terasa sangat aneh ditelinga-telinga swasta seperti telingaku. Terlebih lagi, pertama kali aku mendengar istilah tersebut sering diulang-ulang oleh gurunda, simbah KH. Maemoen Zubair saat aku baru awal-awal masuk ke Ponpes Sarang. Tepatnya sekitar tahun 2003-2004, dan umurku pada waktu itu pun masih tergolong kecil, sekitar umur 16 tahunan. Nalar kekanak-kanakan yang masih kuat melekat dalam diriku belum mampu untuk mencerna dengan baik apa makna tersirat dibalik petuah “aneh” beliau ini.
            Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya corak serta wawasan yang menjadi menu harianku, ditambah lagi pergaulanku dengan orang-orang yang memiliki pola pikir yang bermacam-macam, sedikit demi sedikit kabut tebal yang menyelimuti ungkapan Mbah Maemoen tersebut akhirnya tersingkap. Walaupun konsekwensinya aku harus dicap sebagai santri yang “salah pergaulan”. Ya, aku masih ingat betul bahwa waktu itu aku masih duduk dikelas 1 Aliyah MGS dan jujur, pada waktu itu pemikiranku masih sangat lugu sekali. Namun alhamdulillah, pada waktu itu pulalah aku bersentuhan secara lebih intim dengan berbagai pemikiran Al-Imam Al-Ghozali. Semua itu gara-gara kitab Al-Munqidz Mina-D-Dholal yang dihadiahkan oleh mas Najih kebumen kepadaku. Dalam satu hari penuh, aku menghatamkan membaca serta memahami kitab tersebut sebanyak tiga kali. Hingga akhirnya aku benar-benar merasakan bahwa memang Al-Ghozali adalah sesosok ulama yang gagasan dan pemikirannya mampu mencerahkan. Sehingga layak sekali, jika kemudian beliau disebut sebagai salah satu “Sang Pencerah”.
            Tidak hanya itu saja, perkenalanku dengan KH. M. Wafi Maemoen—akrab dipanggil dengan Gus Wafi—dengan karakteristik beliau yang Mobile, progresif dan kaya akan ide, pun juga sedikit banyak telah memberi warna dan corak dalam cara berfikirku. Belum lagi KH. Baha’uddin NS—akrab aku panggil dengan Gus Baha’—yang pada waktu itu banyak memberikan inspirasi, hingga akhirnya aku nyaman dan setia mendengarkan rekaman-rekaman pengajian beliau yang serat akan nuansa ilmiah nan kritis. Pak Najib Bukhori pun tidak kalah juga, beliau adalah sosok muda dengan gagasan dan pemikiran brilian yang berani meloncat keluar “pagar” kemapanan, akan tetapi tetap kalem dalam melakukan perubahan. Hingga akhirnya aku juga rutin mengikuti kajian Bulughul Marom yang diampu oleh KH. Dr. Abdul Ghofur Maemoen yang tentunya sangat asyik dan penuh insirasi. Nah, pertemuanku dengan merekalah yang sedikit banyak kemudian memberikan dampak dan efek luar biasa pada diriku dalam memahami sosok Mbah Maemoen, yang diantaranya adalah dengan memahami dawuh beliau di atas.
            Memang, Mbah Maemoen tidak pernah—dan aku sendiri juga belum pernah mendengar—beliau menguraikan apa makna dari petuah beliau tersebut. Tetapi, sebagai seorang santri, aku sudah tergerak semenjak dulu untuk membaca, mengkaji dan bahkan berusaha untuk mendiskusikan berbagai tindakan, statement dan tentunya ijtihad beliau ini bersama beberapa teman yang bisa aku ajak berfikir ke arah sana. Berkenaan dengan dawuh: “Man Izdada Khusyu’an Izdada Jahlan” di atas, aku melihat paling tidak ada 3 hal yang ingin disampaikan oleh Mbah Maemoen, walaupun tentunya ini menurut pemahaman dan kajianku sendiri atas dawuh beliau.
