Advertise 728x90

Malam-Malam Santri

Written By Unknown on Tuesday, November 11, 2014 | 6:09 PM





Malam itu, semilir angin sepoi-sepoi berkejaran dilangit-langit desa kecil yang masih ramai dengan gerongan suara motor yang menjenuhkan itu. Rumah-rumah sudah mulai menutup daun pintunya, karena memang malam memang sudah mulai memasuki sepertiga awalnya. Desa yang dulunya tentram, damai dan bahkan terkenal dengan desa santri itu, nampaknya kini telah berubah. Dulu, suara anak-anak tadarus Al-Qur’an masih menggema disetiap rumah-rumah penduduknya setiap habis maghrib. Masjid-masjid maupun musholla-musholla masih ramai dengan pengajian-pengajian Safinah, Sullam Taufiq dan beberapa kitab-kitab agama lainnya. Tapi, nampaknya globalisasi dan modernisasi pun telah berhasil mencengkramkan cakar-cakarnya disetiap jengkal tanah di desa tersebut.


Malam memang semakin larut, dan aktivitas orang-orang dijalanan depan rumahku pun semakin berkurang, karena mungkin sebagian orang sudah terbuai dalam mimpinya yang indah. Akan tetapi, hal itu tidak berlaku bagi para remaja. Larutnya malam bagi mereka adalah pertanda awal dimulainya kehidupan mereka yang serba hura-hura. Di setiap sudut desa itu terdapat gerombol-gerombol remaja yang tongkrong-tongkrong. Bahkan disebagian sudut desa itu, beberapa kali mata ini melihat langsung sebagian dari mereka mabuk sempoyongan dengan menenteng botol congyang…miris sekali hati ini saat melihat kondisi yang demikian itu adanya. Dan yang lebih miris lagi, nampaknya aparat desa sudah acuh tak acuh akan kondisi warganya yang sedemikian ruwet dan rusaknya, entah karena sebab apa bisa demikian.
Malam itu, disamping rumahku—tepatnya disebuah warung nasi kucing—sudah bergerombol beberapa remaja dari berbagai desa. Mereka tertawa terbahak-bahak dengan tanpa sopan santun, dan sama sekali tidak memperdulikan kenyamanan warga sekitarnya yang telah kelelahan karena berkerja sepanjang siang hari. Bahkan tak jarang mereka menarik gas sepeda motornya dengan keras, sehingga memunculkan suara yang cempreng dan keras mengganggu kenyamanan telinga, dan tak jarang pula aku bangun dalam kondisi terkaget-kaget gara-gara suara cempreng itu.
Namun, saat disetiap ujung desa banyak remaja-remaja yang grudak-gruduk tidak jelas apa yang mereka lakukan. Mata ini menangkap secercah cahaya harapan yang memancar dari sebuah ruangan kecil nan pengap dan hanya disejukkan oleh kipas angin yang kecil pula. Dalam ruangan itu, terdapat beberapa anak yang sebagian besar masih dalam jenjang sekolah setingkat Aliyah, sementara beberapa gelintir lainnya masih sekolah tingkat menengah dan bahkan ada yang masih tingkat SD. Mereka duduk melingkar dengan ada dua orang yang duduk diujung paling depan menghadap kepada yang lain. Dihadapan dua anak tadi terdapat dua meja kecil yang di atas punggung kedua meja itu terdapat kitab berukuran kecil dan disampul bagian atasnya tertulis “Matn Sullam Taufiq”.
“Lo gimana tadi jawaban pertanyaanku?”, tanya Qomar mengejar kepada si Qori’.
“Coba diulangi lagi mas Qomar…!”, kata Wafi sebagai moderator.
“Coba dengerin lagi dengan seksama mas Wafi…! Dalam kitab sullam taufiq kan di sebutkan:
ويجب على ولاة الأمر قتل تارك الصلاة كسلا إن لم يتب وحكمه مسلم
Nah, pertanyaanku, bagaimana dengan pemerintahan Indonesia sekarang ini? Kan tidak menerapkan hukum islam didalamnya??”, kata Qomar dengan tegas dan senyum mengembang.
“Ya, silahkan mas Jabuk…jawaban anda gimana?”, kata Wafi sambil pringas pringis. Karena memang jika dibanding dengannya, Jabuk masih terlalu kecil, dia masih kelas 6 SD sedang Wafi 2 MA.
“Tetap harus ikut pemerintah yang sah dong”, jawab Jabuk dengan nada serius.
“Lalu bagaimana dengan Aceh, kemarin saya lihat di TV mereka mencambuk orang yang meminum arak”, kembali Qomar berargumen.
“Wah yo berarti mereka Bughot itu, kayak ceritane kartosuro itu lo”, celetuk Burhan cengengesan.
“Huss…Kartosuro jare, Kartosono”, Anam menimpali.
Aku mendengar celoteh mereka yang lugu-lugu itu tersenyum sendiri. Aku paham bahwa yang mereka maksud adalah pemberontakan Darul Islam yang diprakarsai oleh Kartosuwiryo. Tapi karena mereka salah sebut, maka jadinya Kartosuro yang ada di Solo atau malah Kartosono, hehe..dasar anak-anak kamso.
