Advertise 728x90

KECERDIKAN ABU HANIFAH

Written By Unknown on Saturday, February 14, 2015 | 1:23 AM


Seorang alim yang bernama Qotadah suatu hari memasuki kota Kufah. lalu dengan penuh ke-PD-an beliau berkata ditengah-tengah masyarakat: "Bertanyalah kalian kepadaku tentang apa saja..! akan aku jawab semua". Semua diam, karena memang semua mengakui kealiman beliau. Tetapi tiba-tiba ada seorang anak kecil yang turut hadir di situ mengacungkan jari telunjuknya, dengan polos seraya bertanya:

"Apakah jenis kelamin dari semut yang hampir saja terinjak oleh Raja Sulaiman? Apakah ia jantan atau betina?", Tanya si anak kecil.

Mendapat pertanyaan yang tak terduga-duga demikian, Qotadah hanya bisa diam dan membisu, karena memang sulit sekali jawabannya. Melihat Qotadah yang nampak kesulitan menjawab, anak tersebut segera pergi karena tidak enak. Tetapi beberapa orang mengejarnya dan saat bertemu mereka bertanya:

"Apa jenis kelamin semut tersebut wahai anak kecil?", tanya orang yang mengejarnya.
"Jenis kelaminnya betina pak", jawab si anak kecil.
"Kok kamu bisa tau dari mana", kejar si bapak.
"Dari al-Qur'an"
"Coba gimana ayatnya sebutkan"
"Allah berfirman:

قَالَتْ نَمْلَةٌ

Andaikan semut itu jantan, tentunya Allah akan berfirman: (
قَالَ) tanpa ada huruf Ta' Mabsuthoh", jawab anak tersebut.
Mendengar jawaban yang cerdas itu, orang tua tadi bertanya:
"Siapa namamu nak?"
"Nu'man Bin Tsabit".

Dalam kisah lain disebutkan bahwa Imam Abu Hanifah sedang berkumpul dengan santri-santrinya dalam satu majlis untuk melakukan kajian Fiqh. Saat sedang seru-serunya membahas, tiba-tiba ada seorang wanita dengan wajah yang andaikan bulan purnama tahu pun akan malu memperlihatkan cahayanya, karena saking cantiknya. Tiba-tiba wanita tadi meletakkan sebutir buah apel yang berwarna dua, setengah berwarna kuning dan separonya lagi berwarna merah. Semua murid sang imam bingung, lalu sang imam mengambil apel tadi dan membelahnya jadi dua, hingga tampak jelas bahwa isi apel tersebut berwarna putih bersih. Setelah melihat apa yang dilakukan sang imam, wanita tadi dengan tersipu malu, pergi tanpa mengucapkan kata apa-apa.

Nah, tambah bingung lagi para murid Imam Abu Hanifah dan mereka saling berpandangan satu sama lainnya. Melihat kebingungan diwajah murid-muridnya, sang imam pun berkata:

"Wanita tadi adalah seorang gadis yang masih perawan, dia malu untuk bertanya secara langsung tentang masalah Haidh. Makanya, dia melatakkan apel dengan dua warna tadi, yang artinya kalo darah yang keluar darinya sebagian masih merah dan sebagian lagi sudah kuning, apakah berarti sudah suci, tidak haidh lagi? Maka ketika aku belah apel tadi dan tampak jelas warna putih dalam apel, dia faham bahwa bisa dikatakan suci kalau yang keluar adalah cairan putih".

Ya beliau inilah yang kemudian hari di kenal dengan sebutan Imam Abu Hanifah, seorang pendiri salah satu madzhab Fiqh dalam lingkungan Sunni. Memang, rentetan panjang sejarang telah banyak melukiskan dan manggambarkan kecerdasan serta  kecerdikan beliau ini. Sehingga tidak heran jika kemudian madzhab Hanafi terkenal sebagai Ahlu-R-Ro’yi. Sementara ini, sebagian intelektual Islam memahami bahwa maksud dari Ahlu-R-Ro’yi adalah madzhab yang lebih mengedepankan rasionalitas dari pada tekstual, sebagaimana hal itu bisa kita lihat misalnya dari penjelasan Syaikh Khudhori Bek dalam bukunya, Tarikh Tasyri’. Sehingga yang muncul adalah kesan negativ yang menempel pada madzhab Hanafi, seolah-olah mereka lebih mengedepankan rasional (Aql) dari pada teks-teks agama (Naql). Namun yang perlu dicatat adalah apa yang ditulis oleh salah satu ulama Hanafiyah Muta’akhirin, yakni Syaikh Muhammad Zahid Al-Kautsari, yang memiliki pemaknaan lain atas istilah Ahlu-R-Ro’yi yang disematkan kepada Imam Abu Hanifah dan para pengikut madzhab Hanafi secara umum.