            Pertama- Beliau nampak ingin menekankan bahwa akhir-akhir ini banyak orang-orang yang menampilkan prilaku, sikap, cara berpakaian dan mungkin juga tutur kata yang kesemuanya mengindikasikan bahwa mereka adalah orang-orang sholih, ahli ibadah dan seterusnya. Padahal, sejatinya ilmu yang yang bersemayam dalam kalbu mereka nol, alias kosong, alias tidak ada. Mereka menjadikan ke-khusyu’-an sebagai kedok dan topeng demi menutupi serta menyembunyikan kebodohan mereka. Nah, Mbah Moen menyampaikan pesan di atas agar para santri-santri Sarang tidak silau atau bahkan terpesona untuk mengikuti orang-orang yang demikian itu. Karenanya, tidak heran kalau dulu Gus Baha’ bercerita bahwa santri Sarang tempo dulu itu mempunyai cara berfikir ilmiah dan tidak ada yang kelihatan khusyu’. Dawuh beliau: “Ilmiah itu identik dengan kebebasan dalam berfikir, jika di batasi terus maka akan terpasung keilmiahannya”. Tentunya kebebasan ini bukan bebas segala-galanya, akan tetapi bebas yang masih berada dalam rel dan bingkai keilmuan Pesantren. Bahkan menurut cerita salah satu senior (Kang Fadhlan, akrab aku panggil dengan Wa’ Lan), dulu Gus Baha’ itu selesai Jama’ah Sholat tidak duduk untuk wiridan lama-lama, akan tetapi beliau bergegas untuk kembali melanjutkan Muthola’ah-nya yang sempat diistirahatkan karena jama’ah sholat. Dan jujur saja, sampai sekarang pun aku belum pernah melihat Gus Baha’ Wiridan/sholat Sunnah Ba’diyah setelah sholat Fardhu. Nampaknya kebiasaan di Pesantren itu masih terbawa saat beliau di rumah atau mungkin saja beliau memang masih asyik dengan Muthola’ah.
            Pernah ada yang bertanya kepadaku: “Lebih utama siapakah, santri yang asyik dengan muthola’ah-nya hingga ia lupa atau enggan melakukan amaliah-amaliah sunnah? Atau santri yang memperbanyak amaliah sunnah sementara Muthola’ah-nya kurang?”. Waktu itu aku menjawab bahwa santri yang bisa mensinergikan antara keduanya adalah yang terbaik. Namun jika terpaksa ia harus memilih salah satu dari keduanya, maka dengan tegas aku mengatakan bahwa santri yang memanfaatkan semua waktunya dan mengerahkan segala daya serta upaya guna Muthola’ah ilmu—tentunya mengecualikan waktu-waktu yang digunakan untuk melakukan kebutuhan primer yang lain, semisal makan—adalah lebih utama jika dibandingkan dengan memperbanyak ibadah Sunnah. Pendapatku ini berdasarkan statement imam an-nawawi yang diabadikan dalam mukaddimah kitab Minhaju-T-Tholibin. Beliau berkata:
فَإِنَّ الِاشْتِغَالَ بِالْعِلْمِ مِنْ أَفْضَلِ الطَّاعَاتِ و أَوْلَى مَا أُنْفِقَتْ فِيهِ نَفَائِسُ الْأَوْقَاتِ
Sesungguhnya, kesibukan seseorang untuk belajar ilmu itu adalah ketaatan paling baik dan kesibukan paling utama untuk menghabiskan waktu seseorang
            Kedua- Dari statement Mbah Maemoen di atas, sebenarnya beliau ingin mengajak santri dan masyarakat Pesantren untuk berfikir secara terbuka (Open Mind). Disamping tentunya beliau ingin mengajak kita agar melihat, melakukan analisa dan kajian secara proporsional, objektif, holistik dan tentunya komprehensif. Beliau kurang suka dengan santri yang hanya memiliki satu cara pandanga saja, sehingga pikirannya menjadi kaku, jumud dan mudah menyalahkan orang lain, terlebih lagi jikalau tidak ada klarfikasi/Tabayyun terlebih dahulu. Santri dengan model terakhir ini biasanya enggan dan acuh tak acuh terhadap setiap gagasan berbeda dari apa yang ada dalam pemahamannya selama ini. Bahkan tidak jarang dari mereka yang kemudian memusuhi dan menyerang dengan ngawur orang-orang yang memunculkan gagasan yang seakan di anggap baru tersebut.