“Tapi kan hukum Islam harus diterapkan to Han?”, Isykalan Anas kepada Burhan.
“Ya iya to mas Qomar…tapi sekarang ini apa nggak sulit? Yang penting sekarang kita itu ngaji, paham dan mendakwahkannya”, jawaban Burhan dengan tegas.
“Ya udah, kita mauqufkan dulu saja. Ini kan butuh banyak kitab, la kita Sullam Taufiq disuruh menghapal saja bolong-bolong”, jelas Wafi.
“Halah…kui kan kowe Waf  (itu kan kamu Waf)”, timpal Dur.
Dan Wafi hanya cengengesan saja mendengar cletukan teman seperguruannya itu. Biasanya, setelah berdiskusi, mereka pun langsung mayoran bersama, walaupun hanya dengan beberapa potong terong dan tempe. Mayoran di dunia pesantren memang hal biasa—dan saya sendiri dulu juga menganggap hal itu adalah hal yang sangat biasa-biasa saja—akan tetapi jika hal itu dilakukan dalam sebuah lingkungan masyarakat yang kurang mengenal pesantren, ternyata mayoran menjadi hal yang berbeda dan sangat istimewa. Beberapa remaja yang tongkrong disamping rumah pun ternyata juga sedikit malu, pekewuh dan akhirnya dengan sendirinya mereka pergi. Atau kalau tidak pergi ya minimal mereka tidak berbuat gaduh, tertawa terbahak-bahak ataupun membuat keonaran lainnya.
 Aku terharu mendengar sebuah diskusi yang berlangsung setiap malam minggu itu. Diskusi itu hanya diikuti oleh beberapa gelintir anak saja—karena memang yang kebanyakan ABG lebih suka hura hura. Ditengah kondisi bangsa yang sedang diterkam globalisasi dan terserang penyakit kronis “wahn” ini, ternyata masih ada anak-anak yang bersemangat untuk sekedar mendiskusikan Sullam Taufiq. Andaikata mereka berada disebuah Pesantren dengan sebuah sistem yang sudah berjalan puluhan atau bahkan ratusan tahu, maka hal itu menurut saya wajar-wajar saja. Tapi mereka hanya anak-anak rakyat biasa, anak-anak kamso—meminjam istilahnya Kiai Maimoen—dan miskin pula. Orang tua mereka tidak mampu untuk sekedar memberangkatkan mereka ke salah satu pesantren belajar agama lebih dalam lagi.
Setiap mereka bangun tidur dan membuka mata, yang ada di depan mereka hanyalah Hp butut atau TV dengan tayangan yang semakin lama tak jelas ke mana arahnya. Saat mereka bertemu dengan orang tuanya, maka tema pembahasan yang pertama kali mereka dengar adalah masalah iuran sekolah, uang saku untuk jajan atau uang untuk kegiatan ekstra. Tidak pernah mereka ditanya bagaimana pelajarannya. Sudah sampai mana ngajinya atau sudah sampai mana pelajaran membaca Al-Qur’an-nya. Bahkan ada sebagian dari mereka yang harus belajar Al-Fatihah lagi dengan benar, karena ternyata dia sendiri tak hapal surat yang menjadi bacaan wajib dalam sholat tersebut. Dan anehnya lagi, semua mengaku sebagai seorang muslim yang mengikuti organisasi NU.
Namun, lagi-lagi aku masih bisa tersenyum saat melihat mereka kini bisa bertukar pendapat tentang berbagai permasalahan agama mereka dengan nyaman dan detil. Iya, mereka tidak sepandai santri-santri pesantren yang tangkas memaknai kitab gandul, akan tetapi kehadiran dan kegiatan yang mereka lakukan dalam sebuah lingkungan yang sudah mulai kekeringan nilai-nilai Islami ini, merupakan sebuah oase yang bisa sedikit menyegarkan jiwa-jiwa yang sedang kehausan. Aku jadi teringat sebuah penjelasan guruku saat mengaji kitab Shohih Bukhori dulu. Kurang lebih beliau pernah berkata:
“Sebuah amal ibadah yang hanya dilakukan oleh sedikit orang saja, itu mempunyai nilai yang berbeda dari sebuah amal ibadah yang sudah dilakukan oleh orang banyak. Karenanya, nilai keimanan sahabat yang pertama-tama (As-Sabiqunal Awwalun) masuk Islam tentunya lebih bagus dari pada yang masuk Islam terakhir. Karena pada awalnya, hanya beberapa gelintir saja orang muslim. Begitu juga orang yang melakukan sholat Tahajjud”.
Lalu pertanyaannya adalah bisakah mereka menjadi bagian dari orang-orang yang sedikit ini?  Semoga…Wallahu A’lam.
Share Artikel ke: Facebook Twitter Google+ Linkedin Technorati Digg
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »
Artikel Terkait:
Sisipkan Komentar Anda Disini
Breaking News close button
Back to top

0 komentar

Bagaimana Pendapat Anda?
Powered by Blogger.
 
Copyright © 2014. Anjangsana Suci Santri - All Rights Reserved | Template - Maskolis | Modifikasi by - Leony Li
Proudly powered by Blogger