Menurut Syaikh Muhammad Zahid Al-Kautsari, maksud dari istilah Ahlu-R-Ro’yi adalah sebuah pernyataan yang mengukuhkan bahwa para Ulama Hanafiyah merupakan segolongan intelektual Islam yang paling mampu dan berkompeten dalam melakukan ijtihad sebagai media guna memahami ajaran Islam. Al-Kautsari mengatakan bahwa semua mujtahid memanfaatkan dan menggunakan akal serta nalar (Ro’yu) mereka untuk memahami Al-Qur’an maupun Al-Hadis. Yang membedakan antara satu dan yang lain adalah porsi yang mereka berikan pada nalar serta akal mereka dalam memahami kedua pusakan Islam tersebut, disamping tentunya adalah perbedaan kemampuan dan kecerdasan nalar masing-masing dari para mujtahid, sehingga akhirnya hal itu pula yang menyebabkan mereka berbeda-beda. Jadi semua menggunakan nalar dan akal (Ro’yu), hanya Ulama Hanafiyah-lah yang paling berkompeten dalam memahami teks-teks kedua pusaka islam tersebut di atas.

Tentunya, pemaknaan Al-Kautsari ini sangat jauh berbeda sekali dengan interpretasi yang telah diberikan oleh kebanyakan pakar Islam sementara ini. Dan memang, kesan fanatisme madzhab tercium sangat kental sekali dari apa yang disampaikan oleh Al-Kautsari—dan memang Al-Kautsari sendiri terkenal sangat fanatik terhadap Madzhab Hanafi dan tentunya Abu Hanifah. Tetapi bagi saya pribadi, pemaknaan yang diberikan oleh Al-Kautsari ini setidaknya bisa menjadi bantahan bagi sementara orang yang menganggap bahwa dari Madzhab Hanafi inilah benih-benih “Liberalisme Islam” muncul. Padahal kalau kita mengkaji kitab semisal Musykilu-L-Atsar karya At-Thohawi atau Fiqhu-L-Akbar, Fiqhu-L-Absath serta Al-Washiat yang ketiganya adalah karya Imam Abu Hanifah, niscaya kita akan menemukan kuatnya ulama Hanafiyah dalam berpegang pada teks agama. Hanya saja, cara yang mereka tempuh dalam mengimani dan berpegang pada teks agama tidaklah sama dengan cara yang ditempuh oleh selain mereka. Mestinya perbedaan ini tidaklah lantas menjadikan tuduhan yang macam-macam, atau bahkan sampai menghujat.


Walhasil, seorang Imam Abu Hanifah adalah salah satu icon kegemilangan dan kejeniusan para intelektual Islam masa lalu—bahkan beliau masih masuk dalam kurun Salaf, karena beliau wafat pada sekitar tahun 150 H, tahun dimana Imam Syafi’i lahir—yang rasa-rasanya sulit untuk kita temukan padanannya di era modern sekarang ini. Sangat layak sekali jika kemudian kita mengenang apa yang menjadi kelebihan dan kehebatan beliau dalam bidang ilmiah, walaupun tentunya kehebatan beliau dalam bidang yang lain pun juga tidak bisa dikesampingkan. Semuanya adalah dengan harapan kita bisa meneladani beliau, atau paling tidak bisa mengidolakan beliau. Terlebih lagi sekarang ini, zaman dimana kebanyakan orang Islam kehilangan idola yang sebenarnya. Bukankah menampilkan profil beliau ini merupakan satu jihad tersendiri?
Share Artikel ke: Facebook Twitter Google+ Linkedin Technorati Digg
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »
Artikel Terkait:
Sisipkan Komentar Anda Disini
Breaking News close button
Back to top

0 komentar

Bagaimana Pendapat Anda?
Powered by Blogger.
 
Copyright © 2014. Anjangsana Suci Santri - All Rights Reserved | Template - Maskolis | Modifikasi by - Leony Li
Proudly powered by Blogger