            Dalam beberapa pengajiannya, Mbah Maemoen sering menyindir dan mengkritik orang-orang, baik dari kalangan umum maupun dari kalangan pesantren, yang memiliki pola pikir terlalu kaku dan jumud tersebut dengan menyitir sebuah statement ayahanda beliau, yakni Kiai Zubair Dahlan. Mbah Maemoen sering dawuh: “Bapak mbien ngendikan[1]:
حفظ شيئا وفات عنه أشياء
Hanya menghapal/menjaga/mengetahui satu hal saja, akan tetapi luput darinya banyak hal
            Tidak hanya itu saja, Mbah Maemoen dalam beberapa pengajiannya juga sering mengatakan bahwa:
Manungso kui kaprahe mung iso ndelok sak arah thok. Iku yo wajar, sebab deweke mung isone yo madep sak arah thok. Dadi yo mung 90 derajat thok. Lah ndunyo kui bunder ser. Bunder kui 360 derajat. Dadi santri ya harus tau segala[2]
            Aku memahami bahwa yang dimaksud dengan “harus tau segala” atau “Bunder Kui 360 Derajat” adalah berusaha untuk melihat segala sesuatu dengan sesuai porsinya dan tentunya harus secara utuh, komprehensif, tidak secuil atau separo saja. Karena tentunya pemahaman yang sepihak saja, akan menjadikan seseorang fanatik dan mudah mencela serta menyalahkan orang lain, padahal belum tentu orang lain tersebut salah.
            Dalam kesempatan lain, Mbah Maemoen pun sering dawuh mengutip statement Nabiyullah Ibrahim Alahis Salam:
على العاقل أن يكون عارفا بزمانه مقبلا في شأنه راضيا بربه
Bagi seorang yang berakal, hendaknya ia harus memahami kondisi dan fenomena yang terjadi pada masanya. Perhatian terhadap apa yang menjadi tanggung jawabnya (Sya’nu), serta ridha terhadap apa yang menjadi ketetapan tuhannya[3]
            Bahkan dulu sebelum aku kluyuran ke Lebanon dan sowan kepada beliau sebanyak 3 kali, Mbah Maemoen berpesan khusus kepadaku:
“Lebanon kui ono telu yoh...presidene Kristen, perdana mentrine Sunni, la ketua parlemene Syiah. La kowe yo kudu paham telu-telune yo...heh...yo paham Sunni, yo paham Kristen, yo paham Syiah...paham?”
“Nggeh Yai” [4], Jawabku.
Apakah dengan petuah ini beliau ingin menyuruhku untuk menjadi seorang Syi’i atau seorang Kristen? Tentunya tidak, Khasya Wa Kalla. Lalu apa maksud beliau? Secara pribadi, aku memahami bahwa beliau hendak mendorongku untuk menjadi orang yang pengalaman, terbuka, santri dengan wawasan yang tidak sempit/ dengan istilah beliau adalah menjadi “santri yang tau segala”. Karena pada akhirnya, realitas kehidupan menuntut kita untuk bijak dalam menyikapi perbedaan-perbedaan yang berkembang. Perbedaan adalah sebuah keniscayaan dan sunnatullah yang tidak bisa dipungkiri. Perbedaan bukan untuk dimusuhi, perbedaan bukan untuk dilawan dan bukan pula untuk dimusnahkan. Akan tetapi, semestinya perbedaan adalah untuk diracik sedemikian rupa, sehingga ia bisa menjadi pelangi yang walaupun berbeda-beda warnya, tetapi sedap nan sejuk dipandang mata.
Bahkan beda agama pun semestinya tidak menjadikan sesama manusia untuk saling bermusuhan. Dalam kajian Fiqh Islam, kita akan menemukan data bahwa tidak semua non muslim itu boleh diperangi, bahkan ada sebagian dari mereka yang harus dilindungi oleh institusi pemerintah. Yang boleh kita perangi hanyalah non muslim dengan predikat Harbi, yakni non muslim yang menyerang/memerangi umat Islam. Sedang non muslim yang Dzimmi (non muslim yang keamanannya menjadi tanggungan umat Islam, karena mereka siap untuk berdampingan secara damai dengan umat Islam), Musta’man (non muslim yang keamanannya dijamin oleh pemerintah yang sah) dan Mu’ahad (non muslim yang menyepakati adanya gencatan senjata dengan umat Islam), maka mereka ini tidaklah boleh kita perangi. Lalu bagaimana dengan Umat Islam yang berbeda pandangan dan madzhab dengan kita? Tentunya lebih tidak boleh lagi untuk kita perangi. Dan dalam bingkai pemahaman ini pula, kita bisa memahami Hadis Nabi yang berbunyi:
أمرت أن أقاتل الناس حتى يشهدوا أن لا إله إلا الله
            “Saya diperintahkan untuk berperang dengan manusia, hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah
Kita perhatikan redaksi (أقاتل) yang mengikuti shighot (bentuk kata) Mufa’alah yang tentunya bagi para pengkaji ilmu shorof sudah tidak asing lagi apa faidah-nya, yaitu Musyarokah. Faidah Musyarokah menunjukkan makna “saling”, yang pada akhirnya memberikan pemahaman kepada kita bahwasannya ada dua pelaku/lebih dalam sebuah pekerjaan. Nah, dalam redaksi hadis di atas, kata (أقاتل) menunjukkan saling bunuh membunuh antara manusia. Berarti yang akan diperangi Rasulullah, sebagaimana termaktub dalam redaksi hadis di atas, adalah non muslim yang memang ingin memerangi umat Islam juga, sedang yang lain tidak. Betapa hebatnya baginda Nabi dalam memilah dan memilih redaksi yang akan beliau sabdakan, sehingga tidak akan bisa menimbulkan kerancuan pemahaman dikemudian hari.
Ketiga- Dari statement di atas, Mbah Maemoen ingin mengajak kita untuk flash back/kembali merenungi sejarah umat Islam yang telah lalu. Mbah Maemoen mengajak kita untuk memperhatikan tragedi berdarah yang sangat menusuk hati setiap umat Islam, yakni peristiwa pembunuhan Imam Ali KarramaLlah Wajhah yang direncanakan oleh sekelompok orang yang mengaku paling benar, paling paham atas interpretasi al-Qur’an maupun Hadis, merasa paling baik dan paling khusyu’. Mereka berpendapat bahwa Imam Ali, Amr Bin Ash, Abu Musa Al-Asy’ari, Mu’awiyah, pelaku perang Jamal dan semua orang yang ridha atas keputusan Tahkim adalah orang-orang yang kafir yang halal darahnya[5]. Merekalah Khowarij, kaum paling khusyu’ sepanjang perjalanan sejarah umat Islam.
Dalam kajian sejarah, Khowarij adalah salah satu kelompok paling berbahaya bagi kehidupan umat Islam. Dan lagi-lagi, khusyu’ menjadi semacam tameng dan topeng yang sangat berguna untuk memuluskan aksi-aksi mereka. Coba saja kita perhatikan bersama, bagaimana Al-Imam Ahmad Bin Hanbal menggambarkan beberapa ciri khas mereka dari sebuah hadis yang beliau kutip dalam musnadnya dari Abu Sa’id Al-Khudri RadhiyaLlahu Anhu.
Dulu, pada masa kehidupan Rasul Shollallahu Alaihi Wa Sallam, ada suatu peristiwa yang sangat menggemparkan jagad para sahabat. Suatu hari di masjid Rasul ada seseorang yang kelihatannya demikian khusuk melaksanakan shalat. Kekhusyukannnya begitu memikat dan menawan hati sebagian shahabat yang melihatnya. Mereka banyak memperbincangkannya, bahkan sengaja ada yang menceritakan pemandangan itu di dekat Rasul, dengan maksud agar beliau mengomentarinya. Mereka sangat berharap ada komentar dan perkataan Rasul tentang orang itu. Namun, alih-alih pujian yang muncul dari lisan beliau yang suci, justru tantangan bagi sahabat yang punya nyali untuk memisahkan kepala dari tubuhnya. Semua terperangah, seolah tidak percaya dengan perkataan Rasul. Bahkan Rasul berkata : “Orang inilah yang nantinya akan menebarkan aroma perpecahan dan fitnah kehancuran dalam agama. Aku melihat hembusan setan di dahinya. Sekiranya engkau membunuh orang itu, maka tidak akan terjadi perpecahan umat dikemudian hari”.
Rasul lalu memerintahkan Abu Bakar Radhiyallahu Anhu untuk membunuhnya, tetapi sayang, dia tidak mampu mengalahkan perasaannya untuk membunuh orang yang sedang khusyu’ beribadah tersebut. Kemudian Rasulullah merintahkan Umar ibn Al-Khaththab Radhiyallahu Anhu dengan perintah yang sama, namun Umar mengalami perasaan yang sama. Dia lebih tunduk kepada perasaannya ketimbang perintah wajib dari Rasul. Kemudian Rasul memeritahkan Ali ibn Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu, dan Ali pun tanpa berpikir panjang segera bangkit dengan menghunus pedang dihadapan Rasul dan para sahabat. Namun sayang, rupanya hal itu diketahui oleh orang itu sehingga dia kabur meninggalkan masjid[6].
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa mereka adalah orang-orang yang hapal Al-Qur’an (يقرؤون القرآن), akan tetapi makna dan kandungan Al-Qur’an hanya sampai dimulut mereka saja, tidak bisa meresap dalam kalbu (ولم يجاوز تراقيهم). Bahkan Abdurrahman Ibnu Muljam Al-Murodi, pembunuh Imam Ali, pun adalah orang yang super khusyu’. Dia terkenal sebagai penghapal Al-Qur’an, selalu melakukan sholat malam dan selalu menahan dahaga dengan puasa di siang hari. Namun, dia merasa sebagai orang paling baik, orang paling benar dan orang paling berhak untuk menafsirkan al-Qur’an, karenanya tidak heran jikalau kemudian dia mengkafirkan Imam Ali, menghalalkan darahnya dan bahkan akhirnya membunuh beliau.
Dr. Umar Abdullah Kamil—salah satu santri dan murid dari Abuya Sayyid Muhammad Bin Alawi Al-Maliki—menyebutkan beberapa ciri-ciri tertentu dari khowarij. Dan anehnya, ciri-ciri tersebut pun sampai sekarang masih melekat dalam diri sebagian umat Islam yang menganggap dirinya sebagai orang yang paling benar dan paling khusyu’. Beberapa ciri khas mereka adalah:
1.    Khowarij tempo dulu selalu menggembor-gemborkan slogan dan syi’ar “La Hukma Illa Lillah”, tidak ada hukum kecuali hukumnya Allah. Namun Imam Ali mengatakan bahwa slogan ini hanyalah bualan saja, ia merupakan “Kalimatu Haqqin Urida Biha Al-Bathil”, sebuah ungkapan yang benar, namun dibalik itu terdapat tujuan dan maksud yang salah dan batil. Jadi slogan itu hanyalah kedok saja untuk membenarkan apa yang menjadi hasrat dan keinginan mereka saja. Ungkapan tersebut tidak benar-benar keluar karena ingin mengikuti perintah Allah. Begitu juga dengan khowarij di era modern sekarang ini. Mereka berusaha ingin menegakkan syariat Islam disebuah negara/daerah tertentu, namun sebenarnya semua itu hanyalah mereka jadikan kedok untuk memuluskan langkah mereka guna meraih kekuasaan. Dan saat mereka sudah duduk dikursi empuk, maka praktek penerapan syariat pun tak pernah bisa terealisasikan, seperti halnya kejadian di Mesir pasca tumbangnya Husni Mubarok. Atau kalaupun bisa merealisasikan apa yang mereka sebut ‘syariat’, maka yang diterapkan adalah syariat dengan versi mereka sendiri. Sehingga hal itu memberikan dampak berupa intimadasi, diskriminasi dan tentunya Isolasi terhadap kelompok lain yang tidak sepaham dengan mereka. Pemandangan seperti inilah yang terjadi pada Saudi Arabia dengan paham Wahhabi sampai sekarang. Dari kronologi inilah kemudian muncul syiar Nahdhatul Ulama (NU) yang menyatakan bahwa NKRI harga mati.
2.    Khowarij tempo dulu adalah orang-orang yang sangat berlebihan dalam masalah beribadah dan dalam pemahaman agama. Saking khusyu’-nya, mereka memiliki pemahaman bahwa pelaku dosa besar adalah orang kafir yang halal darahnya. Mereka mengkafirkan para pemimpin seperti Imam Ali, Mu’wiyah serta Amr Bin ‘Ash. Tidak berhenti pada pengkafiran saja, bahkan mereka sudah bergerak dan berusaha membunuh kesemuanya, walaupun akhirnya mereka hanya berhasil membunuh Imam Ali saja. Sama dengan mereka adalah Neo Khowarij sekarang ini. Mereka mempunyai anggapan bahwa para pemimpin Indonesia sekarang ini sudah kafir. Hal ini karena mereka menganggap bahwa para pemimpin itu tidak menetapkan syariat Islam sebagai undang-undang. Berpijak dari sini, mereka kemudian melegalkan adanya revolusi dan pemberontakan terhadap sebuah pemerintahan yang sah. Rakyat yang tidak mau ikut revolusi guna meruntuhkan kekuasaan pemerintah dengan model seperti ini pun mereka cap sebagai rakyat yang kafir juga. Lihat saja berbagai macam pergolakan yang terjadi berbagai belahan negara Islam akhir-akhir ini. Mulai dari Al-Jazair, Tunisia, Libya, Mesir dan terakhir adalah Syiria yang sampai sekarang masih terus bergejolak. Semua itu adalah karena benih-benih ke-khusyu’-an Khowarij ini berkembang biak dengan baik, tanpa ada yang mampu untuk membendungnya.
3.    Khowarij tempo dulu tidak takut mati sama sekali demi menegakkah syariat Allah yang berada dalam hayalan mereka. Dengan semangat dan keberanian penuh, mereka maju untuk berperang tanpa memperdulikan untuk apa dan siapa yang mereka perangi. Keberanian ini bukan tanpa sebab, karena mereka mempunyai anggapan bahwa kematiannya inilah yang memuluskan jalan mereka menuju ke Surga. Tak jauh beda dengan mereka adalah khowarij modern sekarang ini. Mereka rela menjadi ‘pengantin’ dengan mengorbankan dirinya guna mendapatkan kapling Surga nanti.
4.    Khowarij tempo dulu enggan untuk membunuh babi, karena mereka menganggap itu sebagai kerusakan. Padahal mereka berani membunuh sahabat Nabi, Abdullah Bin Hubab beserta istrinya yang sedang hamil dan beberapa sahabat yang lain. Mereka juga enggan untuk memungut sepotong kurma yang terjatuh di atas tanah. Namun disisi lain mereka mudah menuduh orang lain sebagai pelaku bid’ah, kafir, syirik dan tuduhan miring lainnya, hanya gara-gara berbeda dalam masalah khilafiyah saja.
5.    Khowarij tempo dulu terjebak dalam pemahaman keagamaan secara tekstualis ansich, sehingga hal itu menjadikan mereka berfikir secara konservtif. Al-Hafidz Ibnul Jauzi menuturkan sebuah riwayat yang menjelaskan bahwa saat Ibnu Muljam akan di Qishash karena pembunuhan yang ia lakukan terhadap Imam Ali, maka Abdullah Bin Ja’far Bin Abi Thalib memotong kedua tangannya. Tetapi Ibnu Muljam tetap kekeh diam saja, tidak ada sedikit pun ratapan keluar dari mulutnya. Lalu kedua matanya dicukil dengan paku yang dipanaskan, ia pun hanya diam saja, tidak ada ratapan sama sekali keluar dari mulutnya, bahkan dengan bangganya ia membaca: “Iqro’ Bismi Robbika-L-Ladzi Kholaq”. Namun saat Ibnu Ja’far hendak memotong lisannya, tiba-tiba Ibnu Muljam meratap. Abdullah bertanya: “Kenapa engkau meratap wahai Ibnu Muljam?”, “Aku khawatir meninggal sedang aku dalam kondisi tidak bisa berdzikir dengan lisanku”. Dari riwayat Ibnul Jauzi ini, bisa kita ambil kesimpulan bahwa Ibnul Muljam memahami perintah dzikir secara lahiriah saja, karenanya ia takut kalau tidak bisa berdzikir dengan lisannya itu. Padahal esensi dari sebuah dzikir adalah ingat Allah dengan hati, sedang dzikir dengan lisan hanyalah sunnah saja. Dan masih banyak lagi ciri-ciri khowarij yang tidak bisa aku sebutkan satu persatu di sini.
Uraian yang sangat panjang ini hanyalah ingin mengantarkan kita pada sebuah gagasan besar Mbah Maemoen yang disampaikan dengan gaya bahasa yang terkesan humoris, penuh teka teki tetapi serat akan makna: “Man Izdada Khusyu’an Izdada Jahlan”. Dan dalam era modern ini, banyak kita temukan kelompok-kelompok maupun perorangan yang sedikit banyak telah terjangkiti virus khowarij ini. Banyak orang awam yang terkagum-kagum dengan ke-khusyu’-an mereka, terlebih lagi kebanyakan mereka adalah orang-orang yang memiliki olah vokal luar bisa dan mental yang kuat. Padahal sebenarnya pengetahuan dan keilmuan mereka berkenaan dengan masalah agama sangatlah minim sekali. Sedang orang yang sebenarnya memiliki pengetahuan agama cukup luas, lama di Pesantren dan memiliki pemahaman Islam yang moderat, malah tidak mampu untuk berbicara di depan audien banyak. Ia tidak mampu untuk bermain retorika sebagaimana para pengikut gagasan neo khowarij yang telah aku sebutkan di depan. Lalu bagaimana solusinya?
Ya, solusi yang diberikan Mbah Maemoen selama ini adalah dengan tidak berhenti untuk belajar. Jangan merasa puas dengan apa yang telah kita ketahui sekarang ini, karena pada dasarnya ilmu yang tidak kita ketahui lebih banyak dari pada ilmu yang kita ketahui. Dengan terus belajar dan membaca apa saja, seseorang akan dengan mudah memahami apa yang di pahami oleh orang lain. Dan tentunya hal itu pula akan mengantarkan ia pada kedewasaan dan keterbukaan pemikiran (Open Mind). Seorang santri yang telah lama belajar dan bertapa di pesantren sekalipun, kalau dia berhenti untuk belajar dan membaca, maka tidak menutup kemungkinan virus khowarij ini pun akan menjangkitinya. Karenanya Mbah Maemoen juga menyampaikan hal ini kepada masyarakat pesantren agar mereka sadar dan tidak berhenti untuk belajar dan membaca apa saja.
Walhasil, melalui petuah “Man Izdada Khusyu’an Izdada Jahlan” ini, paling tidak ada 3 hal yang ingin disampaikan Mbah Maemoen kepada kita—konklusi ini adalah menurut pemahaman dan analisaku pribadi, bukan langsung disampaikan oleh beliau. Pertama, kita jangan terpesona dengan penampilan lahiriah seseorang yang nampaknya khusyu’, karena seringnya hal itu menipu kita. Kedua, hendaknya kita menjadi umat Islam—terlebih lagi santri—yang mau selalu belajar dan terus membaca. Apapun harus kita ketahui, jangan puas hanya dengan pengetahuan yang sekilas saja, karena hal itu bisa menimbulkan sikap fanatik buta yang sangat dilarang oleh Islam itu sendiri. Ada sebuah ungkapan menarik dari para ulama yang berbunyi:
الإنسان  أعداء ما جهلوا
Manusia adalah musuh dari kebohannya sendiri
Begitu juga ungkapan yang terekam dengan manis dalam kitab Ta’lim:
خذ ما صفا ودع ما كدر
Ambillah yang baik, tinggalkan yang tidak baik
Ketiga, hendaknya kita berhati-hati dengan paham Neo Khowarij yang akhir-akhir ini merebak diberbagai belahan negara Indonesia tercinta ini. Ketiga paham “khusyu’isme” ini tidak hanya membahayakan orang diluar kelompoknya saja, akan tetapi juga membayakan keberlangsungan eksistensi dan kesatuan NKRI yang harus di jaga. Jadi ojo khusyu’-khusyu’ nemen...!






[1] Ucapan Mbah Maemoen dengan bahasa jawa yang artinya “Dulu ayah berkata”.
[2] Artinya: “manusia itu umumnya hanya bisa melihat satu arah saja. Itu ya wajar saja, sebab dia hanya bisa menghadap pada satu arah saja. Jadi ya hanya mendapatkan 90 derajat saja. Sedangkan dunia itu bulat. Bulat itu 360 derajat. Jadi seorang santri ya harus tau segala”.
[3] Banyak redaksi yang semakna dengan apa yang disampaikan oleh Mbah Maemoen di atas. Akan tetapi secara pribadi aku belum menemukan data dengan redaksi yang sama persis dengan apa yang disampaikan Mbah Maemoen di atas. Imam Ar-Rozi, Al-Biqo’i dan An-Nasafi menggunakan redaksi: ينبغي للعاقل أن يكون حافظاً للسانه عارفاً بزمانه مقبلاً على شأنه. sedang yang hampir mirip adalah redaksi As-Suyuthi dalam Ad-Durru-L-Mantsur yang berbunyi: وحق على العاقل أن يكون عارفاً بزمانه ، حافظاً للسانه ، مقبلاً على شأنه. Wallahu A’lam Bis Showab.
[4] Artinya: “Lebanon itu ada 3 kelompok ya, presidennya dari kristen, perdana mentrinya dari islam sunni, ketua parlemennya dari islam syiah. Nah, kamu harus faham ketiga-tiganya ya. Heh. Ya paham sunni, paham kristen dan paham syiah. Paham kamu?”. “Iya Kiai”.
[5] Lihat Dr. Umar Abdullah Kamil dalam (tt), Al-Mutathorrifun Khowariju-L-Ashri,
[6] Ini adalah ringkasan Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam musnad-nya, sedang Al-Hafidz Al-Haitsami mengomentari hadis ini sebagai hadis yang para perowinya Tsiqqah. Lihat Al-Hafidz Nuru-D-Din Ali Bin Abi Bakar Al-Haitsami (1412), Majma’u-Z-Zawaid Wa Manba’u-L-Fawaid, Beirut: Dar El-Fikr. Vol: 6. Hal: 335. 
Share Artikel ke: Facebook Twitter Google+ Linkedin Technorati Digg
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »
Artikel Terkait:
Sisipkan Komentar Anda Disini
Breaking News close button
Back to top

1 komentar:

avatar

menarik sekali urainnya mas, salut dgn pemahamannya yg komplek/mendalam tp kenapa kok pakai cover bukunya di coret?
Tks

Bagaimana Pendapat Anda?
Powered by Blogger.
 
Copyright © 2014. Anjangsana Suci Santri - All Rights Reserved | Template - Maskolis | Modifikasi by - Leony Li
Proudly powered by Blogger